NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Suasana pagi itu begitu tenang namun tiba-tiba, suara DUNG! DUNG! DUNG! bergema dari menara pengawas, membelah keheningan perbatasan. Suara genderang perang yang berat dan menakutkan, berirama cepat, tanda bahwa musuh datang dalam jumlah besar, dan datang tanpa peringatan.

Semua orang di benteng langsung bergerak sigap. Prajurit berlari mengambil senjata, Para Jendral lainnya naik ke tembok pertahanan, dan Jenderal Wen beserta Jenderal Xu segera naik ke menara pengawas untuk melihat keadaan di luar.

Di kejauhan, debu beterbangan membumbung tinggi. Pasukan musuh, Suku Utara, musuh bebuyutan kekaisaran yang kejam dan tangguh sedang mendekat dengan ribuan pasukan berkuda. Mereka dikenal karena kecepatan serangannya dan taktik kekerasan yang membuat lawan gemetar.

"Berani benar mereka menyerang tanpa peringatan!" geram Jenderal Wen, matanya menyala marah namun tetap tenang. "Mereka pikir kita lengah hari ini."

Jenderal Xu menatap ke arah pasukan musuh yang semakin dekat. "Jumlah mereka tiga kali lipat dari pasukan kita, Jenderal. Jika kita bertempur langsung, kerugian kita akan besar."

Di samping mereka, Feng Wu berdiri tegak, tatapannya tajam dan tenang menatap pasukan musuh yang semakin mendekat. Jantungnya berpacu, bukan karena takut, melainkan karena pikirannya bekerja cepat, menyusun rencana dalam hitungan detik.

"Kakek, Jenderal Xu..." ucapnya tiba-tiba, suaranya jernih dan terdengar jelas di tengah keributan. "Kita tidak perlu bertempur langsung. Biarkan mereka masuk lebih dalam dan biarkan jebakan yang bekerja untuk kita."

Jenderal Wen menoleh, sedikit terkejut namun mendengarkan dengan saksama. "Jelaskan, Wu'er."

"Di depan gerbang benteng, ada lembah sempit yang menjadi satu-satunya jalan masuk," ucap Feng Wu cepat namun rinci. "Itu adalah tempat yang sempurna untuk jebakan. Kita tidak perlu mengeluarkan satu pun prajurit untuk menyerang. Cukup siapkan apa yang kubutuhkan, dan pasukan musuh itu akan runtuh sebelum mereka sempat melihat wajah kita."

Dengan cepat, Feng Wu memberi perintah. Para prajurit yang kini sangat menghormatinya langsung patuh.

Perintah pertama yaitu menggali lubang-lubang besar yang tersembunyi di balik tanah tipis, berisi pancung tajam di dasarnya disusun di sepanjang jalur masuk lembah.

Perintah kedua, mengikat tali-tali tebal yang kuat di antara pepohonan di kedua sisi lembah, setinggi dada kuda tak terlihat dari kejauhan.

Langkah penyempurnaan, ​Feng Wu sendiri meracik bubuk khusus dari bahan-bahan yang ia ambil dari Ruangan Ajaib, campuran yang saat tersebar di udara, akan membuat napas sesak dan pandangan kabur, namun tidak mematikan agar tidak berlebihan.

Semua dilakukan dalam keheningan, dengan cepat dan teratur. Feng Wu mengatur setiap posisi, menandai setiap titik dengan ketepatan yang luar biasa seakan ia sudah mempelajari medan ini selama bertahun-tahun.

Pasukan Suku Utara semakin dekat. Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh raksasa dengan wajah penuh bekas luka, tertawa angkuh.

"Lihat! Mereka takut dan tidak berani keluar! Serbu! Hancurkan benteng itu!" teriaknya, memimpin pasukan berkuda terdepan masuk ke dalam lembah sempit itu dengan kecepatan penuh.

Namun baru saja mereka melangkah masuk...

KRAK!

