NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

"Kamu tadi dengar ancaman dia kan? Apakah dia orang yang dimaksud dalam email si peduli kamu?" Nismara berkata.

"Kamu mencurigai Cynthia?" Miranti sedikit membolakan mata.

"Entahlah, tadinya aku berpikir bahwa informasi Sherin dibunuh itu adalah sesuatu yang sangat konyol. Sherin hanyalah gadis muda yang suka foya-foya. Tapi sekarang aku jadi sedikit terbuka. Cynthia juga bukan orang sembarangan, dia punya banyak pengaruh dan uang..kamu tahulah maksudku, Mir." Kata Nismara menoleh pada Miranti. "Tapi aku juga jadi curiga kepada Gege dan Sam."

"Hah?" Miranti berseru kaget.

" Cynthia jelas punya keuntungan dengan kematian Sherin. Mungkin dia ingin Gege menjadi milik dia seutuhnya. Hampir sama dengan motif Sam, jika ternyata Sam pelakunya. Mereka berdua tidak ingin ambil bagian dalam tanggung jawab Sherin, saat kelak pernikahan kami masing-masing terjadi." Nismara menumpahkan isi kepalanya yang tiba-tiba terlintas.

Miranti melongo lebar. Dia tidak percaya pada apa yang barusan dikatakan oleh Nismara. Kalau Cynthia oke okelah, tapi ternyata Nismara mencurigai kekasihnya sendiri.

"Aku kenal Sam belum lama, dan sepanjang itu terlihat banget kalau dia tidak suka sama Sherin. Jangan lupa, Mir, cinta buta itu bisa menghalalkan segala cara." Nismara berkata lagi seraya menepuk kecil pipi Miranti, agar Miranti menutup mulutnya. Dia terlihat begitu kaget dengan analisa dadakan yang Nismara katakan barusan.

"Kalau Gege?" Miranti masih saja tidak percaya dengan pendengarannya. "Dia kan Bapak kandungnya Sherin....."

"Yang tidak pernah menginginkan Sherin kan?" tukas Nismara. " Mungkin kamu belum tahu, Mir. Sherin itu punya kekayaan lumayan yang didapat dari Papanya Gege, semua sudah atas nama Sherin. Dulu Papanya Gege melakukan semua itu agar Gege tidak dituntut tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan seorang bapak oleh keluargaku. Biar Gege bebas melanjutkan hidupnya sendiri."

Nismara menghentikan bicaranya. Dia menatap Miranti dengan mata membesar. "Kan kamu yang kasih tahu aku kalau sekarang ini perusahaan Gege sedang kesulitan keuangan ya? Aduh kok clue-nya jadi semakin jelas Mir."

"A- apa kalau Sherin nggak ada, otomatis semua kekayaan itu kembali ke Gege, Nis?"

"Aku nggak tahu, Mir. Saat itu aku asal membubuhkan tanda tangan persetujuan. Karena sejujurnya aku pun ingin segera melanjutkan hidupku sendiri tanpa ribet dengan urusan Sherin." Nada Nismara berubah agak sendu.

Miranti pun ikut mengambil nafas. Tidak menyangka jika hidup Sherin memang sudah demikian menyedihkan sedari lahir.

Nismara memandang sekali lagi pada Miranti. "Ah, aku jadi ingat, tadi Gege bilang mau mendirikan yayasan. Kupikir pada awal tujuan Gege benar-benar untuk menebus rasa bersalahnya pada Sherin, tapi bisa jadi ini adalah akal-akalan dia untuk memindahkan warisan Sherin pada namanya. Gimana menurutmu?"

"Nis, kok aku jadi takut ya. Apa nggak sebaiknya kita lapor polisi saja? Atau setidaknya udah deh biarin. Enggak usah menyelidiki lagi. Kita terima saja kematian Sherin seperti sekarang ini." Miranti berkata lirih. Sejujurnya dia takut akan memancing emosi dari Nismara.

"Aku tadinya berpikir begitu, Mir. Tapi setelah kupikir-pikir, si peduli kamu itu benar. Setidaknya aku peduli sekali saja pada Sherin, meski dia sudah meninggal, supaya aku tidak terus-menerus di hampir rasa bersalah."

Miranti mendesah kalut. "Kalau kamu nggak mau bantu, aku bisa sendiri, Mir." ucap Nismara sambil berdiri. Dia teringat tujuan utama ke rumahnya adalah untuk mengecek telepon genggam di kamar Sherin.

"Aku pasti bantu kamu, Nis. Cuma aku takut kalau terjadi apa-apa sama kamu." jawab Miranti ikut berdiri.

