Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 — Pegawai yang Menjaga Pintu
BAB 28 — Pegawai yang Menjaga Pintu
Damar memintaku datang ke Ruang Tengah pukul delapan malam, setelah seluruh pegawai lain dipulangkan.
Undangannya dikirim melalui surel resmi dan hanya memuat satu tujuan: mengidentifikasi sumber pembayaran berkode TAHAN. Tidak ada izin berbicara berdua dengan Nadira. Tidak ada akses ke dokumen klien selain yang berkaitan langsung dengan jaringan Kalyana.
Aku datang tanpa pengemudi.
Di ruang rapat, Nadira duduk di ujung meja bersama Damar dan Arum Prabasari. Lila berada di sisi lain. Wajahnya pucat. Kedua tangannya memegang gelas air yang belum diminumnya sejak aku masuk.
Nadira tidak menyapaku. Aku juga tidak mencoba mengubah pertemuan itu menjadi sesuatu yang lebih pribadi.
Arum mendorong cetakan transfer ke hadapanku.
“Perusahaan asalnya?” tanyanya.
Aku membaca rangkaian badan usaha pada halaman pertama. Tiga perusahaan sudah dibubarkan. Satu masih aktif sebagai penyedia penyimpanan dokumen. Pemilik akhirnya tidak tertulis, tetapi nomor persetujuan transaksinya memakai pola yang hanya digunakan kantor Surya.
“Dana ini dikendalikan ayahku,” kataku.
Lila menunduk, seolah nama Surya sudah cukup menjelaskan semuanya.
Damar menyalakan perekam. “Bu Lila sudah menyetujui pemeriksaan dengan pendamping hukum independen. Anda hadir sebagai sumber identifikasi, bukan sebagai perwakilan perusahaan.”
“Aku mengerti.”
Damar menoleh kepada Lila. “Ceritakan sejak awal.”
Lila meletakkan gelasnya. “Saya mulai menerima uang empat tahun lalu.”
Nadira mengangkat wajah. “Kamu baru bekerja di sini tiga tahun delapan bulan.”
“Pembayaran pertama sebelum saya diterima.”
Ruangan menjadi lebih sunyi.
“Siapa yang menghubungimu?” tanya Arum.
“Seorang laki-laki bernama Yuda. Katanya dia dari perusahaan pengelola dokumen yang pernah membantu Ruang Tengah saat pindah kantor.”
Aku mengenal nama itu. Yuda Prasetya pernah bekerja sebagai petugas inventaris dewan. Bukan orang penting. Jenis orang yang bisa masuk ke banyak ruangan karena semua orang menganggapnya cuma membawa kardus.
“Apa yang dia minta?” tanya Damar.
“Melamar pekerjaan administrasi di sini. Kalau diterima, saya harus memastikan dokumen tertentu tidak dibawa keluar sebelum dipindai.”
Nadira menatapnya. “Dokumen tertentu seperti apa?”
“Yang menyebut Aditya Sasmita, kode A-17, penyelesaian rumah tangga eksekutif, atau kecelakaan lama.”
Tidak ada yang langsung bicara.
Aku memandang lemari arsip di balik kaca. Surya tidak hanya mengirim perkara kepada Nadira. Ia menempatkan seseorang di dalam kantor untuk menunggu bukti Aditya datang.
Ruang Tengah dijadikan pintu pemeriksaan.
Setiap mantan pegawai, korban, atau wartawan yang memilih Nadira sebagai tempat aman harus melewati meja administrasi lebih dulu. Lila tidak perlu mencuri seluruh berkas. Ia hanya perlu mengenali kata-kata tertentu, menahan dokumen cukup lama untuk dipindai, lalu mengirim salinannya kepada orang Surya.
“Kenapa kamu setuju?” tanya Nadira.
Lila mengumpulkan suaranya, meski tetap bergetar. “Ibu saya punya utang pengobatan. Yuda membayar cicilan pertama dan bilang pekerjaan ini tidak akan merugikan siapa pun. Katanya saya hanya mencegah dokumen sensitif hilang atau dibawa orang yang salah.”
“Menurut siapa mereka orang yang salah?”
“Saya tidak bertanya.”
“Kapan kamu mulai tahu ini bukan pengamanan biasa?”
Lila menatap logo Ruang Tengah di dinding. “Ketika ada amplop untuk Ibu enam bulan lalu.”
Tanggal itu sama dengan mediasi mantan direktur keuangan Kalyana Logistics dan awal pengawasan Raka terhadap Tara.
“Apa isi amplopnya?” tanyaku.
Damar langsung mengangkat tangan. “Jangan mengambil alih.”
Aku menahan jawaban yang hampir keluar. “Benar. Maaf.”
Nadira tetap memandang Lila. “Apa yang kamu lakukan pada amplop itu?”
“Saya mencatat penerimaannya, lalu menyimpannya di lemari bawah karena pengirim meminta diberikan langsung kepada Ibu. Sebelum saya sempat membawanya ke ruangan Ibu, Yuda mengirim pesan. Dia tahu amplop itu datang.”
“Dari mana?”
“Saya tidak tahu.”
“Lalu?”
“Dia menyuruh saya memotret sampul, menahannya sampai malam, dan memasukkannya ke map hijau. Katanya seseorang akan memeriksa apakah dokumennya aman.”
“Apakah kamu membukanya?”
“Tidak. Tapi alat pemindai kecil dikirim lewat kurir. Saya diminta memasukkan amplop tanpa merusak segel.”
