NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Cahaya obor menari di dinding batu. Elliot berdiri di balkon menara, menatap tajam ke arah hutan perbatasan yang diselimuti kabut salju tebal.

"Pergi ke mana dia?" ucapnya, suara beratnya bergetar hebat menahan cemas yang membakar dada.

Jenderal Oric menunduk di sampingnya. "Pasukan penyisir sudah mencapai tepi lembah, tapi kami terpaksa berhenti di batas wilayah Avarian. Kalau melangkah lebih jauh, itu bisa dianggap sebagai pelanggaran perjanjian."

Elliot mengepalkan tangan di pagar batu hingga buku jarinya memutih, rahangnya mengeras. "Aku tak peduli dengan perjanjian itu! Dia di luar sana—istriku sendirian! Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, tambah pasukan!"

"Dan kehilangan seluruh pasukan karena menyinggung kaum Avarian?" sela Kapten Laynna dengan nada kritis yang tegas. "Itu bukan keputusan yang bijak, Tuan Duke."

Elliot ingin membantah, tapi ia benar-benar kehabisan kata. Tangannya menyapu wajahnya yang lelah, matanya memerah karena tidak tidur semalaman.

Seharusnya ia sudah pulang bersama Davira tadi sore—namun hingga kini, hampir sepuluh jam berlalu, tidak ada satu pun jejak istrinya di hutan perbatasan yang sunyi itu.

Udara malam menggigit kulit, embun dingin menggantung di janggutnya. Jenderal Oric menatap tuannya dengan rasa khawatir yang mendalam. "Your Grace, izinkan pasukan beristirahat sejenak. Saat matahari terbit nanti, kita akan lanjutkan pencarian dengan tenaga penuh."

Elliot hanya terdiam, menatap kosong ke arah hutan gelap gulita di kejauhan. Awalnya ia bernolak keras, tapi Kapten Laynna berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh permohonan yang rasional.

"Kami semua peduli pada Nyonya Davira. Tapi Anda juga dibutuhkan di sini, Tuan. Jika Anda jatuh sakit, bagaimana pencarian ini bisa dilanjutkan?"

Tak ada lagi bantahan yang bisa ia keluarkan. Akhirnya, dengan berat hati dan rasa frustrasi yang menyesakkan, Elliot mengangguk setuju.

Hangatnya api dari perapian langsung menyambut tubuhnya yang nyaris beku oleh udara malam. Ruangan itu dipenuhi sofa besar berlapis beludru dan kulit, tampak sangat nyaman—tapi bagi Elliot, tidak ada satu pun sudut di ruangan itu yang terasa menenangkan.

Tanpa membuang waktu, Elliot menyambar botol anggur di atas meja kayu. Cairan merah pekat itu dituangkannya terburu-buru Ke dalam cangkir perak, lalu ia teguk sekaligus tanpa jeda.

Rasa hangat yang membakar tenggorokan sama sekali tidak mampu melunturkan dingin yang mencengkeram dadanya. Ia kembali menuang cangkir kedua, lalu ketiga.

Alkohol itu ia harapkan bisa meredakan debar jantungnya yang kacau dan membungkam kecemasan yang terus menggerogoti jiwanya. Namun, bayangan Davira—terus berkelebat di kepalanya. Bagaimana jika ia kedinginan di tengah gelapnya hutan perbatasan seorang diri?

Brak!

Elliot membanting cangkir perak itu. Rasa frustrasi dan takut bercampur menjadi satu, menghancurkan ketenangan seorang penguasa utara yang biasanya tak pernah gentar menghadapi apa pun.

"Kamu di mana, Davira, sial!" umpatnya tertahan dengan suara serak, mencengkeram tepi meja erat-erat sementara matanya yang memerah terus menatap kosong ke arah jilatan api perapian.

Kelelahan luar biasa dan pengaruh alkohol yang pekat akhirnya meruntuhkan pertahanan tubuh Elliot. Tanpa sadar, ia tertidur lelap di atas sofa besar berlapis beludru.

Di tengah lelapnya, samar-samar ia mendengar suara lembut seorang wanita memanggil namanya.

"Elliot..."

"Elliot..."

"Hmm... Davi..." gumamnya lirih dalam setengah kesadaran, mengira wanita yang dicarinya akhirnya kembali.

