Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Suamiku, Ganteng Kan?
Namun keluarga yang sudah membuangnya demi uang tidak akan Arya tanggung lagi.
Pagi berikutnya, ia mentransfer Rp 20 juta kepada Pak Warno. Pesan protes dari ayahnya datang tiga kali, lalu berhenti setelah Arya berjanji akan pulang dan menjelaskan semuanya.
Arya juga meminta bukti pelunasan dikirim kepadanya. Ketika foto kuitansi bertanda tangan masuk, ia menyimpannya di folder khusus. Untuk pertama kalinya, utang pernikahan yang menekan keluarganya benar-benar selesai. Ia tidak memakai kartu itu untuk pamer; ia memakainya untuk menutup luka lama.
Menjelang siang, Anindya berdiri di depan lemari pakaian Arya sambil memegang dua kemeja.
"Yang putih atau biru?"
"Kita cuma minum kopi."
"Kita akan bertemu Tania. Dia akan menilai dari ujung rambut sampai sepatu."
"Temanmu atau petugas audit?"
"Lebih menakutkan daripada auditor."
Anindya memilih kemeja biru, lalu merapikan kerah Arya setelah ia mengenakannya. Jarak wajah mereka membuat Arya menahan napas.
"Sudah," kata Anindya, meski tangannya tetap berada di kerah beberapa detik lebih lama.
"Kamu gugup?"
"Nggak."
"Tanganmu dingin."
Anindya langsung mundur. "Pendingin ruangan. Ayo."
Mereka tiba di Mal Cakrawala menggunakan Lamborghini. Tania sudah menunggu di kafe bersama seorang pria berwajah ramah yang bangkit ketika melihat mereka.
"Anindya!"
Tania memeluk sahabatnya, lalu memandang Arya dari kepala sampai kaki tepat seperti peringatan tadi.
"Jadi ini suami misteriusmu?"
Anindya berdiri di samping Arya dengan wajah bangga. "Suamiku ganteng, kan?"
Arya hampir tersedak napas sendiri.
Tania tertawa keras. "Kamu benar-benar Anindya? Bukan saudara kembarnya?"
Pria di sampingnya mengulurkan tangan. "Saya Reza. Pacarnya Tania."
"Arya. Senang bertemu."
Mereka duduk. Tania langsung menembakkan pertanyaan.
"Kalian kenal dari mana? Sejak kapan? Kenapa nikahnya diam-diam? Kenapa aku baru tahu setelah menelepon?"
Arya dan Anindya saling pandang.
"Kami pernah satu kampus," jawab Arya hati-hati. "Kemudian bertemu lagi lewat lingkar pertemanan. Keputusan menikah datang cukup cepat karena ada urusan keluarga."
Semua itu benar, hanya tidak lengkap.
Pelayan datang membawa menu. Arya memilih kopi hitam termurah secara refleks. Anindya langsung menambahkan roti lapis dan air mineral untuknya.
"Aku sudah sarapan," kata Arya.
"Tadi cuma dua lembar roti."
"Kamu menghitung?"
"Aku duduk di depanmu."
Tania menatap mereka bergantian. "Nin, dulu waktu aku sakit dan lupa makan, kamu cuma mengirim nomor dokter."
"Kamu kan sudah dewasa."
"Suamimu juga dewasa."
Anindya menutup menu. "Dia kasus khusus."
Arya menahan senyum. "Aku bisa pesan sendiri."
"Boleh. Tapi roti lapisnya tetap datang."
Reza mengangguk kagum. "Pak Arya, saya belum pernah melihat orang menang debat dengan cara menerima kekalahan setenang itu."
"Pilih pertempuran yang layak," jawab Arya.
Anindya menepuk lengannya. "Nah, pintar."
Tania hampir menjatuhkan menu. Perempuan dingin yang selama bertahun-tahun menolak setiap pembicaraan soal pasangan kini memuji suaminya karena bersedia makan. Perubahan itu terlalu besar untuk disebut pernikahan mendadak biasa.
"Secepat apa?" tanya Tania.
"Sangat cepat," kata Anindya. "Tapi sah."
Ia mengambil buku nikah dari tas dan memperlihatkannya selama dua detik sebelum menyimpan kembali.
Tania memegang dada. "Kamu bawa itu ke mana-mana?"
"Dokumen penting."
"KTP juga penting. Aku nggak pernah melihatmu memeluk KTP."
Anindya menendang kaki Tania pelan di bawah meja.
Reza menahan senyum. "Biarkan saja. Pengantin baru memang begitu."
