Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18: Juragan apotek dan laboratorium kuno
Pasar utama ibu kota hari itu luar biasa ramai, namun perhatian Shen Ruozi sepenuhnya tersedot oleh bangunan megah yang berdiri kokoh di sudut paling strategis. Sebuah ruko berlantai tiga dengan arsitektur kayu yang gagah kini resmi terpampang di depannya. Di bagian depan, sebuah papan nama dari kayu jati pilihan berukuran besar sudah terpasang rapi sesuai permintaannya, bertuliskan: Apotek Ruozi Jaya Medika.
"Wah, Mas Lei Jin, kerjaan kamu cepat juga ya! Kamar sewaannya oke, lokasinya strategis, pas banget buat target pasar kalangan ningrat sampai rakyat jelata," puji Ruozi sambil menepuk-nepuk pundak Wakil Jenderal Lei Jin yang hari itu bertugas menjadi pengawal sekaligus kuli dadakannya.
Lei Jin tersenyum bangga, meski seragam militernya sedikit berdebu karena sibuk mengangkut barang. "Ini semua berkat perintah langsung dari Jenderal Besar, Nona Shen. Semua bahan herbal terbaik yang Anda minta juga sudah dipindahkan ke lantai tiga."
Ruozi langsung melesat naik ke lantai atas. Lantai tiga ruko itu telah diubah total menjadi ruang privasinya. Di sana, belasan tungku pembakaran kuno, botol-botol kaca tebal, tabung bambu yang sudah dimodifikasi, hingga timbangan analitik tradisional berjejer rapi.
Menggunakan pengetahuan toksikologi modern dari abad ke-21, Ruozi mulai beraksi. Ia memilah Akar Angelica, mengekstrak racikan Daun Dewa, dan menyuling beberapa tetes cairan dari tanaman beracun penawar untuk menetralkan racun kronis di tubuh Long Tianxu.
Proses distilasi sederhana dengan alat kuno itu berjalan sempurna, menghasilkan secangkir cairan bening keperakan yang aromanya tidak lagi menyengat, melainkan wangi segar seperti embun pagi.
Tepat saat matahari mulai terbenam, desau angin kencang berembus di jendela lantai tiga. Sesosok pria tinggi tegap dengan jubah hitam bordir naga mendarat tanpa suara di dalam ruangan. Siapa lagi kalau bukan sang Dewa Perang, Long Tianxu.
"Tepat waktu banget, Mas Jenderal. Nih, ramuan tahap pertama buat bersihin racun di jantung kamu sudah jadi," ucap Ruozi tanpa menoleh, sibuk menuangkan cairan perak itu ke dalam cangkir giok kecil.
Tianxu menatap cangkir itu dengan dahi berkerut. Berbeda dengan obat hitam pahit yang ia minum di gua dulu, cairan ini terlihat sangat bersih. Tanpa ragu, ia meraih cangkir tersebut dan meminumnya dalam sekali teguk.
Seketika, mata elang Tianxu melebar. Sebuah sensasi hangat yang sangat kuat langsung menjalar dari tenggorokannya, turun ke dada, lalu meledak ke seluruh jalur meridian tubuhnya. Rasa sakit kronis yang biasanya menusuk-nusuk jantungnya mendadak sirna, digantikan oleh aliran tenaga dalam yang mengalir lancar tanpa hambatan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.
Tianxu mengembuskan napas panjang, dan setitik darah hitam pekat sisa racun yang membeku keluar dari sudut bibirnya.
"Bagaimana? Mantap, kan? Jalur darah kamu yang mampet langsung plong kayak jalan tol baru dibuka," ujar Ruozi sambil terkekeh puas.
Namun, sebelum Tianxu sempat mengucapkan terima kasih atau mengungkapkan rasa takjubnya, Ruozi dengan gerakan kilat sudah menyodorkan segulung kertas kuarto kuno dan sebuah bak tinta tepat di depan dada sang jenderal.
"Nah, karena obatnya terbukti manjur dan kamu sudah ngerasa enakan, sekarang waktunya tanda tangan kontrak bisnis dan laporan anggaran operasional! Ini rincian biaya renovasi, belanja stok herbal langka bulan depan, plus gaji bonus buat Mas Lei Jin. Silakan dicap stempel resminya, Bos Besar!" tagih Ruozi dengan mata berbinar-binar penuh kelicikan matre andalannya.
