NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

BAB 10

TETANGGA SEBELAH

"Kamu tidur di kamar. Aku di sofa," kata Lani begitu mereka kembali dari tangga darurat.

Rey akhirnya mengenakan kaus yang sempit dan celana olahraga yang dipinjam dari anak penjaga minimarket bawah. "Kenapa bukan gue di sofa?"

"Karena kalau kamu kabur lagi, aku ingin dengar pintunya."

Lani menyerahkan selimut. "Dan ingat aturan pertama. Setelah malam ini, kamu nggak boleh datang tanpa izin."

"Iya, Bu Guru."

"Kalau mengejek, keluar sekarang."

Rey mengangkat kedua tangan dan masuk kamar.

Lani menjatuhkan tubuh ke sofa. Otot kakinya sakit setelah berlari beberapa lantai. Ia baru saja memejamkan mata ketika panggilan video dari grup tiga sahabat masuk.

Wulan muncul dengan wajah lelah, sementara Wiwid masih berada di studio.

"Lan, gue mau tanya sesuatu," kata Wiwid. "Jangan langsung marah."

"Kalau pembukanya begitu, aku pasti marah."

Wiwid mengirim sebuah tangkapan layar ke grup.

Foto itu buram dan terpotong. Hanya tampak bahu telanjang seorang perempuan, sebagian punggung, kain sutra warna sampanye, serta tangan laki-laki di pinggang. Tidak ada wajah. Di bagian atas terlihat sisa antarmuka Instagram yang sudah dipotong.

Darah Lani terasa surut dari wajah.

"Salah satu model gue dapat dari teman," jelas Wiwid. "Katanya sempat masuk close friends seseorang, terus dihapus. Gue nggak tahu sumber awalnya."

Wulan memperbesar gambar. "Wajahnya nggak kelihatan."

"Tangannya mirip Lani." Wiwid menunjuk jari perempuan di foto. "Nggak pakai cincin juga. Lan, ini bukan lo, kan?"

"Kalaupun bukan Lani, foto itu tetap diambil tanpa persetujuan perempuan di dalamnya," kata Wulan. "Kamu sudah bilang ke modelmu jangan teruskan?"

"Sudah. Gue minta dia hapus dan kasih tahu temannya juga. Tapi kalau sudah jadi tangkapan layar, kita nggak tahu berhenti di mana."

Wiwid mendekatkan wajah ke kamera. "Kalau ini lo dan ada yang mengancam, bilang sekarang. Gue punya kenalan yang biasa urus hak foto model. Jangan tunggu sampai akun gosip mengambilnya."

Lani meremas ujung selimut. Ia tidak pernah menyangka satu kilatan kamera bisa terus mengejarnya sampai rumah baru.

"Aku aman," katanya, meski pintu kamar tempat Rey berdiri hanya berjarak beberapa meter.

Dari kamar terdengar benda jatuh.

Lani buru-buru mengecilkan volume. "Banyak tangan perempuan yang mirip. Baju tidur seperti itu juga dijual di mana-mana."

"Kenapa suaramu berubah?" tanya Wulan.

"Aku capek. Besok kita bicara lagi."

Lani menutup panggilan sebelum mereka sempat menahan.

Pintu kamar terbuka. Rey berdiri di sana dengan wajah keras.

"Foto itu dari Lynn?" tanya Lani.

"Gue cuma kirim ke dia."

"Dia menyebarkannya."

"Gue akan urus."

"Caramu mengurus selalu membuat orang lain terluka."

Lani memunggunginya dan menarik selimut sampai dagu. "Jangan bicara lagi malam ini."

Ia menunggu jawaban, tetapi yang terdengar hanya pintu kamar ditutup pelan.

***

Lani terbangun di atas kasurnya sendiri.

Cahaya pagi masuk melalui celah tirai. Rey berbaring di sisi lain dengan kaus dan celana lengkap, membelakanginya. Sofa kosong. Selimut Lani terlipat di lantai dekat pintu.

"Rey!"

Pemuda itu membuka satu mata. "Pagi."

"Kenapa aku ada di sini?"

"Gue pindahin. Tidur di sofa bikin leher lo miring."

"Lalu kenapa kamu ikut tidur di sini?"

"Sofanya kekecilan."

Lani mengambil bantal dan memukul kepalanya. "Aku bilang jangan menyentuhku!"

Rey menahan bantal. "Gue cuma gendong. Nggak ngapa-ngapain."

"Tetap melanggar aturan."

"Oke. Maaf."

Permintaan maaf yang datang terlalu cepat membuat Lani kehilangan kalimat berikutnya.

