NovelToon NovelToon
Dark Chocolate

Dark Chocolate

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Perjodohan / Romantis / Cintamanis / Patahhati
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chayahuda

Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.

#cintabutuhperjuangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAXIME SINCLAIR

Maxime Sinclair. Ia bukanlah pria biasa yang terbiasa berada di bawah kendali orang lain. Terlahir sebagai bagian dari keluarga Sinclair, salah satu keluarga pemilik kerajaan bisnis yang memiliki pengaruh besar di dunia internasional, Maxime telah dipersiapkan untuk menjadi penerus sekaligus penjaga kehormatan keluarganya. Di pundaknya terletak tanggung jawab besar. Ia bukan hanya harus mempertahankan kejayaan perusahaan yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga memastikan nama Sinclair tetap berdiri kokoh di tengah persaingan bisnis yang semakin kejam.

Keluarga Sinclair bukan keluarga yang bisa dipandang sebelah mata. Kekayaan, pengaruh, dan kekuasaan mereka telah menjadikan keluarga tersebut sebagai sasaran bagi banyak pesaing yang ingin menjatuhkan mereka. Karena itulah Maxime membangun karakter seorang pemimpin yang keras, tegas, dan sulit ditembus. Ia tidak memberikan ruang bagi lawan bisnisnya untuk membaca kelemahannya. Setiap keputusan dipertimbangkan dengan matang, setiap langkah diperhitungkan, dan setiap kesalahan memiliki konsekuensi. Namun, tanpa disadarinya, karakter yang selama ini ia bangun untuk menghadapi dunia bisnis perlahan terbawa ke dalam kehidupan pribadinya. Maxime menjadi pria yang kaku, sulit mengungkapkan perasaan, bahkan terkadang tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadap orang-orang yang sebenarnya ingin ia jaga.

Terlebih ketika berhadapan dengan Elma Laurent.

Di hadapan para direktur, Maxime mampu berbicara dengan penuh ketegasan. Di hadapan para pesaing, ia tidak pernah kehilangan kendali. Namun, di hadapan istrinya sendiri, pria itu justru sering kehilangan kata-kata. Sejujurnya, Maxime telah mengagumi Elma sejak lama. Ada banyak hal dari perempuan itu yang menarik perhatiannya. Kecerdasan, ketegasan, kemandirian, serta caranya menghadapi dunia tanpa harus bergantung pada siapa pun. Sayangnya, kekaguman itu tidak pernah benar-benar ia ungkapkan.

Maxime bukan pria yang pandai merangkai kalimat manis. Ia lebih terbiasa menunjukkan kepedulian melalui tindakan kecil yang sering kali tidak disadari Elma. Ia mengingat hal-hal sederhana tentang istrinya, memperhatikan kebutuhannya, dan diam-diam memastikan perempuan itu mendapatkan apa yang diperlukan. Di balik sikap dinginnya, Maxime sebenarnya memiliki hati yang lembut dan penuh pengertian. Ia bukan pria yang tidak memiliki perasaan. Ia hanya terlalu lama membiasakan dirinya untuk menyembunyikan segala sesuatu di balik wajah tanpa ekspresi.

Pagi itu, suasana ruang kerja Maxime di lantai tertinggi gedung Sinclair Group terlihat cukup sibuk. Pria itu duduk di balik meja kerjanya dengan setelan jas hitam yang melekat sempurna. Kedua matanya tertuju pada laporan keuangan yang terpampang di layar komputer. Sesekali ia membubuhkan tanda tangan pada beberapa dokumen yang telah disiapkan oleh asistennya.

Ketukan terdengar dari balik pintu.

"Masuk."

Pintu terbuka. Seorang pria berusia tiga puluhan memasuki ruangan dengan membawa tablet dan sebuah map berwarna hitam.

"Selamat pagi, Tuan Sinclair."

Maxime hanya mengangguk singkat tanpa mengalihkan pandangannya.

"Ada beberapa laporan yang membutuhkan persetujuan Anda. Selain itu, rapat dengan jajaran direksi perusahaan cabang London dijadwalkan pukul sebelas."

"Geser rapatnya menjadi pukul sepuluh tiga puluh. Saya ingin menyelesaikan pembahasan proyek investasi sebelum makan siang."

"Baik, Tuan." Asistennya mencatat instruksi tersebut.

"Apakah ada hal lainnya?" tanya Maxime.

Pria itu tampak sedikit ragu sebelum akhirnya membuka halaman lain pada tabletnya.

"Ada satu informasi yang perlu saya sampaikan. Dua minggu lagi merupakan perayaan ulang tahun pernikahan Tuan Alexander Sinclair dan Nyonya Viviene Sinclair."

Gerakan tangan Maxime yang sedang membubuhkan tanda tangan terhenti sejenak. "Sudah dipersiapkan?"

"Tim keluarga sedang mengatur perayaan tersebut. Tuan Alexander menginginkan acara makan malam keluarga yang dilanjutkan dengan pesta perayaan bersama kerabat dekat dan beberapa rekan bisnis keluarga. Lokasinya kemungkinan besar akan diadakan di kediaman utama Sinclair."

Maxime meletakkan pena di atas meja.

"Siapa saja yang diundang?"

"Selain keluarga besar Sinclair, beberapa keluarga mitra bisnis juga akan hadir. Keluarga Laurent termasuk dalam daftar undangan."

Nama Laurent membuat Maxime sedikit mengangkat pandangannya. "Elma sudah menerima pemberitahuan?"

"Belum, Tuan. Saya pikir sebaiknya undangan resmi disampaikan langsung kepada Nyonya Maxime melalui pihak keluarga."

Maxime terdiam beberapa saat. "Pastikan namanya tercantum sebagai pendamping utama saya. Jangan sampai ada kesalahan dalam daftar tamu."

"Baik, Tuan."

"Dan satu lagi."

"Ya, Tuan?"

"Siapkan hadiah untuk kedua orang tua saya. Sesuatu yang pantas untuk perayaan pernikahan mereka. Saya tidak ingin hadiah yang hanya terlihat mahal, tetapi tidak memiliki makna."

Asistennya mengangguk. "Apakah ada permintaan khusus?"

Maxime menyandarkan punggungnya pada kursi.

"Carikan sesuatu yang berhubungan dengan perjalanan awal pernikahan mereka. Mungkin sebuah benda koleksi atau sesuatu yang memiliki nilai sentimental. Tanyakan kepada sekretaris keluarga mengenai tempat yang pernah mereka kunjungi pada masa itu."

"Baik, Tuan. Saya akan mengurusnya."

Asistennya hendak meninggalkan ruangan ketika Maxime kembali bersuara.

"Daniel."

Pria itu langsung berbalik. "Ya, Tuan?"

"Pastikan Elma tidak memiliki agenda pekerjaan pada malam perayaan tersebut. Jika ada, sampaikan kepada saya terlebih dahulu. Saya ingin membicarakannya dengannya."

Daniel mengangguk kecil. Ada sedikit perubahan ekspresi di wajahnya, meskipun ia berusaha mempertahankan sikap profesional. "Baik, Tuan. Apakah ada pesan khusus yang ingin disampaikan kepada Nyonya?"

Maxime terdiam. Sebenarnya, ia ingin mengatakan banyak hal. Ia ingin meminta Elma menemaninya memilih hadiah, ingin mengajaknya menghadiri perayaan itu bersama-sama, dan mungkin ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya sebelum acara keluarga berlangsung. Namun, semua kalimat tersebut hanya berputar di kepalanya.

"Tidak perlu. Saya akan mengatakannya sendiri."

"Baik, Tuan." Daniel akhirnya keluar dari ruangan.

Maxime kembali menatap layar komputernya. Namun, pikirannya tidak lagi sepenuhnya tertuju pada laporan perusahaan. Dua minggu lagi merupakan perayaan ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya. Sebuah perayaan yang selalu menjadi momen penting bagi keluarga Sinclair. Ada satu hal yang tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Apakah bersedia menghadiri pesta itu bersamanya? Apakah ia akan bersedia menemaninya memilih pakaian? Atau justru perempuan itu sudah memiliki rencana sendiri

Maxime mengembuskan napas pelan. Betapa menggelikannya. Seorang pria yang mampu mengendalikan perusahaan besar, menghadapi negosiasi bernilai miliaran, dan membuat para pesaingnya berpikir dua kali sebelum mengambil tindakan, ternyata tidak memiliki keberanian yang cukup untuk mengajak istrinya menghabiskan waktu bersama. Ia mengambil ponselnya, membuka ruang percakapan dengan Elma, lalu mulai mengetik.

'El, dua minggu lagi kita menghadiri perayaan ulang tahun pernikahan orang tuaku. Kosongkan jadwalmu malam itu'.

Maxime membaca pesan tersebut beberapa kali.

Terlalu kaku, Ia menghapusnya dan mencoba mengetik kembali.

'Elma, apakah kamu bersedia menemaniku menghadiri perayaan ulang tahun pernikahan Papa dan Mama?'

Ia kembali terdiam.

Mengapa harus bertanya, bukankah mereka suami istri?

Namun, Maxime juga tidak ingin terdengar seperti sedang memberikan perintah kepada istrinya. Akhirnya, ia mengunci layar ponselnya dan meletakkannya kembali di atas meja.

"Benar-benar merepotkan," gumamnya pelan.

Bukan pekerjaan, bukan pula urusan perusahaan.

Melainkan seorang perempuan bernama Elma Laurent yang tanpa disadarinya telah berhasil membuat seorang Maxime Sinclair kehilangan ketegasannya sendiri.

☆

1
Heni Utami
bagus , sayangnya ngegantung belum selesai,
Chayahuda: Makasi,,,
Ceritanya masih berlanjut kok,,,
Sabar ya,,,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!