Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
***
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra tebal, membiaskan cahaya keemasan di atas lantai marmer kamar utama. Lilianne bangun dengan sisa-sisa rasa lelah yang masih hinggap di tubuhnya. Namun, rasa jengkel pada sang suami jauh lebih mendominasi jalan pikirannya.
Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam di walk-in closet untuk bersolek, Lilianne melangkah keluar kamar dengan penampilan yang siap mencuri seluruh perhatian. Ia mengenakan silk slip dress berwarna champagne dari rumah mode Prancis terkemuka—potongan gaunnya tampak sangat simpel tetapi membalut lekuk tubuhnya dengan teramat elegan. Rambut blonde alaminya dibiarkan terurai bebas melintasi bahu, berkilau kontras saat terkena sinar matahari. Netra hijaunya yang jernih memancarkan binar menyejukkan sekaligus sarat akan keangkuhan yang tak tersentuh.
Lilianne melangkah seorang diri menyusuri lorong-lorong mansion yang amat luas dan megah. Suara dentang high heels rumahan bernuansa emas milik Lilianne berbunyi teratur, membelah keheningan bangunan neoklasik tersebut hingga akhirnya langkah kakinya membawanya tiba di ruang makan utama.
Meja makan panjang berkapasitas puluhan orang itu dihiasi vas bunga segar. Di ujung meja, Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo sudah duduk dengan tegak. Pria itu tampil sangat rapi dalam balutan kemeja putih yang dipadu jas kerja buatan tangan. Lengan kemejanya tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah berbahan platinum yang melingkar kokoh di pergelangan tangannya. Arya memancarkan aura tenang, disiplin, namun teramat mendominasi—tipe pria yang sanggup mengintimidasi seluruh isi ruangan hanya dengan keheningannya.
Dada Lilianne mendadak berdesir jengkel. Hal paling menyebalkan dari semua ini adalah fakta bahwa ia tidak bisa membantah ketampanan suaminya sendiri. Garis rahang Arya yang tegas, hidungnya yang bangir, serta pembawaannya yang dingin betul-betul perpaduan visual yang memikat secara berbahaya.
Saat Lilianne menarik salah satu kursi di sisi meja, Arya perlahan melipat surat kabar bisnis di tangannya dan menoleh. Netra kelam pria itu menyapu penampilan Lilianne dari atas ke bawah tanpa keraguan sedikit pun.
"Apakah kau belum terbiasa dengan ketampanan suamimu, Sayang?" ucap Arya tiba-tiba. Suara beratnya meluncur tenang tanpa beban, diiringi sudut bibir yang terangkat tipis.
Lilianne mendadak bergidik ngeri mendengarkan panggilan sok mesra dari pria yang semalam bersikap sangat dingin itu.
"Jangan terlalu percaya diri jadi orang, Pak Arya. Tidak semua wanita suka dengan wajah tampanmu yang kaku itu," sahut Lilianne ketus. Ia menarik kursi kayu jati berukir di samping Arya dan duduk dengan gerakan yang sengaja dibuat acuh tak acuh.
Arya hanya tersenyum miring—sebuah senyuman penuh arti yang makin memancing emosi Lilianne. Pria itu menyesap kopi hitamnya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah sang istri.
Lilianne kemudian mengabsen deretan hidangan yang tertata rapi di atas meja. Matanya membelalak pelan melihat menu sarapan yang disajikan: nasi liwet lengkap dengan lauk pauk tradisional khas Jawa yang kaya bumbu dan bersantan tebal.
Dahi halus Lilianne berkerut dalam. "Apakah tidak ada roti gandum dan omelette?" tanyanya dengan raut heran yang jelas. Menurutnya, menyantap makanan selengkap dan seberat ini di jam tujuh pagi adalah hal yang sangat berlebihan.
Arya meletakkan cangkir porselennya ke tatakan. "Kita sekarang di Indonesia, Lilianne. Biasakan dirimu dengan makanan rumah mulai sekarang."
Lilianne mendumel pelan di dalam hati, memutar matanya jengkel. Pria ini benar-benar tidak punya fleksibilitas sedikit pun!