Setelah kopi, mereka berjalan melewati beberapa toko. Tania menyerahkan tiga tas belanja kepada Reza, lalu menunjuk sepasang sepatu di etalase lain.
Anindya justru mengambil satu tas kertas dari tangan Arya.
"Aku bawa."
"Ringan."
"Kalau ringan, aku juga bisa."
"Anindya, aku nggak sakit."
"Aku tahu. Berbagi bawaan bukan perawatan pasien."
Tania menoleh ke belakang dan melihat mereka berjalan berdampingan, masing-masing membawa satu tas.
"Reza," panggilnya. "Lihat. Begitu cara pasangan yang benar."
Reza mengangkat kedua tangan yang penuh barang. "Aku juga pasangan yang benar. Cuma pembagian bebannya sembilan puluh banding sepuluh."
"Aku membawa ponsel."
"Berat sekali pasti."
Arya tertawa. Anindya memandangnya dan ikut tersenyum, seolah suara itu adalah hadiah untuknya.
Saat para pria berhenti di toko elektronik, Tania menarik Anindya menuju ruang duduk butik.
"Sekarang cerita yang sebenarnya," bisiknya. "Aku tahu kamu. Kamu bahkan menolak tiga pewaris perusahaan. Tiba-tiba menikah dengan laki-laki yang kamu lihat seperti harta karun."
Anindya memastikan Arya tidak mendengar. "Janji jangan bilang siapa-siapa."
"Janji."
"Aku suka Mas Arya sudah tujuh belas tahun."
Mulut Tania terbuka. "Tujuh belas?"
Anindya menceritakan pertemuan masa kecil, sekolah-sekolah yang ia pilih, patah hati saat melihat Arya dan Karina di kampus, serta caranya mendekati Karina hanya agar tetap mengetahui keadaan Arya.
Ia juga menceritakan wasiat Eyang, kesepakatan Rp 2 miliar, dan perceraian yang dipilih Karina sendiri.
Tania menatapnya seperti mendengar kisah paling gila di dunia.
"Jadi kamu pura-pura anti-nikah bertahun-tahun karena menunggu suami orang?"
"Aku nggak berniat merebutnya. Kalau pernikahan mereka bahagia, aku akan tetap diam."
"Tapi ternyata Karina meminjamkan suaminya sendiri."
"Iya."
"Dan Arya belum tahu kamu mencintainya?"
Anindya menggeleng. "Dia baru terluka. Aku nggak mau cintaku terasa seperti tuntutan lain."
Tania menggenggam kedua tangannya. Untuk sekali ini, suaranya serius. "Nin, mengejar boleh. Tapi tetap beri dia pilihan."
"Aku tahu. Aku ingin dia tinggal karena memilihku, bukan karena uang atau wasiat."
Di toko elektronik, Reza sedang memandang Arya dengan rasa ingin tahu yang sama.
"Pak Arya, boleh tanya sesuatu?"
"Panggil Arya saja."
"Bagaimana caranya membuat pasangan mau membawakan barang kita?"
Arya melihat tumpukan tas di lengan Reza. "Aku juga nggak tahu."
"Mbak Anindya kelihatannya sangat perhatian."
"Dia memang begitu."
Jawaban Arya terdengar lebih bangga daripada yang ia rencanakan.
Ketika mereka berkumpul lagi, Anindya langsung mengambil minuman Arya dan memeriksa apakah esnya terlalu banyak. Tania menyaksikan dengan tatapan penuh arti.
"Apa?" tanya Anindya.
"Nggak ada. Aku cuma baru tahu orang yang katanya anti-nikah bisa berubah jadi begini."
"Begini bagaimana?"
Tania menunjuk jarak mereka yang hampir tidak ada. "Lengket."
Anindya tidak menjauh. Ia malah menggandeng lengan Arya.
"Wajar. Dia suamiku."
Arya menunduk melihat tangan di lengannya. Kali ini ia tidak mengingatkan soal dua bulan.
Di parkiran, Reza membantu memasukkan barang ke bagasi Lamborghini. Setelah para perempuan berjalan lebih dulu, ia mendekat kepada Arya.
"Bro, serius. Ajari saya cara mengendalikan pacar."
Arya menatap Tania yang baru saja menyerahkan satu tas lagi kepadanya.
"Saya bahkan nggak bisa mengendalikan istri saya membeli mobil delapan belas miliar," jawab Arya. "Kalau sudah tahu caranya, kabari saya."
Reza membeku.
Arya menepuk bahunya dan berjalan pergi, meninggalkan pria itu menghitung ulang harga mobil di kepalanya.
Di depan, Anindya sudah menunggu sambil mengulurkan tangan kepada suaminya.