Tianxu yang baru saja merasakan keajaiban medis luar biasa, langsung tertegun menatap kertas penuh angka denda dan biaya logistik di depannya. Wibawa sang Dewa Perang lagi-lagi runtuh seketika di hadapan tabib matre yang tidak pernah rugi ini.
Tianxu menatap lembaran kertas di depannya dengan alis yang bertaut erat. Angka-angka anggaran yang tertera di sana jelas-jelas sudah digelembungkan secara tidak masuk akal oleh gadis matre ini. Ada biaya "keamanan emosional", "dana tak terduga untuk camilan asisten", hingga "pajak kecantikan tabib" yang nominalnya membuat rahang sang Jenderal Besar hampir bergeser. Namun, merasakan dadanya yang benar-benar plong tanpa rasa sakit untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Tianxu tahu bahwa racikan obat Ruozi memang sepadan dengan harga selangit itu.
Dengan helaan napas berat penuh kepasrahan, Tianxu mengeluarkan stempel giok resmi miliknya dari balik jubah. Ia menekan stempel itu kuat-kuat di atas kertas kontrak, mengesahkan kerja sama bisnis terselubung mereka. "Semua anggaran tidak masuk akal ini akan aku penuhi. Besok pagi, sepuluh peti emas murni akan diantar langsung oleh Lei Jin ke ruko ini," ucap Tianxu dengan suara baritonnya yang dingin namun terdengar pasrah.
Ruozi langsung menyambar kertas yang sudah dicap itu dengan mata berbinar-binar penuh kemenangan. Dalam hatinya, ia sudah bersorak heboh bagaikan menang lotre nasional. Margin keuntungan yang ia selipkan di kontrak itu sangat tebal, cukup untuk membuat dirinya hidup mewah layaknya putri bangsawan tanpa perlu pusing memikirkan biaya hidup selama bertahun-tahun di ibu kota kuno ini.
"Nah, begitu dong! Kerja sama dengan Dewa Perang memang tidak pernah mengecewakan," puji Ruozi sambil menepuk-nepuk kertas kontrak itu dengan penuh kasih sayang sebelum menyimpannya ke dalam laci. "Sebagai bonus pelayanan prima, ramuan untuk besok malam akan aku siapkan dengan kualitas paling premium khusus untuk kamu."
Tianxu tidak langsung pergi, ia menatap ruko tiga lantai yang masih sepi itu lalu kembali melirik Ruozi. "Ibu kota tidak seaman yang kamu bayangkan, Shen Ruozi. Toko sebesar ini di pusat pasar pasti akan menarik perhatian para pejabat korup dan preman pasar. Aku akan menempatkan empat pengawal elit dari pasukan pribadiku untuk menjaga tempat ini mulai besok."
Mendengar hal itu, senyum Ruozi semakin lebar hingga telinganya. Mendapatkan modal tanpa batas sudah luar biasa, sekarang ditambah lagi dengan fasilitas pengamanan gratis kelas kakap langsung dari militer tertinggi.
Siapa juga preman pasar yang cukup bodoh untuk mencari perkara dengan pengawal pribadi sang Dewa Perang? Toko obatnya resmi menjadi tempat paling aman di seluruh kekaisaran.
"Sip! Atur saja bagaimana baiknya, yang penting performa kerja mereka harus oke dan tidak merusak barang pajangan," sahut Ruozi santai sambil melambaikan tangan ke arah jendela. "Sekarang kamu mending cepat pulang dan istirahat. Ingat pesan aku tadi, jangan coba-coba pakai tenaga dalam buat pamer atau lompat-lompat atap dulu malam ini kalau tidak mau dadamu mendadak nyeri lagi."
Tianxu memberikan tatapan dalam yang sulit diartikan kepada gadis unik di depannya, mengakui dalam hati bahwa kemampuan medis dan mental baja Ruozi benar-benar mengerikan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, tubuh tegap sang Jenderal bergerak secepat kilat, melompat keluar dari jendela lantai tiga dan menghilang di kegelapan malam bagaikan bayangan.
Ruozi berjalan ke tepi jendela, menatap langit malam ibu kota yang bertabur bintang sambil tersenyum licik, siap menyambut hari pertamanya sebagai juragan apotek paling hits esok hari.