Namun, rasa kesalnya pada makanan mendadak teralih oleh pemandangan lain di samping mereka. Sejak tadi, Lilianne merasa ada atmosfer yang kurang nyaman dari keberadaan Widya. Kepala pelayan berparas jelita itu masih berdiri sangat dekat di sisi Arya, melayaninya dengan begitu sigap dan terampil. Jemari Widya yang terawat menuangkan air putih ke gelas kristal Arya, lalu dengan penuh perhatian menyendokkan nasi serta lauk pauk ke atas piring pria itu—sebuah perhatian detail yang terasa terlalu personal di mata Lilianne.
Netra hijau Lilianne menyipit tajam. Ada desiran aneh di dadanya—bukan rasa cemburu, melainkan gengsi tinggi seorang Nyonya Soerjoatmodjo yang merasa wilayah kekuasaannya sedikit terusik oleh keberadaan wanita lain yang begitu patuh pada suaminya.
Ada yang aneh dari cara perempuan ini melayani Arya, batin Lilianne dalam hati, matanya mengunci setiap gerak-gerik Widya tanpa berkedip. Sentuhan dan tatapannya terlalu luwes... terlalu perhatian untuk ukuran seorang kepala pelayan. Di kediaman Djojodiningrat, pelayan senior yang sudah mengabdi bahkan sebelum aku dan kedua Mas-ku lahir pun tidak pernah mengambil alih urusan sepribadi ini sampai melayani seperti istri sendiri. Apa-apaan gesture melayani yang terkesan intim begini? Ada yang tidak beres.
Lilianne meletakkan serbet kainnya ke atas meja dengan gerakan perlahan namun menegaskan presensinya. Bunyi benturan halus antara kain dan permukaan kayu jati itu cukup nyaring untuk memotong keheningan di antara mereka.
"Aku butuh refreshing hari ini juga," potong Lilianne memecah keheningan, memutus fokus pelayanan Widya pada Arya.
Arya menoleh santai, menatap Lilianne yang kini bersedekap dada. "Mau ke mana?"
"Ke mana saja. Shopping, mengunjungi salon langgananku, atau sekadar membuang uang di mall," jawab Lilianne cepat dengan nada manjanya yang khas. "Tinggal di mansion bergaya museum tua milikmu ini selama beberapa jam saja sudah membuatku nyaris sesak napas."
Widya yang berdiri di samping Arya sempat melirik sekilas ke arah Lilianne sebelum kembali menundukkan kepala dengan sopan.
Arya menegakkan posisi duduknya. Pria itu mengambil kartu hitam (Black Card) berlogo eksklusif dari dalam dompet kulitnya, lalu meluncurkannya secara elegan di atas meja marmer tepat ke hadapan Lilianne.
"Tentu saja. Gunakan semua fasilitasmu sebagai nyonya rumah ini..." ujar Arya tenang. Suaranya terdengar sangat halus, namun kata-kata selanjutnya meluncur dengan nada penekanan yang sarat akan dominasi mutlak. "...tetapi ingat posisi dan batasanmu sebagai istri dari Arya Sena Soerjoatmodjo. Jangan buat masalah yang bisa memancing media, dan jangan pernah mencoba untuk menghilang dari jangkauan pengawalku."
Lilianne menatap kartu hitam itu, lalu beralih menatap mata kelam Arya yang menguncinya rapat. Senyuman tipis nan menyebalkan di bibir Arya seolah sedang menegaskan siapa pemegang kendali sesungguhnya di dalam hubungan mereka.
Lilianne meraih kartu tersebut dengan jemarinya yang lentik, menyunggingkan senyum paling menawan tetapi penuh ancaman. "Terima kasih atas 'uang jeputnya', Mas Arya. Jangan kaget kalau nanti sore limit kartumu ini jebol hanya untuk menuruti keinginanku."
Arya terkekeh rendah, suara tawa maskulin yang terdengar begitu tenang. "Jebolkan saja kalau kau sanggup, Ajeng."
Bersambung....
Author suka type type Maya Aryaa kannn yaa hahahah.....
Hai hai, ini karya terbaru dari author, semoga kalian menikmatinya yaa ❤️🤍❤️🤍❤️🤍❤️🤍
i got you 🔥🔥🔥
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