lelah, satu kata yang mewakili keadaan yang Rania rasakan saat ini. sudah 3 tahun pernikahan nya dan kevin berjalan. namun tidak sehari pun Kevin menganggap Rania sebagai istrinya.
" kapan kamu berhenti berselingkuh? dan menganggap aku sebagai istri mu?" tanya Rania dengan suara pelan dan nada lelah.
" saat kau mati" jawab Kevin dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8_ khawatir
Hening... Hanya ada suara hujan dan juga suara mesin mobi yang bersuara pelan. Kilat putih sesekali muncul, hanya saja tidak ada petir.
Gizel duduk diam menatap hujan yang turun deras melakui kaca jendela mobil. Dia berusaha keras menghindar tatapan dengan Kevin.
" apa ini arahnya benar?" tanya Kevin.
Kevin tidak tahu dimana rumah gizel. Dia bingung harus mengemudi kearah mana karena sedari tadi gizel hanya diam saja.
Tiba tiba ponsel gizel bergetar menandakan ada panggilan masuk. Dia mengambil ponselnya dan melihat nama Alaska tertulis di sana.
" sial! Ini bukan waktu yang tepat" batin gizel lalu memilih untuk mematikan panggilan tersebut lalu memilih untuk mengirimkan pesan pada Alaska.
Aku sedang bersama kevin_ gizel
" aku bertanya padamu, atau kamu ingin ikut pulang ke rumah ku?" tanya Kevin karena gizel tidak merespon pertanyaan tadi.
Gizel menoleh kearah Kevin dan menatap Kevin dengan kebingungan " apa?" tanya nya bingung.
Gizel tidak mengerti apa yang sedang Kevin bahas. Yaa, dia tidak mendengar pertanyaan Kevin tadi karena dia sedang melamun.
" ke mana arah rumah mu? " tanya Kevin
" ohh, aku tinggal di apartemen sky blue " ujar gizel
" sangat kebetulan, apartemen mu searah dengan rumah ku" ujar Kevin.
Ah ya! kenapa gizel bisa lupa? Rumah mereka dulu kan arahnya memang kesini. Jadi... Kevin masih tinggal di rumah itu? sekarang dia sudah bebas membawa semua wanita ke sana.
Bukanya dari dulu dia memang sudah bebas? Hahaha, pas ada gizel dulu kan juga nggak di anggap ada.
Dan sekarang? Kevin ingin mendekatinya? Ingin menjadikan dia salah satu dari wanita wanita itu? Itu semua tak akan pernah terjadi, aku tidak akan terjebak lagi.
" sudah sampai, mau aku antar sampai ke lobi? " tawar Kevin
" tidak, thanks you " ujar gizel lalu meraih handel pintu untuk keluar.
" pakai payung nya" ujar Kevin memberikan payung yang dia simpan di mobil.
" tidak perlu" tolak gizel lalu segera keluar dan berlari menuju lobi apartemen.
Pinjam payung Kevin? Dan nanti mereka akan bertemu lagi untuk mengembalikan payung nya? CK! dia tahu taktik murahan Kevin.
gizel masuk ke kamar apartemennya. badannya sudah basah karena hujan deras. Tanpa membuang buang waktu gizel segera bergegas untuk mandi.
" ah! Seger nya" gumam gizel setelah selesai mandi dan mengeringkan rambutnya.
Setelah rambutnya kering dia membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya dengan posisi terlentang dan kedua tangan yang di rentangkan.
" huft! Tenangkan dirimu gizel" gumam gizel menatap langit langit kamar dengan otak yang berisik.
Tidak seharusnya gizel bereaksi seperti ini. Seharusnya dia bisa lebih tenang dan bersikap santai. Tapi kenapa? Kenapa jantung nya masih berdebar saat berada di samping pria itu? Ini benar benar menyebalkan.
gizel memejamkan makanya, mengingat kembali pada kejadian dulu. dimana Kevin selalu acuh padanya, mengabaikan nya, tidak menganggap dia sebagai istrinya.
Membawa banyak wanita kerumah, tidur dengan Clara di kamar mereka sampai berhubungan badan. Berciuman dengan wanita wanita nya di depan gizel.
