Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Baru
Bab 8
Kebohongan Baru
Dinda menatap Daffa tajam. Kesal karena pemuda itu memaksa untuk bergabung dalam pembicaraannya dengan Tiwi kelak.
Daffa dengan santainya duduk di sofa ruang tamu rumahnya sendiri. Ia tahu di jam seperti ini tidak ada orang di rumahnya.
"Abang nggak percaya banget sih, sama gue."
"Bukan nggak percaya. Lebih ke antisipasi."
Tidak ada yang salah dengan apa yang baru saja Daffa ucapkan. Namun Dinda tiba-tiba kembali merasa kesal ketika melihat Daffa yang duduk sedikit ngangkang ala cowok.
"Bang! Ya ampun Bang....! Apa dimana-mana Lu duduk kayak gitu juga?! Inget-inget dong, itu tubuh gue?! Kalem dikit napa..."
Spontan Daffa melihat caranya duduk, dan membenarkan posisinya.
"Lu juga."
Daffa mengingatkan. Cara duduk Dinda terlihat terlalu kemayu, tidak sesuai dengan tubuhnya yang sebenarnya cukup atletis.
Sontak Dinda mengubah posisi duduknya, berusaha terlihat lebih santai dan maskulin meski gerakannya sedikit kikuk. Ia kemudian melirik Daffa, seolah ingin mengatakan bahwa ia sudah mengikuti peringatannya.
Namun, tiba-tiba Dinda bangkit dari duduknya dan menghampiri Daffa. Tanpa banyak bicara, ia langsung menarik dan mengangkat ke atas rok sekolah yang sedang dikenakan Daffa. Seolah ingin memastikan sesuatu atas apa yang ia lihat sekilas tadi.
“Bang, lu gila, ya?! Masa lu nggak pakai daleman? Short pants gue kan banyak!”
Dinda memarahi Daffa dengan nada yang sedikit meninggi. Ia benar-benar kesal melihat Daffa begitu sembarangan memperlakukan tubuhnya.
“Ting... tong...!”
Suara bel pintu tiba-tiba terdengar, menghentikan perdebatan mereka untuk sementara.
“Awas kalau besok-besok lu masih kayak gitu lagi, Bang!” ancam Dinda sebelum beranjak pergi.
Dengan langkah malas dan wajah masih terlihat kesal, Dinda membuka pintu untuk tamu yang mereka tunggu.
"Daffa, lu udah nggak sakit lagi? Nih, gue bawain camilan."
Gadis yang bernama Tiwi dengan senyum ramahnya menyodorkan sebuah kantung plastik yang berisi beberapa jenis camilan.
"Gue boleh masuk?"
Tanpa menjawab Dinda menggeser tubuhnya, memberi jalan agar Tiwi bisa masuk ke dalam.
Sebenarnya, Dinda tidak ingin berurusan dengan hal-hal seperti ini. Apalagi, ini bukan tentang dirinya, melainkan tentang Daffa, seseorang yang baru kembali dekat dengannya sejak dua hari terakhir.
Tiwi yang merasa senang berkunjung ke rumah Daffa pun tampak tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Gadis itu terus tersenyum menatap punggung Daffa yang membawanya masuk ke dalam rumahnya.
Sampai di ruang tengah keluarga, ada Daffa yang melihat ke arahnya. Senyum Tiwi sirna begitu saja mengetahui ada gadis lain yang sedang bersama Daffa dalam keadaan rumah sedang sepi.
“Duduk.”
Dinda yang berada di dalam tubuh Daffa menunjuk sofa di hadapannya, mempersilahkan Tiwi untuk duduk.
“Dia siapa, Daff?”
Tanya Tiwi penasaran. Sejak tadi, tatapannya terus bergantian memperhatikan Dinda dan Daffa, terutama gadis di hadapannya yang tak henti-hentinya menatap dirinya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa gadis itu sebenarnya adalah Daffa yang sedang berada di dalam tubuh Dinda.
