Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOPI DINGIN
Apartemen Arya di lantai puncak Wijaya Tower terasa luas dan hening. Dinding kaca panoramic menawarkan pemandangan Jakarta yang masih diselimuti kabut pagi. Aku duduk di sofa kulit putih, sementara Arya berdiri di dekat dapur terbuka, menyiapkan dua cangkir kopi hitam.
"Kopi tanpa gula," ucapnya sambil meletakkan cangkir di atas meja marmer rendah di hadapanku.
"Sesuai preferensimu yang tercatat di data intelijen saya."
Aku tersenyum tipis, mengangkat cangkir itu.
"Kamu memang sangat teliti, Tuan Arya. Atau seharusnya aku bilang, sangat obsesif?"
Arya duduk di seberangku, menyilangkan kakinya dengan santai. Matanya menatapku, ada kilauan geli di sana.
"Obsesi adalah bentuk perhatian yang intens, Siren. Dan dalam bisnis, maupun cinta, perhatian adalah kunci kemenangan."
"Cinta?" ulangku, alisku terangkat.
"Kita belum sampai pada tahap itu, kan? Kita masih mitra strategis."
"Strategi bisa berubah arah," jawabnya ringan, menyeruput kopinya.
"Tapi mari kita fokus pada agenda hari ini. Tim hukum saya telah menerima panggilan sidang pertama untuk kasus Nia besok pagi. Fadli juga akan dipanggil sebagai saksi ahli karena keterlibatannya dalam penggelapan dana."
Aku mengernyit. "Fadli sebagai saksi? Bukannya dia tersangka juga?"
"Dia tersangka, ya. Tapi karena dia kooperatif dan menyerahkan semua bukti terhadap Nia—termasuk rekaman percakapan mereka merencanakan penipuan—jaksa penuntut umum memberikannya status saksi ahli dengan imbalan keringanan hukuman. Ini langkah cerdas dari pengacaranya."
Aku menghela napas.
"Jadi, Fadli akan selamat dari penjara, tapi karir dan reputasinya hancur total."
"Tepat," konfirmasi Arya.
"Dan itu justru lebih menyakitkan bagi pria seperti dia. Kehilangan uang bisa diganti. Tapi kehilangan harga diri di depan rekan bisnis dan keluarga? Itu luka yang tidak akan pernah sembuh."
Ponselku bergetar di atas meja. Nama Ibu Mertua muncul di layar. Wajahku langsung mengeras.
"Ambil saja," kata Arya, nada suaranya tenang.
"Saya ingin mendengar bagaimana dia mencoba memanipulasi situasi kali ini."
Aku menekan tombol terima dan mengangkat ponsel ke telinga. Suaraku berubah menjadi dingin dan datar.
"Halo, Bu."
"Siren! Kamu di mana? Kenapa kamu tidak angkat telepon dari kemarin?" Suara Ibu Mertua terdengar melengking, penuh kemarahan yang dibuat-buat.
"Fadli bilang kamu sudah menceraikannya dan mengambil semua hartanya! Kamu tidak punya hati! Dia anak tunggal kami! Kamu mau bikin dia mati kelaparan?!"
"Fadli tidak akan kelaparan, Bu," jawabku tenang.
"Dia masih punya dua puluh persen aset, mobil, dan kesehatan yang baik. Itu jauh lebih banyak daripada yang dia berikan padaku selama lima tahun terakhir."
"Kamu... kamu istri dan menantu durhaka!" teriak Ibu Mertua.
"Kami sudah memperlakukanmu seperti putri sendiri! Memberimu rumah, makanan, pakaian mahal! Dan begini balasanmu? Menceraikan suami sah di saat dia sedang susah? Apa kata tetangga? Apa kata keluarga besar?"
"Keluarga besar tahu persis apa yang dilakukan Fadli," potongku, suaraku kini mengandung baja.
"Mereka tahu tentang perselingkuhannya. Mereka tahu tentang penggelapan dananya. Dan mereka tahu bahwa Nia, wanita yang ia pilih untuk menggantikan saya, adalah penipu yang sekarang berada di balik jeruji besi. Jadi, jangan bicara soal 'apa kata orang', Bu. Karena orang-orang sudah berbicara. Dan mereka semua jijik melihat perilaku keluarga Anda."
Hening di seberang sana. Napas Ibu Mertua terdengar berat, seperti orang yang baru saja ditampar.
"Kamu... kamu jahat sekali," bisiknya, suaranya gemetar.
"Tuhan akan menghukummu, Siren."
"Tuhan sudah menghukum saya dengan mempertemukan saya dengan keluarga Anda," balasku dingin.
"Dan Tuhan juga sudah memberi saya kekuatan untuk keluar dari neraka itu. Sekarang, jika Ibu tidak memiliki hal penting lain untuk dibicarakan, saya akan menutup telepon ini. Saya punya pertemuan bisnis."
"Jangan tutup! Kamu harus—"
Klik.
