NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).

Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).

Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.

Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.

Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Dua Keluarga 02.

Langkah kaki Ulfa bergema di sepanjang koridor lantai dua gedung SMA Bhineka.

Sebagai Ketua OSIS, jam-jam setelah bel pulang sekolah biasanya adalah waktu tersibuknya.

Hari ini seharusnya tidak berbeda. Ia baru saja hendak membuka ruang rapat untuk mengevaluasi proposal pensi ketika ponsel di saku seragamnya bergetar hebat.

Satu pesan dari Mamah. Singkat, padat, dan tidak menerima bantahan: “Pulang sekarang. Supir sudah di depan. Penting.”

Ulfa mengernyit. Mamah jarang sekali menyuruhnya bolos dari tanggung jawab OSIS, kecuali ada keadaan darurat.

Rasa cemas mulai merayap di dadanya. Apakah Kakek sakit lagi? Atau ada urusan bisnis Papah yang bermasalah? Dengan tergesa-gesa, ia menyerahkan map jepit di tangannya kepada Wakil Ketua OSIS yang menatapnya bingung, lalu berlari kecil menuju gerbang depan.

Sepanjang perjalanan pulang, atmosfer di dalam mobil terasa mencekam, meski hanya karena keheningan.

Ulfa mencoba bertanya kepada Pak Joko, supir keluarganya, tetapi pria paruh baya itu hanya melempar senyum canggung dari spion tengah dan berkata, "Nanti Ibu yang menjelaskan sendiri, Non."

Ketika mobil memasuki pelataran rumahnya yang berarsitektur modern minimalis, Ulfa menyadari ada yang tidak biasa.

Sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat familier terparkir di sana. Ulfa menahan napas. Ia mengenali logo dan plat nomor itu. Itu mobil keluarga Pradipta.

Kenapa relasi bisnis Papah ada di sini siang-siang begini?

Ulfa mendorong pintu jati rumahnya dengan perlahan. Aroma teh melati dan kue panggang langsung menyergap indra penciumannya.

Di ruang tamu yang luas, tawa formal Papah terdengar, menyahuti suara berat seorang pria paruh baya yang sangat ia kenal: Indra Pradipta.

Namun, bukan kehadiran Tuan Indra atau istrinya yang membuat langkah Ulfa mendadak terkunci di atas marmer dingin. Melainkan sosok remaja laki-laki yang duduk di sofa tunggal, masih mengenakan seragam SMA yang sama persis dengan yang ia pakai.

Laki-laki itu sedang menunduk, memainkan ponsel dengan wajah super bosan. Rambutnya yang sedikit berantakan dan kancing atas seragamnya yang terbuka adalah ciri khas yang selalu membuat Ulfa naik darah setiap pagi di gerbang sekolah.

Langit Pradipta. Musuh bebuyutan Ulfa di sekolah. Ketua ekskul basket yang bebal, langganan ruang BK karena hobi terlambat, dan manusia paling arogan yang pernah Ulfa temui sepanjang tujuh belas tahun hidupnya.

Mendengar suara pintu, semua orang di ruangan itu menoleh. Termasuk Langit.

Sepasang mata tajam milik Langit bertemu dengan mata Ulfa. Untuk sesaat, Ulfa bisa melihat kilatan keterkejutan yang sama besarnya di mata cowok itu, sebelum akhirnya Langit memutar bola matanya malas dan bersandar ke sofa, melipat tangan di dada.

"Ah, ini dia Ulfa sudah datang," ujar Papah dengan nada suara yang terlewat ceria, berdiri untuk menyambut putrinya. "Sini, Sayang. Sapa Om Indra dan Tante Lusi."

Ulfa memaksakan senyum santun yang biasa ia gunakan saat menyambut tamu dinas sekolah. Ia mendekat, menyalami kedua orang tua Langit dengan takzim, meski otaknya sedang berputar cepat mencari penjelasan logika atas situasi absurd ini.

"Ulfa baru pulang sekolah, ya? Makin cantik saja kamu, Nak," puji Tante Lusi lembut, menatap Ulfa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan binar yang membuat Ulfa merasa tidak nyaman.

"Terima kasih, Tante," jawab Ulfa pelan. Ia melirik Mamah, memberi kode lewat tatapan mata yang berteriak, Ada apa ini?

Tiara, Mama nya Ulfa hanya tersenyum menenangkan, lalu menepuk sisi sofa yang kosong di sebelahnya. "Duduk dulu, Ulfa. Ganti bajunya nanti saja. Ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan bersama."

Ulfa duduk dengan punggung tegak, postur sempurna seorang Ketua OSIS yang sedang menghadapi sidang.

Di seberangnya, Langit tampak sengaja membuang muka, menatap ke arah taman samping seolah-olah tanaman di sana jauh lebih menarik daripada dinamika ruang tamu ini.

Papa Baskoro berdeham, memecah kecanggungan yang mulai menebal. "Jadi, begini, Ulfa. Langit. Kalian berdua pasti bingung kenapa siang ini kita berkumpul di jam yang tidak biasa."

Ulfa diam, mendengarkan dengan seluruh fokusnya.

"Perusahaan keluarga kita, Baskoro Group dan Pradipta Corp, sudah bekerja sama selama hampir dua dekade. Hubungan kami lebih dari sekadar rekan bisnis, kami adalah keluarga," Pak Baskoro menjeda kalimatnya, melirik Tuan Pradipta yang mengangguk setuju. "Sejak kalian kecil, bahkan sebelum kakek dari kita meninggal, ada sebuah komitmen yang sudah kami sepakati bersama."

