Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 — Tiga Kursi di Semarang
“Saya mau tahu satu hal sebelum rapat ini dimulai, Pak Hartono. Kenapa perempuan ini duduk di meja yang sama dengan saya?”
Surya tidak menunjuk. Ia cukup mengangkat dagu ke ujung meja, tempat Raras duduk dengan punggung tegak dan kedua tangan di atas map cokelat. Kamis pukul sepuluh, ruang rapat kantor Pak Hartono terasa dingin oleh pendingin udara. Hanya jam dinding yang terdengar, mengisi jeda di antara mereka.
“Karena Anda menuduhnya lewat telepon, Pak Surya,” jawab Pak Hartono tanpa mengangkat mata dari berkas. “Saya tidak suka perkara yang dibicarakan di belakang orangnya.”
“Saya tidak menuduh. Saya menyampaikan fakta.”
“Kalau begitu, sampaikan lagi di sini.”
Pak Haryanto, pengacara berjas abu-abu yang duduk di sisi Surya, menyentuh lengan kliennya. Surya menepisnya. Di ujung meja yang lain, Danang duduk sendiri. Di hadapannya ada segelas air yang belum tersentuh, sementara kursi di sebelahnya kosong.
“Baik.” Surya mencondongkan badan. “Seminggu setelah anak saya berselisih dengan istrinya, keluarga ini mencabut prioritas panen, harga rekanan, dan tenggang bayar empat puluh lima hari. Semuanya serentak. Itu bukan kebetulan.”
“Memang bukan kebetulan, Pak.”
Semua kepala menoleh. Raras membuka mapnya, menggeser selembar kertas ke tengah meja, lalu meletakkan tangan di sampingnya.
“Fasilitas itu dicabut Rabu pagi, sehari setelah Mas Danang meminta cerai. Tanggalnya ada di surat edaran ini, Pak Hartono. Saya tidak menyembunyikannya.”
“Jadi Anda mengaku?” Pak Haryanto langsung menyambar.
“Saya mengaku mencabut. Saya tidak mengaku menghukum.” Raras memandang Surya, bukan pengacaranya. “Fasilitas itu saya berikan karena Mas Danang suami saya. Ketika ia tidak lagi ingin menjadi suami saya, aturan umum berlaku. Tunai, jaminan bank, atau antre. Sama untuk Pak Wiryo, sama untuk pembeli dari Magelang, sama untuk siapa pun.”
“Itu dendam dengan bahasa sopan!”
“Itu pembukuan, Pak.”
Surya terdiam sesaat. Wajahnya memerah dari leher sampai pelipis.
“Kamu pikir Eyangmu bangga melihat cucunya dagang dendam?”
“Eyang tahu saya di sini, Pak. Beliau yang menyuruh saya membawa catatan.”
“Catatan apa?”
“Jam dan isi telepon Bapak ke Pak Hartono hari Selasa. Dicatat Pak Hadi, bukan saya.” Raras menggeser selembar kertas lagi. “Bapak boleh membantah isinya.”
Pak Haryanto membaca lembar itu sekilas, lalu menarik napas tertahan. Ia tidak membantah.
“Itu tidak ada hubungannya dengan perkara ini,” kata Surya.
“Ada, Pak. Bapak bilang saya memperlambat pengiriman. Pengirimannya terlambat karena Mas Danang antre di barisan biasa, dan Bapak tahu itu.”
“Kamu pikir bisa pura-pura tidak marah?”
“Saya marah, Pak.”
Ruangan mendadak sunyi. Pak Hadi yang duduk di belakang Raras menahan batuk. Danang mengangkat wajah, memperhatikan Raras tanpa menyela.
