NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:743
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta di Usia Senja

Hujan turun perlahan malam itu. Rumah besar Amara terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya. Anak-anaknya sibuk dengan kehidupan masing-masing. Gilberth sedang perjalanan bisnis ke Jepang. Susan masih di kliniknya. Nayla dan Kael menghadiri acara rumah sakit.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu sepi.

Amara duduk sendirian di taman belakang sambil mengenakan cardigan abu-abu tipis. Rambut hitamnya kini mulai dihiasi beberapa helai putih.

Usia memang tidak pernah berhenti berjalan. Dan untuk perempuan seperti Amara, waktu terasa jauh lebih melelahkan.

Langkah kaki pelan terdengar mendekat. Leon Volkov datang membawa dua cangkir teh hangat.

“Aku tahu kau belum tidur.”

Amara tersenyum tipis tanpa menoleh.

“Kau makin cerewet tua-tua begini.”

Leon duduk di sampingnya.

“Aku memang tua.”

Akhirnya, untuk pertama kalinya pria itu mengakuinya dengan santai.

Tidak ada jas mahal malam itu. Tidak ada aura mafia mengerikan. Hanya seorang pria tua dengan garis lelah di wajahnya.

Dan itu membuat Leon terlihat lebih manusiawi.

Mereka duduk cukup lama tanpa bicara. Hanya mendengar suara hujan dan jangkrik malam. Hubungan mereka memang selalu seperti itu. Tidak banyak kata. Namun selalu saling memahami.

“Aku melihatmu hari ini,” ujar Leon akhirnya.

“Hm?”

“Kau tertidur di sofa sambil membaca laporan.”

Amara menghela napas kecil.

“Aku capek.”

“Aku tahu.”

Sunyi lagi.

Leon menatap tangan Amara yang kini mulai menunjukkan keriput halus. Tangan yang dulu menyelamatkannya dari perang. Tangan yang membangun kerajaan. Tangan yang membesarkan tiga anak sendirian.

Dan entah kenapa, dadanya terasa sesak.

“Aku takut.”

Kalimat itu membuat Amara menoleh perlahan.

Karena Leon Volkov tidak pernah mengatakan hal seperti itu.

“Takut apa?”

Leon tertawa kecil pelan.

“Usia.”

Amara terdiam. Leon terus menatap hujan, seolah-olah dunia akan berhenti berputar jika ia melewatkan waktu begitu saja.

“Kita terlalu lama hidup di dunia yang keras.”

Tatapannya perlahan melembut.

“Dan tiba-tiba aku sadar…”

Suara pria itu menjadi lebih rendah.

“…aku tidak tahu bagaimana hidup tanpa melihatmu.”

Amara membeku. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, Leon akhirnya membuka semuanya.

“Aku mencintaimu, Amara.”

Tidak ada bunga dan tidak ada musik romantis. Tidak ada suasana dramatis seperti anak muda. Hanya dua manusia paruh baya yang sudah terlalu lelah untuk berpura-pura.

Namun justru itu yang membuat pengakuan itu terasa begitu nyata.

Amara menatap Leon cukup lama. Pria itu masih sama seperti dulu. Menyeramkan, berbahaya dan kejam pada dunia. Namun selama puluhan tahun, Leon tidak pernah sekalipun menyakitinya. Tidak pernah memaksanya, dan tidak pernah meminta balasan. Ia hanya tetap ada dan selalu ada.

“Kau tahu bagian paling menyedihkan dari mencintaimu?” tanya Leon pelan.

Amara menggeleng kecil.

“Aku jatuh cinta pada perempuan yang terlalu kuat.”

Amara tertawa kecil.

“Jadi sekarang salahku?”

“Sedikit.”

Untuk pertama kalinya dalam hidup Leon terlihat gugup. Ia benar-benar gugup. Bahkan ketika menghadapi perang atau ancaman pembunuhan, pria itu tidak pernah seperti ini.

Namun di depan Amara, ia hanya seorang laki-laki tua yang takut ditolak.

“Aku sudah tua, Leon.”

“Aku pun.”

“Aku punya banyak luka.”

“Aku juga.”

“Aku tidak mudah.”

Leon tersenyum kecil.

“Kalau mudah, itu bukan kau.”

Amara menunduk pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ingin berhenti menjadi kuat. Hanya sebentar saja.

Leon kemudian berkata sangat pelan,

“Aku tidak butuh jawaban sekarang.”

