Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.
Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.
Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.
Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.
Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.
Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.
Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
MARCO D'AMATO
Aku berjalan kembali ke kantor, sementara Juliano bilang ia ingin berkeliling perusahaan sebentar.
Ketika aku masuk ke kantor, Pietra belum ada di sana.
Aku melangkah ke mejaku dan duduk di kursi, memikirkan apa yang baru saja ia lakukan.
Pintu kantorku terbuka tanpa aba-aba.
Aku mengangkat wajah tepat pada detik Pietra masuk.
Ia tak langsung melihatku.
Ia terlalu sibuk menutup mapnya, mendekap laptop ke tubuhnya, dengan langkah mantap seperti orang yang baru saja memenangkan sebuah pertempuran dan masih merasakan gema kemenangan itu di dadanya.
Aku diam.
Mengamati.
Ia menyeberangi ruangan menuju mejanya—mejanya, di dalam kantorku—seolah tempat itu memang selalu miliknya. Seolah ia tak pernah cuma sekadar "sang sekretaris".
Baru setelah meletakkan berkas-berkasnya, ia merasakannya.
Keheningan.
Berat.
Pekat.
Ia mengangkat wajahnya perlahan.
Pandangan kami bertemu.
Tak ada yang terucap.
Tapi segalanya terjadi di sana.
Kilau tertahan di matanya mengkhianati apa yang baru saja ia lakukan. Pemegang saham yang selalu ingin melakukan segalanya dengan caranya sendiri, dibiarkan Pietra... tak lagi—justru ia yang menuruti cara Pietra sepenuhnya. Sebuah penguasaan yang mutlak.
Dan aku... aku berada dalam bahaya kehilangan kendali.
Ia tak tersenyum.
Tak menggoda.
Ia hanya menahan tatapan itu selama beberapa detik, lalu kembali pada pekerjaannya.
Aku bangkit dari kursi perlahan.
Setiap langkah menuju dirinya terasa seperti keputusan keliru yang justru bersikeras terus kuambil.
Aku berhenti dalam jarak kurang dari satu meter.
Terlalu dekat.
Aroma parfumnya masih ada di sana. Kini terasa lebih kuat.
Mungkin karena aku tanpa sadar sedang mencarinya.
Ia tak mundur.
Hanya menarik napas dalam.
"Rapatnya selesai lebih cepat dari yang kuduga," ucapnya, suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menaklukkan pemegang saham yang berani kubilang sulit sekali diajak kompromi.
Aku mengangguk.
"Aku lihat itu."
Matanya sedikit menyipit.
"Jadi Anda tahu semua yang terjadi?"
"Aku tahu."
Keheningan lagi.
Lebih berbahaya.
Pandanganku turun tanpa izin. Gaun itu.
Sikap tubuhnya. Caranya tampak semakin besar setelah apa yang baru ia lakukan.
"Kau melakukan persis seperti yang kuharapkan," ucapku.
Ia memiringkan kepalanya, menelaahku.
"Bukan." Jawaban itu datang lirih, tapi tegas. "Aku cuma melakukan pekerjaanku."
Kalimat itu menghantamku seperti pukulan.
Karena itu memang benar.
Ia tak berada di sana demi aku.
Ia berada di sana demi dirinya sendiri.
"Pietra..." aku memulai, lalu terdiam.
Karena tak ada yang bisa kukatakan tanpa membocorkan terlalu banyak.
Ia maju satu langkah.
Satu langkah saja.
Cukup untuk mengingatkanku pada rapat tadi, pada caranya bicara, pada kendali mutlak yang ia jalankan tanpa perlu meminta izin siapa pun.
"Anda tampak terganggu," ucapnya, tanpa nada sinis. "Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Aku tertawa pelan. Suara pendek, tanpa humor.
"Yang terjadi adalah kau."
Ia menahan tatapanku beberapa detik lagi.
Lalu berbalik dengan keanggunan yang sama seperti saat ia masuk tadi.
"Aku akan menuju rapat berikutnya... Satu lagi pemegang saham yang ingin mengubah kontrak."
Dan ia berjalan menuju pintu kantor.
Seolah ia tak baru saja menjungkirbalikkan seluruh duniaku.
Aku tetap berdiri di sana, menatapnya menjauh dan keluar dari kantor, dengan satu-satunya kepastian yang terus memalu-malu kepalaku:
Aku sudah tak lagi tahu di mana kendaliku berakhir
dan di mana kuasanya atas diriku bermula.
Dan itu...
itulah yang paling membuatku takut.