Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
Begitu batasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Bayang-Bayang Ouroboros
Gemerlap lampu kota Jakarta di malam hari terlihat memukau dari balkon *penthouse* mewah Istana Naga Hitam. Namun, keindahan itu tidak mampu mengusir ketegangan yang tersirat di wajah Reno. Berdiri tegak dengan jubah tidur sutra hitam yang longgar, jemarinya mencengkeram pagar kristal balkon, sementara pandangannya lurus menembus kegelapan malam.
Hanya beberapa jam yang lalu, Bagas melaporkan pergerakan 'Sirkuit Ouroboros'. Sindikat gelap global itu tidak membuang waktu. Valerius Stone, sang petinggi sindikat, telah mengaktifkan jaringan sel tidur mereka di Asia Tenggara. Target mereka jelas: melumpuhkan Naga Hitam dan melenyapkan Reno serta Alya sebagai bentuk balas dendam atas runtuhnya Klan Cendana yang menjadi mesin uang mereka.
"Protokol Gerhana sudah berjalan, Tuan Muda," suara Bagas terdengar dari *earpiece* nirkabel yang terpasang di telinga Reno. "Tim intelijen siber kita sedang melacak aliran dana kripto yang diduga digunakan Ouroboros untuk menyewa tentara bayaran. Namun, mereka sangat licin. Jejak mereka terhapus setiap beberapa detik."
Reno mengembuskan napas panjang, hawa dingin keluar dari mulutnya. "Terus lacak. Jangan biarkan satu celah pun lolos. Ouroboros bukan lawan sembarangan seperti Cendana. Mereka adalah hantu yang beroperasi di akar rumput peradaban modern."
"Baik, Tuan Muda. Mengenai Nona Alya... penjagaan ditingkatkan menjadi Level Merah (Maksimal). Tim elit 'Shinigami' sudah bersiaga di perimeter luar maupun dalam, tanpa mengganggu privasi Nona," lapor Bagas.
Mendengar nama Alya, tatapan Reno yang sedingin es sedikit melunak. Wanita itu adalah kelemahannya, namun juga menjadi sumber kekuatan terbesarnya untuk meruntuhkan siapa saja yang berani mengusik sarang naga.
"Pastikan dia tidak menyadari apa pun, Bagas. Biarkan dia fokus pada program sosialnya. Aku tidak ingin ketakutan merenggut senyum dari wajahnya," perintah Reno datar, namun penuh penekanan.
Reno mematikan sambungan komunikasi. Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama yang hangat dan harum aroma terapi. Di atas tempat tidur *king size* yang empuk, Alya sedang duduk bersandarkan bantal, sibuk dengan tablet digitalnya. Rambut hitamnya terurai indah, dan wajahnya tampak serius namun memancarkan kecantikan yang murni dan matang.
Melihat Reno masuk, Alya mendongak dan mengulas senyum manis yang sanggup mencairkan hati sang Penguasa Naga Hitam.
"Masih bekerja, Sayang?" tanya Alya lembut seraya meletakkan tabletnya di meja nakas.
Reno mendekat, duduk di tepi tempat tidur dan membelai rambut Alya dengan penuh kasih sayang. "Hanya memeriksa beberapa laporan global. Kamu sendiri, kenapa belum tidur? Ini sudah larut."
"Aku sedang meninjau proposal pertama untuk program pendidikan gratis di wilayah timur," jawab Alya, matanya berbinar antusias. "Ada begitu banyak anak yang membutuhkan bantuan kita, Reno. Dana seratus triliun ini akan sangat berarti bagi masa depan mereka."
Reno tersenyum, mengagumi ketulusan hati istrinya. Di tengah kekuasaan dan kekayaan yang tak terbatas, Alya tetaplah wanita yang rendah hati dan penuh empati. Itulah alasan mengapa Reno jatuh cinta padanya, dulu, sekarang, dan selamanya.
"Aku bangga padamu, Permaisuriku," bisik Reno, mengecup kening Alya. "Visi Naga Hitam di era baru ini ada di tanganmu, dan aku tahu kamu akan menjalankannya dengan sempurna."
Alya tersenyum malu, pipinya merona merah. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Reno, menghirup aroma maskulin yang menenangkan. "Tanpa dukunganmu, aku tidak akan bisa melakukan semua ini, Reno. Terima kasih telah menjadi pilar kekuatanku."
Mereka berpelukan dalam keheningan yang nyaman, menikmati momen kebersamaan di tengah badai yang perlahan mendekat. Alya merasa sangat aman dan dicintai di dalam dekapan Reno, tanpa menyadari bahwa di luar sana, bahaya besar sedang mengintai nyawanya.
Keesokan harinya, Gedung Konsorsium Naga Hitam ibu kota tampak sibuk seperti biasa. Di lantai yang didedikasikan untuk Divisi Pengembangan Sosial, Alya memimpin rapat koordinasi dengan tim ahlinya. Ia terlihat anggun dan profesional dengan setelan *office wear* berwarna putih gading, memancarkan aura kepemimpinan yang tegas namun tetap membumi.
"Target kita bulan ini adalah meluncurkan pilot project di tiga provinsi," ujar Alya seraya menunjuk peta digital di layar proyektor. "Pastikan semua jalur logistik aman dan dana tersalurkan secara transparan. Aku tidak ingin ada satu rupiah pun yang diselewengkan."
Tim Alya mengangguk patuh. Mereka kagum pada kecerdasan dan ketelitian Alya dalam mengelola dana yang sangat fantastis. Alya bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas; konflik demi konflik telah menempanya menjadi sosok Permaisuri yang tangguh dan bermartabat.
Setelah rapat usai, Alya melangkah menuju ruangannya dengan perasaan puas. Program sosialnya mulai berjalan sesuai rencana. Ia merasa hidupnya kini memiliki makna yang lebih dalam, tidak hanya sekadar menjadi istri dari pria terkaya di dunia.
Namun, saat ia melintasi lobi utama gedung yang luas dan megah, suasana mendadak berubah tegang.
*BZZZT! BZZZT! BZZZT!*
Layar raksasa di lobi yang biasanya menampilkan berita bisnis global dan profil Naga Hitam mendadak berkedip hebat. Sinyal internal gedung diretas!
Wajah para karyawan yang berada di lobi tampak panik. Para pengawal Naga Hitam segera bersiaga, membentuk formasi perlindungan di sekitar Alya.
Di layar raksasa, muncul simbol aneh: seekor ular yang menggigit ekornya sendiri, membentuk lingkaran tak berujung. Simbol *Ouroboros*.
Detik berikutnya, layar menampilkan gambar Valerius Stone, petinggi sindikat Ouroboros. Wajahnya yang dingin dan kejam menatap lurus ke arah kamera, senyuman licik terukir di bibirnya.
"Selamat siang, para penghuni sarang naga," suara Valerius bergema melalui pengeras suara gedung, dingin dan mengintimidasi. "Dan salam khusus untuk Permaisuri cantik, Alya Pramudya."
Jantung Alya berdegup kencang. Ia menatap layar dengan tatapan kaget dan bingung. Siapa pria ini? Dan mengapa dia menyebut namanya?
"Reno mungkin berpikir dia telah menghancurkan Cendana dan menguasai dunia," lanjut Valerius dengan nada sinis. "Tapi dia salah besar. Cendana hanyalah bidak kecil di papan catur kami. Naga Hitam telah mengusik Ouroboros, dan sekarang saatnya kalian membayar harganya."
Di layar, muncul gambar-gambar aset Naga Hitam di berbagai negara yang mulai mengalami sabotase. Aliran dana tersendat, sistem logistik lumpuh, dan peretas Ouroboros mulai menyerang pertahanan siber Naga Hitam.
"Ini baru permulaan," pukas Valerius, tatapannya menajam berbahaya. "Reno, aku tahu kamu mendengarkan. Nikmatilah momen kebahagiaanmu bersama wanita cantik di sampingmu itu, karena tak lama lagi, Ouroboros akan merenggut semuanya dari tanganmu. Aku akan memastikan Naga Hitam runtuh berkeping-keping, dan kamu akan menyaksikan Permaisurimu menderita di hadapanmu."
