NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Kembali Ke Mansion

Menjelang larut malam, hujan yang mengguyur kawasan tua tempat Ara tinggal akhirnya reda. Sekalipun berkas-berkas tetesan air masih jatuh dari ujung atap dan dedaunan. Udara juga menjadi jauh lebih dingin setelah hujan. Udara malam itu membawa setidaknya lebih banyak aroma tanah basah yang pekat. Genangan air tercetak dimana-mana di halaman rumah tua itu.

Pintu depan kembali diketuk. Luca datang menjemput mereka. Ara berdiri dari kursinya dan membukakan pintu. Ia mempersilakan Luca masuk. Ia berdiri di belakang Dante menunggu instruksi.

Begitu Luca mendekat, Dante memanggil Ara.

"Ambil surat kepemilikan rumah ini." Dante bukan meminta, ia jelas sedang memberi perintah. Dan Ara sudah mulai terbiasa dengannya.

Ara mengiyakan. Ia sebenarnya ingin bertanya lebih banyak, tetapi melihat ekspresi Dante, ia malas berkata-kata. Ia menaiki tangga kayu menuju lantai dua.

Setiap anak tangga mengeluarkan bunyi berderit ketika diinjak. Ara memasuki sebuah kamar kecil di ujung lorong. Di sana terdapat lemari tua yang sejak awal ia gunakan untuk menyimpan beberapa barang penting.

Ia membuka laci bagian bawah. Di balik beberapa dokumen lama, terdapat sebuah map cokelat.

Ara menarik map cokelat itu keluar. Map itu berisi surat kepemilikan rumah tua ini. Ia menatapnya sebentar. Ia membawa map itu turun. Sedikit enggan, ia menyerahkan map cokelat yang ada di tangan nya.

Dante sudah berdiri dekat pintu. Ia membuka map itu dan memeriksa isinya sekilas. Kemudian ia menyerahkannya kepada Luca.

"Urus balik nama surat tanah ini." Instruksinya.

Luca menerima map itu. "Atas nama siapa, Tuan?"

Dante menoleh kepada Ara. "Atas nama Nyonya."

"Rumah ini rupanya milik Nyonya," komentar Luca sembari matanya menyapu ke sekeliling rumah.

Dante tersenyum dingin. "Aku juga tidak percaya sepertimu pada awalnya. Aku bahkan berpikir Ara menyewanya. Siapa yang sangka ia pemilik rumah tua dan lahan disini."

"Aku anggap itu pujian," gumam Ara menimpali. Matanya bergantian menatap Dante dan Luca. Bibirnya sedikit berkedut. Kedua orang ini benar-benar meremehkannya.

"Dan satu lagi..." Dante melihat sekeliling bangunan tua yang dindingnya banyak mengelupas, jendela-jendelanya lapuk, dan sebagian atapnya sudah rusak. Jika hujan lebih deras dari hujan yang turun barusan, ia kawatir rumah ini bakal terendam air.

"Cari kontraktor. Aku mau rumah tua ini dirombak total. Bongkar dan bangun ulang." Perintahnya terdengar lugas dan tegas. Lagipula ini rumah ini milik Ara, istrinya. Wajar jika ia sebagai suami membangun ulang rumah yang hampir bobrok ini.

Luca mengangkat kepala. "Baik, Tuan."

Ara menatap Dante seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang menurutnya membuang sumber daya. Baginya rumah itu masih bisa ditempati. Itu cukup. Tetapi mungkin bagi Dante berbeda.

"Bangun kembali? Kenapa?" tanya Ara heran.

Dante menatapnya. "Karena rumah ini milikmu." Ia berjalan melewati Ara. "Aku ingin ketika kita kembali lagi ke sini, rumah ini jauh lebih layak untuk ditinggali."

Ara berdiri mematung. "Kita??" ulangnya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia hanya menangkap satu kata yang masih terasa asing baginya. "Kita."

"Ya, tentu kau tidak berpikir untuk kabur dan bersembunyi di sini sendirian?" sindir Dante tajam.

"Tentu saja tidak." Ara menepis tuduhan Dante yang sengaja menguji niat hatinya.

"Setelah selesai dibangun, kita bisa kembali kesini untuk tinggal selama beberapa hari." Dante menuturkan ide yang terbersit di pikirannya.

"Aku tidak mengerti kau," gumam Ara menggigit bibirnya.

"Kau tidak harus mengerti semuanya dalam satu malam ini. Apalagi mengerti diriku. Kau bisa menggunakan waktu seumur hidupmu untukku," komentar Dante menimpali. Tatapannya menusuk jantung Ara.

Ara masih terpaku di tempatnya.

"Ayo kita pulang." Dante menarik tangan Ara keluar rumah. Ia melemparkan kunci rumah kepada Luca.

"Kau yang bertanggung jawab atas rumah ini." Suara Dante terdengar datar dan dingin.

Luca memberi sedikit anggukan sebelum menyusul tuannya. Ia mematikan lampu di dalam rumah dan mengunci pintunya.

***

Mobil melaju meninggalkan rumah tua itu. Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam lewat. Ara duduk di kursi belakang bersama Dante. Luca berada di depan sebagai pengemudi. Masih ada dua mobil hitam yang mengikuti mereka dari belakang.

Sepanjang perjalanan, pada menit-menit pertama, tidak ada percakapan. Lampu-lampu kota mulai terlihat satu per satu dari balik kaca jendela. Jalanan masih basah. Pantulan lampu kendaraan menari di atas aspal yang mengilap.

Ara menyandarkan kepala ke kaca. Pikirannya masih tertinggal di rumah tua tadi. Rumah yang ia pilih sebagai tempat bersembunyi. Sekarang rumah itu dan kepemilikan atasnya sudah ketahuan Dante. Sekalipun Dante tidak akan pernah mengambil rumah itu darinya, tetapi rumah itu bukan lagi menjadi rahasianya. Itu sudah menjadi rumah mereka berdua sekarang. Ia akui Dante memang murah hati kepadanya. Dante rela menghabiskan sumber daya yang tak sedikit, hanya untuk memperbaiki rumah yang tercatat atas nama istrinya.

Dante memandang jalan di depan melalui kaca. Suara dinginnya menggema di dalam mobil.

"Kalau suatu hari nanti kau ingin pergi ke sana lagi..." Ia berhenti sebentar. Ara menatap padanya. Mereka saling bertukar pandang, ketika Dante melanjutkan kata-katanya lagi.

"...aku ingin kau pergi karena kau memang ingin berada di sana, bukan karena kau sedang melarikan diri."

Ara terdiam. Ia tidak tahu apakah Dante sedang mencoba mempermainkannya atau justru Dante sedang menunjukkan keseriusannya.

Sudut bibir Dante terangkat tipis. Sementara Ara memalingkan wajahnya menghadap jendela. Perlahan ia juga mulai menggeser pandangannya ke luar jendela.

Di kejauhan, samar-samar terlihat tembok batu tinggi yang mengikuti sisi bukit. Mansion milik keluarga Dante terlihat paling mencolok dari antara mansion lainnya.

Jalan utama yang semula lebar menyempit sebelum akhirnya bercabang menjadi jalan pribadi yang hanya cukup dilewati dua kendaraan berpapasan. Di sepanjang jalan itu terdapat deretan pohon cemara tinggi, berdiri seperti penjaga yang mengarahkan siapa pun menuju kediaman di ujungnya.

Setelah melewati tikungan terakhir, gerbang besi hitam akhirnya terlihat.

Dua pilar batu berdiri kokoh di kedua sisinya, diterangi lampu-lampu kecil yang memantulkan warna keemasan pada permukaan yang masih basah.

Gerbang perlahan terbuka. Mobil Dante melewatinya.

Di balik gerbang, jalan kembali memanjang melewati taman luas. Rumput yang basah berkilau diterpa cahaya lampu taman. Semak-semak yang tertata rapi membentuk garis sepanjang jalan, sementara pepohonan tua menaungi sebagian besar halaman.

Baru setelah mobil melewati deretan pohon terakhir, bangunan utama mansion terlihat sepenuhnya. Megah. Kokoh. Sunyi. Sangat kontras bedanya dari rumah tua miliknya. Mungkin hal itu juga yang membuat Dante berinisiatif membangun ulang rumah tua yang ada di pinggiran barat kota itu.

Mobil melambat ketika mendekati pintu aula utama. Ara memandang mansion itu dari balik kaca. Mereka sudah pulang.

Tidak perlu aba-aba Luca turun, ia membukakan pintu untuk tuan dan nyonya nya. Para pelayan berbaris rapi menyambut kedatangan mereka.

"Ini sudah larut malam dan mereka masih hidup," gumam Ara lirih. Ia heran dan kagum.

Dante yang mendengarnya menatap Ara dengan tatapan dingin.

"Tentu saja mereka masih hidup." Jeda. Dante tiba-tiba menghentikan langkahnya. Karena kurang cepat melihat pergerakan itu, kepala Ara jadi bertubrukan dengan punggung Dante.

Dante membungkuk sedikit dan berbisik kepada istrinya. "Haruskah aku membunuhnya?" Jeda. "Bagaimanapun mereka telah lalai mengawasi mu," imbuhnya.

Ara menelan ludahnya. "Itu bukan salah mereka. Jika kau mau menghukum, hukum saja aku."

"Kau menawarkan diri untuk dihukum menggantikan mereka?" Dante kembali menegakkan badan dan masuk mansion mendahului Ara.

"Aku...tidak," ujar Ara sengit. Tapi Dante mengabaikannya.

"Maksudku hidup tadi kiasan belum tidur, tidak ada hubungannya dengan hidup dan mati." Ara menggumamkan kata-kata itu seolah ia sedang menjelaskan pada suaminya.

"Aku tahu," sahut Dante enteng. Ia tidak pergi ke ruang kerjanya. Ia mengikuti Ara ke kamar.

"Aku juga mau mandi dan beristirahat," tutur Dante saat melihat wajah Ara yang penuh tanda tanya.

"Baiklah, kau dulu yang gunakan kamar mandi, setelah itu baru aku." Ara kemudian mengambil duduk di sofa. Ia berbaring meringkuk, menunggu Dante keluar kamar mandi.

Hari ini Dante sedang belajar memberi Ara ruang. Dan Ara juga belajar tidak setiap pintu yang tertutup, berarti dirinya harus mencari jalan keluar. Ada kalanya pintu itu memang harus tertutup karena ia harus tetap tinggal.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!