" jika kamu tidak suka, maka mati saja "
" aku tidak akan melepaskan mu, kecuali kamu mati"
" aku tidak pernah mencintai mu, tidak akan pernah. Ingat! pernikahan ini terjadi karena ulah mu"
" minum obatnya, aku tidak mau memiliki anak dari mu"
" sampai kapan pun kau hanya budak bagi ku"
" jangan berkhayal Rania, kamu tidak akan menjadi wanita ku"
Tanpa sadar gizel tertidur dengan pikiran yang terus membayangkan kejadian kejadian menyakitkan dulu.
" ini bayaran mu" ujar Kevin pada seorang pria memberikan beberapa lembar uang berwarna merah.
" terimakasih bos, jika ada pekerjaan lagi segera hubungi aku" ujar pria tersebut menerima uang itu.
Kevin tidak menjawab, dia menutup jendela mobil nya lalu pergi dari sana.
Yaa! Kevin sudah mengikuti gizel dari toko. Dia sudah mencari tahu tentang sosok gizel Calista Nicole. dia yakin, gizel dan Rania ada kaitannya. entah kenapa feeling nya mengatakan gizel itu adalah Rania.
Suaranya, tatonya dan juga sikap nya tadi yang mencurigakan. itu semua membuat Kevin semakin yakin.
Kevin menyuruh seseorang untuk melepaskan angin ban mobil gizel. Dengan begitu dia bisa menawarkan tumpangan. dan untungnya alam berpihak padanya, hujan turun dengan deras di waktu yang tepat.
Kevin tersenyum senang. Meskipun dia belum tahu tentang fakta yang sebenarnya. tapi dia tetap bahagia.
" Rania, kamu tidak akan bisa membohongi ku. Aku akan mencari tahunya, secepatnya" gumam Kevin.
" haruna, kamu bisa menghubungi gizel?" tanya Alaska pada Haruna.
Hari sudah berganti, dan seharian ini Alaska tidak bisa menghubungi gizel. Padahal ada hal penting yang mau dia bicarakan.
" aku tidak menghubungi nya hari ini, memang nya kenapa?" tanya Haruna
" aku sudah menghubungi nya sedari tadi pagi, tapi tidak dia jawab. Tidak mungkin dia sesibuk itu sampai tidak bisa menjawab panggilan ku" ujar Alaska
" dia kan sedang mengurus toko nya Disini, maklum agak sibuk" ujar Haruna
" tapi tidak mungkin sampai tidak bisa menjawab panggilan kan?" ujar Alaska" aku khawatir, apa lagi semalam dia bersama Kevin"
" APA?! " seru Haruna kaget " mereka bersama? apa kita sudah ketahuan? Secepat ini?" tanya Haruna
" aku tidak tahu, karena itu aku ingin menghubungi gizel"
" biar aku coba" ujar Haruna lalu mengambil ponselnya dan menghubungi nomor gizel.
tuttt....
nada tunggu berbunyi, itu artinya panggilan masuk dan ponsel gizel tidak mati. mereka berdua menunggu panggilan tersebut tersambung dengan perasaan tidak tenang. Takut terjadi sesuatu pada gizel.
" tidak di angkat " ujar Haruna dengan wajah cemas lalu kembali menghubungi nomor yang sama sampai beberapa kali namun tetap tidak di jawab.
" apa jangan jangan Kevin mengurung gizel? atau Kevin membuang ponsel gizel?" tebak haruna dengan pikiran negatif nya.
Bagaimana tidak berfikir seperti itu? gizel tidak biasa nya seperti ini. apa lagi ini dari tadi pagi dan sekarang sudah sore.
" biar aku hubungi Kevin" ujar Alaska.
Alaska mengambil ponselnya di dalam saku celana lalu menghubungi nomor sahabatnya itu.
Panggilan masuk, mereka berdua menunggu nya dengan perasaan berharap cemas. Dan sialnya sama, tidak di jawab.
" ada yang nggak beres" ujar keduanya sambil bertatapan.
Serempak keduanya berdiri dan bergegas pergi dari apartemen Haruna. Keduanya berjalan dengan tergesa gesa menuju lift.
" kalo sampai terjadi sesuatu pada gizel, aku tak akan melepaskan sahabat mu itu" ujar Haruna bersungguh sungguh.
" tenang lah, aku kenal Kevin. dia tidak mungkin melakukan hal di luar batas" ujar Alaska menenangkan meskipun dia sendiri tidak yakin.
ting
pintu lift terbuka, Keduanya segera keluar dan berjalan ke parkiran. Mereka pergi menggunakan mobil milik Alaska dengan Alaska yang mengemudi. Alaska mengemudi dengan kecepatan tinggi.