NovelToon NovelToon
"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Mencuri Ilmu sang Iblis Pedang

Uap merkuri cair yang berembus dari palung industri Sektor Delapan bergulir pekat, menyelimuti seluruh area lapangan tengah Perguruan Batu Hitam dengan warna keunguan yang suram. Pagi itu, tekanan udara di kompleks pusat latihan militer klan Shinto terasa puluhan kali lipat lebih berat dari biasanya. Ribuan pasang mata murid muda telah berkumpul melingkar padat di sekeliling arena tanding utama, membentuk benteng manusia yang kaku. Di bawah jepitan gaya gravitasi Planet Akuma yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, suara dengungan mesin dan derit baju besi dari barisan murid faksi pengkhianat bergaung tanpa henti memecah kesunyian fajar.

Hari ini adalah Hari Ujian Ketangkasan Fisik Bulanan, sebuah ajang pembuktian yang sengaja dirancang oleh dewan tetua untuk memilih ksatria terkuat yang layak memegang komando militer Kuadran Utara. Di atas panggung kehormatan tertinggi yang melayang, Tetua Kaelen duduk bersila dengan lempengan wajah besinya yang memancarkan lampu indikator berwarna merah pekat, melambangkan kehebatan teknologi dari Kekaisaran Vorash. Di samping Kaelen, selir tiri Renka duduk sambil mengibas ngibaskan kipas sutra mewahnya. Sepasang mata palsunya memancarkan kelicikan yang mendalam, tidak sabar menyaksikan rontoknya sisa harga diri sang mantan pangeran mahkota di hadapan publik perguruan.

Ryuken sendiri berada di sudut arena yang paling gelap, kotor, dan terasing dari barisan murid inti. Tubuhnya yang masih basah oleh sisa air dingin setelah disiram Sayuri kemarin petang, dipaksa berlutut dengan payah di atas lantai batu hitam yang kasar hanya untuk menyapu ceceran oli mesin yang tumpah. Baju hitam jahit tangan miliknya yang compang-camping tampak kusam berselimut abu pembakaran. Kulit wajahnya yang pucat pasi terlihat sangat tenang, mengabaikan suara cemoohan kasar serta ejekan dari beberapa murid senior yang sengaja melemparkan kepingan batu gunung ke arah punggung kurusnya untuk memancing amarahnya.

BZZZZZZT... WHIIIIIR!

Sebuah dengungan keras meletus membelah keheningan saat Ren melompat turun dari balkon menara melayang, mendarat dengan telak di tengah arena utama. Zirah ungu di tubuh kekarnya mendengung pekat, memancarkan hawa panas yang langsung membuat udara kelabu di sekelilingnya terasa mendidih. Ren yang kini menginjak usia remaja memutar pedang ungu miliknya dengan gerakan melingkar yang cepat. Ia menatap ke arah tribun penonton dengan tawa ringan yang penuh keangkuhan karena didukung penuh oleh kelompok ibunya.

"Biarkan ujian bulanan ini dimulai, Dewan Tetua!" teriak Ren. Suaranya terdengar aneh dan berat karena pengeras suara di leher zirahnya yang berkilat penuh kesombongan. Dengan satu hentakan kakinya yang dilapisi teknologi besi luar angkasa, Ren melesat maju ke depan. Ia melepaskan satu tebasan secepat kilat yang langsung memotong tiang kayu berlapis besi di tengah lapangan menjadi beberapa potongan rapi dalam sekejap mata. Tepuk tangan bergemuruh dan sorak-sorai penuh kepuasan langsung meletus dari barisan petinggi Sektor Delapan yang duduk di atas tribun kehormatan, merayakan kesempurnaan teknologi mesin kotor yang mereka agungkan selama ini.

Namun, di tengah hiruk-pikuk suara sorak-sorai yang bising tersebut, tubuh raksasa Instruktur Jurota melangkah tegap keluar dari balik bayangan menara, melompat turun ke tengah lapangan. Beliau bertarung murni mengandalkan tubuh raksasanya yang sekeras baja tanpa bantuan zirah bertenaga mesin sedikit pun. Sang "Titisan Iblis Pedang" menancapkan pedang besi kasarnya yang panjang ke lantai, menatap lurus ke arah barisan murid inti dengan sorot mata pendekar tua yang menolak tunduk pada kehebatan mesin buatan luar angkasa.