Rey bangkit, mengambil pakaian yang sudah kering, lalu menunjukkan ponsel. "Nomor lo sudah gue simpan. Terima WhatsApp gue."

Foto profilnya memperlihatkan Rey menuang minuman ke kepala sendiri, dengan luka mengalirkan darah di alis.

"Ganti foto itu."

"Kenapa? Keren."

"Kelihatan bodoh. Dan kamu masuk kuliah hari ini."

"Kalau gue masuk, ada hadiah?"

"Ada."

"Deal."

Dua jam kemudian, foto sebuah ruang kuliah masuk ke WhatsApp Lani. Di sudut bawah tampak sepatu Rey dan lembar presensi.

`Aku datang.`

Lani membalas dengan jempol.

`Hadiahnya apa?`

`Kalau lulus baru dapat.`

Balasan Rey muncul cepat.

`Nanti hadiahnya aku ambil sendiri.`

Lani menatap layar lebih lama daripada seharusnya.

***

Siang itu Lani menghadiri kelas merangkai bunga, lalu kelas teh dan memasak yang sudah dibayar sebelum ia pindah. Ia ingin mengisi waktu sampai menemukan pekerjaan tetap. Selama bertahun-tahun, jadwalnya menyesuaikan Gunawan. Sekarang bahkan kebebasan terasa seperti ruangan kosong yang harus ia isi sendiri.

Pukul enam sore, pintu apartemen tidak terkunci.

Rey duduk di sofa sambil bermain gim.

"Bagaimana kamu masuk?"

"Tadi petugas kebersihan keluar."

"Itu namanya menyelinap."

"Aku lapar."

Lani membuka kulkas dan langsung mengerang. Rey telah membeli daging, ikan, mi instan, buah, dua kotak es krim, dan sayuran. Semuanya ditumpuk tanpa aturan. Ayam mentah diletakkan di atas puding.

"Kamu mau meracuni kita?"

"Gue nggak tahu cara nyusun kulkas."

"Tapi tahu cara masuk rumah orang."

Rey mengikuti Lani ke dapur, mencuci sayur tanpa diminta, dan memotong bawang dengan ukuran tidak sama. Hasil makan malam mereka tidak rapi, tetapi bisa dimakan.

Saat Lani mencicipi ayam, Rey menyodorkan satu potong dengan sumpit.

"Coba ini."

"Aku punya tangan."

"Tangan lo lagi pegang piring."

Lani menyerah dan membuka mulut. Rey memperhatikannya mengunyah dengan kepuasan aneh.

"Enak?"

"Terlalu asin."

"Besok gue perbaiki."

"Besok kamu pulang."

"Lihat mood."

Bel berbunyi sebelum Lani sempat membalas.

Laki-laki di depan pintu membawa mangkuk kosong. Usianya sekitar tiga puluh empat, tubuhnya besar, rambutnya masih basah sehabis mandi.

"Malam, Mbak Lani. Saya Gilang, tetangga depan." Ia tersenyum ramah. "Maaf, boleh pinjam kecap? Lagi masak, ternyata habis."

"Tunggu sebentar, Pak."

"Panggil Bang Gilang saja. Saya bukan pejabat." Ia tertawa. "Besok malam ada makan kecil di tempat saya. Beberapa tetangga juga datang. Mbak Lani ikut, ya, sekalian kenalan."

"Nggak usah repot."

"Nggak repot. Kalau nggak datang, nanti tetangga bilang saya nggak menyambut penghuni baru."

Lani ingin menolak lagi, tetapi suara dua ibu di lorong menyahut bahwa mereka juga akan hadir. Menolak undangan pertama dari tetangga bisa menjadi bahan omongan yang tidak perlu.

"Baik. Aku mampir sebentar."

"Saya tunggu."

Gilang menerima botol kecap, tersenyum, lalu kembali ke unit seberang.

Ketika Lani menutup pintu, Rey berdiri di belakangnya tanpa kaus.

"Tetangga lo itu nggak beres. Jangan bukain pintu buat dia."

"Dia cuma pinjam kecap."

"Dia lihat kaki lo tiga kali."

"Dan kamu masuk rumahku tanpa izin dua kali. Siapa yang lebih nggak beres?"

Rey membuka mulut, tetapi Lani sudah mengambil bantal, kaus, dan celana dalam miliknya dari kamar. Semua dilempar ke sofa.

"Tidur di luar."

"Lani."

Pintu kamar ditutup dan dikunci.

Dari baliknya, suara Rey terdengar dingin.

"Jangan datang ke rumah dia besok."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!