Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tolakan Langit 03.
Suasana ruang tamu yang semula hangat kini mendadak beku, seolah seluruh oksigen di dalam ruangan telah tersedot habis.
Kalimat terakhir dari Pak Baskoro masih menggantung di udara, berat dan menuntut kepatuhan. “Tidak ada penolakan, Ulfa. Langit.”
Ulfa meremas ujung rok seragam abu-abunya di bawah meja hingga jemarinya memutih.
Dia bisa merasakan dadanya berdenyut nyeri. Bukan hanya karena privasi hidupnya baru saja direnggut demi apa yang disebut fondasi keluarga, tetapi karena dia tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tahu cowok yang duduk di seberangnya tidak akan tinggal diam.
Langit menegakkan punggungnya. Rahangnya mengeras, membentuk garis tegas yang menyiratkan kemarahan yang tertahan.
Dan benar saja saat Langit menghela nafas, satu jawab berupa tolakan itu terucap.
"Langit enggak bisa," suara Langit terdengar rendah, namun bergetar oleh emosi yang tertahan di tenggorokan. Dia menatap langsung ke arah ayahnya, Indra, lalu beralih ke Pak Baskoro. "Pernikahan muda? Atas dasar wasiat? Ini konyol. Kita bahkan masih pakai seragam sekolah pah!"
"Langit, jaga sopan santun kamu," tegur Indra dengan suara berat yang penuh penekanan. Mata pria paruh baya itu berkilat memperingatkan.
Namun, Langit sudah melewati batas kesabarannya. Pengorbanan untuk menjadi anak penurut selama belasan tahun rasanya menguap begitu saja malam ini. "Sopan santun apa lagi, Pah? Hidup Langit yang sedang diatur di sini! Langit enggak bisa nikah sama Ulfa. Sampai kapan pun enggak akan bisa. Karena Langit cuma cinta sama Zara. Cuma Zara."
Nama itu disebut. Zara.
Ulfa memejamkan mata sesaat. Mendengar nama pacar Langit disebut di depan kedua keluarga mereka seperti sebuah tamparan visual bagi Ulfa. Dia tahu posisi dirinya di sini, dia adalah musuh bebuyutan Langit yang tiba-tiba disorongkan ke dalam hidup Langit yang sudah rapi.
Ulfa tidak marah pada Langit. Otaknya berjalan dengan sangat jernih, jika dia berada di posisi Langit, dia pun akan memberontak dengan cara yang sama.
Mamah Langit mengembuskan napas berat, mencoba menenangkan suasana. "Langit, ini demi kebaikan—"
"Kebaikan siapa?" potong Langit, kini dia berdiri dari kursinya. Kursi itu berderit keras ke belakang. "Kebaikan bisnis? Kebaikan ego masa lalu? Langit enggak mau."
Tanpa sepatah kata pamit pun, Langit berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang tamu. Langkah kakinya yang menghentak keras terdengar menjauh, disusul oleh suara pintu utama rumah yang tertutup dengan dentuman keras.
Keheningan yang ditinggalkan jauh lebih mencekam daripada perdebatan tadi.
Pak Baskoro menghela napas panjang, wajahnya mengeras karena merasa harga dirinya sebagai orang tua sedikit terusik oleh penolakan mentah-mentah itu.
Sementara itu, Ulfa hanya bisa menunduk, memandangi kue kering di atas piring yang kini tampak sama sekali tidak selera.
"Maafkan anak saya," ujar Indra akhirnya, memecah keheningan dengan nada suara yang terdengar lelah sekaligus dingin. "Dia hanya... butuh waktu."
"Saya mengerti, Indra. Remaja zaman sekarang memang keras kepala. Tapi keputusan kita tidak berubah," balas Baskoro dengan suara yang kembali tegas, meski ada gurat kekecewaan di matanya.
Ulfa perlahan mengangkat wajahnya. "Pah... mungkin Langit benar. Kita enggak bisa maksain ini."
"Ulfa, masuk ke kamarmu," potong Papah Ulfa, tidak ingin mendengarkan pembelaan apa pun malam ini.
