Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: MELEPAS RASI BINTANG LAMA
Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik, tetapi bagi Rangga, waktu seolah berhenti berputar.
Di balik kaca mobil yang mengilap, Denia tampak jauh berbeda dari gadis desa yang pernah menemaninya bermain di bawah pohon jambu. Pakaiannya anggun, rambutnya tertata rapi, dan wajahnya memancarkan kedewasaan. Namun, ada sesuatu di dalam sorot matanya yang masih sangat dikenalnya. Tatapan itu masih menyimpan kelembutan yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Perempuan itu tetap memandang ke arah Rangga tanpa berkedip sedikit pun. Bibirnya tampak bergetar pelan, seolah ingin mengucapkan sesuatu, tetapi suaranya tertahan oleh begitu banyak perasaan yang saling bertabrakan di dalam dada.
Di sisi lain, Rangga juga membeku.
Tangannya yang masih menggenggam botol air mineral pemberian Sari perlahan mengendur. Berbagai kenangan yang selama ini berhasil ia kubur rapat-rapat mendadak menyeruak tanpa permisi. Pohon jambu tua, kalung berbentuk bintang, malam perpisahan, hingga janji di bawah rasi Arkais berputar kembali di kepalanya seperti kepingan-kepingan masa lalu yang enggan dilupakan.
"Mas...?" panggil Sari lirih.
Suara itu membuat Rangga sedikit tersadar. Ia menoleh sebentar ke arah Sari, lalu kembali mengalihkan pandangannya kepada mobil yang masih terparkir tidak jauh dari taman.
Sari mengikuti arah pandangan Rangga.
Ia melihat seorang perempuan cantik sedang menatap lurus ke arah mereka. Entah mengapa, naluri seorang perempuan membuat dadanya ikut berdebar. Tatapan wanita itu kepada Rangga bukanlah tatapan dua orang asing yang baru bertemu.
Ada cerita panjang yang belum selesai di sana.
Beberapa saat kemudian...
Pintu mobil itu terbuka perlahan.
Denia turun dengan anggun. Hak sepatunya menyentuh paving blok taman, menghasilkan bunyi pelan yang terasa begitu jelas di tengah malam yang mulai lengang.
Ia menutup pintu mobil dengan hati-hati, lalu menarik napas panjang sebelum melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Setiap langkah terasa semakin berat, seolah bukan hanya tubuhnya yang berjalan, melainkan juga seluruh penyesalan yang selama bertahun-tahun ia bawa.
Rangga tetap berdiri di tempatnya.
Ia tidak maju menyambut.
Namun juga tidak berusaha menghindar.
Sementara itu, Sari memilih diam. Matanya bergantian memandang Rangga dan perempuan yang kini semakin mendekat. Meski belum mengetahui siapa wanita tersebut, ia cukup peka untuk memahami bahwa kehadirannya telah mengguncang ketenangan hati pria di sampingnya.
Tak lama kemudian, Denia berhenti beberapa langkah di hadapan mereka.
Suasana berubah sunyi.
Suara kendaraan dari jalan raya terdengar samar di kejauhan, seolah dunia sengaja memberi ruang bagi pertemuan yang telah tertunda selama bertahun-tahun itu.
Denia menatap Rangga lama.
Lalu, dengan suara yang nyaris berbisik, ia akhirnya membuka mulut.
"...Rangga?"
Suara itu terdengar sama.
Lembut.
Hangat.
Dan sanggup membangkitkan begitu banyak kenangan yang selama ini disimpan rapat oleh Rangga.
Rangga menarik napas perlahan.
"Denia..."
Hanya satu nama.
Namun satu nama itu sudah cukup untuk menjawab bahwa mereka memang saling mengenali.
Denia tersenyum tipis, meski matanya mulai memerah.
"Aku... tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."
Rangga menganggukkan kepala pelan.
"Aku juga."
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Sari yang sedari tadi berdiri di samping Rangga akhirnya mengerti bahwa ia sedang berada di tengah pertemuan dua orang yang pernah memiliki bagian penting dalam hidup masing-masing.
Meski hatinya mulai dipenuhi rasa penasaran, ia tetap menjaga sikapnya.
Denia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Sari.
Tatapannya lembut, tanpa sedikit pun menunjukkan permusuhan.
"Maaf..." ucapnya sopan. "Boleh... aku meminjam waktu Mas Rangga sebentar? Ada sesuatu yang sudah lama ingin kusampaikan."