Tatapannya hangat.

“Aku hanya ingin kau tahu… selama bertahun-tahun, rumah satu-satunya yang ingin kutuju selalu kau.”

Kalimat itu membuat Amara terdiam. Entah kenapa, pikirannya justru kembali pada masa lalu. Pada tahun-tahun ketika ia masih menjadi istri Reza.

Dulu, Amara selalu menganggap rumah adalah tempat seseorang kembali setelah lelah menghadapi dunia. Namun bagi Reza, rumah seolah tidak pernah benar-benar berarti dirinya.

Reza sering pulang hanya untuk beristirahat, lalu pergi lagi tanpa pernah benar-benar melihat perempuan yang menunggunya.

Ia tidak pernah bertanya apakah Amara lelah. Tidak pernah menyadari bahwa di balik senyumnya, ada banyak hal yang ia pendam sendirian. Bahkan ketika rumah tangga mereka mulai retak, Reza tidak pernah berusaha menjadikan rumah itu tempat untuk bertahan. Ia memilih pergi.

Dan selama bertahun-tahun, Amara sempat berpikir bahwa mungkin dirinya memang bukan seseorang yang layak disebut rumah. Namun Leon berbeda. Leon tidak pernah meminta Amara menjadi tempat yang sempurna. Ia tidak pernah menuntutnya untuk selalu lembut, selalu tersenyum, atau menyembunyikan luka.

Leon menerima seluruh bagian dirinya perempuan yang kuat, keras kepala, penuh rahasia, dan kadang terlalu terbiasa menghadapi semuanya sendirian. Bagi Leon, Amara bukan sekadar tempat untuk pulang ketika dunia terasa berat. Amara adalah alasan mengapa ia ingin pulang.

Mata Amara perlahan memanas. Bukan karena sedih. Namun karena setelah hidup sepanjang ini. Setelah pengkhianatan, perang, darah, dan kekuasaan, masih ada seseorang yang mencintainya dengan tenang.Tanpa ingin memilikinya.

Amara akhirnya bersandar pelan di bahu Leon. Gerakan kecil yang membuat pria itu langsung diam. Karena bagi wanita seperti Amara, Itu sudah lebih dari jawaban.

Hujan terus turun di malam tua itu. Dan setelah sekian lama, Madam A tidak merasa sendirian lagi. Amara tetap diam di bahu Leon. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Seolah keduanya sama-sama takut bahwa suara apa pun akan merusak ketenangan yang akhirnya mereka temukan setelah bertahun-tahun.

Leon tidak bergerak. Ia bahkan menahan napas ketika menyadari Amara benar-benar memilih untuk bersandar padanya.

“Kau diam saja,” gumam Amara.

“Aku takut kalau bergerak, kau akan berubah pikiran.”

Amara tertawa kecil. Tawa yang pelan, tetapi cukup untuk membuat wajah Leon ikut menghangat.

“Leon Volkov ternyata bisa takut juga.”

“Hanya pada satu orang.”

Amara mengangkat wajahnya dan menatap pria di sampingnya.

“Dan orang itu aku?”

Leon mengangguk.

“Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa takut kehilangan.”

Kalimat itu membuat Amara kembali terdiam. Selama hidupnya, banyak orang takut kepada Madam A. Mereka takut pada kekuasaan, keputusan, dan nama besar yang dibawanya. Namun malam itu, di bawah hujan yang turun perlahan, ada seseorang yang tidak takut pada kekuatannya. Leon hanya takut kehilangan perempuan di balik nama besar itu.

Amara kemudian menggenggam tangan Leon.

Tangannya tidak lagi sekuat dulu. Ada keriput dan bekas luka yang menjadi saksi perjalanan panjang mereka. Namun Leon menggenggamnya dengan hati-hati, seolah tangan itu adalah sesuatu yang paling berharga di dunia.

“Kita sudah terlambat,” ujar Amara pelan.

Leon tersenyum.

“Mungkin.”

“Kalau waktu kita tidak sebanyak dulu?”

“Berarti kita tidak boleh menyia-nyiakannya.”

Amara menatap hujan di depan mereka. Untuk pertama kalinya, masa depan tidak terasa seperti sesuatu yang harus ia hadapi sendirian. Lalu ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu Leon.

“Baiklah,” katanya pelan.

Leon menoleh.

“Baiklah apa?”

Amara tersenyum kecil.

“Coba pulang bersamaku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!