“Saya marah dan saya sakit hati,” lanjut Raras. Suaranya tidak naik, tetapi pergelangan tangannya yang bertumpu di meja gemetar tipis. Ia menekannya ke permukaan kayu. “Siapa pun yang diperlakukan begitu akan marah. Tapi marah bukan alasan untuk berbuat yang tidak adil. Saya tidak melarang siapa pun menjual atau membeli. Saya tidak menjelek-jelekkan Mas Danang. Saya mencap karungnya sendiri hari Selasa, dengan tangan saya.”
“Karena kamu mau kelihatan mulia!”
“Karena saya sudah berjanji pada Pak Hartono, Pak.”
“Cukup.” Pak Hartono mengangkat satu tangan. “Pak Surya, Anda bilang kemarin Lampiran Dua hanya formalitas. Betul?”
“Cap itu cuma stempel. Barang saya bagus, kualitasnya sama.”
“Mutunya memang sama. Saya sudah membuka dua karung acak hari Selasa.” Pak Hartono menutup berkasnya. “Dan CV Anda, Pak Surya, berdiri tiga minggu. Pembeli saya tidak mengenal nama itu.”
“Nama bisa dibangun.”
“Betul. Tapi tidak dalam satu minggu.”
Pak Hartono membalik satu halaman berkas sebelum melanjutkan. “Pak Surya, saya dengar ada petani yang belum dibayar CV Anda. Benar?”
“Itu urusan internal kami.”
“Dua puluh dua petani di Wates, kalau angka yang sampai ke saya betul.”
Surya diam. Pak Haryanto memandang meja, jemarinya merapat pada map yang sejak tadi terbuka di hadapannya.
“Pak, kalau itu betul,” kata Raras lirih, “mereka perlu dibayar minggu ini. Musim tanam tidak menunggu.”
“Saya tahu urusan petani, Nduk.”
“Bapak tahu, tapi uangnya belum ada, kan?”
“Raras.” Suara Surya serak, rendah, hampir tanpa tenaga. “Jangan sok mengajari saya.”
“Saya tidak mengajari, Pak. Saya cuma ingin mereka makan.”
Danang menoleh kepada Raras. Sesaat, ada sesuatu di wajahnya yang tidak berani Raras baca. Ia kembali menatap meja sebelum akhirnya angkat bicara.
“Tapi Lampiran Dua bukan soal mutu. Itu soal siapa yang berani bertanggung jawab kalau mutunya jelek. Pembeli saya di Surabaya tidak mau membeli dari nama yang tidak mereka kenal.”
“Itu aturan kolot.”
“Itu aturan tiga tahun terakhir, Pak, dan bukan satu pun pembeli saya yang menyebutnya kolot. Dan Pak Danang sendiri yang menandatanganinya.”
Danang bergerak. Kursinya berderit saat ia berdiri dengan kedua tangan bertumpu di meja.
“Pak Hartono. Boleh saya bicara?”
“Silakan.”
“Nang.” Suara Surya turun menjadi desisan. “Duduk.”
“Tidak, Pak.” Danang mengeluarkan map tipis dari ranselnya dan meletakkannya di meja. “Ini surat pernyataan saya. Mulai hari ini saya mundur dari semua urusan CV Prasetya Niaga Tani. Saya tidak memegang saham, tidak memegang jabatan, dan tidak memberi persetujuan atas apa pun yang dilakukan CV itu atas nama kontrak saya.”
“Kamu gila.”
“Saya cuma terlambat, Pak.”
“Kowe wis ora duwe bapak maneh, Nang (Kamu sudah tidak punya bapak lagi)!”
Raras merasakan perutnya mengencang. Ia tetap menatap meja, tak berani menoleh ke arah Danang.
“Saya punya, Pak.” Suara Danang bergetar, tetapi kata-katanya terdengar jelas. “Hanya saya tidak mau jadi tangan Bapak. Bapak membeli petani dengan harga lebih mahal supaya saya tidak perlu minta tolong. Itu bukan membantu. Itu melarang saya belajar.”
“Aku membesarkan kamu!”
“Saya tahu itu, Pak. Tapi saya sudah tiga puluh satu tahun, Pak. Bukan anak yang perlu dibelikan jalan.”