Sari menoleh kepada Rangga.
Ia tidak berkata apa-apa.
Ia hanya menunggu keputusan pria itu.
Sementara Rangga sendiri masih berdiri mematung, seolah belum sepenuhnya siap menghadapi lembaran masa lalu yang tiba-tiba datang mengetuk kembali pintu hatinya.
Rangga menatap Sari beberapa saat. Ada keraguan yang sempat berkelebat di wajahnya. Ia tidak ingin membuat perempuan yang selama ini menemaninya merasa diabaikan, tetapi ia juga sadar bahwa ada satu lembar masa lalu yang memang harus diselesaikan malam ini.
Sari menangkap keraguan itu. Dengan senyum tipis yang menenangkan, ia menganggukkan kepala pelan.
"Tenang saja, Mas. Aku tunggu di sana," ucapnya lembut sambil menunjuk sebuah kios kecil di tepi taman. "Sekalian beli minuman hangat."
Tatapan Rangga dipenuhi rasa terima kasih.
"Maaf ya, Sar..."
Sari menggeleng pelan.
"Tidak perlu minta maaf."
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat beban di dada Rangga sedikit berkurang.
Setelah Sari berjalan menjauh, tinggal Rangga dan Denia yang berdiri saling berhadapan di bawah cahaya lampu taman.
Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata.
Hanya embusan angin malam yang sesekali menggoyangkan dedaunan dan membawa aroma tanah yang masih basah oleh gerimis sore tadi.
Denia menundukkan kepala.
"Aku sudah berkali-kali membayangkan kalau suatu hari kita bertemu lagi," ucapnya lirih. "Tapi... saat momen itu benar-benar datang, ternyata aku tidak tahu harus memulai dari mana."
Rangga mengembuskan napas panjang.
"Aku juga tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu lagi."
Denia tersenyum hambar.
"Selama ini... bagaimana kabarmu?"
"Baik."
"Hanya itu?"
Rangga mengangguk pelan.
"Alhamdulillah, baik."
Jawaban singkat itu justru membuat hati Denia semakin sesak.
Dulu, Rangga adalah anak yang cerewet. Apa pun bisa diceritakannya dengan penuh semangat. Kini, pria itu jauh lebih tenang. Setiap kata yang keluar terasa begitu dijaga, seolah ada tembok tinggi yang sengaja dibangun agar tidak ada lagi yang bisa masuk ke dalam hatinya.
Denia menggenggam kedua tangannya sendiri.
"Aku mendengar usahamu sekarang berkembang."
"Masih belajar."
"Katanya sudah punya beberapa karyawan."
Rangga tersenyum tipis.
"Rezeki dari Allah."
Jawaban yang kembali sederhana.
Namun justru itulah yang membuat Denia sadar.
Rangga telah banyak berubah.
Bukan lagi bocah yang mudah menunjukkan isi hatinya.
Kini ia telah menjadi pria dewasa yang menyimpan emosinya jauh di balik ketenangan.
Denia menarik napas panjang.
"Aku... sebenarnya sering ingin mencari tahu kabarmu."
Rangga menatapnya.
"Lalu kenapa tidak?"
Pertanyaan itu membuat Denia membisu.
Beberapa saat kemudian, ia menjawab dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Karena aku tidak punya keberanian."
Malam kembali hening.
Lampu-lampu taman memantulkan bayangan panjang di atas paving blok.
Denia kembali membuka suara.
"Rangga... selama bertahun-tahun ini, ada satu kalimat yang terus menghantuiku."
Rangga tidak menyela.
"Aku selalu mengingat malam di bawah pohon jambu itu."
Ia menelan ludah.
"Saat kau menyerahkan kalung berbentuk bintang kepadaku..."
"...dan memintaku menunggumu."
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Aku mengingat semuanya."
Suara Denia mulai bergetar.
"Tidak ada satu hari pun aku benar-benar melupakannya."
Rangga tetap diam.
Namun jemarinya perlahan mengepal di balik saku celana.
Denia mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka kembali bertemu.
"Aku minta maaf, Rangga."
Satu kalimat itu akhirnya terucap.
Bersamaan dengan jatuhnya setetes air mata yang selama bertahun-tahun berhasil ia tahan.
"Aku sudah mengingkari janji kita."
Tangisnya mulai pecah.
"Aku tahu... permintaan maafku mungkin sudah tidak ada artinya lagi."