Aku menutup telepon tanpa menunggu balasannya. Meletakkan ponsel kembali ke meja dengan suara tak yang tegas.
Arya menatapku, senyum tipis terbentuk di bibirnya.
"Tangan besi dalam balutan sutra. Saya suka gaya itu."
"Mereka tidak akan berhenti," gumamku, merasa lelah meski baru saja memenangkan pertempuran verbal kecil itu.
"Selama Fadli masih bernapas, mereka akan mencoba mencari celah. Mengadu domba media, memfitnah saya di grup keluarga, atau bahkan mencoba menghubungi pihak berwenang dengan tuduhan palsu."
"Biarkan mereka mencoba," ucap Arya, matanya tajam dan penuh keyakinan.
"Setiap serangan mereka akan meninggalkan jejak digital. Dan setiap jejak digital adalah amunisi tambahan bagi kita. Biarkan mereka menggali lubang untuk Anda, Siren. Nanti, kita akan pastikan mereka jatuh ke dalamnya sendiri."
Aku menatapnya, merasakan kekaguman yang mendalam. Bukan hanya karena kecerdasannya, tapi karena ketenangannya di tengah chaos. Ia seperti batu karang yang tak tergoyahkan, sementara dunia di sekitarnya hancur berantakan.
"Lalu, apa langkah selanjutnya?" tanyaku, mengalihkan fokus kembali ke strategi.
"Pertama," ucap Arya, jari telunjuknya mengetuk meja,
"kita siapkan tim humas untuk menangani potensi fitnah dari keluarga Fadli. Kedua, kita percepat proses akuisisi PT Surya Global—perusahaan tempat Nia bekerja dulu. Dengan membeli perusahaan itu, kita mendapatkan akses penuh ke semua arsip lama, termasuk dokumen-dokumen yang mungkin disembunyikan Nia sebelum dia ditangkap."
"Membeli perusahaan hanya untuk mendapatkan arsip?" tanyaku, sedikit skeptis.
"Itu investasi yang besar, Arya."
"Bukan hanya untuk arsip," jawabnya, matanya berbinar licik.
"PT Surya Global memiliki kontrak eksklusif dengan tiga supplier utama Fadli. Jika kita menguasai perusahaan itu, kita bisa memutus pasokan bahan baku ke perusahaan Fadli yang tersisa. Itu akan membuatnya bangkrut total dalam waktu tiga bulan. Tanpa bahan baku, tidak ada produksi. Tanpa produksi, tidak ada pendapatan. Tanpa pendapatan, tidak ada cara untuk membayar pengacara mahal."
Aku ternganga. "Kamu... kamu benar-benar berpikir jauh ke depan."
"Saya selalu berpikir sepuluh langkah ke depan, Siren," ucapnya serius.
"Karena dalam perang bisnis, siapa yang paling lambat bereaksi, dialah yang mati duluan. Dan saya tidak ingin Anda—orang-orang yang saya lindungi—menjadi korban kelambatan saya."
Kalimat terakhirnya terdengar begitu personal. Begitu protektif. Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena perasaan hangat yang menjalar di dada.
"Terima kasih, Arya," bisikku, suaraku lembut.
"Bukan hanya untuk strateginya. Tapi karena... karena kamu membuatku merasa tidak sendirian dalam perang ini."
Arya berdiri, berjalan mengelilingi meja hingga berdiri di samping kursiku. Ia menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aroma wewangiannya yang maskulin dan segar memenuhi indra penciumanku.
"Anda tidak pernah sendirian, Siren," bisiknya, suaranya berat dan intim.
"Selama saya masih bernapas, tidak ada yang boleh menyentuh Anda. Tidak secara fisik, tidak secara finansial, dan tidak secara emosional."
Aku menatap matanya dalam-dalam. Di sana, aku melihat ketulusan yang jarang kutemukan pada pria lain. Ketulusan yang tidak meminta imbalan. Ketulusan yang murni lahir dari rasa hormat dan... mungkin, sesuatu yang lebih dalam.
"Arya..." gumamku, suaraku hampir tak terdengar.
"Shh," potongnya pelan, jarinya menyentuh pipiku dengan lembut. Sentuhan itu hangat, membuat bulu kudukku berdiri.
"Jangan bicara sekarang. Rasakan saja. Bahwa Anda aman. Bahwa Anda dihargai. Dan bahwa Anda... diinginkan."
Udara di antara kami menjadi tebal. Tegangan romantis yang selama ini tertahan kini mengalir deras, tak terbendung. Aku tidak menarik diri. Aku membiarkan diriku tenggelam dalam tatapan matanya, dalam kehangatan sentuhannya, dalam janji diam yang ia berikan.
Permainan baru saja memasuki babak kedua belas. Dan kali ini, aku menyadari bahwa kemenangan terbesar bukanlah menghancurkan musuh. Tapi menemukan seseorang yang bersedia berperang bersamaku, bukan sebagai tuan, tapi sebagai pasangan.