NovelToon NovelToon
Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: DMAM

Keputusan Bu Rosma untuk menggelar pernikahan mewah dalam waktu satu minggu menciptakan kepanikan di lingkaran perencana acara (event organizer) papan atas kota.

Dengan kekuatan uang dan kekuasaan bisnisnya, Rosma memaksa seluruh vendor terbaik untuk bekerja ekstra keras siang dan malam.

Sementara itu di rumah kayu Aisyah, tiga hari sebelum acara, suasana berubah menjadi riuh oleh kedatangan perancang busana ternama dan tim rias pengantin yang diutus langsung oleh Bu Rosma.

Seorang wanita perancang busana berpenampilan necis melangkah masuk dengan membawa gaun pengantin megah berwarna putih bersih bertabur kristal Swarovski, diikuti dua asistennya yang membawa kotak-kotak perhiasan.

"Permisi... Apakah ini Neng Aisyah?" tanya wanita itu dengan nada sopan namun formal.

Aisyah yang sedang membantu Bu Rahmi melipat pakaian langsung menoleh. "Iya, saya sendiri..."

"Kami diutus oleh Ibu Rosma Wiraguna untuk fitting gaun pengantin dan perhiasan yang akan dipakai saat resepsi di hotel bintang lima nanti," jelasnya seraya memamerkan gaun mewah yang berkilauan di bawah sinar lampu temaram rumah Aisyah.

Bu Rahmi terpana melihat kemewahan busana tersebut, sementara Aisyah justru merasa sesak. Baju indah itu tidak terasa bagaikan hadiah pernikahan, melainkan seperti sangkar emas yang disiapkan untuk mengurungnya.

Saat Aisyah sedang dicocokkan ukuran gaunnya, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Bu Rosma melangkah masuk dengan gaya anggun, seraya mengibaskan selendang sutranya.

Pandangannya menyapu sekeliling rumah kayu itu dengan tatapan jijik yang tak disembunyikan.

"Gimana? Pas gaunnya?" tanya Rosma dingin tanpa menyapa Bu Rahmi.

"Pas sekali, Bu Rosma. Neng Aisyah tampak sangat anggun," jawab sang perancang busana.

Rosma kemudian mendekati Aisyah, dan berdiri sangat dekat hingga aroma parfum mahalnya memenuhi hidung Aisyah. Rosma menatap Aisyah dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum miring.

"Ingat ya, Aisyah..." bisik Rosma. "Pernikahan mewah ini bukan karena kamu pantas mendapatkannya. Saya menggelar pesta ratusan juta ini cuma buat menjaga nama baik keluarga Wiraguna dari mulut-mulut kotor warga kampung ini!"

Aisyah langsung menundukkan pandangannya, dan tetap diam tanpa membalas.

"Di depan media dan para tamu besok, kamu harus senyum dan berpura-pura bahagia!" lanjut Rosma, lalu menepuk bahu Aisyah dengan agak keras. "Jangan sampai ada raut wajah murung atau tingkah kelakuan kampung kamu yang mempermalukan saya! Kalau kamu bikin ulah sedikit saja di pesta besok... saya pastikan hidup kamu dan Bu Rahmi di desa ini tidak akan pernah tenang!"

Setelah menyampaikan ancaman tersebut, Rosma berbalik angkuh dan melangkah pergi melintasi pintu, meninggalkan Aisyah yang memegang gaun mewahnya dengan tangan yang gemetar.

_______

____________

Hari yang ditentukan akhirnya tiba. Grand Ballroom Hotel Mulia, sebuah hotel bintang lima termewah di pusat kota telah disulap menjadi ruang dongeng yang megah.

Rangkaian bunga orchid dan pashmina segar diimpor langsung untuk menghiasi panggung pelaminan.

Lampu-lampu sorot memancarkan cahaya megah, sementara alunan musik simfoni mengalun lembut menyambut ratusan tamu undangan dari kalangan pejabat, pengusaha, dan kerabat.

Warga kampung dan Pak RT yang juga diundang oleh Bu Rosma, sebagai formalitas untuk membungkam mulut mereka, duduk di meja bagian belakang.

Mereka melongo menyaksikan kemewahan luar biasa yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

"Gila... Mewah banget ini," bisik seorang warga kampung pada Pak RT. "Bu Rosma ternyata benar-benar niat menikahkan anaknya."

"Niat atau cuma mau pamer harta buat nutupi malu," sahut Pak RT pelan sambil mengamati sekeliling dengan pandangan penuh arti.

Di sudut panggung utama, acara ijab kabul dilaksanakan secara terpisah sebelum resepsi dimulai.

Dimas tengah duduk di depan penghulu dengan mengenakan setelan jas hitam elegan buatan penjahit Italia. Wajahnya dipoles riasan tipis untuk menutupi sisa memar di pipinya. Ia tampak tegang, berkeringat dingin, dan berulang kali melirikke arah ibunya yang berdiri di samping meja dengan tatapan mengawasi.

Adapun Aisyah, ia duduk bersimpuh di samping Dimas, dengan balutan kebaya pengantin modern bertabur mutiara dan hijab putih syar'i yang sangat anggun.

