Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Rumah Jack Junior
Alethea memandang pemandangan dari jendelanya dan dirinya merasa tenang. Bukan hal yang seram tapi sesuatu yang indah melihat suasana alam Cedliff. Alethea duduk di dekat jendela sambil memegang gelas berisikan hot choco.
Biasanya Alethea merasa takut melihat pemandangan pedesaan seperti itu tapi kali ini dia tidak merasakan sesuatu yang membuatnya merinding. Dulu saat dia bersama dengan Toshiro, berada di cottage pinggiran kota Washington saja merasa merinding ketakutan kalau malam hari.
"Apa karena di sini nyaris tidak ada kasus kriminal ya?" gumam Alethea yang mendapatkan cerita dari Susan kalau di sini, orang jarang mengunci pintu rumah.
Alethea terkejut karena kalau di Washington, sudah bisa dimaling semua barang-barangnya. Memang beda desa dengan jumlah orang sedikit membuat semua orang saling kenal satu sama lain.
Suara ketukan di pintu membuat Alethea menoleh. "Masuk."
Tak lama pintu pun terbuka dan Susan pun masuk. Dia juga membawa gelas berisikan hot choco.
"Maaf Thea, aku masuk ya," izin Susan.
"Silakan," senyum Alethea ramah.
Susan lalu duduk di dekat jendela bersama dengan Alethea. "Kamu tidak kedinginan?"
Alethea menggelengkan kepalanya. "Aku suka udara disini. Sangat fresh dan segar. Mungkin kendaraan bermotor bisa dihitung pakai jari ya jadi tidak banyak polusi."
Susan tersenyum. "Itulah kenapa aku tidak mau pindah dari sini. Bukan kenapa-kenapa tapi aku suka di sini. Memang pendapatan aku tidak banyak tapi cukup."
Kedua wanita itu saling menyesap minuman masing-masing. Mereka pun saling bercerita tentang pekerjaan masing-masing hingga tengah malam dan Susan pun pamit untuk beristirahat.
Alethea menutup jendelanya dan bersiap untuk tidur. Dia pun mematikan lampu besar dan menyalakan lampu kecil. Tak lama Alethea pun terlelap di atas kasurnya yang empuk.
***
Satoru masih menatap langit-langit kamarnya dan dirinya tidak menduga akan bertemu dengan Alethea. Dia tidak tahu kalau sosok yang ada di lukisan itu benar-benar nyata. Real. Hidup. Dan aslinya jauh lebih cantik dari yang di lukisan. Satu hal yang Satoru tidak menduganya.
Dia janda.
Satoru sudah menyelidiki Toshiro Ashford. Alethea memang masih memakai nama belakang suaminya. Satoru tidak menduga jika kehidupan Alethea benar-benar se green flag itu. Suaminya adalah pria yang lurus begitu juga Alethea.
"Kenapa orang baik selalu dipanggil duluan," gumam Satoru dengan nada masgyul karena Alethea tidak patut mendapatkan musibah itu.
Pria itu lalu menghubungi manajernya. "Brady, Satoru. Aku mau minta tolong."
"Apa itu Satoru?" balas Brady.
"Apa kamu ingat lukisan yang aku buat dengan nama 'woman in daisies'?" tanya Satoru.
"Bukannya kamu sudah meninggalkan di Cedliff? Dan Susan menjualnya di pasar loak?" ujar Brady.
"Benar. Dan lukisan itu sekarang ada di museum nasional Washington DC."
Brady terdiam cukup lama. "Bagaimana bisa kesana?"
"Aku tidak tahu karena besok aku baru mencari tahu. Dan ... Aku bertemu dengan wanita yang ada di lukisan itu," jawab Satoru.
"Serius? Apa kamu yakin?" seru Brady.
"Kami tinggal satu hotel di tempat Susan. Dia benar-benar nyata, Brad!" desis Satoru takut terdengar Susan atau Alethea sendiri.
"Bagaimana bisa? Tunggu, ceritakan padaku .. In French!" Brady lalu mendengarkan cerita Satoru.
