Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.
Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.
Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.
Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.
Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
POV: Kirana
Tinggal beberapa hari menjelang libur akhir tahun ketika akhirnya aku menuntaskan serah terima proyek dan bisa mengambil libur satu pagi untuk kegiatan orang tua di sekolah Nindy.
Pagi itu lokakarya orang tua dan anak, jenis acara di mana kami melukis sebuah vas dan berpura-pura kekacauannya adalah seni. Nindy suka sekali, dan aku lebih suka lagi pada wajahnya yang serius, lidah terjulur, jari belepotan cat.
Bu Wulan muncul di sekolah tanpa memberi tahu, membawa banyak tas belanja, dan menghancurkan suasana itu dalam tiga menit.
"Kirana, letakkan cat itu, nanti baju anak itu rusak," katanya sambil menarik Nindy. "Ayo, Sayang, Oma mau kenalkan kamu ke anak-anak teman Oma. Anak-anak yang selevel denganmu."
"Tapi aku lagi melukis sama Mama," protes Nindy.
"Nanti dilanjutkan. Ayo."
Nindy menoleh ke belakang, ragu, dan aku mengangguk, karena bertengkar dengan Bu Wulan di depan seluruh sekolah adalah jenis keributan yang tak akan kuberikan. Anak itu pergi, diseret ke pojok tempat para nenek memamerkan cucu seperti piala dan saling mengukur lewat nama keluarga.
Aku tertinggal dengan vas yang baru separuh jadi di tangan dan amarah tumpul di dada. Lalu aku menarik napas, meletakkan vas itu, dan memanfaatkan waktu luangku untuk pergi ke mal di sebelah, tempat aku sudah berjanji dengan Mira.
Mira sudah di depan toko perhiasan, kacamata hitam di kepala dan segelas kopi di tangan.
"Aku mau ambil kalung pesananku untuk ibuku," kataku. "Hadiah ulang tahunnya."
"Dan aku datang buat menyeretmu keluar dari laboratorium," jawabnya sambil mencium pipiku. "Mukamu kayak orang tidur empat jam."
"Tiga, di hari bagus."
Kami masuk. Sementara pramuniaga mengambil kalung ibuku dari brankas, aku mendengar tawa yang kukenal, dari konter cincin di seberang toko.
Laras.
Ia duduk di bangku tinggi, dan Rendra berdiri di sampingnya. Pramuniaga memegang nampan beludru, dan Laras sedang mencoba cincin berlian. Di tangan kiri. Di jari tempat cincin kawin dikenakan.
"Yang ini cantik sekali di jari Ibu," kata pramuniaga.
"Memang." Laras memutar tangannya di bawah cahaya, mengagumi. "Menurutmu bagaimana, Rendra?"
Aku menunggu. Menunggu ia berkata bahwa itu tidak pantas, bahwa ia janda kakaknya, bahwa jari itu dan cincin itu tidak cocok dengan keadaan keduanya.
Ia tidak mengatakan satu pun. Ia hanya memandang, dengan kesabarannya itu, dan berkomentar:
"Bagus. Tapi pilih yang kamu suka."
"Ih, kamu memanjakanku," Laras tertawa, memutar tangannya lagi. "Seharusnya jangan. Aku kan cuma janda kakakmu, coba bayangkan apa kata orang."
"Biar saja mereka bicara. Kamu pantas mendapat yang indah setelah semua yang kamu lewati."
Pantas mendapat yang indah. Dalam enam tahun, aku tak pernah mendengar Rendra bilang aku pantas mendapat apa pun. Ia memberiku hadiah mahal pada tanggal yang tepat, selalu dipilih sekretarisnya, selalu pada harga yang tepat, tak pernah dengan kata seperti itu menyertainya. Untuk Laras, itu keluar alami, seperti bernapas.
Mira di sampingku menahan napas. Aku tidak. Kukeluarkan ponsel perlahan dari saku, kuarahkan ke konter seperti orang memotret etalase sembarangan, dan merekam. Beberapa detik. Cincin di tangan kirinya, pertanyaan itu, jawabannya. Cukup.
Kusimpan ponsel, kuambil kalung ibuku dari tangan pramuniaga, kubayar, dan keluar tanpa terlihat oleh keduanya. Mira menyusul, hampir tersandung karena geram.
"Ran, kamu lihat itu? Cincin! Di tangan kiri! Di depan seisi toko!" Ia menarik lenganku begitu kami sampai di koridor. "Dan dia tidak bilang apa-apa. Tidak sepatah kata!"
"Aku lihat."
"Dan kamu setenang ini?" Ia memandangku seakan aku sudah gila. "Tahu nggak apa yang dibicarakan di jamuan-jamuan, di grup-grup? Bahwa Laras itu 'calon Nyonya Bramantyo yang sebenarnya'. Bahwa ini cuma soal waktu. Ada yang taruhan, Ran. Taruhan."
"Taruhan gimana?"
"Kayak balapan kuda. Ada yang bertaruh dia bakal ninggalin kamu sebelum pertengahan tahun. Ada yang bertaruh dia bertahan demi Nindy. Satu sosialita berbisa bersumpah Laras sudah memilih gaun pengantinnya." Mira melontarkan kata-kata itu dengan jijik. "Aku hampir menyiramkan minumanku ke mukanya waktu makan siang terakhir."
"Terus kamu bilang apa?"
"Bahwa mereka tidak mengenalmu." Mira menggenggam lenganku. "Tapi Ran, perempuan-perempuan itu yang menentukan reputasi di kota ini. Kalau mereka mengubur kamu secara sosial, sakitnya nyata, meski kamu tidak peduli."
Kami berhenti di dekat air mancur di tengah mal. Kuambil kopi dari tangan Mira, kuteguk dari gelasnya sendiri, dan kukembalikan.
"Biarkan mereka bertaruh," kataku. "Biarkan dia mencoba cincin sebanyak yang dia mau."
"Kok kamu bisa sedingin itu?"
"Karena aku belajar satu hal, Mir." Kupandang dia. "Kedudukan Nyonya Bramantyo tidak ditentukan di toko perhiasan, bukan oleh gosip grup, bukan karena Laras memasang cincin di jarinya dan Rendra tidak berani bilang tidak. Bukan dia yang menentukan apakah tempat itu layak dipertahankan. Bukan dia, bukan Rendra. Aku."
Mira memandangku beberapa saat, dan kekagetan di wajahnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain, semacam bangga.
"Kamu benar-benar sudah berubah," katanya lirih.
"Sudah." Kumasukkan kalung ibuku ke tas, bersama ponsel yang menyimpan rekaman itu. "Ayo, kutraktir makan siang. Aku harus cerita beberapa hal yang sedang dirancang pengacaraku. Dan aku perlu bantuanmu soal bagian yang lebih keahlianmu daripada keahlianku: bagaimana seorang perempuan memulai lagi kehidupan sosialnya di kota ini setelah keluar dari pernikahan seperti itu. Karena aku akan keluar. Hanya saja aku tak akan keluar lewat pintu belakang sambil menangis, seperti yang dipertaruhkan perempuan-perempuan itu."
Dan setelah sekian lama, aku makan siang bersama sahabat terbaikku tanpa beban berpura-pura semuanya baik-baik saja. Karena memang tidak baik-baik saja, dan kami berdua tahu, dan meski begitu aku lebih baik daripada hari mana pun dalam enam tahun terakhir.