"Tapi... kalau malam ini aku pulang tanpa mengatakannya langsung kepadamu..."
"...aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri."
Rangga memejamkan mata sesaat.
Dadanya terasa sesak.
Bukan karena marah.
Melainkan karena semua luka yang selama ini sudah ia kubur, perlahan kembali terbuka satu per satu.
Namun ia tetap memilih diam.
Membiarkan Denia menuntaskan semua beban yang selama ini ia pendam sendiri.
Denia mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Lalu, dengan suara yang semakin lirih, ia mengucapkan kalimat yang selama bertahun-tahun hanya berani ia simpan di dalam hati.
"Rangga..."
"...bolehkah malam ini aku jujur tentang semua yang sebenarnya terjadi?"
Rangga tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada wajah Denia yang mulai dipenuhi air mata. Ada begitu banyak pertanyaan yang selama bertahun-tahun tersimpan di dalam hatinya, tetapi kini, ketika kesempatan itu benar-benar datang, ia justru memilih diam.
Ia ingin mendengar semuanya.
Tanpa prasangka.
Tanpa kemarahan.
Denia menarik napas panjang beberapa kali, berusaha mengendalikan suaranya yang mulai bergetar.
"Waktu itu... setelah kamu berangkat ke Jakarta, aku benar-benar menunggumu, Rangga."
Ia menundukkan kepala.
"Setiap malam aku masih sering melihat rasi bintang Arkais. Aku masih memakai kalung yang kau berikan. Aku percaya, suatu hari nanti kamu pasti pulang."
Rangga masih membisu.
Sorot matanya perlahan melembut, tetapi wajahnya tetap tenang.
"Awalnya Ayah dan Ibu tidak pernah melarangku," lanjut Denia lirih. "Mereka menganggap itu hanya janji masa kecil. Mereka yakin seiring bertambahnya usia, aku akan melupakannya sendiri."
Denia tersenyum pahit.
"Ternyata mereka salah."
Air mata kembali menetes.
"Semakin dewasa... justru aku semakin yakin ingin menunggumu."
Rangga menelan ludah pelan.
Kalimat itu menghantam benteng yang selama ini ia bangun di dalam hati.
"Setiap kali ada laki-laki yang datang dikenalkan kepadaku, aku selalu menolak."
Denia mengusap pipinya.
"Aku selalu bilang kalau aku sudah memiliki seseorang yang sedang berjuang di kota."
Suasana kembali sunyi.
Di kejauhan, suara kendaraan masih sesekali melintas, tetapi di antara mereka berdua, dunia seolah kembali berhenti.
"Namun..." suara Denia mulai serak, "keadaan perlahan berubah."
Ia mengepalkan jemarinya sendiri.
"Usaha Ayah mengalami banyak masalah. Beberapa kali mengalami kerugian. Kondisi keluarga kami tidak sebaik dulu."
Rangga mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.
"Saat itulah keluarga suamiku datang."
Denia mengangkat wajahnya perlahan.
"Mereka melamar secara resmi."
Ia kembali terdiam beberapa detik.
"Ayah dan Ibu melihatnya sebagai jalan keluar terbaik."
Rangga menarik napas panjang.
Ia mulai memahami ke mana arah cerita itu.
"Aku menolak."
Jawaban itu keluar begitu cepat.
"Sekali."
"Dua kali."
"Berkali-kali."
Denia tersenyum getir.
"Tapi semakin aku menolak, semakin besar tekanan yang datang."
Matanya kembali berkaca-kaca.
"Mereka mengatakan aku egois."
"Mereka bilang masa depan keluarga lebih penting daripada janji masa kecil."
"Mereka bilang aku hidup di dalam mimpi."
Suara Denia semakin lirih.
"Dan yang paling sering mereka tanyakan..."
Ia memandang lurus ke arah Rangga.
"'Sampai kapan kamu mau menunggu laki-laki yang bahkan tidak pernah memberi kabar?'"
Kalimat itu membuat dada Rangga sesak.
Ia sadar.
Selama bertahun-tahun di Jakarta, ia memang terlalu sibuk bekerja. Ia hanya mengirim uang kepada orang tuanya. Ia tidak pernah mengirim surat kepada Denia.
Bukan karena melupakan.
Melainkan karena ingin pulang membawa keberhasilan sebagai kejutan.
Ternyata...
Keputusan itu justru menciptakan jarak yang begitu panjang.
Denia menutup kedua matanya.
"Akhirnya... aku menyerah."
"Sebelum akad berlangsung, aku masih berharap kamu tiba-tiba datang."
"Tapi..."
"...kamu tidak pernah datang."
Tangisnya kembali pecah.
"Aku salah, Rangga."
"Aku benar-benar salah."
"Aku tidak cukup kuat mempertahankan janji kita."
Air mata mengalir tanpa bisa ia bendung lagi.
Rangga memalingkan wajahnya sejenak.
Dadanya terasa semakin berat.
Selama ini ia mengira Denia meninggalkannya demi harta dan kedudukan.
Namun malam ini...
Ia baru mengetahui bahwa kisah itu ternyata jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Di sisi lain taman, Sari masih berdiri dengan tenang. Dari kejauhan ia melihat Denia beberapa kali mengusap air mata, sementara Rangga hanya berdiri mendengarkan tanpa sekalipun memotong pembicaraan.
Sari tidak mengetahui isi percakapan mereka.
Namun ia bisa merasakan bahwa malam itu, ada luka lama yang sedang berusaha ditutup dengan cara yang paling baik.
Sementara itu, Denia perlahan mengangkat wajahnya.
Dengan mata yang sembab dan suara yang nyaris habis, ia menatap Rangga penuh harap.
"Rangga..."
"Aku sudah mengatakan semuanya."
"Aku tidak ingin lagi menyimpan kebohongan di antara kita."
Ia menarik napas panjang.
Lalu dengan sisa keberanian yang masih dimilikinya, Denia mengucapkan satu pertanyaan yang sejak tadi terus menyesakkan dadanya.
"Setelah mengetahui semua ini..."
"...apakah masih ada maaf untukku?"
Rangga memandang Denia cukup lama.
Tatapan itu tidak lagi dipenuhi kemarahan seperti yang selama ini dibayangkan Denia. Yang ada hanyalah kesedihan yang begitu dalam, kesedihan seorang laki-laki yang pernah menggantungkan seluruh masa depannya pada satu janji sederhana.
Ia menarik napas panjang.
"Denia..."
Suara Rangga terdengar berat, namun tetap tenang.
"Aku percaya semua yang baru saja kamu ceritakan."
Kalimat itu membuat bahu Denia sedikit bergetar. Air matanya kembali jatuh tanpa mampu ia bendung.
"Aku juga tidak menyalahkan kedua orang tuamu. Mereka pasti hanya ingin memberikan kehidupan terbaik untuk anaknya."
Rangga tersenyum tipis, meski senyum itu terasa begitu pahit.
"Kalau saat itu aku sudah menjadi laki-laki yang mapan... mungkin semuanya akan berbeda."
Denia menggeleng cepat.
"Bukan begitu, Rangga. Jangan salahkan dirimu."
"Tidak."
Rangga menggeleng pelan.
"Aku memang terlambat."
Ia menatap langit malam sesaat sebelum kembali menatap wajah perempuan yang pernah menjadi tujuan seluruh perjuangannya.
"Denia..."
"Aku sangat mencintaimu."
Kalimat itu akhirnya keluar.
Bukan sebagai pengakuan untuk merebut kembali cinta yang telah hilang, melainkan sebagai kejujuran terakhir yang harus disampaikan sebelum semuanya benar-benar berakhir.
"Kamu adalah perempuan pertama yang membuatku mengerti arti perjuangan."
"Kamu adalah alasan kenapa aku berani meninggalkan desa."
"Kamu adalah tujuan yang selalu kubayangkan setiap kali tubuhku kelelahan bekerja."
Suara Rangga mulai bergetar.
"Setiap kali aku hampir menyerah di Jakarta... aku selalu mengingat ucapanmu di bawah pohon jambu."
"Aku akan menunggumu."
"Itulah kalimat yang membuatku bertahan."
Air mata Denia mengalir semakin deras.
Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar isaknya tidak terdengar terlalu keras.
Rangga melanjutkan dengan suara yang jauh lebih lirih.
"Karena itulah... saat aku mendengar kabar bahwa kamu menikah..."
Ia berhenti beberapa detik.
Seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengulang luka yang selama ini selalu ia hindari.
"...duniaku runtuh."
"Aku merasa seluruh perjuanganku kehilangan arah."
"Aku bahkan sempat bertanya kepada diriku sendiri... untuk apa semua ini?"
Malam terasa semakin sunyi.
Hanya suara isak Denia yang sesekali memecah keheningan.
"Tapi..."
Rangga mengembuskan napas perlahan.
"Waktu mengajarkanku satu hal."
"Bahwa mencintai seseorang... tidak selalu berarti harus memiliki."
Denia mengangkat wajahnya.
Sorot matanya dipenuhi harapan yang masih tersisa.
Namun harapan itu perlahan memudar ketika mendengar kalimat Rangga berikutnya.
"Denia..."
"Mulai malam ini..."
"...lepaskan semua rasa bersalahmu."
"Kamu tidak perlu lagi memikirkan aku."
Air mata Denia kembali mengalir.
"Tidak, Rangga..."
"Pulanglah."
Suara Rangga tetap lembut.
Tetapi justru kelembutan itulah yang terasa paling menyakitkan.
"Sekarang aku bukan lagi Kamajayamu..."
"...dan kamu bukan lagi Dewi Ratihku."
"Kamu adalah istri seseorang."
"Dan suamimu berhak mendapatkan kesetiaan yang utuh darimu."
Denia menangis semakin keras.
"Aku tidak sanggup..."
"Kamu sanggup."
Rangga tersenyum tipis.
"Sama seperti aku yang akhirnya sanggup melepaskanmu."
Ia memundurkan satu langkah.
Jarak di antara mereka kini terasa seperti batas yang tidak boleh lagi dilanggar.
"Nanti... kalau suatu hari aku pulang ke Desa Samudra..."
"...aku berharap kita tidak perlu bertemu seperti malam ini."
Bibir Denia bergetar.
"Bukan karena aku membencimu."
"Tapi..."
"...melihatmu berdiri di samping laki-laki lain masih terlalu berat untuk hatiku."
Denia menundukkan kepala.
Tangisnya pecah tanpa mampu ditahan lagi.
"Aku doakan..."
"...semoga kamu menjadi istri yang baik."
"Bahagiakan suamimu."
"Dan biarkan semua kenangan tentang kita menjadi bagian dari masa lalu yang cukup kita simpan di dalam hati."
"Rangga..."
Suara Denia nyaris tenggelam oleh isaknya sendiri.
Namun Rangga sudah mengambil keputusan.
Ia membalikkan badan.
Melangkah perlahan meninggalkan perempuan yang selama belasan tahun menjadi pusat semestanya.
Setiap langkah terasa begitu berat.
Seolah ada sebagian jiwanya yang tertinggal di taman itu.
Dari kios kecil di seberang taman, Sari berdiri mematung sambil memegang dua botol air mineral.
Ia tidak mendengar percakapan mereka.
Namun ia melihat semuanya.
Ia melihat perempuan itu menangis hingga tubuhnya bergetar.
Ia melihat Rangga berdiri tegak tanpa sekalipun menyentuh atau memeluknya.
Dan ia melihat bagaimana, setelah mengucapkan sesuatu, Rangga memilih pergi tanpa menoleh kembali.
Saat itulah Sari mengerti.
Ada cinta yang sangat besar sedang dikuburkan malam ini.
Bukan karena cintanya telah habis.
Melainkan karena keduanya memilih menghormati sesuatu yang lebih besar daripada perasaan mereka sendiri.
Perlahan Sari mengusap sudut matanya yang ikut basah.
Ia menarik napas panjang, lalu berjalan menghampiri Rangga.
Pria itu berhenti ketika melihat Sari telah berdiri di hadapannya.
Wajahnya tampak tenang.
Namun kedua matanya menyimpan kelelahan yang tidak mampu disembunyikan.
Sari tidak bertanya siapa wanita itu.
Ia juga tidak meminta penjelasan.
Dengan senyum lembut, ia hanya mengulurkan satu botol air mineral.
"Minum dulu, Mas."
Rangga menerima botol itu dengan kedua tangan.
Tatapannya bertemu dengan mata Sari.
Di sana tidak ada rasa curiga.
Tidak ada tuntutan.
Yang ada hanyalah ketulusan.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Rangga merasakan dadanya menjadi sedikit lebih ringan.
Di bawah langit Jakarta yang mulai memperlihatkan beberapa bintang di sela awan, ia akhirnya menyadari satu hal.
Rasi bintang lama memang telah selesai menjalankan takdirnya.
Namun semesta tidak pernah membiarkan langit menjadi gelap selamanya.
Kadang, setelah satu cahaya meredup, akan selalu ada cahaya lain yang perlahan hadir untuk menemani langkah seseorang menuju masa depan.