"Kesempurnaan seorang ksatria sejati klan Shinto tidak pernah dihitung dari seberapa tebal lempengan besi yang membungkus kelemahan tubuh kalian!" suara menggelegar dari mulut Instruktur Jurota seketika membungkam seluruh lapangan, membuat balok-balok baja arena tanding bergetar halus. Jurota mencengkeram erat gagang pedang besi kasarnya menggunakan sepasang tangan yang penuh kapalan, mengambil satu posisi kuda-kuda rendah yang sangat kokoh di atas lantai batu hitam. "Saksikan dengan mata kepala kalian sendiri! Inilah wujud tebasan murni dari kekuatan otot daging sejati yang ditempa oleh beratnya gravitasi bumi Akuma seumur hidup!"

BOOOOOOOOOOM!

Instruktur Jurota mengayunkan pedang besi kasarnya sekali ke depan secara mendatar dengan satu gerakan tangan yang sangat tegas, brutal, namun memiliki ketepatan tingkat tinggi. Sebuah ledakan suara yang luar biasa keras meletus membelah udara di tengah lapangan perguruan, menciptakan sebuah gelombang kejut murni yang merobek jalinan kabut kelabu sepanjang lima puluh meter ke arah depan. Kecepatan gerak fisik murni sang Iblis Pedang begitu gila dan tidak masuk akal hingga membuat debu batu membeku sebelum tebasan sejati terjadi. Kekuatan hantaman otot murni Jurota seketika membungkam seluruh sorak-sorai bising para pendukung Ren, memaksa seluruh murid senior menahan napas dalam diam karena ketakutan melihat wibawa sang pendekar tertinggi.

Di sudut lapangan yang gelap dan berdebu kotor, Ryuken menghentikan napasnya secara paksa, membiarkan mata hitam legamnya mengunci mati pada setiap pergeseran tubuh Instruktur Jurota. Di bawah pengaruh detak jantungnya yang acak—dan sering kali berhenti berdetak total selama beberapa saat di tengah suara ledakan tersebut—pandangan batin Ryuken mampu memperlambat seluruh tebasan kilat Jurota menjadi gerakan lambat yang sangat halus di dalam kepalanya. Tubuh ringkih Ryuken yang sering dianggap cacat oleh para tetua, justru bertindak bagai alat perekam tak terlihat yang mampu membaca setiap getaran aliran darah, penempatan berat kaki, dan pergeseran pundak Jurota sebelum sang Iblis Pedang melepaskan serangannya.

Ryuken mencatat dengan sangat detail bagaimana Jurota mengunci posisi kuda-kuda rendahnya di atas lantai batu, bagaimana ia menyalurkan tenaga ke ujung jari tangan untuk melipatgandakan kekuatan tebasan, dan bagaimana pundak raksasanya bergeser sedikit sebelum memotong udara bebas seutuhnya. Semua rahasia bela diri tertinggi milik Titisan Iblis Pedang yang tidak bisa ditangkap oleh mata murid normal di perguruan, terserap seluruhnya masuk ke dalam ingatan Ryuken, menjadi rahasia besar yang ia simpan rapat di dalam lubuk jiwanya yang sunyi.

Malam hari di dalam kesunyian gudang kayu lapuknya yang gelap ditiup angin badai merkuri, Ryuken muda mulai mempraktikkan seluruh hasil pengamatan rahasianya tersebut menggunakan sebah ranting kayu pohon Akuma sepanjang satu meter yang ia gunakan sebagai pedang rahasianya. Ranting kayu tua tanpa hiasan itu ternyata telah mengeras bagai besi baja akibat terus-menerus menyerap cairan merkuri selama puluhan tahun. Di bawah siraman cahaya lilin redup yang bergoyang kaku, Ryuken menggerakkan ranting kayunya membelah kegelapan dengan sangat lambat, mengalir bagai hantu yang sunyi tanpa mengeluarkan suara bising seperti mesin-mesin palsu milik Sektor Delapan.

Ia meluncurkan tiga ribu tebasan murni di setiap sepertiga malam yang membeku, meniru dengan sangat tepat bagaimana otot-otot Jurota bergerak di siang hari, membiarkan tubuhnya mengingat setiap detail teknik mematikan tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!