Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8, amarah hendrik
Aroma sabun mawar dan uap air hangat memenuhi kamar mandi raksasa di kediaman Alteir. Alexa berdiri di bawah pancuran, membiarkan air hangat mengguyur seluruh tubuhnya, membilas sisa-sisa krim cupcake yang lengket dan memelas di kulit serta rambutnya.
Setelah merasa bersih, ia membungkus tubuhnya dengan piyama sutra yang lembut, lalu melangkah keluar sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Alexa menatap draf novel tebal yang masih tergeletak bisu di atas meja. Rasa emosi yang membakar dadanya mendadak meluap kembali.
"Kak Elena sialan!" gerutu Alexa sambil mengepalkan tangannya ke udara, meluapkan seluruh kekesalannya pada ruangan hampa. "Awas saja kalau aku bisa balik ke dunia nyata! Bakal kubakar semua draf novel gila buatanmu ini! Kenapa harus aku yang masuk ke dalam buku sialan ini dan menanggung semua masalah tokoh gila ini, sih?!"
Setelah puas mengutuk sang kakak panjang lebar, rasa lelah yang amat sangat akhirnya membendung pertahanan tubuh Alexa. Mental dan fisiknya benar-benar terkuras habis setelah mengalami rentetan kejadian gila—mulai dari tersedot ke dalam novel, lehernya dicekik mafia psikopat, hingga dilempar kue di depan puluhan sosialita.
Dengan helaan napas pasrah, Alexa merebahkan tubuhnya di atas king-size bed yang sangat empuk. Ia menarik selimut tebal hingga menutupi dadanya. Hanya dalam hitungan detik, matanya terpejam rapat, dan ia tertidur sangat nyenyak, tenggelam dalam alam mimpi tanpa memedulikan badai yang sedang bertiup di luar sana.
Sementara Alexa tertidur lelap tanpa beban, suasana di pelataran villa tempat pesta pertunangan berlangsung berubah menjadi neraka.
Pesta yang tadinya meriah mendadak dibubarkan secara paksa setelah Raiden meninggalkan lokasi dengan helikopter pribadinya. Kata-kata ancaman mematikan dari penguasa mafia itu masih bergema jelas di dalam kepala Hendrik, memicu kepanikan dan ketakutan yang luar biasa.
Di sudut lorong villa yang sepi, Hendrik menarik kasar lengan Jasmine, menyeret tunangannya itu jauh dari jangkauan para tamu yang tersisa.
PLAK!
Suara tamparan keras mengudara, memecah keheningan malam. Wajah Jasmine terlempar ke samping. Ia memegangi pipinya yang terasa panas dan memar, menatap Hendrik dengan mata yang membelalak syok tak percaya.
"H-Hendrik?! Kamu... kamu menamparku?!" jerit Jasmine dengan suara gemetar, air mata kebingungan mulai menetes di pipinya. "Kenapa kamu memukulku?! Aku salah apa?!"
Wajah Hendrik merah padam, napasnya buru-buru bagaikan banteng yang murka. Urat-urat di lehernya menegang hebat saat ia menunjuk muka Jasmine dengan jari yang gemetaran.
"Kamu masih tanya salahmu di mana, hah?!" bentak Hendrik dengan suara tertahan penuh amarah. "Kamu hampir membuat bisnis keluargaku hancur malam ini! Kamu hampir membuat kita semua dibantai oleh Tuan Raiden!"
"Tapi aku cuma membela Tuan Raiden!" pangkas Jasmine bersikeras, tidak terima disalahkan. "Aku cuma mau mempermalukan Alexa yang dengan lancangnya mengaku-ngaku sebagai kekasih Tuan Raiden! Aku melakukan itu supaya nama baik Tuan Raiden tidak tercemar oleh cewek murahan itu!"
"BODOH!" teriak Hendrik frustrasi, mengacak rambutnya dengan kasar. "Kamu pikir Tuan Raiden peduli dengan pembelaan konyolmu itu?! Tuan Raiden tadi jelas-jelas bilang kamu tidak punya sopan santun! Karena kelakuan sok tahumu itu, posisiku di depan beliau sekarang di ujung tanduk!"
Hendrik mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam kepalanya, seluruh kekacauan malam ini hanya bermuara pada satu nama.
"Ini semua gara-gara perempuan sialan itu..." desis Jasmine penuh dendam, meremas gaun merah mudanya yang kini kusut. "Alexa... Ini semua salah Alexa! Kalau saja cewek gila itu tidak membual dan mengaku-ngaku bahwa dia kekasih Tuan Raiden pada kita, kita tidak akan pernah menanyakannya di depan Tuan Raiden! Aku bertanya begitu kan hanya karena terpancing oleh cerita kebohongannya!"
Hendrik menatap lurus ke depan dengan kilat mata yang dipenuhi rasa benci yang membuncah. Ucapan Jasmine seolah membenarkan seluruh amarahnya.
"Benar..." bisik Hendrik dengan suara dingin beracun. "Semua kekacauan ini bermula dari mulut sampah perempuan itu."
Hendrik maju satu langkah, menatap Jasmine yang masih menangis memegangi pipinya.
