Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 ~ Aroma Familiar
Evelyn menggeleng lemah, rasa bersalah membayangi raut wajahnya. Ia menarik napas panjang lalu mengucapkannya dengan suara lirih dan penuh penyesalan.
"Maafkan aku, Arlos..." ucapnya terbata-bata, menundukkan pandangan. "Semalam aku... mabuk berat. Aku tidak sadar dan tidak ingat kejadian dengan jelas. Seharusnya bisa lebih waspada, tapi aku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Aku sungguh tidak bermaksud seperti ini."
"Hargh! Sial!!" umpatnya sambil mengayunkan tinju ke udara.
Namun begitu ia menatap wajah Evelyn yang tampak begitu terguncang dan penuh penyesalan, Arlos terdiam sejenak. Ia tidak marah, justru tangannya semakin erat merangkul pundak gadis itu, memberikan ketenangan.
"Hei, jangan menyalahkan dirimu sendiri begitu," ucapnya lembut dan menenangkan. "Aku tahu dipesta itu situasinya luar biasa, dan banyak hal yang tak terduga. Mabuk itu hal yang bisa terjadi pada siapa saja. Yang terpenting sekarang kau sudah pulang dengan selamat dan tidak ada hal buruk yang menimpamu."
Arlos menghela napas pelan, lalu menatapnya lekat-lekat dengan tatapan penuh pengertian.
"Kita masih punya banyak waktu. Jangan merasa bersalah seperti ini. Kau hebat Evan.. hanya kau yang bisa ku andalkan! Kita bisa bicara soal misi ini nanti saat kau sudah merasa lebih baik." ucap Arlos menepuk pundak Evan dengan bangga.
Evelyn memaksakan senyum tipis terukir di wajahnya, meski terlihat samar dan belum sepenuhnya menutupi kegelisahan yang masih mendera di dalam hati.
"Terima kasih, Arlos," ucapnya lirih, penuh kelegaan namun tetap menyisakan beban yang tak terucap. "Kalau begitu, aku istirahat dulu. Kepalaku terasa sedikit pening."
"Tentu saja," jawab Arlos lembut, tangannya mengusap pelan lengan gadis itu seolah memberi semangat terakhir. "Pergilah beristirahat yang cukup. Pulihkan kondisimu,"
Evelyn mengangguk pelan, lalu berbalik perlahan melangkah menuju kamar yang disiapkan untuknya.
Begitu pintu tertutup rapat di belakang punggungnya, ia langsung bersandar di sana, membiarkan tubuhnya merosot perlahan seolah seluruh tenaga tersisa lenyap seketika. Napasnya tersengal halus, matanya kembali berkaca-kaca teringat betapa besarnya kebohongan yang harus ia jaga, serta kejadian kelam semalam yang kini terus menghantui benaknya.
Sementara itu, di ruang tengah, Arlos berdiri diam menatap pintu yang tertutup itu. Senyum hangat di wajahnya perlahan luntur berganti dengan sorot mata yang tajam dan penuh perhitungan. Ia mengepalkan tangannya erat, seolah takkan membiarkan kesalahan sekecil apa pun menggagalkan rencana besarnya, apa pun caranya.
••
••
Sore harinya, tepat saat cahaya matahari mulai meredup, Haris tiba di kediaman mewah Damian. Ia melangkah masuk dengan membawa sebuah map berisi dokumen penting yang telah diperintahkan.
"Semua daftar tamu yang hadir di kapal pesiar malam itu sudah saya dapatkan, Tuan," ucap Haris sopan sambil menyodorkan map tersebut ke atas meja. "Data ini lengkap dengan identitas dan keterangan setiap orang yang tercatat resmi di dalamnya."
Damian langsung meraih map itu dengan cepat, matanya berbinar tajam. Ia segera membukanya dan menelusuri daftar nama satu per satu dengan saksama, berharap menemukan petunjuk yang bisa membawanya pada sosok wanita misterius itu. Namun, meski ia sudah memindai barisan nama berulang kali, tak ada satu pun yang terasa mencolok atau memberikan jawaban jelas.
Damian menghela napas kasar, tangannya mengepal di pinggiran meja. Ada sesuatu yang terasa janggal, seolah informasi yang ia cari tersembunyi di balik samar-samar, namun ia belum mampu menemukannya.
Damian menatap lekat-lekat lembaran itu, rahangnya mengeras seolah tak puas meski sudah membacanya berkali-kali.
"Semua ini... tidak ada yang terlewat?" tanyanya rendah, matanya masih terpaku pada daftar nama yang tertulis rapi. "Kau yakin tidak ada satu pun tamu tak terdaftar, atau orang yang masuk tanpa izin resmi?"
"Sudah saya pastikan sepenuhnya, Tuan," jawab Haris mantap namun sopan. "Ini catatan lengkap yang ada di sistem kapal, dari tamu undangan, kru, hingga rekanan yang hadir. Tidak ada celah sedikitpun."
Damian meletakkan kertas itu kembali ke meja, lalu mengusap pelan pelipisnya yang terasa berdenyut. Rasa frustrasi makin merayap di benaknya. Ia yakin wanita itu nyata, ia merasakannya, menyentuhnya, dan jejak nyata di kamarnya membuktikannya. Namun seolah wanita itu tak berwujud, tak tertulis di mana pun. Atau mungkin... ada yang sengaja disembunyikan?