*KLIK!*
Layar raksasa mendadak gelap, lalu kembali menampilkan berita bisnis global seperti biasa. Retasan Ouroboros berhasil diputus oleh tim keamanan siber Naga Hitam, namun pesan ancaman itu telah tersampaikan dengan jelas.
Suasana di lobi gedung menjadi sunyi senyap. Semua mata tertuju pada Alya, yang berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Ancaman Valerius Stone begitu nyata dan mengerikan. Alya menyadari bahwa kehidupan mewahnya saat ini bukan tanpa risiko. Ia adalah target utama dari musuh-musuh Reno.
"Nona Alya! Anda tidak apa-apa?" tanya salah seorang pengawal elit dengan cemas, berusaha mendekati Alya.
Alya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan karyawan dan pengawalnya. Sebagai Permaisuri Naga Hitam, ia harus menunjukkan keteguhan hati di tengah ancaman.
"Aku tidak apa-apa," jawab Alya dengan suara yang sedikit bergetar namun terdengar tegas. "Lanjutkan aktivitas seperti biasa. Tim keamanan siber akan menangani masalah ini."
Alya melangkah cepat menuju lift khusus, menuju lantai teratas tempat Reno berada. Ia harus bertemu suaminya sekarang juga. Ia membutuhkan penjelasan mengenai Ouroboros dan ancaman yang baru saja ia terima.
Sesampainya di ruang kerja Reno, Alya mendapati pintu terbuka lebar. Reno berdiri di tengah ruangan, wajahnya datar namun aura dingin dan mematikan menguar kuat dari tubuhnya. Di sampingnya, Bagas sedang sibuk memberikan instruksi kepada tim keamanan melalui tablet digital.
"Reno!" panggil Alya dengan suara penuh kecemasan seraya menghambur ke arah suaminya.
Reno langsung merangkul Alya, mendekapnya erat-erat seolah takut wanita itu akan menghilang. "Kamu tidak apa-apa? Aku sudah mendengar retasan Ouroboros di lobi."
"Siapa mereka, Reno? Mengapa pria di layar itu mengancam kita? Dan mengapa dia menyebut namaku?" rentetan pertanyaan keluar dari bibir Alya.
Reno menatap Alya dengan pandangan penuh penyesalan. Ia telah berusaha keras melindungi Alya dari kegelapan dunia Naga Hitam, namun Ouroboros berhasil menembus pertahanannya.
"Mereka adalah sindikat gelap global, Alya. Cendana hanyalah bagian kecil dari jaringan mereka," jelas Reno jujur, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Mereka merasa terancam dengan dominasi Naga Hitam yang bersih, dan mereka ingin membalas dendam."
Reno memegang bahu Alya, menatap lurus ke dalam matanya yang jernih. "Ancaman mereka terhadapmu adalah kesalahan terbesar yang pernah mereka lakukan. Aku bersumpah, Alya, aku akan menghancurkan Ouroboros sampai ke akar-akarnya. Tidak akan ada satu pun dari mereka yang tersisa untuk menyentuh sehelai rambutmu."
Di balik ketakutan dan kecemasannya, Alya melihat kilatan tekad dan keberanian yang luar biasa di mata Reno. Pria ini adalah Penguasa Naga Hitam, pelindungnya, cintanya. Bersamanya, Alya tahu ia tidak perlu takut menghadapi badai mana pun.
"Aku mempercayaimu, Reno," bisik Alya seraya memeluk suaminya erat-erat. "Kita akan menghadapi ini bersama, sebagai power couple Naga Hitam."
Reno tersenyum tipis, mencium kening Alya dengan penuh kasih sayang. Badai Ouroboros mungkin sedang menuju cakrawala mereka, namun Naga Hitam siap mengamuk, menghanguskan siapa saja yang berani mengusik sarang dan wanita tercintanya. Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.