[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantuan Tiba!
Simon menggeram dengan rendah, merasakan aliran energi yang bergejolak di dalam nadinya saat ia memacu sirkulasi pernafasannya hingga ke titik puncak.
Dengan pandangan yang membeku, ia mengerahkan seluruh kekuatan fisiknya ke bilah pedang.
"Teknik Pedang Silang!
Syuut—BOOM!
[ Teknik Pedang Silang +3 ]
Gelombang kabut hitam pekat melesat secara horizontal, menghantam barisan anggota Sekte Widow yang mencoba mendekati simon.
Tubuh angota sekte itu terpental dengan tulang yang remuk akibat terkena gelombang hitam.
Namun, di tengah kepulan debu salju, sosok Janda Hitam melesat keluar dari sudut buta Simon dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Brak!
Tendangan samping yang berat menghantam lengan Simon yang digunakan untuk menangkis.
Simon terdorong mundur hingga sepuluh meter, kakinya menciptakan parit panjang di atas salju.
Rasa sakit seketika menjalar dari pergelangan tangan hingga ke bahunya.
"Sial... tanganku mati rasa," bisik Simon dengan nafas pelan, uap putih tebal keluar dari balik topeng gagaknya.
"Fisik wanita ini setidaknya berada di tingkat Ksatria Magang 3 atau bahkan formal, di tambah dengan orang-orang sekte lainnya yang merepotkan."
"Apa yang mesti aku lakukan?, jika begini terus aku akan mati." Gumam Simon.
Jika cuma janda hitam saja lawannya, Simon sangat percaya diri untuk mengalahkannya tapi kalau di keroyok? Jangan tanya lagi, tamat sudah....
Simon belum membangkitkan Qi pertempurannya, dia sekarang setara dengan captain Amerika.
Kembali ke pertempuran, ia menggunakan gerakan Ular untuk menyelinap di antara kerumunan anggota sekte, berniat mengurangi jumlah musuh dengan serangan yang secepat mungkin.
[ Pernafasan Ular Hitam +5 ]
Tapi, Janda Hitam selalu muncul seperti hantu di depannya, menghalangi setiap serangan mematikannya dengan kelenturan tubuh yang mengerikan.
Setelah beberapa menit pertempuran yang menguras tenaga, Simon mulai merasakan kelelahan yang luar biasa.
Otot-ototnya berdenyut nyeri, tubuhnya telah melewati batasnya.
Melihat Simon yang mulai melemah, Janda Hitam mendekat dengan seringai gila di wajahnya.
"Hehehe, tampan... sudah kubilang menyerahlah saja," godanya dengan nada yang penuh nafsu.
"Jadilah gigoloku, kakak akan memberimu kenyamanan dan kehangatan yang lebih baik daripada mati di tengah salju yang dingin."
Janda hitam merentangkan kedua tangannya kepada Simon berharap dapat di peluk.
Simon terdiam sejenak, desahan tipis terdengar di mulutnya.
"Baiklah... kalau itu maumu..." Simon berkata dengan suara yang melemah, perlahan menurunkan pedangnya, kemudian dia memeluk janda hitam itu.
Melihat adegan ini uskup sekte itu menjadi murka bahkan angota lainnya juga iri melihat Simon.
"Ya ampun kenapa bukan aku saja yang di peluk oleh janda hitam, mengapa harus bidat ini!"
"Siall, aku sangat irii"
"Janda Hitam! Apa-apaan yang kau lakukan, bunuh dia sekarang!" Uskup merasa aneh dengan tindakan janda hitam.
"Dialah penyebab upacara ritual kita gagal!" Ungkap uskup dengan tidak sabar.
"Tenanglah, uskup orang ini sekarang sudah menjadi jinak, lihatlah sikap dia, kita bisa menerima dia menjadi anggota sekte widow." Kata janda hitam sambil mengelus rambut Simon di dadanya.
"Kakak... baumu wangi sekali, heheh~..." Kata Simon dengan wajah yang mesum.
Janda Hitam tertawa puas, mengira ia telah menaklukkan mangsanya.
Saat janda hitam lengah, Simon bergerak secepat kilat.
Puchi!
Simon menghujamkan belati hitamnya tepat ke samping leher Janda Hitam, menembus arteri utamanya.
"Eh?" Janda hitam masih kebingungan dengan apa yang terjadi!
""Janda hitam!"" Teriak uskup dan banyak angota sekte lainnya.
"Hehe, aku hanya bercanda," bisik Simon tepat di telinga wanita itu, suaranya sedingin es di kutub Utara.
Mata Janda Hitam membelalak ngeri, tangannya mencengkeram jubah Simon dengan sisa kekuatannya.
"Kau... bidah licik... kumatikan kau... Dewi Laba-laba akan menyeret jiwamu ke neraka...!".
Ia terhuyung mundur, memegangi lehernya yang menyemburkan darah merah pekat, sebelum akhirnya jatuh tersungkur di atas salju.
"JANDA HITAM!" raung Sang Uskup yang menyaksikan kematian bawahannya yang paling kuat.
Wajahnya yang pucat kini memerah karena murka yang luar biasa.
"Kepung dia! Jangan biarkan tikus ini bernapas lagi! Hancurkan tulangnya, cabik dagingnya, kepung dia sampai mati!!"
Ratusan pengikut sekte dengan mata melotot juga marah mereka segera bergerak serentak, membentuk lingkaran maut yang semakin mengecil di sekeliling Simon.
"Brengsek! kau tau tidak apa yang kau lakukan!" Teriak angota sekte.
"Beraninya kau menyia-nyiakan kebaikan saudari janda hitam!"
Simon berdiri tegak di tengah kepungan dan umpatan orang lain, merasakan denyut jantungnya yang semakin tidak stabil.
Luka tusukan di punggungnya mulai terasa sakit kembali.
Di tengah situasi yang kacau ini, ingatan tentang terakhir kali ia mati terlintas di benaknya.
Simon masih belum bisa menerima rasa sakit di lindas truk chan.
'Apakah aku akan mati lagi di sini?' pikir Simon dengan keputusasaan yang tertahan
'Di dunia lain yang baru saja mulai kualami ini? Baru saja aku menemukan petunjuk tentang penyihir... aku sungguh tidak mau mati sekonyol ditabrak truk lagi!'
Ia mencengkeram gagang pedangnya lebih kuat, benih ular hitam yang samar mulai bergetar menyalurkan energi keseluruh angota tubuhnya.
"Matii!" raung para pengikut Sekte Widow sembari menerjang Simon dari segala arah.
Namun, sebelum bilah belati mereka sempat menyentuh Simon, suara dentuman keras terdengar dari barisan belakang sekte tersebut.
Tubuh-tubuh berjubah hitam terpental ke udara akibat kekuatan yang kuat.
"Simon!" teriak sebuah suara familiar yang melengking riang.
Gogo menerobos kerumunan musuh, tinjunya yang besar menghantam rahang seorang pengikut sekte hingga giginya berhamburan.
"Tidak! Gigiku!" Kata angota sekte.
"Dasar gendut sialan! Lihat perut buncitmu" orang itu langsung menghunuskan pedangnya ke Gogo.
"Apa yang kamu katakan tadi?" Gogo terdiam sejenak sambil menatap orang itu dengan niat membunuh.
Boom!
Kepala angota itu pecah berhamburan oleh Gogo.
"Berhenti menyebutku gemuk jika kamu bukan temanku!"
Di belakangnya, ada Kapten Jon, Tomi, Jack dan Shade datang dalam formasi tempur kavaleri yang sempurna, membelah kepungan musuh bagai pisau panas membelah mentega.
"Cepat lindungi Simon!" Teriak kapten jon
"Jack bantu Simon, untuk Shade dan Tomi ikut denganku untuk menangkap uskup itu!" Instruksi dari kapten Jon.
Uskup Sekte Widow yang berdiri di samping altar terbelalak ngeri, obornya nyaris jatuh dari tangannya.
"Brengsek! Bagaimana mungkin tempat suci tersembunyi ini bisa ketahuan?!" Kata sang Uskup dengan wajah yang terdistorsi amarah.
Markas yang semula ia anggap sebagai benteng sunyi dan sakral kini berubah menjadi seperti orang yang sedang pergi ke pasar yang sangat ramai
Simon Blake, yang menyadari bantuan telah tiba, merasakan lonjakan adrenalin melalui sirkulasi benih ular samar.
Ia menarik napas dalam-dalam, memusatkan sisa tenaganya pada bilah Pedang Hitam di tangannya.
"Teknik Pedang Silang!" Teriak Simon.
Syuuuut—BOOM!
Sebuah gelombang energi hitam berbentuk 'X' melesat keluar, namun kali ini kabutnya terlihat jauh lebih gelap dan pekat dari sebelumnya. Tebasan itu membelah udara dengan suara desingan tajam, memotong anggota tubuh para pengikut sekte yang menerjangnya tadi secara instan.
[ Teknik Pedang Silang +5 ]
Simon mengembuskan napas panas, uap putih mengepul dari balik topeng besinya.
Simon segera melepas topeng gagak yang agak lembab dan gerah di wajahnya.
Ia menoleh dan melihat Gogo sudah berdiri di sampingnya, ia baru saja merobohkan musuh lain yang mencoba menyerang Simon dari belakang.
Sebuah senyum tipis yang sangat langka terukir di wajah Simon.
"Syukurlah kamu sadar. Jika kalian telat sedikit saja, aku mungkin sudah mati di sini," ucap Simon sembari menghela napas lega.
Gogo tertawa bangga, menepuk dada bidangnya yang keras.
"Hehehe! Untungnya aku masih ingat bahwa kamu sering meninggalkan tanda senyum di setiap pohon yang kamu lewati tadi, kawan! Jangan remehkan daya ingatku, aku ini jenius tau!"
Simon hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku rekannya itu.
"Baik, baik... kamu memang jenius. Tapi awas di belakangmu, Gogo!"
Seketika, Simon melesat maju, memutar tubuhnya dan menghantamkan telapak tangan kirinya ke udara kosong tepat di depan pengikut sekte yang hendak menusuk Gogo.
Tinju Riak!
Bersenandung—DUM!
[ Teknik Pedang Silang + 3 ]
[ Pernafasan Ular Hitam + 6 ]
Udara di depan tangan Simon terdistorsi secara tak kasat mata, menciptakan riak transparan yang menghantam dada musuh hingga hancur berkeping-keping sebelum orang itu sempat mendekat.
Gogo yang menyaksikan hal itu dari jarak dekat berdiri takjub, mulutnya ternganga lebar.
"Teknik macam apa ini? Bisa mendistorsi udara? Keren sekali, kawan!" seru Gogo dengan mata berbinar.
Simon menarik kembali tangannya, merasakan getaran riak yang masih tersisa di tulangnya.
"Ini adalah... warisan keluargaku, Keluarga Blake," bohong Simon dengan datar, dia tetap menjaga kerahasiaan sistem kemahirannya.
Tak lama kemudian, Kapten Jon melangkah mendekat sembari menyarungkan pedangnya yang berlumuran darah.
Ia menatap Simon dengan pandangan yang penuh rasa hormat dan takjub pada pemuda.
"Luar biasa, Simon. Keberanianmu menyusup sendirian ke markas Sekte Widow ini benar-benar di luar dugaanku," puji Kapten Jon dengan suara beratnya yang mantap.
"Berkatmu, kita akhirnya menemukan tempat persembunyian yang selama ini mengganggu jalur logistik Baron Brent. Kau adalah pahlawan yang sesungguhnya."
"Tidak, tidak, aku bukan siapa-siapa!