"Kamu boleh pergi," ucapnya pelan, memberi isyarat tangan.
Haris pun mengangguk hormat lalu beranjak keluar ruangan, meninggalkan Damian yang kembali tenggelam dalam pikiran gelapnya.
"Siapa sebenarnya kamu..." gumamnya lirih menatap hamparan ruangan kosong. "Dan kenapa keberadaanmu seolah dihapus dari segalanya?"
"Satu-satunya orang yang mungkin tahu tentang semua ini adalah Evan..." ucap Damian bergumam pelan, kembali teringat sosok sekretarisnya yang bertingkah aneh. Namun, ia menghentakkan kakinya kesal seketika. "Sialnya, dia pun ikut mabuk malam itu, tak bisa diharapkan untuk mengingat apa pun dengan jelas."
Namun, hal itu sama sekali tidak memadamkan tekadnya. Damian menatap tajam ke depan, sorot matanya berkilat penuh keyakinan dan obsesi yang tak tergoyahkan. Ia takkan pernah melepaskan wanita itu begitu saja, membiarkan sosok yang telah menyentuhnya paling dalam menghilang tanpa jejak kembali ke dalam kegelapan.
"Aku tidak akan melepaskanmu," ucapnya tegas, berat dan penuh kepemilikan. "Dia sudah mengambil sesuatu dariku yang takkan pernah bisa ia kembalikan lagi... kehormatan pertamaku. Dan sekarang, giliranku untuk menemukan serta menuntutnya kembali seutuhnya."
Tangan Damian mengepal kuat di atas meja, rencananya kini terbentuk jelas di benak, ia akan menyisir setiap petunjuk, memeriksa setiap kemungkinan, dan takkan berhenti sebelum ia akhirnya memiliki wanita itu di hadapannya kembali.
••
••
Keesokan harinya di gedung perkantoran megah Foster Group, suasana kembali berjalan sibuk dan tertib seperti biasa. Evan hadir lebih awal, tampak tenang dan profesional di balik penampilannya yang rapi. Dengan teliti, ia menata dan memeriksa satu per satu berkas-berkas penting yang harus diserahkan, memastikan semuanya lengkap dan tersusun rapi sesuai jadwal yang ditentukan. Meski di luarnya terlihat wajar, dalam hati ia tetap berusaha menahan kegelisahan, berharap tak ada kecurigaan yang timbul lagi setelah kejadian di kapal pesiar itu.
Setelah semua siap, ia melangkah menuju ruangan kerja Damian dengan langkah tegap, mengetuk pintu pelan sebelum masuk.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk!"
Pintu terbuka, dan Evan melangkah masuk dengan kepala tertunduk sedikit, tetap mempertahankan sikap rendah hati dan profesionalnya. Di dalam ruangan, Damian sudah duduk di kursi kebesarannya, namun tatapannya begitu tajam, seolah menembus langsung ke dalam diri Evan.
"Selamat pagi, Tuan. Ini berkas yang Tuan minta," ucap Evan singkat dan jelas, menyodorkan tumpukan dokumen itu di atas meja.
Damian tidak langsung menyambut uluran tangan Evan. Matanya tetap terpaku pada layar monitor besar di atas meja, di mana cuplikan rekaman CCTV dari kapal pesiar sedang diputar ulang berkali-kali dengan saksama. Ekspresinya serius dan penuh selidik.
"Duduk dan lihat ini," perintahnya singkat namun tegas, menunjuk kursi di sampingnya.
Evan ragu sejenak, namun melihat sorot mata tak terbantahkan itu, ia akhirnya melangkah mendekat dan duduk di tempat yang ditentukan. Hatinya berdebar kencang.
"Tolong perhatikan baik-baik," ucap Damian pelan, jarinya menunjuk sekelompok wanita yang terlihat lewat di rekaman. "Menurutmu, dari semua wajah ini, mana yang kira-kira mungkin menjadi wanita yang bersamaku malam itu?"
Evan menatap layar dengan pandangan kabur karena gugup, lalu menggeleng lemah. "Saya... saya benar-benar tidak tahu, Tuan. Ingatan saya sangat samar saat itu."
Damian tak puas, ia condongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Evan, berniat meneliti reaksi sekretarisnya. Di saat mereka begitu berdekatan, tiba-tiba napas Damian tertahan. Hidungnya menangkap sebuah wangi yang lembut namun sangat familier, aroma yang sama persis dengan yang melekat kuat.
Damian diam sejenak, matanya menyipit rapat saat ia perlahan mencondongkan tubuh lebih dekat lagi. Hidungnya sedikit mengendus pelan di dekat bahu Evan, seolah sedang menangkap jejak yang samar.
"Aneh..." gumamnya lirih, suaranya rendah dan penuh keraguan. "Aku merasa seperti pernah mencium aroma ini sebelumnya. Sangat akrab... entah di mana, tapi wangi ini seolah tak asing bagiku."
Damian menatap lekat-lekat wajah Evan, meneliti setiap perubahan kecil yang terjadi di sana dengan sorot mata yang semakin menyelidik.
"Kau memakai parfum ini setiap hari?" tanyanya pelan namun tegas.
DEG.
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya