Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 32
... keajaiban terbesar yang paling kusyukuri dalam hidupku."
Jemari kekar Kaisar Tian menggenggam jemari halus Anran kian erat, seolah tak ingin melepaskan satu-satunya sosok yang telah mengubah takdir hidup dan takdir seluruh kekaisaran. Di bawah pendar keemasan ribuan lampion yang membumbung tinggi di atas Menara Bintang, pendar cahaya malam memantul indah di sepasang mata jernih milik Anran.
Anran menyandarkan kepalanya pelan di dada bidang sang kaisar, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup tenang dan hangat. Memori belasan tahun lalu berputar perlahan di benaknya bagaikan gulungan gambar yang tak terhapuskan. Sebagai seorang wanita abad ke-21 yang dulunya bergelut dengan mikroskop, sampel kimia, dan laboratorium toksikologi modern, ia masih ingat betul detik pertama ketika jiwanya terbangun di dalam tubuh seorang permaisuri tak berdaya yang sedang dalam cengkeraman maut.
Saat itu, tempat ini hanyalah istana dingin yang pekat oleh kebohongan, racun tersembunyi, dan hasrat kekuasaan yang rakus. Namun, ia memilih untuk tidak tunduk pada nasib.
"Jika waktu itu Saya memilih untuk mundur dan menyerah pada racun Bunga Malam Biru milik Selir Mei," ujar Anran pelan dengan senyum tipis yang amat memikat di bibirnya, "mungkin Saya tidak akan pernah tahu betapa hangatnya berdiri di samping seorang pria yang rela menyerahkan seluruh kepercayaannya pada Saya."
Kaisar Tian terkekeh rendah, suara baritonnya bergaung penuh kehangatan. Ia mengecup kening Anran dengan lembut. "Kau yang mengajariku cara percaya, Anran. Dulu, aku mengira tahta ini adalah tempat paling dingin di dunia, di mana setiap orang di sekelilingku hanyalah musuh berkedok pengabdi. Namun kau hadir membawa keberanian dan kebenaran yang tak bisa diruntuhkan oleh siapa pun."
Anran menatap hamparan ibu kota Great Yan yang membentang luas di bawah menara. Pemandangan malam itu begitu memukau. Rumah-rumah warga diterangi lampion merah dan emas, jalan-jalan utama ramai oleh gelak tawa rakyat yang merayakan festival panen raya, dan tak ada lagi ketakutan akan perang atau penderitaan akibat wabah.
Melalui kepemimpinan dan dedikasi Anran, Balai Pengobatan Kerajaan telah melahirkan ribuan tabib berbakat—termasuk generasi pertama tabib wanita yang kini dihormati di seluruh benua. Sistem karantina, sanitasi bersih, dan jaringan klinik medis gratis yang dibangun Anran telah menyelamatkan jutaan nyawa. Rakyat Great Yan tidak lagi menyebutnya sekadar sebagai istri Kaisar, melainkan memujanya sebagai 'Ibu Agung Penyembuh' yang membawa berkah keabadian bagi negeri mereka.
Sementara di panggung politik, keberanian Anran bersama Skuadron Naga Hitam telah menyapu bersih segenap faksi pengkhianat. Mulai dari kejahatan Pangeran Xiao yang menyelundupkan racun Daun Darah Hitam hingga konspirasi gelap Dowager Xian dengan Akar Racun Bintang—semua musuh runtuh tak berdaya di hadapan ketajaman analisa dan ketegasan sang Permaisuri Agung.
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki tegap yang mantap bergaung di sepanjang tangga pualam Menara Bintang. Seorang pemuda tampan berzirah perak keemasan melangkah mendekat dengan wibawa yang sangat mirip dengan sang ayah.
"Hamba menghadap Ayah Baginda dan Ibu Permaisuri," ucap Pangeran Yuan'er seraya membungkuk hormat penuh rasa takzim.
Anran memalingkan wajahnya, menatap putra tunggal mereka yang kini telah tumbuh menjadi calon penguasa yang gagah, bijaksana, dan dicintai rakyat. "Yuan'er, bagaimana situasi di festival istana bawah?"
Pangeran Yuan'er menengadah, mengulas senyum bangga yang penuh kehangatan. "Melapor kepada Ibu Permaisuri, seluruh utusan dari Kerajaan Selatan dan tiga wilayah perbatasan telah menandatangani perjanjian damai abadi. Tim medis dari Balai Pengobatan yang Ibu utus ke wilayah perbatasan selatan juga telah berhasil menumpas sisa-sisa wabah rawa sepenuhnya. Rakyat di seluruh pelosok sedang memanjatkan doa keselamatan untuk Ayah Baginda dan Ibu Permaisuri!"
Kaisar Tian tersenyum lebar seraya menepuk bahu tegap putranya. "Kau telah menyelesaikan tugasmu dengan sangat sempurna, Yuan'er. Ilmu pedang dan taktik perang yang kau pelajari dari Ayah, serta ketelitian medis dan kepemimpinan yang kau warisi dari Ibumu, telah