Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.
Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.
Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang urat saraf
Sesampainya mereka di depan rumah Bu Jubaidah, istri ketua RT yang terkenal paling berada di kompleks itu, Bu Rika langsung membusungkan dadanya. Bu Jubaidah adalah rival abadi Bu Rika. Anak perempuan satu-satunya Bu Jubaidah berprofesi sebagai dokter gigi, sebuah pencapaian yang selalu membuat Bu Rika panas dingin.
Dengan gaya angkuhnya, Bu Rika keluar dari taksi online dan melangkah mantap menuju teras rumah besar itu. Cincin, gelang, serta kalung emas berukuran mencolok bertengger heboh di badannya. Santi berjalan anggun di samping Bu Rika, sementara Maya mengekor beberapa langkah di belakang, memegang dan menenteng tas mewah milik mertuanya bak seorang pengawal pribadi.
"Wah, Bu Rika! Bawa menantu pertama, ya?" sapa salah satu ibu-ibu arisan yang sedang mengobrol di teras.
Bu Rika tersenyum lebar, menepuk bahu Santi pelan. "Iya nih, dia lagi liburan di sini. Katanya bosan tinggal di kota besar."
"Selamat pagi, Ibu-Ibu... Nama saya Santi," ucap Santi sangat ramah, mengulas senyum manis yang sudah ia latih di depan cermin.
"Aduh, pakaian menantunya bagus dan elegan ya, Bu Rika!" puji ibu arisan yang lain, terkagum-kagum melihat gaun Santi.
"Iya dong! Dia desainer, loh!" sahut Bu Rika dengan nada sombong yang melambung tinggi. Ia lalu melirik sinis ke arah Maya yang berdiri diam di belakangnya. "Tidak seperti yang satunya... cuma bisa habis-habisin uang saja di rumah!"
Maya hanya memalingkan wajahnya ke samping. Sindiran kasar seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya setiap kali diajak ke acara arisan. Rasa sakitnya kini berganti menjadi benteng ketidakpedulian.
"Tapi kan Maya rajin, Bu Rika," sahut seorang ibu-ibu lain membela. "Pagi-pagi biasanya saya sudah lihat dia menyapu, jemur baju, sama berangkat ke pasar."
"Rajin apanya?!" bantah Bu Rika cepat, tak rela menantu desanya dipuji. "Kemarin saja dari siang sampai malam cuma tiduran di kamar! Kalau tidak disuruh dulu, baru mau bergerak!"
Sebelum perdebatan meluas, suara lantang menginterupsi dari arah pintu. "Eh, Bu Rika sudah datang! Kenapa tidak masuk dan malah ngobrol di luar?"
Bu Jubaidah berdiri di ambang pintu, menyambut rombongan itu dengan senyum miring.
Bu Rika menaikkan dagunya tinggi-tinggi, lalu melangkah masuk disusul Santi dan Maya. Rumah Bu Jubaidah memang berukuran lebih besar dan megah dibanding rumah Bu Rika. Setiap kali melintasi ruang tamunya yang luas, Bu Rika tak pernah lupa mendecakkan lidahnya pelan, menahan rasa iri yang membakar dada.
"Bu Rika bawa menantu pertama ya? Saling melengkapi sekali..." ucap Bu Jubaidah melontarkan nada sarkasme yang kental.
Bu Rika yang tak mau kalah langsung menyerang titik sensitif rivalnya. "Iya nih, Bu... Kalau Bu Jubaidah kapan ya punya menantu? Amel kan sudah masuk usia matang, kasihan kalau kelamaan."
Pasti bakal saling sindir lagi, batin Maya yang memilih mundur beberapa langkah, berdiri di dekat sudut ruangan sambil memegang tas Bu Rika.
Bisik-bisik antaribu arisan mulai terdengar riuh. Siapa pun di kompleks ini tahu kalau Bu Rika dan Bu Jubaidah tidak pernah akur dan selalu saling menjatuhkan di setiap kesempatan.
Bu Jubaidah tersenyum tipis, matanya melirik tajam ke arah Maya dan santi lalu kembali menatap Bu Rika. "Belum ada yang cocok saja, Bu. Lagipula... daripada menikah cepat tapi belum dapat keturunan, kan sama saja bohong?"
Skakmat.
Mendengar kalimat soal "belum dapat keturunan", Bu Rika seketika bungkam seribu bahasa. Wajahnya memerah padam. Kalimat Bu Jubaidah tepat menghantam ulu hatinya, mengingat kedua anaknya sudah menikah cukup lama namun belum juga memberi cucu. Kali ini, Bu Rika kalah telak di depan umum.
Melihat mertuanya terpojok, Santi yang ingin dipandang sebagai menantu idaman dan bijak langsung mengambil alih panggung.
"Keturunan itu kan rezeki yang dikasih Tuhan, Bu... Bukan kita yang bisa memilih mau hamil kapan," ucap Santi manis seraya tersenyum teduh.
Kalimat Santi berhasil membalikkan keadaan. Beberapa ibu-ibu di ruangan itu langsung mengangguk setuju. "Iya, benar juga kata Santi. Hamil itu kan titipan dari Yang Kuasa," celutuk seorang ibu-ibu, sedikit membela posisi keluarga Bu Rika.
Bu Rika kembali menaikkan dadanya, merasa menang karena Santi berhasil membalas telak Bu Jubaidah.