NovelToon NovelToon
PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Evolusi dan Mutasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
​Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
​Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: ALESHA MENAGIH UTANG 2,3 TRILIUN

Clarissa terbangun bukan karena dibangunkan.

Melainkan karena dinginnya lantai marmer lobi Gedung Konsorsium Vion yang meresap sampai ke tulang punggungnya.

Matanya berkedip beberapa kali. Pemandangan pertama yang ia tangkap adalah langit-langit lobi yang menjulang tinggi, lampu kristal raksasa yang berkilau, serta wajah-wajah karyawan yang menatapnya dari kejauhan dengan jijik sambil diam-diam merekam pakai ponsel.

Lalu ingatannya kembali berputar.

Ayahnya. Rian. Tante Listia. Mereka bertiga tersungkur di kaki Alesha.

"Ayah... AYAH!"

Clarissa menjerit histeris dan bangkit dengan gaun mahalnya yang kini sudah kusut dan kotor oleh debu marmer. Sanggul rambutnya yang tadinya sempurna sudah berantakan.

Lobi sudah kosong. Rian, Nyonya Listia, dan Presdir Gunawan sudah diseret keluar oleh pengawal Vion sepuluh menit lalu. Yang tersisa hanya noda air mata dan kelopak mawar layu berserakan di lantai.

Di depan lift eksekutif, kedua orang itu masih berdiri.

Alesha dan Vion.

Alesha masih menggenggam Black Card di tangannya, memantulkan kilau di bawah lampu kristal. Vion berdiri di sampingnya dengan tangan selip di saku celana, menatap Clarissa yang baru sadar dari pingsan dengan tatapan dingin tanpa ampun.

Clarissa terhuyung menghampiri Alesha dengan air mata bercucuran.

"Alesha! Alesha, kamu apa-apaan! Kamu gila ya! Kamu bikin ayahku pingsan! Kamu bikin Rian bangkrut! Kamu itu cuma perempuan miskin yang ditinggal nikah kemarin! Kamu nggak punya hak!"

Alesha bergeming. Ia hanya menatap Clarissa dari atas ke bawah dengan ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan.

"Perempuan miskin?" ulang Alesha pelan.

Ia maju satu langkah. Sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di atas marmer. Tuk. Tuk.

Setiap langkahnya memaksa Clarissa mundur selangkah.

"Clarissa Mahardika," ucap Alesha dengan suara manis yang terdengar jelas oleh seluruh karyawan yang pura-pura sibuk kerja. "Kemarin di Hotel Grand Mulia, kamu rebut gaun pengantin pesananku dan bilang aku tidak pantas pakainya karena aku miskin."

Alesha berhenti tepat di hadapan Clarissa. Jarak mereka kini hanya setengah meter.

"Hari ini, aku akan kasih tahu kamu arti kata miskin yang sebenarnya."

Alesha menjentikkan jari. Sekretaris pribadi Vion di belakangnya langsung maju bawa tablet dan map cokelat.

"Nona Clarissa Mahardika," ucap sekretaris itu dengan nada profesional lantang. "Per pukul 09.00 pagi ini, Nyonya Alesha Vion adalah pemilik 40% saham mayoritas Grup Mahardika melalui eksekusi jaminan utang senilai 2,3 triliun. Sebagai pemegang saham pengendali, Nyonya Vion berhak melakukan restrukturisasi perusahaan."

Clarissa membelalak. "Restruk... apa?"

"PHK," jawab Alesha dengan senyum manis. "Singkatnya, PHK."

Clarissa diam, sekujur tubuhnya bergetar hebat.

"Grup Mahardika rugi 1,8 triliun kuartal ini. Untuk selamatkan perusahaan, saya sebagai pemilik baru putuskan untuk pangkas seluruh fasilitas tidak penting. Termasuk kartu kredit unlimited milik putri Presdir, apartemen mewah di SCBD, serta mobil sport merahmu yang parkir di basement Hotel Grand Mulia kemarin."

"Apa? Kamu tidak berhak! Itu punyaku!"

"Itu milik perusahaan. Dan sekarang, perusahaan itu milikku," balas Alesha dingin.

Ia ambil tablet itu dan geser tepat di depan wajah Clarissa. Di layar tertulis daftar aset yang telah dibekukan.

Nama Clarissa ada di urutan paling atas dengan status: DIBEKUKAN.

Clarissa menjerit, berniat rebut tablet itu, tapi dua pengawal wanita berbadan tegap langsung tahan kedua lengannya kuat.

"Lepas! Lepas aku! Aku putri Presdir Mahardika! Berani-beraninya kalian!"

"Putri seorang Presdir yang perusahaannya sudah jatuh bangkrut," koreksi Alesha tajam.

Vion yang sedari tadi diam, akhirnya buka suara. Nadanya rendah, dingin, dan mematikan.

"Nona Clarissa. Anda punya dua pilihan. Pertama, saya serahkan Anda ke polisi atas kasus penggelapan dana proyek fiktif Grup Mahardika yang Anda tanda tangani bulan lalu bersama ayah Anda. Ancamannya delapan tahun penjara."

Wajah Clarissa langsung pucat pasi. Kasus itu bahkan ia sendiri tidak tahu detailnya. Ayahnya yang suruh tanda tangan begitu saja.