***
Susan melewati kamar Satoru dan mendengar pria itu berbicara dengan bahasa Perancis. Susan sudah terbiasa mendengar Satoru berbicara dengan berbagai bahasa dan biasanya, ke orang tuanya atau managernya. Susan adalah satu-satunya orang yang tahu siapa Satoru sebenarnya.
"Pasti urusan pekerjaan," gumam Susan sambil berjalan menuju kamarnya.
Wanita itu tidak pernah menyangka jika Satoru adalah seorang pelukis terkenal dan memilih berlibur di desa kecil ini karena kesasar. Ternyata malah suka disini dan nyaris tiap tahun kemari.
Satoru juga dikenal ramah dengan siapapun. Tak heran jika banyak penduduk Cedliff suka dengannya meskipun dia orang Jepang. Penduduk Cedliff bisa baik selama orang itu baik dan Satoru tidak pernah berbuat aneh-aneh.
Susan hanya tahu Satoru pelukis dan tidak tahu latar belakangnya. Satoru hanya cerita kalau ayahnya seorang dokter dan ibunya seniman. Susan tidak tahu jika Satoru adalah bagian dari keluarga Sultan karena pria itu selalu tampil humble.
Tak lama Susan pun terlelap dan penginapannya pun senyap.
***
Pagi ini semua orang sarapan dan Alethea tidak ragu membantu Susan di dapur. Sementara Satoru menghubungi Henry untuk janjian bertemu dengan Jack Junior.
"Sarapan sederhana ya?" senyum Susan.
"Tidak masalah karena yang penting kita sempat sarapan," senyum Alethea yang sedang membuat pancake.
"Betul. Kalian nanti jalan kaki atau naik mobil?" tanya Susan ke Satoru yang datang ke dapur usai menghubungi Henry.
"Naik mobil. Karena rumah Jack Junior agak jauh sih," jawab Satoru.
"Oh, yang dekat hutan sana?" Susan baru ingat pria yang pekerjaannya sebagai tukang kayu.
"Benar. Kalau ayahnya kan dekat sini. Henry yang bilang," senyum Satoru.
"Ah iya. Sayang rumah ayahnya tidak dipakai, malah jadi rumah kosong buat taruh kayu," gumam Susan sambil meletakkan teko berisikan teh panas.
"Sayang sekali ya," ujar Alethea yang datang dengan piring bertumpuk pancake buatannya.
"Benar. Mungkin Jack Junior merasa terlalu jauh dari hutan jadi dia malas pergi bolak balik rumah ayahnya dan hutan. Dia seorang pengrajin dan memiliki lisensi boleh menebang pohon dengan syarat tertentu. Jadi dia tidak boleh menebang sembarang pohon untuk dijadikan perabotan," ucap Susan.
"Pantas semua disini masih asri karena sangat teratur dan ada aturan yang jelas," senyum Alethea.
Ketiganya pun sarapan bersama dan setelahnya, Satoru dan Alethea berpamitan dengan Susan untuk menjemput Henry. Satoru membukakan pintu mobilnya untuk Alethea dan wanita itu mengucapkan terima kasih.
Satoru menyetir mobilnya lewat jalur jalan besar menuju rumah Hannah dan Henry. Pria itu sudah menunggu di depan. Dia pun masuk ke kursi belakang sambil membawa peta desa Cedliff.
"Kenapa tidak pakai GPS?" tanya Alethea saat melihat Henry membuka peta dari kertas.
"Karena GPS suka mengacaukan. Aku lebih suka pakai peta ini." Henry melihat sebuah tanda jalan. "Kamu belok kiri Satoru."
"Oke."
Tak lama mobil Satoru tiba di sebuah jalan kecil. Ada sebuah mobil truck pickup disana dan mereka tahu sudah sampai di rumah Jack Junior.
"Kita harus jalan masuk karena mobil tidak bisa masuk. Jalannya tidak cukup." Henry pun memberikan petunjuk tempat parkir yang enak.
Setelahnya mereka pun turun dan berjalan ke rumah Jack Junior.
Begini kira-kira visualnya
***
Yuhuuu up Siang Yaaaaaa
Maap aku agak slow up
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia