NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Air sungai bawah tanah yang dingin menusuk tulang akhirnya memuntahkan tubuh Mu Jin ke sebuah danau beku di pinggiran Hutan Es Utara. Tubuhnya terhempas ke tepian berbatu yang diselimuti salju tebal.

Napasnya memburu, keluar berupa uap putih pekat dari hidung dan mulutnya. Lengan kirinya yang baru saja diluruskan kembali secara paksa masih terasa kebas dan ngilu, namun kini bisa digerakkan. Tubuhnya penuh luka, pakaiannya tersisa sobekan kain kusam yang menempel di kulit, dan matanya kini memancarkan keheningan yang liar, seperti mata pemangsa yang hidup di kegelapan abadi.

Di tanah utara yang asing dan membeku ini, Mu Jin tidak lagi berpikir seperti manusia biasa. Tiga minggu di dasar jurang telah mengikis sisa-sisa peradaban di dalam dirinya.

GRRRR...

Suara geraman rendah bergema dari balik semak-semak pinus beku. Dua ekor serigala es utara, berukuran dua kali lebih besar dari serigala biasa, dengan taring panjang menyerupai belati es, keluar mengelilinginya. Mereka mengendus bau darah dari luka Mu Jin, bergerak mengepung dengan cermat.

Jika ini adalah Mu Jin yang dulu, dia akan panik, mencari pedang besi hitamnya, atau mengambil posisi kaku seorang tukang kayu.

Namun Mu Jin yang sekarang tidak bergerak sedikit pun. Dia tidak menunjukkan rasa takut, tidak juga menunjukkan amarah. Dalam dunia binatang buas, takut adalah sinyal untuk diserang, dan amarah adalah celah yang mudah dibaca.

Mu Jin merendahkan badannya, menempelkan telapak tangannya ke salju basah. Matanya terkunci pada gerakan mata serigala di sebelah kirinya.

WUSH!

Serigala pertama melompat menerkam, mengincar lehernya dengan taring terbuka lebar.

Mu Jin tidak menghindar ke belakang. Dengan insting liar yang terasah di dasar jurang, dia justru merayap maju ke bawah perut serigala tersebut. Gerakannya patah-patah namun teramat cepat dan efisien. Saat tubuh serigala itu melayang di atasnya, tangan kanan Mu Jin yang kasar mencengkeram tenggorokan binatang itu dari bawah, memanfaatkan momentum jatuhnya untuk menghantamkan kepala serigala itu ke batu cadas.

BRAK!

Tengkorak serigala itu hancur seketika.

Serigala kedua yang melihat kawannya tumbang dalam sekejap mendadak ragu. Binatang buas memiliki insting alami untuk mengenali pemangsa yang lebih berbahaya dari mereka. Di mata serigala itu, pria kusam bersimbah darah di hadapannya bukan lagi mangsa yang lemah, melainkan monster liar yang keluar dari dasar bumi.

Serigala itu mundur dua langkah, merendahkan telinganya, lalu berbalik dan melarikan diri ke dalam kegelapan hutan es.

Mu Jin tidak mengejarnya. Dia berlutut di samping bangkai serigala yang tewas, menarik taring panjang binatang itu secara paksa dari rahangnya hingga putus. Taring es yang tajam dan keras itu kini menjadi senjatanya yang baru.

Dia menguliti sebagian daging serigala itu menggunakan batu tajam, memakannya mentah-mentah untuk mengisi kembali tenaganya yang terkuras. Rasa darah amis dan daging dingin menembus kerongkongannya, namun Mu Jin mengunyahnya tanpa mengedipkan mata.

Dia telah beradaptasi. Dia bukan lagi tukang kayu dari Lembah Nian, bukan pula pendekar gagal tanpa qi. Dia adalah bayangan dingin yang belajar merayap di antara para pemangsa, menyiapkan dirinya untuk perburuan terbesarnya di tanah utara.

***

Angin utara yang menembus celah-celah pegunungan batu tidak lagi terasa membekukan bagi Mu Jin. Mantel bulu tebal berwarna hitam milik pemimpin bandit Gunung Tengkorak kini membungkus tubuhnya yang penuh bekas luka. Di punggungnya, terikat sebilah pedang aneh bersegi empat tanpa mata tajam. Sebilah besi berat, kaku, dan membisu, persis seperti jiwa pemiliknya yang baru.

Setelah dua hari berjalan menelusuri lembah es yang tandus, Mu Jin tiba di Desa Lemah Salju.

Desa itu tersembunyi di balik benteng alam berupa tebing cadas tinggi di batas luar wilayah kekuasaan Lin Yu. Pemukiman ini tidak megah. Rumah-rumahnya dibangun dari tumpukan batu kali dan kayu pinus tua yang mulai melapuk. Warganya sebagian besar adalah para pengungsi, tukang besi buangan, dan mantan pemburu yang melarikan diri dari pembantaian klan-klan besar di utara. Tidak ada panji sekte yang berkibar di sini, hanya asap tipis dari tungku-tungku pembakaran kayu yang berjuang melawan hawa dingin.

Mu Jin melangkah memasuki gerbang desa yang setengah roboh. Sepatu kulit tebalnya menjejak tanah bersalju tanpa menimbulkan suara yang berarti. Warga desa yang berada di pinggir jalan menyapu sosoknya dengan pandangan waspada dan penuh curiga, melihat mantel bulu hitamnya yang bernoda darah kering serta pedang aneh bersegi empat di punggungnya. Namun, tidak ada yang berani menegur. Di tanah utara, menanyakan asal-usul seorang asing yang membawa senjata sama saja dengan mengundang maut.

Mu Jin berhenti di depan sebuah kedai kayu tua bersap dua di ujung desa. Papan namanya yang tergantung miring hampir tak terbaca oleh erosi es.

Seorang pria tua berambut perak dengan satu mata tertutup kain hitam sedang membelah kayu bakar di samping kedai. Setiap kali kapaknya mendarat di atas gelondongan kayu, tangannya yang gemetar membuat belahan kayu itu terbelah miring dan tidak rapi.

Mu Jin berdiri diam menatap gerakan pria tua itu selama beberapa menit. Bayangan masa lalunya di Lembah Nian mendadak melintas, saat dia sendiri masih memegang kapak, menghabiskan pagi hingga sore hanya untuk memastikan setiap gelondongan kayu terpotong sempurna.

“Tumpuan kakimu terlalu tinggi, Tua,” suara Mu Jin keluar serak dan dingin, memecah deru angin malam yang mulai datang.

Pria tua itu menghentikan ayunan kapaknya. Dia menoleh dengan satu matanya yang tersisa, menatap Mu Jin dari atas ke bawah. Tatapannya tidak memancarkan ketakutan seperti warga lainnya, melainkan pandangan tajam seorang veteran yang telah kenyang makan asam garam kehidupan.

“Kayu pinus beku ini keras, Anak Muda,” balas pria tua itu dengan suara parau. “Jika tumpuanku merendah, pinggangku yang tua ini akan patah sebelum kayu kelima terbelah.”

“Bukan pinggangmu yang membelah kayu,” kata Mu Jin datar. Dia melangkah mendekat, merebut kapak kayu dari tangan pria tua itu tanpa meminta izin.

Mu Jin memposisikan kakinya selebar bahu, menggeser tumpuan berat badannya ke tumit kiri, lalu menjatuhkan kapak itu lurus ke bawah tanpa mengandalkan kekuatan otot bahu.

CRACK!

Gelondongan kayu pinus yang keras dan membeku itu terbelah dua dengan sempurna, menyisakan permukaan potong yang rata tanpa serpihan.

Pria tua itu tertegun sejenak. Satu matanya berbinar tipis melihat efisiensi gerakan yang begitu murni. Tidak ada tenaga dalam yang digunakan, hanya pemahaman yang teramat mendalam tentang berat, gravitasi, dan sudut potong.

“Nama tua ini Lao Jiang,” kata pria tua itu sambil mengusap janggut putihnya yang tipis. Dia menunjuk ke arah ruang kosong di belakang kedainya. “Kamar di belakang tempat penyimpanan kayu itu kosong. Atapnya sedikit bocor saat salju turun tebal, tapi dinding batunya cukup kokoh menahan angin malam. Kau bisa tinggal di sana selama kau mau, asal kau yang membelah seluruh persediaan kayu bakarku setiap pagi.”

Mu Jin tidak mengangguk, tidak pula mengucap terima kasih. Dia meletakkan kapak itu kembali ke atas tunggul kayu, lalu berjalan menuju bagian belakang kedai. Kesepakatan di antara dua manusia yang sama-sama tidak membutuhkan basa-basi.

Kamar belakang itu kecil, berbau kayu manis liar dan debu tua. Hanya ada sebuah balai-balai kayu beralaskan jerami kering dan sebuah meja kecil dari batu kali. Namun bagi Mu Jin, tempat ini adalah kemewahan pertama yang dia rasakan sejak dilemparkan ke dasar jurang.

Mu Jin duduk bersila di atas balai-balai kayu. Dia melepaskan pedang aneh bersegi empat dari punggungnya, meletakkannya melintang di atas pangkuan.

Jari-jarinya yang kasar dan penuh bekas luka mengusap permukaan baja kaku itu. Guratan-guratan seperti urat darah di bilahnya terasa dingin di bawah sentuhannya. Di Desa Lemah Salju ini, dia tidak berniat mencari musuh baru, tidak pula mencari kawan. Dia butuh waktu. Tubuhnya yang hancur perlu memulihkan sisa-sisa tulang rusuknya yang baru menyambung, dan tangannya perlu membiasakan diri dengan tumpuan berat dari pedang barunya.

Di luar gubuk, salju utara mulai turun makin lebat, membungkus Desa Lemah Salju dalam selimut putih yang sunyi.

Mu Jin memejamkan matanya perlahan. Di dalam kegelapan pikirannya, bayangan Puncak Awan Putih dan wajah rupawan Lu Chen yang tersenyum tenang masih terukir sempurna. Dia tahu, di luar sana, dunia Murim sedang bergerak cepat. Lin Yu sedang mengumpulkan pasukannya di Benteng Serigala Hitam, Lu Xian sedang melangkah ke selatan mencari keadilan, dan Lu Chen sedang menenun benang pembantaian berikutnya.

Tapi di kamar kayu yang dingin ini, sang tukang kayu mulai menyelaraskan napasnya dengan besi barunya. Mengasah keliaran yang dia dapatkan dari dasar jurang menjadi sebuah ancaman membisu yang siap meledak saat waktunya tiba.

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!