“Oh, dia tetangga sebelah. Dia biasa les sama gue.”
“Oh, hai! Gue Tiwi.”
Tiwi mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Mau tak mau, Daffa menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya.
“Dinda.”
“Udah selesai, ya, lesnya?”
Tiwi mengatakannya sambil melirik ke arah Daffa. Tatapannya sesekali beralih kepada Dinda, seolah-olah ingin memberi isyarat agar gadis itu segera pergi dan meninggalkan mereka berdua.
"Gue kesini, karena mau min..."
“Daffa, lu udah nggak apa-apa, kan? Masih sakit nggak? Tadi di kampus sikap lu aneh banget, tahu nggak?!”
Tiwi sama sekali tidak menghiraukan ucapan Daffa yang sebenarnya sedang berada di dalam tubuh Dinda. Ia justru terus mengoceh sambil mendekati Dinda yang ia lihat sebagai Daffa. Tangannya tanpa ragu menyentuh dahi Dinda membuat gadis itu risih di perlakukan manis oleh sesama jenis.
Sementara itu, Daffa yang berada di dalam tubuh Dinda hanya bisa menatap Tiwi dengan tatapan tidak suka. Ia jelas merasa terganggu melihat Tiwi menyentuh tubuh aslinya.
“Gue nggak apa-apa. Nggak apa-apa.”
Dengan cepat, Dinda meraih tangan Tiwi dan menurunkannya dari dahi.
“Gue khawatir, loh. Apalagi kata Evan, kemarin lu nggak ikut latihan bola karena nggak enak badan. Terus tadi wajah lu merah banget, tahu?!”
Tiwi masih memegangi tangan Daffa dengan santainya. Hal itu membuat Dinda semakin tidak nyaman. Akhirnya, ia memilih berpindah tempat dan duduk di samping Daffa asli yang kini berada di dalam tubuhnya sendiri.
“Tugas mana yang mau gue bantu?”
Tanya Dinda kepada Daffa, sambil merangkul bahu tubuhnya sendiri.
Apaan nih bocil? Apa sekalian gue manfaatin aja, ya? Biar Tiwi nggak terus-terusan ngejar gue.
Daffa tiba-tiba memeluk pinggang dan menyandarkan kepalanya di bahu tubuhnya sendiri. Dinda sontak terkejut. Seluruh tubuhnya langsung merinding.
Hiiiy... Ngapain, sih, si Abang malah meluk lengan gue segala?!
Tatapan Tiwi berubah tidak nyaman. Lama-kelamaan, sorot matanya menjadi sinis dan kesal ketika melihat gadis lain memeluk lengan Daffa.
Tak mau kalah, Tiwi segera bergeser dan duduk di sisi lain, lalu memeluk lengan satunya.
“Tugas apa, sih? Gue juga bisa bantu, kok.”
“Gue maunya diajarin sama Bang Daffa."
Jawab Dinda, atau tepatnya Daffa yang berada di dalam tubuh Dinda dengan nada manja sambil semakin erat bergelayut di lengan tubuhnya sendiri.
Hiiiy... Nih abang makin parah aja?! batin Dinda meronta-ronta.
“Daffa, biar gue aja ya, yang ngajarin anak ini?” tawar Tiwi.
“Gue nggak mau! Maunya sama Bang Daffa aja!”
“Sama gue aja. Gue bisa jelasin lebih rinci daripada Daffa.”
“Gue nggak mau! Pokoknya harus sama Bang Daffa!”
“STOP!”
Akhirnya dengan suara alto yang menggema, Daffa alias dinda menghentikan perdebatan. Hingga membuat keduanya terdiam seketika.
Mereka bahkan tidak menyadari bahwa sejak tadi Mayang, ibu Daffa, sudah pulang dan berdiri di dekat pintu ruang tengah.
“Loh? Ada tamu, Daff? Tumben kamu ngajak teman main ke rumah. Eh, ada Dinda juga.”
Mayang mengedarkan pandangan, lalu menatap Tiwi yang belum pernah ditemuinya sebelumnya.
Dinda yang berada di dalam tubuh Daffa sontak terkejut. Wajahnya langsung panik. Ia hanya terdiam, bingung harus menjawab apa kepada Mayang.
“Sore, Tante.”
Daffa yang berada di dalam tubuh Dinda buru-buru bangkit dari duduknya dan menghampiri Mayang. Mengetahui karakter mamanya yang mudah akrab dengan orang lain, Daffa langsung mengambil kesempatan untuk menarik hati wanita paruh baya itu.
“Oh, Dinda. Tumben main ke rumah Tante? Padahal dari dulu Tante ngajakin kamu main ke sini susah banget. Ibu kamu mana?”
“Mama belum pulang, Tante. Iya, maaf nih, Tante. Soalnya Dinda malu banget. Ini aja Dinda ke sini karena minta tolong Bang Daffa ngajarin tugas. Susah banget, pokoknya.”
Mayang tersenyum mendengar jawabannya.
“Sering-sering, loh, datang ke sini. Tante senang kalau kamu main ke sini. Oh, iya... ini siapa?”
Mayang kembali mengalihkan pandangan kepada Tiwi yang masih duduk di sofa.
“Oh, maaf, Tante. Aku Tiwi, teman kampusnya Daffa. Tadi di kampus Daffa kelihatan kurang sehat, jadi aku datang ke sini buat jenguk dia.”
“Loh, Daffa sakit? Kenapa nggak bilang Mama?”
Dinda yang berada di dalam tubuh Daffa sontak tegang ketika Mayang berbicara kepadanya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia selalu berusaha menghindari pertemuan langsung dengan orang tua Daffa sejak mereka bertukar tubuh.
Dinda sengaja tidak pernah ikut sarapan bersama karena selalu berangkat lebih pagi. Saat orang tua Daffa berada di rumah, ia juga memilih menghabiskan waktu di luar. Begitu malam tiba, ia langsung masuk ke kamar dan menghindari percakapan terlalu lama.
Namun, hari ini kecemasannya benar-benar menjadi kenyataan.
Dinda takut Mayang menyadari ada sesuatu yang berbeda pada putranya.
“Emm... Ibu...”
Mata Daffa yang berada di dalam tubuh Dinda langsung membelalak.
Ibu?!
Ia segera melotot ke arah Dinda sambil memberi isyarat agar gadis itu tidak salah memanggil lagi. Karena Mayang harusnya dipanggil Mama, bukan Ibu.
“Eh... Mama,” koreksi Dinda cepat. “Itu, Ma... Daffa nggak sakit, kok. Cuma tadi di kampus sedikit pusing aja. Tapi sekarang udah nggak lagi.”
Dinda buru-buru mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Nggak sakit? Tapi kamu pucat loh, Daffa."
Mayang mendekati anaknya dan menyentuh dahinya untuk memastikan kondisinya. Tidak ada hawa panas sedikit pun. Namun, hampir seluruh tubuh Daffa justru dipenuhi keringat dingin. Bahkan ujung-ujung jarinya terasa dingin karena tubuhnya diliputi kepanikan.
"Kalau begitu, Daffa ke kamar aja, mau istirahat. Maaf, gue tinggal dulu."
Tanpa membuang kesempatan, Daffa yang sebenarnya adalah Dinda segera kabur dari ruangan itu dan bergegas menuju lantai atas, tempat kamar Daffa berada.
“Kalau begitu, Dinda pamit juga, deh, Tante. PR-nya aku kerjain di rumah aja. Permisi, Tante.”
Tanpa menunggu jawaban Mayang, Dinda yang sebenarnya adalah Daffa juga buru-buru meninggalkan ruang tengah dan bergegas pulang ke rumah sebelah, rumah milik Dinda yang sebenarnya.
Tinggallah Tiwi yang kini merasa kikuk sendirian. Setelah suasana terasa canggung, ia pun akhirnya memutuskan untuk pamit dan pulang ke rumahnya.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu