NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. International Royal Wedding

Mobil sedan hitam milik Nara berhenti sempurna di garasi rumah. Suara mesin yang mati meninggalkan kesunyian yang amat mencekam di dalam kabin. Untuk beberapa saat, Nara hanya terduduk diam, mencengkeram erat amplop cokelat tebal yang kini terasa bagai batu beban di pangkuannya.

Setelah menghela napas panjang dan berusaha menata ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja, ia melangkah keluar dari mobil, menyusuri lorong menuju ruang keluarga.

Rumah megah bertema klasik modern itu terasa begitu hangat, namun hangat yang asing bagi Nara hari ini. Aroma wewangian terapi kayu manis dan lavender yang biasa dituang Bunda Mayang menyambut penciumannya.

"Assalamu'alaikum" Ucap Nara, saat dirinya membuka pintu.

"Wa'alaikum salam." Jawab Pak Rahardja dan bunda Mayang bersamaan.

"Nara? Kamu sudah pulang, Nak?"

Suara lembut Bunda Mayang menggelegar halus dari arah ruang keluarga. Wanita paruh baya yang selalu tampil anggun itu melambaikan tangan, memanggil putrinya untuk mendekat.

Di sebelahnya, Pak Rahardja,, sang ayah yang dikenal tegas, berwibawa, dan berpendirian keras, sedang duduk santai menyesap teh hangat sambil membaca berkas di pangkuannya.

Di atas meja jati yang luas, terhampar belasan brosur, katalog dekorasi, contoh kain, hingga sampel surat undangan mewah beraksen emas.

"Sini, Sayang. Gabung sama Papa dan Bunda sebentar," ujar Pak Rahardja seraya meletakkan kacamata baca di atas meja.

Tatapannya menatap Nara dengan gurat kebanggaan yang tak pernah tersembunyi setiap kali membahas tentang perjodohan ini.

Nara menyembunyikan amplop cokelat dari Zaid ke dalam tas mukenanya, lalu melangkah pelan mendekati sofa.

Ia mengambil tempat duduk tepat di hadapan kedua orang tuanya. "Ada apa, Bunda, Papa?"

"Apalagi kalau bukan soal hari bahagiamu, Nara," sahut Bunda Mayang dengan mata berbinar-binar.

Jemarinya yang lentik mengusap salah satu katalog dekorasi pernikahan. "Sejak kamu pergi tadi siang, Bunda dan Papa diskusi banyak hal. Pamannya Zaid sudah menyerahkan konsep dan jalannya acara sepenuhnya kepada keluarga kita. Mereka sangat fleksibel dan mempercayakan semuanya pada kita."

Pak Rahardja mengangguk setuju.

"Zaid itu pria yang sangat matang dan tahu cara menghormati calon mertuanya. Dia bilang, apa pun yang menjadi impian pernikahanmu dan keluarga kita, dia akan menyetujuinya dan menanggung seluruh biayanya tanpa batas. Jarang sekali ada pria muda bernaluri kepemimpinan sekuat itu di zaman sekarang."

Nara hanya menunduk tipis, memaksakan sebuah ukiran senyum kecil di bibirnya. Impian pernikahanmu... Kata-kata itu bergema ironis di dadanya.

Bunda Mayang kemudian mulai memaparkan seluruh rencana yang telah tersusun rapi.

Suaranya penuh dengan semangat yang meluap-luap. "Bunda dan Papa sepakat untuk menggelar pesta di Grand Ballroom hotel bintang lima milik rekan Papa. Konsepnya International Royal Wedding dengan sentuhan dekorasi bunga-bunga segar bernuansa putih, dan sedikit aksen emas. Ada instalasi taman gantung di plafon utama, dan lorong pelaminan akan disulap seperti lorong istana dengan hamparan karpet beludru."

Bunda Mayang menunjukkan salah satu gambar visualisasi dekorasi di tabletnya kepada Nara. Gambar itu memperlihatkan kemewahan yang luar biasa, sebuah kemegahan yang pasti akan menjadi perbincangan hangat di kalangan pebisnis dan elite ibu kota selama berbulan-bulan.

"Untuk gaun," lanjut Bunda Mayang tak kalah antusias, "Bunda sudah meminta desainer ternama kita untuk merancang satu gaun khusus. Satu kebaya saat akad nikah, dan satu gaun pesta yang anggun. Lalu, soal undangan, kita akan menyebar sekitar seribu lima ratus undangan. Tokoh-tokoh penting, pejabat, dan mitra bisnis Papa semuanya akan hadir."