"Pilihan kedua?" bisik Clarissa dengan suara bergetar.

Alesha tersenyum, senyum yang paling dinantikan.

"Pilihan kedua, Anda tetap kerja di Grup Mahardika. Namun, bukan sebagai putri Presdir, melainkan sebagai Office Boy."

Satu kalimat itu meledak seperti bom di dalam lobi.

Para karyawan yang tadinya pura-pura mengetik seketika hentikan aktivitas, menatap dengan mulut ternganga.

Office Boy. Putri Presdir Grup Mahardika yang kemarin pakai gaun pengantin tiga ratus juta, hari ini harus jadi Office Boy.

"Kamu... kamu hina aku! Aku tidak akan pernah mau jadi OB! Lebih baik aku mati!"

"Silakan," jawab Alesha tenang. "Pilihan pertama masih ada. Penjara wanita Pondok Bambu. Saya dengar di sana tidak ada AC dan tidak ada skincare."

Clarissa diam. Tubuhnya lemas, air matanya tumpah ruah. Di antara gengsi tinggi dan ancaman penjara, ia tidak punya celah.

Tepat detik itu, pintu kaca lobi kembali terbuka. Rian diseret masuk oleh pengawal, diikuti Presdir Gunawan yang masih terduduk lemas.

Melihat Clarissa ditahan pengawal, Rian langsung berteriak histeris.

"Clarissa! Alesha! Apa yang kamu lakukan pada Clarissa! Lepas dia!"

Rian coba berlari menerjang, tapi pengawal Vion langsung tendang lututnya hingga ia kembali tersungkur di atas marmer, tepat di kaki Alesha.

Alesha menunduk menatap Rian yang bersimpuh untuk kedua kalinya hari ini dengan jijik.

"Rian. Kamu masih belum mengerti juga ya? Kamu bukan siapa-siapa lagi. Vantec bukan milikmu. Grup Mahardika juga bukan milik calon mertuamu. Semuanya milikku. Dan kamu..." Alesha mencondongkan tubuh, berbisik tepat di telinga pria itu. "...bahkan tidak punya uang untuk beli mawar layu yang kamu bawa tadi pagi."

Rian mengepalkan tangan di atas lantai marmer, air matanya menetes membasahi permukaan dingin.

Alesha kembali tegak dan menatap Clarissa.

"Jadi, Nona Clarissa? Apa pilihan Anda?"

Clarissa terisak tertahan dengan kepala tertunduk dalam. Dengan suara hampir tak terdengar, ia menjawab:

"Saya... saya pilih jadi OB..."

"Maaf, saya tidak dengar," ucap Alesha manis.

"SAYA PILIH JADI OB!" teriak Clarissa histeris di hadapan ratusan karyawan.

Alesha tersenyum puas, lalu memberi isyarat ke sekretarisnya.

"Pakaikan seragamnya. Mulai hari ini, tugas pertama Nona Clarissa adalah bersihkan kelopak mawar layu yang berserakan di lobi ini sampai bersih tanpa sisa."

Kedua pengawal wanita langsung seret Clarissa menuju ruang ganti karyawan di lantai dasar.

Lima menit berselang, Clarissa keluar.

Gaun mewah tiga ratus juta telah lenyap, ganti seragam Office Boy abu-abu kebesaran di tubuhnya, lengkap dengan topi dan alat pel di tangan.

Putri Presdir Mahardika yang kemarin rampas gaun pengantin Alesha kini harus mengepel lantai marmer yang ia kotori sendiri diiringi cucuran air mata.

Para karyawan rekam kejadian itu pakai ponsel, tanpa ada yang berani beri pertolongan.

Rian yang melihat Clarissa pakai seragam OB, semakin dalam menundukkan kepala, menanggung malu teramat sangat.

Di tengah pemandangan itu, Vion tiba-tiba bergerak.

Bukan karena kalah. Bukan pula karena tersungkur.

Melainkan berlutut dengan satu lutut di hadapan Alesha, di tengah lobi, disaksikan semua orang.

Semua orang terkejut, termasuk Alesha sendiri.

Di tangan Vion terselip kotak beludru kecil biru tua.

Kotak itu terbuka, menampilkan kilau cincin berlian biru lima karat di bawah lampu kristal.

"Nyonya Alesha," ucap Vion dengan suara rendah yang intim, namun cukup menggema untuk membuat semua orang tahan napas. "Kemarin Rian batalkan pernikahannya denganmu. Hari ini, izinkan saya menggantikannya. Bukan sebagai balas dendam, melainkan sebagai awal dari kerajaan baru kita."

Alesha tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Ini sama sekali bukan bagian dari skenario balas dendamnya.

Clarissa yang sedang mengepel lantai, melihat Vion lamar Alesha dengan cincin berlian biru yang harganya sepuluh kali lipat dari gaun pengantinnya, langsung menjerit histeris dan pingsan untuk kedua kalinya, jatuh tepat di atas genangan air pel yang ia buat sendiri.

Lobi kembali riuh.

Alesha menatap cincin mewah itu, lalu mengalihkan pandangan kepada Vion yang bersimpuh tulus di hadapannya.

Akankah ia menerimanya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!