Wajah Aisyah dihiasi riasan halus yang membuatnya tampak begitu cantik mempesona, meski matanya menyimpan kedukaan yang tak mampu disembunyikan oleh bedak termahal sekalipun.

Beberapa detik kemudian, penghulu mengulurkan tangannya dan menjabat erat tangan Dimas.

"Saudara Dimas Putra Wiraguna bin almarhum Hendra Wiraguna, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Aisyah Putri binti almarhum Mansyur, dengan mas kawin berupa seperangkat alat salat dan perhiasan emas senilai lima puluh gram dibayar tunai!"

Dimas menarik napas panjang yang terengah-engah, matanya membelalak ketakutan saat melihat ibunya mengangguk tegas dari samping.

"Sa... Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Putri binti almarhum Mansyur... de-dengan mas kawin tersebut... dibayar tunai!" seru Dimas dengan suara yang sedikit bergetar namun lancar dalam satu helaan napas.

"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Penghulu.

"SAH!" seru para saksi dan pengurus kampung yang hadir.

"Alhamdulillahirabbil'alamin..."

Gema doa mengangkasa di dalam ruangan mewah tersebut. Aisyah memejamkan matanya erat-erat, dan membiarkan satu tetes air mata jatuh melintasi pipinya yang terbias cahaya lampu kristal.

Takdir telah mengikatnya. Ia kini resmi menjadi istri dari Dimas Putra Wiraguna, seorang pria anak mami yang kekanak-kanakan, di bawah naungan mertua yang penuh kejam dan intrik.

Usai akad nikah, pesta resepsi berdiri (standing party) dimulai dengan sangat meriah. Puluhan wartawan dari media infotainment mengambil foto dan video pasangan pengantin baru itu di atas panggung pelaminan.

Bu Rosma berdiri di tengah panggung dengan senyum paling menawan yang bisa ia kembangkan. Ia menggandeng tangan relasi bisnisnya dan berulang kali memberikan pernyataan berkelas di depan kamera wartawan.

"Oh ya, terima kasih semuanya!" seru Rosma dengan gaya bicara berwibawa di depan mikrofon wartawan. "Pernikahan Dimas dan Aisyah ini memang sengaja kami konsep secara privat awal mulanya, tapi kami ingin membagikan kebahagiaan ini pada semua rekanan. Aisyah ini wanita yang sangat lembut dan salehah, Dimas sangat beruntung mendapatkan dia!"

Di balik senyuman panggung Bu Rosma, Aisyah berdiri kaku di samping Dimas. Kakinya yang pegal akibat memakai sepatu hak tinggi buatan luar negeri terasa amat menyiksa.

Namun setiap kali Aisyah tampak sedikit layu, Rosma akan mendekat dengan alasan merapikan gaun Aisyah, lalu berbisik tajam di telinganya.

"Tegakkan badan kamu, Aisyah! Senyum!" bisik Rosma dingin dengan senyum palsu yang tetap mengembang di wajahnya. "Jangan bikin saya malu di depan wartawan!"

Dimas yang berdiri di sisi lain Aisyah memegang lengan perempuan yang sudah menjadi istrinya itu dengan canggung. Sifat anak maminya kembali terlihat saat ia berbisik untuk menuntut perhatian dari Aisyah.

"Aisyah... kaki aku pegal banget," ujar Dimas pelan sambil menyenggol bahu Aisyah. "Mami tega banget bikin pesta berdiri sepanjang ini. Kamu ajak Mami berhenti dong, aku trauma dipotret terus sama kamera..."

Aisyah menoleh dengan perlahan, dan menatap wajah suaminya yang kini sudah sah secara agama dan negara. Ada rasa kasihan, namun juga ada kepasrahan yang mendalam melihat betapa tidak mandirinya pria yang kini menjadi pelindungnya itu.

"Sabar ya, Mas Dimas... Ikuti saja mau Tante Rosma," jawab Aisyah dengan amat lembut, panggilan 'Mas' pertama kali setelah menikah.

**

Malam kian larut, pesta megah bertabur bunga dan cahaya kristal itu akhirnya selesai juga. Tamu-tamu mulai membubarkan diri, meninggalkan panggung pelaminan yang mulai sepi.

Bu Rosma kini melangkah mendekati Aisyah dan Dimas yang sedang duduk kelelahan di sofa pelaminan. Wajah ramah dan hangat yang tadi dipamerkannya di depan kamera luntur seketika, berganti dengan tatapan yang dingin.

"Acara pameran sudah selesai," kata Rosma, sambil merapikan perhiasan di lehernya. "Mobil sudah siap di depan. Malam ini juga kamu bawa barang-barang kamu ke rumah Mami, Aisyah. Mulai detik ini, tidak ada lagi kehidupan bebas kamu di kampung reyot itu!"

Bersambung...

1
Tuti Nurhayati
up LG KK dtunggu
Aurora: udah update Kaka... yuk lanjut baca lagi 🤗. Kalau suka, jangan lupa kasih like nya ya...🥰
total 1 replies
Tuti Nurhayati
up LG y dtunggu
Aurora: siap kakak... makasih udah mau mampir 🤗🥰
total 1 replies
fans
Menarik, lanjutkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!