Pak Haryanto mengembuskan napas pendek dan menutup mapnya. “Pak Surya, saya sarankan kita keluar dulu.”
“Saya tidak keluar.”
“Pak.”
“Saya tidak keluar!”
“Pak,” kata Danang lebih lembut, “tolong keluar bersama Pak Haryanto. Saya pulang sendiri nanti.”
“Kamu bakal menyesal.”
“Sudah, Pak. Dari Senin malam.”
“Kalau kamu gagal, jangan merengek ke rumah.”
“Saya tidak akan merengek, Pak. Saya pulang ke tempat saya sendiri.”
Surya mendengus, tetapi tetap tidak berdiri. Kedua tangannya mencengkeram tepi kursi, sementara Pak Haryanto menunggu tanpa mengulangi sarannya.
“Bapak boleh tetap duduk, Pak Surya.” Pak Hartono bersandar. “Tapi sesudah ini Anda tidak ikut menentukan. Kontrak ini milik Pak Danang.”
Surya membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Matanya berkilat, tetapi bukan semata-mata karena marah. Raras mengenali sorot itu. Ia pernah melihatnya sekali, di wajah Danang, Senin malam.
“Keputusan saya.” Pak Hartono membuka berkas baru. “Kontrak tiga bulan berjalan. Sampel lima puluh karung diterima, mutunya baik. Pak Danang menunjuk penanggung jawab pengadaan sendiri, tanpa campur tangan CV mana pun. Pak Surya dan pengacaranya tidak lagi menghubungi saya mengenai kontrak ini.”
“Baik, Pak,” kata Danang, hampir tanpa suara.
“Belum selesai.” Pak Hartono memandang Raras. “Satu syarat baru.”
Raras tidak bergerak.
“Cap kuningan daun sawo kecik itu milik keluarga Mbak. Pembeli saya hanya percaya pada cap itu. Kalau ada karung yang diklaim bercap tetapi mutunya turun, saya perlu satu nama yang bisa saya tuntut.”
“Maksud Bapak?”
“Saya minta Mbak menandatangani surat penjamin mutu tertulis. Tiga bulan. Setiap karung yang Pak Danang kirim ke saya dengan cap itu, Mbak yang menjamin.”
“Pak, itu tidak adil untuk Raras,” kata Danang cepat. “Kontrak itu bukan miliknya.”
“Kenapa bukan Mas Danang sendiri yang menjamin, Pak?” tanya Raras.
“Karena pembeli saya mempercayai nama keluarga Mbak, bukan nama Pak Danang. Saya jujur.” Pak Hartono menatapnya tanpa berkedip. “Tidak ada orang lain di Yogya yang cap-nya bisa saya tuntut.”
“Saya tahu, Pak Hartono.”
“Dan saya tahu itu tidak adil. Karena itu, Mbak berhak menolak.” Pak Hartono mendorong selembar kertas ke tengah meja. Kertas itu meluncur pendek dan berhenti di depan Raras. “Kalau menolak, kontrak ini saya putus hari ini juga.”
Raras menunduk. Di bagian bawah surat itu ada garis kosong untuk tanda tangan. Tepat di atasnya, nama Danang Prasetya tercetak sebagai pihak yang dijamin.
“Ras,” kata Danang pelan sekali, “kamu tidak harus. Aku bisa kehilangan kontrak ini dan tetap hidup.”
“Mbak,” bisik Pak Hadi dari kursi di belakangnya, begitu dekat hingga napasnya terasa di telinga Raras. “Mbak boleh nyuwun wekdal rumiyin (minta waktu dulu).”
Raras tidak menjawab. Pandangannya tertahan pada surat di hadapannya. Di sekeliling meja, tak seorang pun bicara. Semua mata tertuju pada tangannya yang kini menyentuh tepi kertas itu.
lanjuut
🙏💪