Tanah di depan mereka runtuh seketika. Barisan depan langsung jatuh ke dalam lubang yang dalam, kuda dan prajurit berjatuhan, tertusuk pancung tajam di bawahnya. Keributan dan teriakan kengerian langsung menggema.

Pasukan di belakang berusaha berhenti, namun terlalu cepat untuk berhenti. Mereka berusaha berbelok namun tali yang tersembunyi itu memotong jalan. Kuda-kuda yang berlari kencang langsung tersandung dan jatuh berguling-guling, menimpa pasukan di belakangnya. Keributan semakin parah, barisan mereka berantakan total.

Dan di saat itu, Feng Wu memberi isyarat. Prajurit di atas tebing melemparkan kantong-kantong berisi bubuk racikannya ke tengah kerumunan musuh. Begitu pecah, bubuk itu menyebar cepat. Pasukan musuh langsung batuk-batuk, mata mereka perih dan perih, napas mereka sesak, dan kuda-kuda menjadi gelisah tak terkendali.

Tanpa satu pun panah yang dilepaskan dari benteng, tanpa satu pun prajurit yang terluka. Pasukan musuh yang gagah berani itu kini berantakan, panik, dan tidak berdaya di dalam lembah itu. Mereka tidak bisa maju, tidak bisa mundur, dan tidak bisa bertempur.

Pemimpin mereka yang sempat angkuh kini hanya bisa berteriak marah namun tak tahu harus menyerang siapa. Musuhnya bukan pedang atau panah melainkan tanah, tali, dan angin yang tak terlihat.

Dari tembok benteng, Jenderal Wen dan Jenderal Xu menatap pemandangan di bawah dengan mulut ternganga tak percaya. Ribuan pasukan musuh yang biasanya butuh pertempuran berhari-hari dan banyak korban untuk dikalahkan kini runtuh begitu saja dalam waktu kurang dari satu jam. Tanpa satu pun prajurit mereka terluka.

Dan di antara mereka, berdiri Feng Wu yang tenang, wajahnya tak berubah sedikit pun, seakan hal yang baru saja terjadi adalah hal yang paling biasa di dunia ini.

"Kau... kau baru saja mengalahkan pasukan Suku Utara tanpa mengeluarkan satu tetes darah pun dari pihak kita," ucap Jenderal Xu dengan suara bergetar, penuh kekaguman. "Itu bukan sekadar jebakan, Nona. Itu adalah seni perang yang sempurna."

Jenderal Wen menatap cucunya dengan mata yang berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena bangga yang tak terlukiskan. Selama puluhan tahun ia bertempur, namun belum pernah melihat sesuatu yang begitu brilian, begitu cerdas, dan begitu efektif.

"Wu'er..." ucapnya pelan namun penuh makna. "Kau baru saja menyelamatkan benteng ini. Menyelamatkan ribuan nyawa. Dan Kakek tahu... Ibumu pasti sedang tersenyum bangga melihatmu sekarang."

Feng Wu tersenyum tipis, menatap ke arah pasukan musuh yang kini mundur dengan tertatih-tatih dan penuh ketakutan.

"Mereka menyerang tanpa peringatan dan tanpa rasa bersalah," ucapnya tenang. "Jadi aku memberi mereka pelajaran bahwa kekuatan bukan segalanya. Terkadang, akal yang tajam jauh lebih mematikan daripada pedang yang paling tajam sekalipun."

Sejak hari itu, nama Feng Wu tidak lagi sekadar cucu Jenderal Wen. Di seluruh benteng, di antara para prajurit, dan bahkan di antara musuh, nama itu mulai dikenal sebagai Wanita Bijaksana Perbatasan, seseorang yang tidak hanya cantik dan pandai mengobati, tetapi juga memiliki kecerdasan strategi yang mampu mengalahkan ribuan pasukan tanpa mengangkat pedang sekali pun.

1
Dian Utami
feng Wu terlalu egois thor dan bertindak sesuka hati, giliran di perhatikan dia kesel
ummu syafanah
lanjut thor
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!