Dada Ulfa berdesir aneh. Firasat buruknya mulai mewujud nyata.

"Kami memutuskan untuk menyatukan dua keluarga ini secara resmi. Melalui kalian berdua," lanjut Papah dengan nada mantap tanpa keraguan. "Kami ingin kalian menikah sebelum lulus SMA nanti"

Deg.

Dunia seolah berhenti berputar selama beberapa detik bagi Ulfa. Kepalanya mendadak pening, seolah oksigen di ruangan itu menguap habis. Menikah? Dengan siapa? Langit?

Ulfa menolak percaya. Ini abad ke-21, bukan zaman Siti Nurbaya. Bagaimana mungkin alasan klise seperti komitmen keluarga dan bisnis bisa mendikte masa depannya?

Sebelum Ulfa sempat membuka suara untuk memprotes, suara decitan sofa yang keras terdengar.

Langit tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Wajah santai dan bosannya hilang, digantikan oleh gurat ketegangan yang nyata. Rahangnya mengeras.

"Pah, ini bercanda, kan?" suara Langit terdengar berat dan dingin, memotong pembicaraan orang tua tanpa basa-basi. "Langit enggak salah dengar? Sama dia?" Langit menunjuk Ulfa dengan dagunya, tatapannya penuh rasa tidak percaya sekaligus penolakan yang kentara.

"Langit, jaga sopan santun kamu," tegur Tuan Pradipta, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mengintimidasi.

"Enggak bisa, Pah. Ini konyol," sahut Langit lagi, kali ini nadanya meninggi. "Kita bukan hidup di zaman kerajaan. Lagian, dari semua perempuan di dunia ini, kenapa harus nenek sihir ini?"

"Langit!" bentak Tuan Baskoro, membuat suasana ruangan seketika mendingin.

Ulfa yang awalnya syok, mendadak tersengat oleh ucapan Langit. Rasa harga dirinya sebagai Ketua OSIS dan sebagai seorang perempuan terusik. Ia menarik napas dalam-dalam, menekan kepanikan emosionalnya dan menggantinya dengan logika yang rasional. Ia tidak boleh terlihat lemah atau histeris seperti Langit.

"Papah, Mamah," Ulfa membuka suara, nadanya tenang namun bergetar di ujungnya. "Ulfa menghormati semua keputusan Papah dan Mamah terkait bisnis atau keluarga. Tapi untuk yang satu ini... Ulfa rasa ini tidak logis. Kami berdua masih tujuh belas tahun. Fokus kami adalah ujian nasional dan kuliah. Lagipula, di sekolah, hubungan saya dan Langit tidak pernah berhasil berada di satu halaman yang sama. Kami tidak cocok dalam hal apa pun."

Tante Lusi menghela napas panjang, menatap Ulfa dengan tatapan keibuan yang sarat akan rasa bersalah namun juga kepasrahan. "Ulfa, Tante tahu ini mengejutkan buat kalian. Kami tidak meminta kalian langsung menikah besok. Ini adalah komitmen jangka panjang. Mengenai ketidakcocokan kalian di sekolah... kami tahu kalian sering bertengkar. Tapi bukankah benci dan cinta itu batasnya tipis?"

Ulfa ingin sekali berteriak bahwa dalam kasusnya dan Langit, batas itu bukan tipis, melainkan sebuah jurang pemisah yang dipenuhi kawat berduri.

"Ini demi kebaikan kalian, dan demi masa depan fondasi keluarga kita," timpal Papah Ulfa, kali ini dengan nada yang melunak namun menyiratkan bahwa keputusan ini sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. "Kami akan memberi kalian waktu dua bulan ini, untuk saling mengenal lebih dalam di luar konteks sekolah. Tidak ada penolakan, Ulfa. Langit."

Langit mengacak rambutnya frutstasi, membuat semua mata kembali tertuju padanya.

Sedangkan Ulfa tetap duduk diam di tempatnya. Tangannya yang saling bertautan di atas pangkuan mulai terasa dingin dan gemetar.

Ia memandang cangkir teh di depannya yang sudah mendingin.

Di sekolah, ia bisa mengendalikan ratusan siswa dengan satu perintah peluit. Namun siang ini, di rumahnya sendiri, ia menyadari bahwa ia sama sekali tidak punya kendali atas jalan hidupnya sendiri.

Pikirannya beralih pada esok hari di sekolah. Bagaimana ia harus menatap wajah Langit di koridor? Bagaimana mereka bisa menyembunyikan rahasia sebesar ini di balik topeng permusuhan mereka yang sudah kadung diketahui satu sekolah?

Satu hal yang Ulfa tahu pasti, hidupnya yang tenang dan teratur, baru saja hancur berantakan.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
banyak bacot ini tua bangka🤣 cucu lu selingkuh woy goblok
falea sezi
uda jatuh talak. lo. ini
Alex
mampossssss lu ngit
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳
Alex
sukurin maknya jadi cowok itu tegas bertanggung jawab jngn pling plan, gemes deh
Alex
jahat bgts langit Sam zahra itu, pngen geplak
Alex
ya Allah sesakit ini rasanya jahat bgts loe sebagai cowok, karma apa yg akan menantimu
Alex
udahlah Thor, biar ketahuan aja, biar Ulfa bahagia kasihan nyesek terus tiap hari🤭
Rofiwan: done kak😃
total 1 replies
Alex
syedih tapi sweet🥰
Alex
nah bgus tor biar pikirannnya terbuka lebar🤭
Alex
pengen geplak pala langit ,boleh thor
Rofiwan: silahkan, tuh orang emang plin plan hahaha
total 1 replies
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!