Elliot merasakan kehangatan di kepalanya. Sebuah tangan yang lembut mengelus-elus rambutnya dengan penuh perhatian.

Namun, seiring kesadarannya yang perlahan pulih, aroma parfum manis yang asing menyengat indra penciumannya. Sentuhan itu... itu bukan tangan Davira.

Elliot membuka matanya lebar-lebar dan mendongak. Wanita yang sedang memangkunya dan membelai kepalanya bukanlah sang istri.

"Fiona!"

Elliot tercengang. Seketika rasa mabuknya menguap, digantikan oleh gelombang amarah yang membuncah saat ia langsung tersentak bangkit dari sofa, menjauhkan diri dari wanita itu.

Fiona tidak bergeser dari tempatnya duduk. Gadis itu justru menampilkan senyum tipis yang disembunyikan di balik tatapan memelas yang sengaja dilembutkan.

Malam ini, Fiona sengaja mengenakan pakaian tidur tipis dari bahan sutra transparan yang membalut tubuhnya dengan minim—menonjolkan lekuk tubuhnya demi menggoda sang penguasa utara.

Memanfaatkan celah saat Elliot sedang mabuk, putus asa, dan kehilangan akal sehat akibat kecemasan terhadap Davira, untuk menjerat pria itu ke dalam pelukannya.

"Elliot..." panggil Fiona dengan suara mendesah lembut, mencoba mendekatkan diri lagi sambil meletakkan tangannya di lengan sang duke. "Kau sangat kelelahan memikirkannya. Izinkan aku menemanimu malam ini..."

Sebagai teman masa kecil yang tumbuh bersamanya, sekaligus gadis yang begitu disayangi oleh neneknya, Elliot menahan diri untuk tidak meledak atau mengeluarkan kata-kata kasar.

Elliot perlahan menegakkan tubuhnya, melepaskan sentuhan Fiona dan bergeser menjauh.

"Fiona," ucap Elliot dengan suara rendah, dingin, dan tertahan. "Kenakan pakaianmu yang pantas. Dan katakan, apa arti semua ini?"

Fiona menggigit bibir bawahnya. "Aku hanya khawatir melihatmu hancur karena wanita itu, Elliot. Aku hanya ingin ada di sisimu saat kau rapuh..."

"Cukup," potong Elliot tegas, menutup celah bagi Fiona untuk melanjutkan sandiwara tersebut.

"Aku menghargai kenangan masa kecil kita, dan aku selalu mengingat betapa Nenek menyayangimu hingga sekarang, tapi apa yang kau lakukan di ruanganku malam ini... sudah melewati batas. Pergilah ke kamarmu sekarang, Fiona. Dan jangan pernah lakukan hal bodoh ini lagi." tutur Elliot dengan nada tegas.

"Elliot..." Fiona tak menyerah begitu saja, ia memanggilnya akrab dengan suara lembut. "Aku dengar kamu belum tidur sama sekali. Izinkan aku membantumu."

Elliot menoleh sekilas, melihat wanita yang berdiri di dekatnya. "Aku tidak bisa. Davira belum ditemukan, dia masih di luar sana," ujarnya cemas.

Fiona berpura-pura prihatin. Ia berjalan mendekat, menghela napas panjang seolah-olah sedang bersedih, lalu memeluk Elliot.

"Setidaknya istirahatlah sebentar di sini, aku akan menemanimu sampai pagi," ucap Fiona lembut sambil menatap Elliot. Suaranya terdengar tulus—namun penuh maksud terselubung.

"Aku sungguh tak menyangka, istrimu memilih pergi sendiri. Kadang, wanita yang takut kehilangan justru lebih dulu ingin menjauh."

Elliot menoleh, menatap Fiona dengan dahi berkerut. "Apa maksudmu?"

Fiona tersenyum tipis, bibirnya melengkung tanpa benar-benar terangkat. "Tidak ada, Tuan Duke. Aku hanya berpikir… mungkin istrimu merasa tak sanggup menjalani tanggung jawab besar di wilayah selatan ini. Siapa tahu, ia sedang tak ingin dicari… melainkan melarikan diri dari beban yang akan ia tanggung sebagai Duchess of Orion."

Elliot menegakkan tubuh, menatapnya tajam. "Aku cukup mengenalnya. Davira tidak akan kabur dari tanggung jawabnya."

Senyum Fiona langsung memudar. "Ohh... Tentu saja, mantan ratu selalu terlihat sempurna di matamu… padahal aku masih ingat jelas, dulu kau bahkan membencinya!" serunya penuh emosi.

Nada ucapannya dibuat mencemooh, menusuk harga diri Davira, sekaligus mengguncang batin Elliot dengan kenangan masa lalu saat ia memang pernah membenci wanita itu.

"Fiona—"

"Lucu sekali. Seorang wanita yang pernah kau sebut dingin, tak punya hati, dan haus kekuasaan kini jadi sosok yang kau puja dan kau cemaskan mati-matian. Apa dia menenun mantra padamu, Elliot? Atau kau memang mudah lupa pada siapa yang lebih dulu berdiri di sisimu?"

"Dia bukan mantan ratu," tegas Elliot, rahangnya mengeras. "Dia istriku!"

Fiona tertawa sinis, nada suaranya menusuk. "Istrimu? Ratu yang turun takhta demi menikahi seorang Duke—kisah yang begitu mengharukan, bukan?"

Elliot bangkit berdiri, menatapnya tajam. "Hati-hati dengan ucapanmu, Fiona," ucapnya penuh peringatan.

Fiona mendengus, matanya kini dipenuhi amarah yang tak lagi bisa ia sembunyikan. "Seharusnya aku yang ada di posisinya. Sejak kecil, akulah yang dipilih ayahmu, ibumu, serta Grand Duchess untuk mendampingimu! Aku mengenalmu jauh lebih lama sebelum dia datang dengan senyum palsunya itu!"

"Cukup!" Suara Elliot meninggi. "Davira tidak seperti yang kukira sebelumnya. Dulu aku salah menilainya," lanjutnya dengan nada yang lebih rendah namun tegas.

Fiona terdiam sejenak—kehabisan kata, namun amarahnya terlampau besar untuk ditahan. Ia menatap Elliot dengan mata berair, lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan. Namun, sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah sang duke.

"Semoga saja istrimu masih hidup sampai besok pagi, Tuan Duke," bisik Fiona penuh racun.

Elliot tidak menoleh, ia hanya memejamkan mata rapat-rapat. Suara pintu tertutup kencang di belakangnya, meninggalkan ruang perapian yang kembali sunyi—dan hati yang semakin dihantam kecemasan luar biasa.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
LAHHH 😭 Davira malah terinspirasi
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Elizabeth santai menyodorkan daging, sementara orang-orang di sekitarnya mundur perlahan karena takut jadi menu tambahan 😭🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Orang lain mungkin sudah pucat ketakutan, sementara dia malah bangga memperkenalkan hewan peliharaannya. 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
kuda berbulu 😅
Karo Karo
update nya jangan lama-lama kk thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: iya kak 🤗 ikuti teruss yah ☺️
total 1 replies
Karo Karo
oh jelas soalnya dalam buku bgtu banyak pelajaran yg bsa membungkam mulut orang yg hanya bsa pake otot tpi tdk pake otak 😂
Karo Karo
wah wah 😂 mantap
Karo Karo
mantap
Karo Karo
tok tok tok lah Thor 😁
Karo Karo
keren kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih ☺️🤗
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Fiona tralu meremehkan Davira. Nanti juga kena batunya sendiri 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keren banget, Davira, jangan remehkan mantan ratu. tunjukkan kalau mantan ratu punya aura wibawa 🤣👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Nah, saingan akhirnya muncul, pasti bakal makin panas🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
duh Davira lagi2 harus menghadapi perlakuan yg menyakitkan, Grand Duchess terlalu meremehkan Davira 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Visualnya benar² membantu membayangkan Davira, Elliot, dan suasana kerajaannya 🥰
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Kasihan Davira, tapi yahh dia memang harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan sebelumnya 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keputusan terbaik! Tinggalkan Liam dan malangnya, mulai lah hidup baru bersama Elliot👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Semoga di kehidupan kedua ini Davira bisa menyelamatkan Elliot & keluarganya.
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Idette siap² tersaingi. Davira sekarang tak klah mempesona
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Davira terlalu sabar di kehidupan pertamanya. Aku ikut sesak bacanya 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!