"Ya, aku siap menanggung semuanya, demi anakku ."

Nismara melangkah menuju tangga. Miranti menyusul di belakangnya.

Sampai di kamar Sherin, Nismara segera mencari kardus yang kemarin dia terima dari Gerald.

"Loh, kemarin aku letakkan di atas tempat tidur ini, kenapa sekarang tidak ada? Siapa yang sudah memindahkan?" seru Nismara.

"Mungkin kamar ini sudah dibereskan pembantumu, Nis. Keliatan kamarnya rapi dan wangi, nggak ada debu juga." seloroh Miranti.

"Ya, bisa jadi. Coba kamu cari di lemari itu, Mir. Aku cari yang sebelah sini."

Tak berapa lama, Miranti melihat kardus putih di atas rak dekat wastafel. "Itu bukan, Nis?"

Nismara menoleh, mengikuti telunjuk Miranti. "Oh, iya benar!"

Mereka segera menumpahkan isi dus itu. Dan barang yang mereka cari menyembul di antara barang lain.

"Apakah ini benar HP Sherin, Mir? Kamu pernah lihat nggak?" Nismara memperlihatkan benda pipih berwarna perak.

"Aku tidak begitu memperhatikannya. Tapi seingatku, HP sharing memang berwarna perak. Tapi model dan merknya aku nggak tahu persis."

Nismara menghembuskan nafas. " Ibu macam apa aku ini? Nggak tahu apa-apa tentang anaknya sendiri."

Miranti segera membelai pundak sahabatnya sambil tersenyum.

Dan ternyata telepon genggam itu dalam keadaan mati. Nismara mencoba untuk menyalakannya, tapi tetap tidak mau nyala.

" Mungkin habis baterai?" Miranti bertanya. "Aku bawa charger di dalam tasku, nanti aku ambil dulu tasku ketinggalan di teras belakang."

Tanpa menunggu jawaban dari Nismara. Miranti segera pergi dan kembali dalam waktu kurang dari 5 menit.

Bergegas Nismara memasukkan daya listrik ke gawai tersebut. Dan berhasil! Benda itu memunculkan notifikasi pengisian daya 0%. Jadi benar-benar pintar itu hanya habis baterai. Nismara segera menyalakannya, dan keberuntungan Tengah berpihak padanya, karena ternyata benda itu tidak disertai password.

Namun begitu mencoba melihat isinya. Kedua hati perempuan itu mencelos bersama. Kosong! Tampak telepon itu telah di reset ke setelan semula. Benar - benar-benar kosong tidak ada jejak apapun.

Nismara dan Miranti saling berpandangan.

"Ada seseorang yang sengaja melakukan ini." desis Nismara.

"Berarti benar sharing telah dibunuh?" Miranti bertanya dengan bibir bergetar.

"Tapi ada dua pertanyaan di sini. Yang pertama ini Hp siapa, kalau ternyata HP sering digunakan orang lain untuk menelpon aku tadi. Yang kedua Siapa yang telah dengan sengaja mereset HP ini sampai kosong begini?"

Nismara dan Miranti berpandangan lagi. Dan mengucap kata yang sama. "Gege?"

Nismara mengangguk. " Bisa jadi karena dia adalah orang terakhir yang memegang semua barang-barang ini, setelah itu aku tidak pernah mengutak-atik lagi."

"Ada satu jalan yang bisa membuktikan kalau itu kelakuan Gege." cetus Miranti.

"Apa?"

"Kita tanya ke pihak polisi."

Nismara melenguh. "Ck, dari tadi kamu polisi-polisi terus."

"Maksud ku, apakah memang polisi menemukan hp ini dalam keadaan sudah kosong atau tidak, sebelum menyerahkan ke Gege. Tidak mungkin polisi tidak membuka HP ini kan, Nis? Pasti polisi akan menyelidik sampai ke detail seperti ini."

"Tapi gimana caranya? Nggak mungkin juga kita tiba-tiba mendatangi polisi dan bertanya tentang isi HP ini begitu saja. Pasti polisi akan tanya untuk kepentingan apa."

Miranti menggaruk kepalanya.

"Tapi Kamu ibunya, pasti sah-sah saja ya untuk bertanya..."

"Iya, tapi gimana caranya, biar nggak dicurigai?"

"Ah, emang paling bener kita lapor aja semua ini ke polisi." gumam Miranti lirih. Dia bicara pada dirinya sendiri, namun Nismara yang mendengar hanya melirik saja.

Tok- Tok - Tok

1
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!