Pak Rahardja menatap putrinya dengan tatapan dalam

 "Bagaimana menurutmu, Nara? Apa ada konsep tertentu yang ingin kamu tambahkan? Musiknya, gaunnya, atau mungkin ada tempat khusus yang kamu inginkan untuk acara after-party nanti bersama teman-temanmu?"

Nara memandangi gambar-gambar kemewahan yang terpampang di atas meja. Tempat itu tampak indah, bagaikan negeri dongeng.

Namun bagi Nara, itu semua terasa dingin. Tak ada getaran kebahagiaan, tak ada rasa mendebarkan dari seorang calon pengantin yang mendambakan hari bahagianya.

Dahulu, Nara pernah memimpikan sebuah pernikahan yang sangat sederhana. Sebuah acara pernikahan kecil di taman terbuka yang hijau, dikelilingi oleh pepohonan rindang, hanya dihadiri oleh puluhan keluarga dekat dan sahabat terdekat. Tanpa gaun kaku bertabur kristal berat, tanpa ribuan tamu asing yang harus disalami satu per satu, dan yang paling penting: menikah dengan pria yang saling mencintai dengannya.

Namun, menyadari fakta bahwa pria yang akan bersanding dengannya adalah Zaid. Seorang pria yang terikat dalam perjodohan bisnis dan kesepakatan dingin.

Nara sadar bahwa impian sederhananya itu telah mati. Ini bukanlah pesta pernikahannya. Ini adalah pesta representasi keluarga Rahardja dan kesepakatan dua keluarga besar.

"Tidak ada, Pa, Bunda," jawab Nara tenang, suaranya terdengar pasrah namun halus. "Semua konsep yang Bunda dan Papa susun sudah sangat bagus dan sempurna. Nara ikut saja apa kata Bunda dan Papa. Semuanya Nara serahkan atas kehendak Papa dan Bunda."

Bunda Mayang terkekeh pelan seraya mengusap lembut jemari Nara.

"Ah, putri Bunda memang sangat penurut dan dewasa. Bunda senang sekali kalau kamu suka dengan konsepnya. Bunda berjanji, hari itu akan jadi hari paling membahagiakan dan paling berkesan dalam hidupmu, Sayang."

"Terima kasih, Bunda," bisik Nara.

Pak Rahardja menepuk-nepuk bahu Nara dengan hangat.

"Baiklah kalau begitu. Besok Papa akan minta sekretaris Papa untuk memfinalisasi kontrak dengan vendor-vendor utama. Kamu pasti lelah, Nara. Pergilah ke kamar dan istirahatlah."

"Nara ke kamar dulu ya, Pa, Bunda," pamit Nara seraya bangkit dari duduknya.

ia melangkah perlahan meninggalkan ruang keluarga yang masih dipenuhi obrolan hangat kedua orang tuanya tentang detail-detail kemewahan pesta yang tak menyentuh hatinya sama sekali.

.

.

.

Langkah kaki Nara terasa makin berat saat menyusuri tangga menuju lantai dua. Begitu pintu kamarnya tertutup rapat dan terkunci, pertahanan diri yang sejak tadi ia bangun dengan susah payah perlahan runtuh. Kamar berinterior lembut itu kini terasa sunyi dan mengurung.

Nara berjalan menuju meja belajarnya. Dari dalam tas, ia mengeluarkan amplop cokelat tebal berstempel dokumen legal yang diberikan Zaid siang tadi. Ia meletakkannya di tengah meja.

Nara menatap amplop cokelat itu dengan perasaan yang berkecamuk hebat. Di satu sisi, ia merasa terharu dan dihargai. Poin-poin perjanjian yang dirancang Zaid begitu melindungi hak-haknya, memberinya kebebasan karier, ruang pribadi, hingga jaminan finansial tanpa ada paksaan fisik maupun emosional.

Zaid menawarkan kebebasan mutlak di dalam sebuah kurungan bernama pernikahan. Apakah ia harus merasa bahagia karena mendapatkan calon suami yang begitu rasional dan penuh penghormatan seperti Zaid? Atau ia harus meratapi nasibnya karena harus menjalani jalan hidup yang dingin ini, menikah tanpa ada rasa cinta yang membakar?

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!