NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Malam yang waspada

Malam hari nya yg sangat sunyi, sepi dan mencekam, membuat Natalia terbangun. Ia lalu beranjak dari tempat nya menuju ke sungai untuk mengambil air, untuk mencuci muka nya. Di sana, ada Rafli yg duduk memperhatikan Natalia yg tengah mencuci wajah nya.

"kamu.. kebangun..?" tanya Rafli, Natalia lalu menoleh ke arah Rafli lalu berdiri dan mendekati nya.

"ya, aku kebangun karena mimpi yg mengerikan." jawab nya lalu menoleh sekilas ke arah Rafli.

"kamu memimpikan pacar mu..?" tanya nya lagi, Natalia hanya menjawab dengan anggukan kepala nya.

"kalian sudah bergantian jaga.."

"ya, Simon dan Jodie seperti nya sangat lelah."

"uhm.. kamu tau, gak yg menyakitkan itu adalah saat kita melihat orang yg kita sayang, tiba-tiba berubah menjadi bagian dari mereka, dan dia menyuruh ku lari dan menjauh." Natalia mulai bercerita, Rafli terdiam dan menyimak cerita Natalia.

"dia bilang aku harus berjuang dan tetap hidup, dia gak mau aku menjadi bagian dari mereka." ucap nya lirih, Rafli lalu mendekat dan merangkul tubuh Natalia.

"aku paham perasaan mu, sabar Natalia." bisik nya.

Rafli membiarkan pelukan itu melekat sejenak, memberi kehangatan yang kini sangat jarang mereka temukan di dunia yang telah hancur ini. Angin malam berhembus dingin menerpa dedaunan di sekitar sungai, suara gemericik air menyatu dengan hembusan nafas mereka yang tak beraturan.

"Terima kasih..." bisik Natalia pelan, saat Rafli melepaskan pelukannya perlahan. Matanya berkaca-kaca, namun ia segera menghapusnya dengan punggung tangan sebelum air itu jatuh. "Aku hampir lupa rasanya diperlakukan dengan lembut seperti ini."

Rafli tersenyum tipis, lalu merogoh saku jaket lusuhnya dan mengeluarkan sepotong biskuit kecil yang masih tersisa. "Simpanlah. Mungkin bisa sedikit menenangkan perutmu sekaligus hatimu."

Natalia menerimanya dengan ragu. "Kamu sendiri tidak makan?"

"Aku sudah cukup kenyang," jawabnya santai, meski Natalia tahu itu hanyalah alasan. Rafli kembali menatap gelap di balik pepohonan, tangannya meraba busur panah yang selalu ia sandarkan di samping tubuh. "Dunia mungkin sudah berubah menjadi neraka, Natalia. Tapi bukan berarti kita harus kehilangan sisi kemanusiaan kita sepenuhnya."

Belum sempat Natalia menjawab, suara langkah kaki pelan terdengar mendekat. Ternyata Danu yang berjalan mendekat dengan wajah masih waspada meski rautnya sedikit lebih tenang dari biasanya.

"Kalian belum tidur?" tanyanya pelan agar tidak membangunkan yang lain.

"Natalia kebetulan terbangun," jawab Rafli singkat.

Danu mengangguk, lalu menatap Natalia sejenak. "Sebentar lagi akan berganti jaga. Sebaiknya kamu istirahat sebentar sebelum matahari terbit. Perjalanan menuju Puncak masih sangat panjang dan berbahaya."

Mereka pun kembali ke tempat persembunyian dengan langkah pelan. Saat kembali merebahkan diri di atas tumpukkan daun, Natalia melirik Rafli yang kembali duduk bersila di posisi jaga. Di tengah kegelapan yang mencekam itu, ada rasa aman yang sedikit tumbuh di hati Natalia—bahwa ia tidak sendirian lagi dalam bertahan hidup.

Keesokan paginya, kabut tipis masih menyelimuti pepohonan saat semua perlahan terbangun. Bau asap api unggun mulai tercium, bercampur dengan aroma ikan yang sedang dipanggang. Rafli, Simon, dan Andri sibuk membalik ikan hasil tangkapan mereka semalam di pinggir sungai, wajah mereka terlihat lebih segar meski kelelahan masih tersisa.

Di sisi lain, Natalia, Mega, dan Dokter Rizal sedang sibuk menyaring air sungai dengan kaIn bersih yang mereka temukan, memastikan tidak ada kotoran yang terbawa sebelum memasukkannya ke dalam botol-botol bekas yang sudah dicuci bersih. Setiap tetes air kini terasa begitu berharga.

"Cukup untuk beberapa hari ke depan," ucap Dokter Rizal sambil menutup botol terakhir, wajahnya terlihat lega meski masih penuh kewaspadaan.

Tak lama kemudian, mereka berkumpul mengelilingi api unggun untuk sarapan. Makan sederhana itu terasa begitu nikmat, menambah tenaga yang sempat terkuras. Tak ada obrolan yang berlebihan, hanya ucapan terima kasih singkat satu sama lain.

Setelah perut terisi dan bekal disiapkan kembali ke dalam tas, Danu berdiri dan menatap arah jalan setapak yang menanjak ke arah Puncak.

"Kita harus segera berangkat," ucapnya tegas. "Kita akan terus berjalan sambil mencari kendaraan yang masih bisa dipakai. Berjalan kaki sejauh itu akan sangat melelahkan dan memakan waktu."

Semua mengangguk setuju. Mereka memadamkan api unggun dengan tanah dan sisa air, memastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Dengan senjata yang sudah digenggam erat dan tas yang disandang rapi, rombongan itu kembali melangkah meninggalkan tempat persembunyiannya, menembus kabut pagi menuju arah Puncak.

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!