Ulfa tahu berdebat saat ini hanya akan menyiram bensin ke dalam api.
Dengan gerakan pelan, dia berdiri, membungkuk sedikit kepada orang tua Langit sebagai bentuk hormat yang tersisa, lalu berjalan menjauh. Langkahnya terasa sangat berat, seolah setiap jengkal lantai rumah itu menahan kakinya untuk pergi.
Di sudut lain rumah, tepatnya di area koridor yang agak gelap dekat taman belakang, Indra berdiri sendirian. Di tangannya, sebuah ponsel pintar menyala, menampilkan ruang obrolan pribadi yang terenkripsi. Napas Indra memburu pelan saat mengetikkan sebuah nomor yang sangat dia segani. Nomor ayahnya—Kakek Gatot.
Pria tua yang menjadi poros utama dari seluruh rencana perjodohan ini.
Begitu panggilan tersambung pada nada ketiga, suara berat, serak, dan penuh otoritas terdengar dari seberang telepon.
"Bagaimana, Indra? Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Kakek Gatot tanpa basa-basi.
Indra memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Dia harus menyampaikan berita ini, meski dia tahu risiko kemarahan yang akan diterimanya. "Rencana menyatukan keluarga kita... sepertinya gagal, Yah."
Hening sejenak di seberang sana. Keheningan yang membuat bulu kuduk Indra meremang, bahkan di usianya yang sudah matang sebagai seorang pemimpin perusahaan.
"Gagal? Apa maksudmu?" suara Kakek Gatot meninggi, mengintimidasi.
"Langit menolak keras," jelas Indra dengan suara tertahan, mencoba menjaga agar suaranya tidak terdengar di ruang makan. "Anak itu memberontak di depan keluarga Ulfa. Dia bilang dia punya perempuan lain bernama Zara. Dia pergi dari rumah malam ini."
Kakek Gatot mendengus remeh. "Hanya karena cinta monyet anak SMA, kamu bilang rencana besar ini gagal? Indra, kamu adalah ayahnya. Jinakkan anakmu. Saya tidak mau tahu, dua bulan lagi fondasi itu harus sudah terbentuk. Hubungi saya lagi kalau kamu sudah bisa mengatasi bocah ingusan itu."
Klik.
Panggilan diputus sepihak.
Indra menurunkan ponselnya dengan tangan yang sedikit bergetar. Dia tahu, ini bukan lagi sekadar urusan remaja yang menolak dijodohkan. Ini adalah benturan antara ego orang tua, warisan masa lalu, dan kebebasan seorang anak yang sedang memperjuangkan masa mudanya.
Sementara itu, di kamar tamu yang bernuansa putih-abu, Ulfa duduk di tepi tempat tidur yang empuk. Dia memeluk lututnya sendiri, menatap ke luar jendela besar yang menampilkan rintik hujan yang mulai turun membasahi kaca.
Pikirannya melayang pada Langit. Di mana cowok itu sekarang? Di luar sedang hujan, dan Langit pergi tanpa membawa jaket tebal. Ulfa mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi Instagram, dan melihat profil Langit. Tidak ada pembaruan apa pun. Namun, ketika dia beralih ke profil Zara—gadis populer di sekolah yang selalu terlihat ceria—Ulfa melihat sebuah cerita baru yang diunggah lima menit lalu.
Sebuah foto hitam-putih yang menampilkan tangan Langit yang sedang menggenggam erat tangan Zara di sebuah kafe kopi pinggir jalan, dengan takarir singkat: “Selalu di sini, apa pun yang terjadi.”
Ulfa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan rasa getir. Di satu sisi, dia mengagumi keberanian Langit yang bertarung demi perempuan yang dicintainya.
Namun di sisi lain, Ulfa tahu, mulai besok di sekolah, posisinya akan menjadi sangat rumit. Dua bulan yang diberikan orang tua mereka tidak akan menjadi waktu untuk saling mengenal, melainkan dua bulan penuh perang dingin, rahasia, dan air mata yang harus disembunyikan di balik koridor sekolah.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