Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Napas Clara tertahan di tenggorokan. Layar ponsel kecil di genggamannya serasa membakar telapak tangannya. Teks hitam berlatar putih itu terus berpijar di dalam kegelapan kamar, menegaskan kenyataan mengerikan yang baru saja menghantamnya. Kenzo sudah tahu.
Pria itu tahu tentang ponsel rahasia ini. Tahu tentang tempat persembunyian di balik selimut ekstra. Dan secara otomatis, tahu tentang email dari Universitas Frankfurt serta jadwal wawancara rahasia yang rencananya akan berlangsung esok pagi pukul sembilan.
Air mata dingin menetes menyusuri pipi Clara. Sandiwaranya sebagai adik tiri yang penurut sama sekali tidak berhasil mengecoh Kenzo. Pria itu hanya berpura-pura terpedaya, membiarkan Clara menari di atas benang halus harapan yang sengaja ia ulur sebelum akhirnya memotongnya tanpa ampun.
Jemari Clara yang gemetar hebat mencoba menekan tombol daya untuk mematikan perangkat tersebut, namun pintu kamar lamanya tiba-tiba berderit terbuka.
Kenzo berdiri di sana. Pria itu telah melepas jasnya, kini hanya mengenakan kemeja putih dengan dua kancing atas yang terbuka dan lengan yang tergulung santai. Di tangan kanannya, Kenzo memegang sebuah cangkir teh yang masih berasap. Tidak ada riak amarah di raut wajahnya. Wajah itu datar, tenang, dan dipenuhi oleh kontrol yang mutlak.
Pria itu melangkah masuk tanpa suara, menutup pintu di belakangnya, dan menguncinya rapat.
"Mengapa kau berdiri di lantai yang dingin begitu, Clara?"
tanya Kenzo halus. Ia berjalan mendekat, meletakkan cangkir teh di atas meja rias, lalu mengalihkan tatapan kelamnya pada benda kecil di genggaman Clara.
"Dan apa yang sedang kau pegang?"
Clara refleks menyembunyikan ponsel itu di balik punggungnya, mundur hingga pinggulnya menabrak tepi meja rias.
"Kenzo tolong."
"Tolong apa, Dear?"
bisik Kenzo seraya mengikis jarak di antara mereka.
Pria itu mengulurkan tangannya yang panjang dan kokoh, meraih pergelangan tangan Clara tanpa kekerasan, namun dengan tekanan yang tak bisa dibantah. Dengan mudah, Kenzo menarik tangan Clara ke depan dan mengambil ponsel kecil itu dari jemari gadis itu yang gemetar.
Kenzo mengangkat ponsel itu ke dalam pencahayaan kamar yang remang. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang dingin.
"Ponsel rahasia dibeli tunai di konter kecil dekat kampus dua minggu lalu,"
ujar Kenzo pelan, membeberkan detail yang membuat darah Clara makin membeku.
"Setiap kali kau berpura-pura tidur di bawah selimut, kau mengakses email ini. Apakah kau benar-benar berpikir sebuah kartu perdana baru bisa menyembunyikan alamat IP dari jaringan yang terhubung ke rumah ini?"
Clara menggeleng pelan, tangisnya pecah tanpa suara.
"Kau sengaja membiarkanku..."
"Aku ingin melihat seberapa jauh kau berusaha lari dariku,"
potong Kenzo datar. Ibu jarinya mengusap layar ponsel itu, lalu dengan satu gerakan santai, pria itu menjatuhkan ponsel tersebut ke lantai marmer dan menginjaknya dengan tumit sepatu kulitnya.
KRAK.
Suara retakan plastik dan kaca yang hancur berkeping-keping menggema di dalam kamar yang sunyi. Harapan terakhir Clara untuk terbang ke Frankfurt hancur berkeping-keping bersama hancurnya ponsel tersebut di bawah kaki Kenzo.
"Satu hal yang harus kau pahami tentangku, Clara,"
Kenzo membungkuk sedikit, mencengkeram lembut kedua sisi wajah Clara, memaksa mata gadis itu yang basah oleh air mata untuk menatap lurus ke dalam manik matanya yang pekat tanpa dasar.
"Aku mengontrol setiap napas yang kau hirup di rumah ini. Tidak ada email rahasia, tidak ada wawancara beasiswa besok pagi pukul sembilan, dan tidak ada kebebasan di Jerman."
"Kenapa kau melakukan ini padaku?!"
jerit Clara parau, kehabisan seluruh benteng pertahanannya.
Ia memukul dada Kenzo dengan kedua tangannya, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun, menerima setiap pukulan lemah itu seolah hanya terpaan angin.
"Aku membencimu, Kenzo! Aku sangat membencimu! Kau menghancurkan hidupku!"
"Aku tidak menghancurkan hidupmu. Aku membentuknya,"
balas Kenzo dingin. Ia menangkap kedua pergelangan tangan Clara, menguncinya di atas kepala gadis itu dan mendorong tubuhnya hingga bersandar rapat pada lemari kayu di belakangnya.
"Aku yang menyelamatkan ibumu dari kebangkrutan. Aku yang memberimu tempat tinggal ini. Dan aku yang akan membawamu ke tempat di mana tak ada seorang pun yang bisa menyakiti atau mengambilmu dariku."
"Dengan memenjarakanku?!"
bisik Clara terengah-engah, jarak wajah mereka begitu dekat hingga napas mereka beradu.
"Jika itu satu-satunya cara untuk memilikimu seutuhnya, maka ya,"
jawab Kenzo tanpa ragu sedikit pun.
Kenzo menunduk, menempelkan dahinya ke dahi Clara yang dingin. Keheningan merayap di antara mereka, diisi oleh napas memburu Clara dan detak jantung Kenzo yang teratur. Di balik ketakutan yang luar biasa, Clara merasakan sensasi aneh yang mengerikan, sebuah aura dominasi yang begitu kuat dari Kenzo yang perlahan-lahan mulai mengikis akal sehatnya.
"Besok pagi pukul delapan,"
ujar Kenzo, suaranya kembali menjadi bisikan lembut yang menghipnosis,
"kau tidak akan pergi ke kampus. Aku sudah mengirimkan surat pengunduran diri atas namamu ke pihak rektorat malam ini."
Mata Clara membelalak sempurna.
"Apa?! Tidak! Kenzo, tidak!"
"Semua sudah selesai, Clara,"
bisik Kenzo seraya melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Clara. Pria itu mengusap sisa air mata di pipi gadis itu dengan gerakan yang sangat posesif.
"Ibu dan Ayah akan berpikir kau setuju untuk mengambil cuti panjang dan fokus berlibur bersamaku di Karibia. Tidak akan ada yang bertanya. Tidak akan ada yang mencari."
Kenzo berbalik, melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, ia melirik pecahan ponsel di lantai, lalu menatap Clara yang meluruh ke lantai dengan tatapan yang sepenuhnya bertekuk lutut.
"Selamat tidur, Dear. Besok adalah hari terakhirmu di rumah ini."
Pintu tertutup dan denting kunci berputar dari luar. Clara memeluk lututnya di atas lantai yang dingin, menatap pecahan kaca ponselnya yang berserakan. Pintu pelariannya telah terkunci rapat, dan esok hari, sangkar emas yang sesungguhnya telah menunggunya di seberang lautan.
Kegelapan kamar terasa kian menghimpit begitu derap langkah kaki Kenzo menghilang sepenuhnya di balik lorong. Clara tetap berada di posisi yang sama, terduduk di lantai marmer yang dingin dengan lutut terlipat rapat di depan dada.
Jemarinya yang gemetar pelan mengusap pecahan kaca ponselnya yang berserakan, membiarkan sudut tajam material itu menggores tipis kulit ibu jarinya hingga meneteskan jejak darah hangat. Namun, rasa sakit di jemarinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehancuran di dalam dadanya.
Segala daya upaya, kebohongan manis, dan rencana pelarian yang ia susun dengan cermat berhari-hari menguap begitu saja di bawah cengkeraman Kenzo. Pria itu tidak hanya membaca pesannya, tetapi juga telah membaca seluruh alur pikirannya sejak awal. Ia tidak pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk menang, ia hanyalah seekor burung kecil yang dibiarkan mengepakkan sayap di dalam sangkar yang pintunya sengaja dibiarkan sedikit terbuka.
Clara menyandarkan kepalanya pada tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang gelap. Dalam keheningan malam yang merayap, bayangan janji manis kebebasan di Jerman berganti menjadi bayangan sangkar baru yang diisolasi di tengah lautan.
Kenzo telah mematikan setiap lampu harapan di hidupnya, dan esok hari, ketika fajar menyingsing, tidak akan ada lagi tempat untuk bersembunyi dari sang monster.