Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. Mati Sebagai Pengemis
Hujan di kota Kaifeng pada malam itu turun tanpa henti, seolah langit sendiri sedang menangis untuk nasib orang-orang yang hidup di jalanan, dan di antara tetesan air yang dingin menusuk tulang itu, seorang pemuda dengan jubah compang-camping bersandar lemah di dinding gang sempit yang dipenuhi bau busuk dan darah kering, tubuhnya penuh luka tebasan yang tidak lagi bisa dia hitung jumlahnya, dan setiap tarikan napasnya terasa seperti menarik pecahan kaca ke dalam paru-parunya.
Namanya adalah Gu Cheol, dan di dunia murim yang kejam ini, dia tidak lebih dari setitik debu yang akan segera hilang tanpa ada yang mengingatnya.
Sejak kecil dia dibuang di depan gerbang Sekte Pengemis, dibesarkan dengan sisa makanan, dipukuli oleh seniornya karena memperebutkan roti basi, dan dipandang rendah oleh semua orang, baik dari faksi ortodoks seperti Gunung Hua, Wudang, Shaolin, maupun dari faksi iblis yang bahkan tidak sudi mengotori tangan mereka untuk membunuhnya secara langsung, karena bagi mereka, seorang pengemis bahkan tidak layak disebut musuh.
Satu-satunya hal yang membuat Gu Cheol tetap bertahan hidup selama bertahun-tahun adalah matanya, mata yang selalu menatap ke atas, ke arah atap-atap tinggi tempat para pendekar sejati bertarung, ke arah gerbang sekte besar tempat murid-murid berbakat berlatih, dan ke arah tiga sosok wanita yang bahkan dalam mimpinya pun dia tidak berani mendekat.
Mereka disebut sebagai Tiga Bunga Kecantikan Jianghu, dan nama mereka adalah bisikan yang paling sering terdengar di kedai teh maupun di pasar gelap.
Yang pertama adalah Baek Seolhwa dari Sekte Emei, dijuluki Pedang Salju, karena setiap kali pedangnya terhunus, udara di sekitarnya akan membeku dan setiap musuh akan jatuh sebelum sempat melihat bayangannya, wajahnya seputih salju pertama di musim dingin dan sikapnya sedingin puncak gunung tempat sektenya berada.
Yang kedua adalah Nangong Yeon dari Klan Nangong, dijuluki Mutiara Pedang, karena teknik pedangnya seindah tarian dan secepat kilat, dan setiap gerakannya membuat para pemuda dari sekte ortodoks rela mati hanya untuk mendapatkan satu senyuman darinya.
Dan yang ketiga adalah Tang So-yeon dari Klan Tang, dijuluki Racun Bunga Plum, karena kecantikannya seindah bunga plum di musim semi, tetapi sentuhannya bisa membunuh seratus orang tanpa meninggalkan jejak, dan dia adalah alasan utama Gu Cheol diam-diam mempelajari nama-nama racun meskipun dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk menyentuhnya.
Malam ini, untuk pertama kalinya, Gu Cheol melihat ketiganya berdiri bersama di atas atap, dan pemandangan itu begitu indah hingga membuatnya lupa bahwa nyawanya sedang di ujung tanduk.
Di belakangnya, empat orang murid Sekte Iblis tertawa sambil mengangkat pedang berlumuran darah, mereka baru saja membantai satu rombongan pedagang dan Gu Cheol sialnya menjadi satu-satunya saksi yang masih hidup, bukan karena dia kuat, tetapi karena mereka menganggapnya terlalu lemah untuk repot-repot dibunuh.
"Kau dengar itu?" salah satu dari mereka berkata sambil menunjuk ke atas, "Itu Tiga Bunga. Katanya mereka sedang mengejar buruan besar malam ini."
"Sayang sekali kita harus pergi sebelum pertunjukan dimulai," yang lain menimpali sambil meludahi tanah di dekat kaki Gu Cheol.
Gu Cheol tidak menjawab, karena tenggorokannya sudah penuh darah, dan yang bisa dia lakukan hanyalah menatap ke atas, menatap tiga sosok yang berdiri di bawah sinar bulan, diterangi cahaya perak yang membuat mereka tampak seperti dewi yang turun dari surga.
Baek Seolhwa mengenakan jubah putih Emei yang berkibar tertiup angin, dan di tangannya ada pedang panjang yang memantulkan cahaya bulan.
Nangong Yeon mengenakan gaun biru dari Klan Nangong, rambutnya diikat rapi dengan jepit giok, dan senyum tipis di wajahnya cukup untuk membuat seribu pria gila.
Dan Tang So-yeon mengenakan gaun ungu gelap khas Klan Tang, di pinggangnya tergantung beberapa kantong kecil yang Gu Cheol tahu isinya adalah racun paling mematikan di dunia.
Untuk sesaat, Tang So-yeon menoleh ke arah gang tempat Gu Cheol bersembunyi, dan jantungnya berhenti berdetak, karena dia pikir mungkin, hanya mungkin, wanita itu melihatnya.
Tapi tatapan itu hanya sekilas, hanya sedetik, lalu Tang So-yeon berbalik dan mengikuti dua bunga lainnya melompat pergi, meninggalkan Gu Cheol sendirian dengan hujan dan darahnya.
"Ha... ha..." Gu Cheol tertawa, suaranya parau dan penuh darah, karena ini lucu, sangat lucu, dia hidup selama delapan belas tahun hanya untuk mati di gang seperti anjing, tanpa nama, tanpa keluarga, tanpa ada satu orang pun yang akan menangis untuknya.
"Satu kali saja," gumamnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan, "aku hanya ingin merasakan... digenggam tangannya... sekali saja..."
Dia tidak tamak, dia tidak meminta cinta, dia tidak meminta posisi di Aliansi Murim, dia tidak meminta diajari teknik pedang Gunung Hua atau teknik dalam Wudang, dia hanya ingin sekali dalam hidupnya merasakan hangatnya tangan orang lain yang menggenggam tangannya, karena sejak dia lahir, tidak ada yang pernah menyentuhnya kecuali untuk memukul atau menendang.
Langkah kaki mendekat dari belakang, dan Gu Cheol tahu itu adalah murid Sekte Iblis yang berubah pikiran dan memutuskan bahwa membiarkannya hidup adalah kesalahan.
Pedang itu menembus punggungnya, dingin, cepat, dan tanpa belas kasihan, menusuk tepat di antara tulang rusuknya dan keluar dari dadanya, membawa serta sisa-sisa hidup yang masih tersisa di tubuhnya.
Gu Cheol memuntahkan darah, matanya masih menatap ke arah atap kosong tempat Tiga Bunga tadi berdiri, dan di detik terakhir sebelum kesadarannya menghilang, dia berpikir bahwa mungkin di kehidupan berikutnya dia bisa lahir di tempat yang lebih baik, mungkin sebagai murid Klan Tang, mungkin sebagai murid Gunung Hua, mungkin sebagai seseorang yang layak untuk dicintai.
Tubuhnya jatuh ke genangan air dan darah, dan hujan terus turun, membersihkan darahnya sedikit demi sedikit, seolah dunia ingin menghapus keberadaannya sepenuhnya.
Tidak ada yang datang.
Tidak ada yang berteriak.
Tidak ada yang menutup matanya.
Gu Cheol mati sebagai pengemis, di usia delapan belas tahun, dengan satu penyesalan yang lebih besar dari semua luka di tubuhnya, yaitu dia mati tanpa pernah tahu rasanya dicintai.
Di kejauhan, di atas tembok kota, Tang So-yeon tiba-tiba berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, seolah merasakan sesuatu, tapi Baek Seolhwa sudah memanggilnya, dan Nangong Yeon sudah berjalan lebih dulu, sehingga dia hanya menggeleng pelan dan melanjutkan langkahnya.
Malam itu, satu nyawa pengemis padam di Kaifeng, dan tidak ada seorang pun di seluruh dunia murim yang mengetahuinya.
Tapi kisah itu belum berakhir, karena di suatu tempat jauh di Sichuan, di dalam ruang rahasia Klan Tang yang penuh dengan botol racun dan bau herbal yang menyengat, seorang Tetua Klan Tang sedang menatap seorang pemuda yang baru saja dia bawa pulang dari perbatasan, tubuh pemuda itu penuh luka dan demam tinggi, tetapi denyut nadinya aneh, seolah darah di dalam tubuhnya sudah bukan darah manusia biasa lagi.
"Anak ini," gumam Tetua itu sambil mengelus jenggotnya, "memiliki wadah yang sempurna untuk Jalur Racun. Mulai malam ini, kau akan bernama Tang Hyun, dan kau akan menjadi murid luar Klan Tang."
Dan di saat nama itu diucapkan, di saat mata pemuda itu terbuka untuk pertama kalinya dalam tubuh baru, sesuatu di dalam dirinya bersumpah dengan suara yang tidak bisa didengar siapa pun.
Kali ini, aku tidak akan mati sebagai pecundang.
Kali ini, aku akan menjadi racun yang bahkan dunia takut untuk menyentuh.
Kali ini, aku tidak akan kehilangan siapa pun lagi.