NovelToon NovelToon
Tahta Kaisar Iblis

Tahta Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.

​Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.

​Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.

​"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: PERTEMUAN EMPAT SEKTE

​Yan Ge terus melesat di antara rimbunnya pepohonan purba. Gerakannya lincah dan tanpa suara, membelah udara pagi dengan kelenturan fisik Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Lima Puncak. Tidak ada lagi pendaran amarah liar atau niat membunuh yang memancar terang dari tubuhnya. Pria bermata satu itu hanya menyunggingkan sebuah seringai licik yang samar, seolah-olah mengiyakan seluruh kekhawatiran yang sempat terlintas di benak Lu Feng.

​Di jalur yang sama, Lu Feng melirik ke arah Yan Ge sebelum mengalihkan pandangannya kembali pada Xuan Chen yang melompat tenang di sampingnya.

​"Junior Xuan," panggil Lu Feng seraya menyesuaikan ritme lompatannya di atas dahan kayu. "Apakah aliansi kita akan terus berlanjut di dalam Alam Rahasia nanti?"

​Xuan Chen yang tetap tenang menjawab pertanyaan itu tanpa menengok sedikit pun. Pandangannya tetap terkunci lurus ke arah jalur depan.

​"Sebaiknya kita bergerak sendiri-sendiri, Senior Lu," sahut Xuan Chen datar.

​Lu Feng yang mendengar jawaban pendek itu seketika terkesiap di tengah udara. Langkah kakinya sempat tertahan sepersekian detik di atas dahan pohon sebelum kembali melesat maju.

​Bagaimana mungkin juniornya ini tampak begitu percaya diri? Di dalam sana nanti, ancaman bukan hanya datang dari gesekan internal sesama murid Sekte Jurang Jiwa atau intik dendam Yan Ge. Dua puluh lima murid dari masing-masing tiga sekte aliran suci juga akan masuk ke dalam Alam Rahasia Kuno.

​"Apa kau yakin, Junior?" tanya Lu Feng dengan raut wajah heran bercampur ragu. "Menghadapi medan asing dan kepungan sekte aliran suci seorang diri di Lapisan Tiga adalah tindakan yang sangat riskan."

​Xuan Chen tidak menjawab lagi.

​Tanpa memberikan penjelasan berbelit-belit, Xuan Chen menghentakkan kakinya lebih kuat ke permukaan kayu tebal. Otot-otot fisiknya yang padat bergetar, memicu dorongan kecepatan murni yang membawa tubuh jubah hitamnya melesat jauh ke depan, meninggalkan Lu Feng di belakang dalam keheningan.

​Setelah menempuh perjalanan melintasi deretan tebing batu dan hutan perbatasan selama setengah jam, rombongan murid Sekte Jurang Jiwa akhirnya tiba di tujuan utama.

​Di hadapan mereka terhampar sebuah area lapang berukuran sangat luas di dasar lembah purba. Di tengah lembah tersebut, sebuah retakan dimensi raksasa berdiri mengambang di udara, memancarkan pendaran cahaya keemasan yang bercampur dengan pusaran aura spasial yang bergetar hebat.

​Area lapang itu dikelilingi oleh pilar-pilar batu kuno dan dijaga ketat oleh beberapa tetua berkuasa dari empat sekte penguasa wilayah. Tekanan spiritual dari para pakar Ranah Lautan Qi yang berdiri di empat penjuru lembah membuat atmosfer tempat itu terasa begitu berat dan mendominasi.

​Saat rombongan Sekte Jurang Jiwa mendarat di area yang telah ditentukan, murid-murid dari tiga sekte aliran suci rupanya sudah lebih dulu berkumpul di tempat mereka masing-masing.

​Di sudut timur, berdiri dua puluh lima murid dari Sekte Awan Hijau yang mengenakan jubah putih bersulam benang hijau segar. Di sudut barat, murid-murid Sekte Pedang Guntur berdiri tegap dengan jubah biru berukirkan kilat, memikul pedang di punggung mereka. Sementara di sudut selatan, murid-murid Sekte Teratai Suci bersiap dalam barisan yang rapi dengan gaun dan jubah abu-abu keemasan.

​Begitu menyadari kedatangan perwakilan Sekte Jurang Jiwa, ratusan pasang mata dari ketiga sekte aliran suci tersebut seketika berputar tajam.

​Tatapan-tatapan yang dipenuhi oleh rasa jijik, kebencian mendalam, dan niat membunuh yang tak terselubung langsung menyergap ke arah Xuan Chen dan rekan-rekannya. Bagi para praktisi yang mengagungkan jalan suci, melihat kehadiran para penganut jalan demonic adalah sebuah pemandangan murahan yang membakar emosi.

​Namun, aura kebencian publik itu adalah hal yang sangat biasa bagi para murid Sekte Jurang Jiwa. Tidak ada satu pun dari mereka yang gentar atau gentar di bawah sorotan tajam tersebut.

​Xuan Chen melangkah tenang di area barisan sektenya. Ia memilih mengambil posisi berdiri tepat di sebelah seorang senior bertudung hitam yang sejak dari pelataran sekte selalu menutupi wajahnya. Senior bertudung itu berdiri sangat tenang, menyilangkan kedua tangan di dalam lipatan jubahnya tanpa mempedulikan tatapan benci dari sekte-sekte lain.

​Secara mendadak, senior bertudung itu memutar kepalanya pelan ke samping, menatap sosok Xuan Chen dari balik kegelapan tudungnya.

​"Hehehe... Junior, kau cukup beruntung bisa menyaksikan pemandangan megah ini hanya dengan berada di Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Tiga," ucap senior bertudung itu. Suaranya terdengar serak namun santai, tidak membawa sedikit pun tekanan permusuhan.

​Xuan Chen hanya tersenyum santai, merapikan jubah hitam polosnya tanpa ada setitik pun rasa canggung.

​"Aku hanya beruntung, Senior," jawab Xuan Chen datar. "Kebetulan menemukan Token Darah yang tergeletak di bawah pohon."

​Tawa terbahak-bahak seketika meledak dari balik tudung hitam senior tersebut.

​"Hahaha! Menarik!" ucap pria bertudung itu seraya menggelengkan kepalanya pelan.

​"Aku sudah mengikuti perkembangan Ujian Token Darah di Hutan Bayangan beberapa hari lalu," lanjut senior bertudung itu, suaranya merendah namun diisi oleh kilatan minat yang jujur. "Kau adalah murid luar yang paling mengejutkan dalam ujian kemarin."

​Pria itu mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah Xuan Chen, membisikkan detail yang membuat mata orang lain tentu akan terbelalak.

​"Membunuh dua murid Lapisan Tiga sekaligus di awal perburuan... mengambil token asli dari bawah hidung si bodoh Xiong Wei dan Yan Ge di Ngarai Tengkorak... membunuh Han Xiu lewat serangan jepit... hingga menahan amukan penuh Xiong Wei di detik-detik terakhir sebelum bel penutupan."

​Senior bertudung itu tertawa kekeh kembali. "Kau sangat menarik, Junior."

​Xuan Chen tetap mempertahankan senyuman santainya. Raut wajahnya tidak memperlihatkan keterkejutan sedikit pun saat mengetahui bahwa seluruh aksinya di dalam hutan telah dibaca rapat oleh orang di sebelahnya.

​"Namamu Xuan Chen, bukan?" tanya senior bertudung itu memastikan.

​"Benar," sahut Xuan Chen pendek.

​senior bertudung itu merapatkan jarinya, merapikan sedikit lipatan tudungnya ke atas untuk menyingkap separuh rahangnya yang tegas.

​"Dan aku Mo Cheng."

​Xuan Chen menangkupkan tangannya sedikit dengan gestur formal yang sederhana. "Salam kenal, Senior Mo."

​Mo Cheng menatap Xuan Chen selama beberapa detik, menunggu reaksi lanjutan yang biasanya muncul dari murid-murid luar lain saat mendengar nama depannya. Namun, raut wajah Xuan Chen tetap tenang bagaikan telaga es, tidak ada riak penasaran atau niat untuk menggali lebih jauh.

​"Hehehe... Kau bahkan tidak bertanya siapa nama depanku atau hubungan keluargaku," kekeh Mo Cheng seraya menggeleng heran. "Sangat mirip dengan gaya orang yang membawamu masuk ke dalam sekte."

​"Aku tidak tertarik untuk mengetahui latar belakang seseorang, Senior," sahut Xuan Chen tenang. "Di dunia kultivasi, kekuatan dan tindakan saat ini jauh lebih penting daripada silsilah."

​Seolah-olah tidak terlalu memperdulikan jawaban acuh tak acuh dari Xuan Chen, Mo Cheng justru melanjutkan ucapannya dengan senyum misterius di sudut bibirnya.

​"Aku adalah keponakan dari Tetua Mo."

1
Day Chuk
Xuan Chen punya Cheat di mata 🤣
Kausafiksi: Hehehe benar
total 1 replies
Septiana Athorid
makin seru
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Day Chuk
lanjut 🙏
Kausafiksi: 👍 siap
total 1 replies
Day Chuk
aku pikir su ling yang akan jafi rekan nya thour
Day Chuk: Hahahha sibuk ngapain thor
total 2 replies
:P @.Ar.world(づ ̄ ³ ̄)づ
mampir ya bro ke buku novel gua (。・ω・。) btw novel mu enak juga ya ceritanya tapi sayangnya fotonya hanya ia mau aku bantu kasih karakter laki laki untuk mu gratis
Kausafiksi: terimakasih sudah mampir 🙏😁

novel mu juga bagus,

semangat😁
total 1 replies
Septiana Athorid
saran thor kamar 405 harus nya pakai nama sajah, kesan fantasi timur nya kurang

tapi so cerita nya menarik.
Kausafiksi: terimakasih saran nya, akan aku pertimbangkan 🙏
total 1 replies
Septiana Athorid
naggung thor, 10 bab langsung biar puas 😁
Septiana Athorid: sehari 2 kali thor
total 2 replies
Day Chuk
lanjut thor di tunggu🙏
Kausafiksi: update satu hari sekali ya jam 19:00 di tunggu sajah 😁🙏
total 1 replies
Day Chuk
bagus cerita nya, anti hero, gue suka yang langsung yanpa bertele tele thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!