NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buku Harian yang Jatuh dari Langit

Sore itu matahari belum benar-benar terbenam, namun langit di atas bukit itu tiba-tiba berubah kelabu pekat, seakan awan hitam berat sengaja berkumpul di sana, menutup cahaya sebelum waktunya. Angin yang tadi berhembus lembut, kini berubah kencang, mendesis di antara pepohonan besar, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lain bau apek, bau tempat yang tidak pernah terkena sinar matahari. Di rumah Bu Wiyati, suasana berubah dalam sekejap. Kru yang tadi bersiap untuk syuting sore, kini berdiri diam, menatap langit yang tiba-tiba gelap. Tidak ada petir, tidak ada guntur hanya kegelapan yang datang terlalu cepat, dan keheningan yang begitu pekat hingga suara angin terdengar seperti bisikan ribuan suara yang berbicara bersamaan.

"Ini tidak wajar," gumam Dimas pelan, matanya menatap tajam ke arah jalan setapak menuju rumah kedelapan. "Kegelapan ini... bukan dari awan. Ini dari tempat itu sendiri. Ia sedang menutup dirinya."

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah halaman belakang. Salah satu kru berlari masuk dengan wajah pucat pasi, napasnya memburu. "Ada... ada sesuatu di sana! Di antara pohon pisang! Itu bukan manusia, bukan binatang bayangannya terlalu besar, dan ia berdiri diam menatap ke arah pintu belakang!"

Semua orang menegang. Raka segera mengambil senter, namun Bu Wiyati menghentikannya dengan satu gerakan tangan cepat. "Jangan nyalakan cahaya terang-terangan. Di sini cahaya itu seperti panggilan bagi mereka yang bersembunyi dalam gelap. Kita pakai lampu yang ada di rumah saja."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara pelan namun jelas dari arah jendela ruang tengah. Suara seperti kuku yang digoreskan perlahan pada kaca. Crek... crek... crek... Berirama, teratur, dan tidak terburu-buru. Seakan yang melakukannya tahu betul bahwa mereka semua sedang mendengarkan.

Laras menelan ludah, perlahan menoleh ke arah jendela itu. "Itu... itu Ardita?"

"Bukan," jawab Dimas dengan suara rendah dan tegas. "Ardita tidak akan menakuti kalian. Yang itu... itu Penjaga Tempat. Ia tahu kita menemukan jejaknya tadi pagi. Ia tahu kita mulai mendekat. Dan ia sedang memberi peringatan."

Suara goresan itu tiba-tiba berhenti. Digantikan oleh suara benda berat yang jatuh dari atas, tepat di depan pintu depan. Brak! Semua orang meloncat kaget. Suara itu jatuh begitu pelan, seakan ditahan sebelum menyentuh tanah, namun tetap terdengar jelas di seluruh ruangan.

Dimas melangkah mendekati pintu, perlahan, dengan hati-hati. "Tunggu di sini dulu," bisiknya. Ia membuka pintu sedikit, mengintip ke luar dan di lantai teras, tergeletak sebuah buku bersampul kulit cokelat tua, tebal, terlihat sangat tua namun tidak kotor, tidak basah, seakan baru saja diletakkan di sana dengan hati-hati. Di sampul depan tertulis dengan tinta yang masih terlihat jelas: Buku Harian Ardita Iriyani Wijaya.

Laras segera mengambilnya dengan tangan gemetar. "Ini... ini buku hariannya. Tapi bagaimana bisa jatuh ke sini? Tidak ada siapa-siapa di luar."

"Mungkin ia melemparnya dari atas," kata Raka, menatap ke arah jendela lantai atas rumah kedelapan yang samar terlihat di balik kabut. "Atau... sesuatu yang lain yang meletakkannya. Sesuatu yang tahu kita sedang mencari jawaban."

Mereka masuk kembali ke ruang tengah, menutup dan mengunci pintu dengan rapat. Laras meletakkan buku itu di meja kayu, lalu membukanya perlahan. Halaman pertama tertanggal 14 Mei hari kami pindah ke sini. Tulisan itu rapi, cantik, namun di setiap barisnya terasa ketegangan yang ditahan.

"Hari ini Bapak pulang dengan wajah gembira. Katanya rumah sudah selesai. Rumah kedelapan di Kampung Pitu. Ibu memperingatkan, katanya warga kampung tidak setuju. Tapi Bapak bilang, ini tanah kita, ini rumah kita, kita berhak tinggal di sini. Aku tidak tahu harus senang atau takut. Arlan tertawa, bilang rumah ini paling bagus di seluruh kampung. Aku hanya diam. Ada sesuatu di sini... sesuatu yang menatap kita dari balik pepohonan. Sesuatu yang tidak senang kita ada di sini."

Laras membalik halaman berikutnya. Tanggalnya seminggu kemudian, dan tulisannya sudah berubah tidak lagi rapi, banyak coretan, seakan ditulis dengan tangan yang gemetar karena takut.

"Ia mulai masuk ke dalam rumah. Pintu terkunci, jendela tertutup tapi itu tidak masalah baginya. Ia tidak butuh pintu. Ia bisa muncul di mana saja. Semalam ia berdiri di samping tempat tidurku selama berjam-jam. Aku tidak bisa bergerak, tidak bisa berteriak. Ia hanya berdiri, dan aku mendengar suara di kepalaku suara yang bukan suara manusia berkata: Kalian tidak boleh di sini. Ini milikku. Pulanglah sebelum terlambat."

Tiba-tiba lampu di ruangan itu berkedip-kedip, lalu padam seketika. Ruangan itu gelap gulita. Hanya sisa cahaya redup dari luar yang masuk sedikit lewat jendela.

"Jangan panik!" bisik Raka cepat. "Tetap di tempat!"

"Lihat..." suara Laras bergetar. "Buku itu... halaman yang sedang kubaca... ada bayangan jatuh di atasnya."

Mereka semua menatap ke arah meja. Di atas buku yang terbuka itu, ada bayangan tangan yang besar dan panjang bayangan sesuatu yang berdiri tepat di belakang mereka, namun tidak ada satu pun dari mereka yang tangannya berada di posisi itu. Dan bayangan itu perlahan bergerak, menutupi tulisan di halaman itu, seakan ingin menghapusnya.

"Keluar dari sini!" teriak Dimas sambil menyalakan senter. Sinar lampu menyinari tempat di mana bayangan itu berada dan tidak ada siapa-siapa. Namun bayangan itu tidak hilang. Ia tetap ada di meja, perlahan-lahan menyusut, lalu lenyap seketika.

Lampu menyala kembali. Semua orang terengah-engah, keringat dingin membasahi dahi mereka.

"Ia tidak suka kita membacanya," kata Laras pelan, menutup buku itu perlahan. "Ia tidak ingin kita tahu apa yang terjadi."

"Tapi Ardita memberikannya kepada kita," kata Raka tegas. "Itu berarti Ardita berani melawannya. Dan itu berarti... Penjaga itu tidak mahakuasa. Ia bisa dicegah. Ia bisa diperlawan."

"Mungkin," Dimas menatap ke arah jendela dengan tatapan waspada yang makin dalam. "Tapi ada satu hal yang lebih mengerikan dari sekadar ancaman. Kalau buku ini bisa sampai ke tangan kita... berarti batas antara dunia luar dan dunia di dalam rumah itu sudah mulai hilang. Dan kalau batas itu benar-benar hilang... bukan hanya Ardita yang bisa keluar. Tapi kita juga bisa masuk ke dalam sana. Ke dalam dunianya. Ke dalam waktu yang berhenti itu."

"Dan itu berarti..." Laras menyambung pelan, matanya membelalak perlahan. "...kita bisa bertemu mereka. Bukan hanya sebagai bayangan di jendela tapi secara langsung. Di dalam rumah itu. Di dalam momen yang terhenti puluhan tahun lalu."

"Atau kita bisa terjebak di sana selamanya," tambah Dimas berat. "Itulah risikonya. Sekali kita melangkah masuk... kita tidak tahu apakah kita bisa kembali ke waktu kita sendiri."

Malam itu tidak ada yang tidur. Mereka berjaga bergantian, lampu tetap menyala, dan pintu-pintu diperiksa berkali-kali. Di luar, angin semakin kencang, dan sesekali terdengar suara langkah kaki yang berputar-putar di sekeliling rumah — berat, pelan, dan tidak pernah berhenti. Seakan sesuatu yang besar sedang berjalan mengelilingi rumah itu, menunggu celah, menunggu satu kesalahan kecil agar bisa masuk.

Dan di dalam buku harian itu, di halaman yang belum sempat mereka baca sepenuhnya, ada satu catatan yang terpotong, ditulis dengan tinta yang samar namun cukup terbaca:

"Ia tidak tidur. Ia tidak pernah tidur. Dan sekarang... pintu antara dua dunia mulai terbuka. Kalau kalian membaca ini... hati-hati. Karena kalian sudah dipilih. Dan sekarang... kalian harus memilih — tetap di sini, atau masuk ke sini bersama kami."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!