"Alexa... perempuan jalang itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal dariku!" sumpah Hendrik penuh dendam. "Dia sudah membuat keluargaku terancam, dan aku bersumpah tidak akan membiarkan hidupnya tenang setelah ini!"
Sinar matahari pagi menembus jendela-jendela kaca raksasa di ruang makan utama, memantulkan pendar cahaya di atas meja kayu panjang yang dihiasi peralatan makan perak murni.
Alexa turun dari tangga dengan langkah perlahan. Rambut hitamnya diikat asal, dan ia mengenakan pakaian santai yang nyaman. Setelah tidur nyenyak semalaman, pikirannya terasa jauh lebih jernih. Sepanjang perjalanan turun ke lantai dasar, sebuah ide cemerlang terus berputar di dalam kepalanya.
'Kalau aku mau selamat dari takdir dibunuh di cerita ini, kuncinya cuma satu: keluar dari pernikahan gila ini!' batin Alexa mantap. 'Aku harus minta cerai. Kalau aku bukan istrinya lagi, aku bisa pergi jauh-jauh, hidup tenang, dan terbebas dari ancaman mati mengenaskan!'
Dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya, Alexa melangkah menuju meja makan dan mendudukkan dirinya. Di hadapannya sudah tersaji sarapan mewah—roti panggang, omlet, dan secangkir cokelat hangat.
Namun, baru saja Alexa menyentuh garpunya, suara langkah kaki berat yang sangat familiar terdengar mendekat.
Atmosfer di ruang makan yang hangat mendadak berubah menjadi dingin dan kaku. Raiden berjalan masuk dengan kemeja putih yang digulung rapi hingga siku, memancarkan aura dominan yang teramat pekat. Pria itu mendudukkan dirinya di ujung meja—posisi teratas sebagai penguasa rumah—tanpa memandang atau menyapa Alexa sedikit pun.
Glek.
Alexa menelan ludahnya dengan susah payah. Rasa percaya diri yang tadinya membumbung tinggi mendadak menciut. Raiden benar-benar mencuekinya seolah-olah Alexa hanyalah pajangan dinding di ruangan itu. Pria itu menyiramkan sedikit sirup ke atas piring sarapannya dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan.
Alexa meremas serbet di pangkuannya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
"A-anu... eh... Anu, Tuan..." panggil Alexa ragu-ragu, suaranya terdengar sedikit mencicit.
Raiden sama sekali tidak menoleh. Ia masih memegang pisau dan garpunya dengan santai.
"Bagaimana... kalau kita bercerai saja?" lanjut Alexa dalam satu tarikan napas cepat.
SRET.
Gerakan tangan Raiden yang sedang memotong daging asap mendadak terhenti seketika.
Suasana di ruang makan raksasa itu membeku total. Para pelayan yang bertugas di sudut ruangan mendadak menahan napas mereka, tak berani bergeming sedikit pun.
Raiden meletakkan pisaunya ke atas piring dengan dentingan pelan. Perlahan, pria itu menegakkan tubuhnya, memutar kepalanya, dan menghujamkan tatapan mata hitamnya yang tajam, dingin, serta tanpa emosi tepat ke manik mata Alexa.
"Silakan," jawab Raiden singkat dan pendek, suaranya begitu datar tanpa riak.
Mendengar satu kata itu, mata Alexa seketika berbinar-binar. Rasa gembira yang luar biasa mendadak meledak di dadanya. Senyum sumringah yang sangat lebar terbit di wajah bahagianya. Ia tidak menyangka prosesnya akan sesederhana ini!
"B-beneran?!" tanya Alexa antusias, tubuhnya dimajukan ke depan meja dengan raut wajah tak sabar. "Tuan serius mau cerai?!"
Raiden menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Matanya memicing tipis, menatap kebahagiaan di wajah Alexa dengan pandangan yang teramat dingin.
"Tapi itu hanya akan terjadi..." lanjut Raiden dengan nada suara yang dalam dan pelan, memotong euforia Alexa dalam satu detik, "...kalau kau sudah menjadi mayat."
KLANG!
Garpu yang dipegang Alexa terlepas begitu saja dari jemarinya, menghantam piring porselen dengan suara dentingan keras.
Senyum sumringah di wajah Alexa seketika luntur, berganti dengan raut wajah syok berat. Mulutnya terbuka lebar, melongo sempurna menatap pria psikopat di hadapannya.
"M-maksudnya...?" bisik Alexa gemetar, merasa aliran darah di seluruh tubuhnya membeku seketika.
Raiden mengambil cangkir kopinya, menyesapnya perlahan tanpa mengalihkan pandangan mematikannya dari Alexa.
"Tidak ada kata cerai di dalam kamus Alteir, Alexa," tegas Raiden dingin, menekankan setiap suku kata. "Satu-satunya cara agar kau bisa keluar dari pernikahan ini... adalah saat jantungmu sudah berhenti berdetak di tanganku."
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔
ketagihan kan kan 🙊🙄🙄
Raiden bikin Alexa hamil
tunjukkan kehebatan mu Raiden
siap siap besok kita liat perkedel human😱