NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

BAB 19

SATU SYARAT

Lani belum membalas pesan Pak Gunawan ketika ponselnya berdering malam itu.

Ia sedang duduk di tepi ranjang, melipat pakaian. Rey berbaring sambil membaca materi kuliah, kakinya menjuntai dari sisi lain.

"Angkat," katanya.

"Bukan urusanmu."

Nama Pak Gunawan muncul lagi. Rey lebih cepat meraih ponsel dan menekan tombol terima serta pengeras suara.

"Rey!"

Suara Gunawan memenuhi kamar. "Lani?"

Lani merebut ponsel, tetapi Rey menahan pergelangannya tanpa menekan. Ketika Lani menarik, ia langsung melepas tangan namun tidak mematikan pengeras.

"Selamat malam, Pak Gunawan," kata Lani kaku.

"Maaf menelepon. Kamu belum menjawab pesan saya."

"Aku sibuk."

"Saya ingin mengajak makan. Rey akhir-akhir ini juga tidak pulang. Saya pikir mungkin kamu pernah mendengar kabarnya."

Rey mendengus.

Gunawan terdiam. "Ada orang di sana?"

"Televisi."

"Oh." Suaranya melembut. "Lani, saya agak kangen. Hanya makan, tidak ada maksud lain."

Rahang Rey mengeras.

Lani menekan tombol tutup. "Aku akan hubungi lagi nanti. Selamat malam."

Sambungan berakhir.

"Masih hubungan sama dia?" tanya Rey.

"Dia menelepon soal kamu."

"Terus bilang kangen."

"Pak Gunawan pernah menjadi bagian hidupku. Kami berpisah baik-baik."

"Jadi kalau dia mau balik, lo terima?"

"Jangan mulai."

Rey menarik ponsel dari tangan Lani dan meletakkannya jauh di meja. "Jawab."

"Kamu tidak berhak mengatur siapa yang boleh meneleponku."

"Setelah malam itu, gue tetap nggak punya hak?"

"Tubuhku bukan sertifikat kepemilikan."

Rey terdiam, tetapi cemburu belum surut. Ia memegang dagu Lani, lalu mengendurkan jari ketika melihat perempuan itu menegang.

"Kamu cuma milikku," katanya lebih pelan.

Lani menepis tangannya. "Aku bukan milik siapa pun. Dan kamu masih belum mengerti kenapa aku tidak bisa membenci Pak Gunawan."

"Karena uang?"

"Karena dia menyelamatkan papaku."

Kalimat itu menghentikan Rey.

Lani bercerita tentang Papa Lie yang mengalami lambung bocor dan memerlukan operasi segera. Tentang Leo yang membantu setengah biaya tetapi berdiri diam ketika Tante Lanny menghina keluarganya di koridor rumah sakit. Tentang dua koko yang terlilit utang dan rumah orang tua yang hampir disita.

"Pak Gunawan datang ketika semua orang hanya menawarkan nasihat," kata Lani. "Dia membayar operasi, melunasi utang, dan memberiku pilihan yang buruk tetapi jelas. Aku menerima dengan sadar."

"Jadi Papa membeli lo."

"Aku juga menggunakan dia. Jangan ubah aku jadi korban tanpa kehendak."

"Tapi dia lebih tua, punya kuasa."

"Benar. Itu sebabnya aku pergi ketika tak sanggup lagi. Aku tidak mengambil rumah Pondok Indah, mobil, atau uang tambahan. Surat perpisahan itu sudah kamu baca."

Rey menunduk.

"Saat kamu pulang malam pertama," lanjut Lani, "kamu menganggapku sama dengan Lynn. Kamu membalas pengkhianatan orang lain kepada seseorang yang tidak pernah berjanji apa pun kepadamu."

Wajah Rey kehilangan warna.

Ia teringat darah di kapas, sofa, leher Lani, dan foto yang dikirim hanya untuk melukai Lynn. Semua itu terjadi sebelum ia tahu siapa perempuan di depannya.

"Aku salah balas dendam," katanya serak.

"Ya."

Rey mengambil ponselnya. Ia membuka percakapan dengan Lynn, menggulir sampai menemukan foto bahu Lani. Tanda `Dilihat` masih berada di bawahnya.

"Wiwid pernah lihat screenshot," kata Lani. "Kamu bilang akan mengurus."

Rey menunjukkan layar. "Ini satu-satunya file asli di ponsel gue."

Ia menghapus foto dari percakapan untuk kedua pihak jika masih tersedia, menghapus salinan galeri dan folder sampah, lalu mencari cadangan awan. Setelah semua hilang, ia menyerahkan ponsel agar Lani memeriksa.

"Gue akan minta Lynn menghapus screenshot dan kasih bukti. Kalau muncul lagi, gue tanggung jawab."

Rey menelepon Lynn di depan Lani. Panggilan pertama ditolak. Pada panggilan kedua, Lynn menjawab dengan suara kesal.

"Foto yang gue kirim malam itu," kata Rey. "Lo pernah unggah?"

Hening cukup lama menjadi jawaban.

"Cuma close friends, beberapa menit," ujar Lynn. "Aku hapus."

"Kirim rekaman layar galeri, arsip story, dan folder sampah. Sekarang."

"Kamu nggak bisa memerintah aku."

"Perempuan di foto nggak pernah kasih izin. Kalau salinannya muncul lagi, urusannya bukan sama gue saja."

Lynn akhirnya mengirim tiga rekaman layar. Tidak ada foto tersisa di perangkat yang ia tunjukkan, meski mereka tahu bukti itu tidak bisa menjamin semua penerima sudah menghapus screenshot.

Rey menyimpan pengakuan tertulis Lynn dan mengirim permintaan penghapusan kepada akun pertama yang ditunjukkan Wiwid. Akun tersebut menyatakan konten sudah dihapus dan tidak akan diunggah ulang.

Risiko tidak menjadi nol, tetapi jalur penyebaran yang diketahui ditutup.

"Bukan cuma tanggung jawab setelah tersebar. Kamu seharusnya tidak mengambilnya."

"Aku tahu." Rey menatap mata Lani. "Maaf soal foto itu."

Permintaan maaf tidak menghapus malam tersebut. Namun untuk pertama kalinya, Rey mengucapkannya tanpa tambahan alasan.

"Aku butuh waktu," kata Lani.

Rey bangkit dan berjalan keluar kamar. Pintu apartemen terbuka lalu tertutup keras.

Lani menunggu satu menit, kemudian dua. Kekhawatiran menang. Ia menyusul.

Rey bersandar di dinding sebelah pintu, seolah sejak awal menunggu.

"Aku tahu kamu bakal keluar."

"Kamu sengaja?"

"Mungkin."

Lani hendak masuk kembali. Rey menahan pintu, bukan tubuhnya.

"Kasih gue kesempatan."

"Kesempatan apa?"

"Buktikan gue bisa berubah."

Lani berpikir. "Satu semester. Kamu tidak berkelahi, tidak bolos, tidak melakukan hal melanggar hukum, dan tidak menyentuhku tanpa izin. Semua urusan polisi diselesaikan. Nilaimu harus lulus."

"Kalau berhasil?"

"Aku kabulkan satu syarat."

Mata Rey langsung menyala. "Syarat apa saja boleh?"

"Selama tidak melanggar hukum dan tidak merugikan siapa pun."

"Termasuk minta lo jadi pacar gue?"

Lani menahan napas. "Kalau itu syaratmu nanti, kita bicarakan."

"Bukan jawaban."

"Itu yang kamu dapat."

Lani membuka aplikasi catatan dan menuliskan semua ketentuan. Ia menambahkan wajib lapor tepat waktu, menyelesaikan mediasi Gilang, mengganti biaya pengobatan tanpa menekan pelapor, serta mengirim bukti kehadiran kuliah setiap pekan.

"Ini kontrak atau program rehabilitasi?" tanya Rey.

"Kamu yang minta kesempatan."

"Tambahkan lo nggak boleh menghilang ke hotel tanpa kabar."

"Itu bukan hakmu."

"Setidaknya kasih tahu masih aman. Pakai kode payung itu juga boleh."

Lani terkejut ia mengetahui kode grup, lalu ingat Rey membaca layar sekilas. Setelah berpikir, ia menambahkan satu aturan timbal balik: keduanya wajib memberi kabar jika tidak pulang atau membutuhkan ruang, tanpa membuka lokasi pribadi jika tidak aman.

Rey mengetik namanya di bawah catatan. Lani menambahkan tanggal.

Rey mengulurkan tangan. Lani menjabatnya.

"Kalau kamu ingkar," bisiknya dengan senyum yang akhirnya muncul, "aku bunuh kamu."

"Kalimat pertama dalam perjanjianmu malah ancaman."

"Bercanda."

"Nggak lucu."

"Oke. Gue akan cari ancaman romantis lain."

Mereka kembali ke kamar. Rey melepas kaus, masuk ke bawah selimut, lalu merapat tanpa menyentuh Lani.

"Kamu sedang apa?"

"Lo bilang gue nggak boleh sentuh. Lo masih boleh sentuh gue."

Ia menarik selimut sampai hanya matanya terlihat, jelas berharap Lani yang mendekat.

Perjanjian itu belum berumur sepuluh menit.

Rey sudah mencari celah pertama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!