Arum mencatat jenis alat dan tanggal pengiriman. “Setelah dipindai?”
“Saya mengembalikan amplop ke lemari. Keesokan harinya saya ingin menyerahkan kepada Bu Nadira, tapi Yuda bilang tahan dulu karena ada risiko pengirimnya sedang dipantau.”
Nadira tersenyum getir. “Dan kamu percaya begitu saja?”
“Iya.”
“Berapa lama kamu menahannya?”
Lila tidak segera menjawab.
“Berapa lama?” ulang Nadira.
“Enam bulan.”
Tangan Nadira yang berada di atas meja mengeras.
Aku pernah membuat orang melakukan hal serupa. Menahan informasi sampai aku menilai Nadira siap. Membedakan diriku dari Surya tidak mengubah akibat yang diterima Nadira.
“Apa arti kode TAHAN?” tanya Damar.
Lila membuka ponsel yang sudah diserahkan kepada auditor. Arum menampilkan salinan percakapan di layar bersama. Sebagian pesan berasal dari nomor sekali pakai, tetapi pola bahasanya konsisten.
Tahan sampai isi diperiksa.
Tahan kalau berkaitan dengan A-17.
Tahan agar tidak dibawa keluar kantor.
“Bukan menahan Nadira,” kata Lila. “Menahan berkas di dalam gedung sampai pihak mereka mendapat salinan.”
“Pihak mereka siapa?” tanya Nadira.
“Saya hanya pernah bertemu Yuda.”
Aku meminta izin Damar sebelum menjelaskan. Setelah ia mengangguk, aku menunjukkan struktur perusahaan penyimpanan dokumen dan hubungan otorisasinya dengan kantor Surya.
“Yuda bekerja melalui vendor yang dikendalikan ayahku,” kataku. “Pembayaran Lila tidak berasal dari Lingkar Aman. Ini jaringan paralel.”
Nadira menatapku. “Kamu tidak tahu?”
“Tidak.”
“Apakah sistem kantorku memudahkan mereka?”
“Iya.”
Jawaban itu harus sederhana.
Aku yang merekomendasikan vendor gedung. Aku yang mengizinkan sinkronisasi cadangan. Aku yang mengira semua akses tersembunyi berada di bawah kendaliku. Surya hanya perlu menambahkan satu pegawai dan satu jalur pemindaian ke sistem yang sudah kubangun.
“Aku yang membuka aksesnya,” kataku. “Ayahku tinggal menaruh orang di dalam.”
Lila menunduk. “Saya bukan hanya menjaga pintu.”
Ia membuka buku pengiriman lama. Pada enam tanggal berbeda, ada tanda kecil berbentuk kotak di samping nama pengirim. Tiga dokumen berkaitan dengan mantan pegawai Kalyana. Dua merupakan surat dari pengacara korban penyelesaian lama. Satu adalah amplop enam bulan lalu.
“Semua kamu tahan?” tanya Nadira.
“Yang lima pertama saya pindai, lalu tetap saya serahkan pada hari yang sama. Hanya yang terakhir tidak.”
“Kenapa?”
“Yuda bilang berkas itu bisa menghancurkan kantor.”
Nadira berdiri dan berjalan ke lemari bawah. Arum mengikutinya sambil membawa kamera. Segel audit pada pintu lemari masih utuh. Lila menyerahkan kunci dengan tangan gemetar.
Di rak paling bawah ada map hijau, tepat seperti yang ia katakan.
Damar merekam saat Arum membukanya.
Kosong.
Lila menatap bagian dalam map cukup lama, seolah kertas itu bisa muncul kembali.
“Saya menaruhnya di sini,” katanya. “Saya tidak pernah memindahkan.”
Arum memeriksa serat, bekas debu, dan daftar inventaris awal. “Map ini memang pernah berisi dokumen tebal.”
Nadira menoleh kepada Lila. “Siapa yang punya kunci lain?”
“Tidak ada.”
Aku melihat silinder kuncinya. Jenis lama yang dapat dibuka dengan kunci induk vendor gedung. Vendor yang kupilih. Vendor yang pernah dikendalikan perusahaan keluarga.
Arum membuka rekaman kamera lorong. Dua hari sebelum audit diumumkan, sistem berhenti merekam selama sebelas menit karena pembaruan perangkat lunak. Pada waktu yang sama, kartu akses lama milik petugas pemeliharaan dipakai di lantai ini.
Nama petugasnya Yuda Prasetya.
“Dia datang sebelum pemeriksaan dimulai,” kata Damar.
Lila menggeleng cepat. “Saya tidak tahu. Saya sungguh tidak tahu.”
Nadira tidak menjawab. Ia mengambil buku pengiriman dan membaca keterangan pada baris amplop terakhir.
Pengirimnya hanya tertulis dengan inisial.
M.P.
Di kolom isi, Lila pernah mencatat judul yang terbaca dari hasil pemindaian sampul.
Pernikahan Pertama yang Gagal — Lampiran Aditya Sasmita.
Aku meminta Arum membuka log alat pemindai kecil. Salinan digital seharusnya pernah dikirim ke server Surya. Bila belum dihapus, mungkin masih dapat dipulihkan.
Arum mengetik beberapa perintah, lalu menatap kami.
“Jejak pengirimannya ada,” katanya. “Berkas masuk ke server dewan enam bulan lalu, tapi sudah dipindahkan.”
“Ke mana?” tanya Nadira.
“Tidak diketahui.”
Damar menunjuk daftar inventaris awal audit. “Kapan terakhir map ini diperiksa?”
Arum membalik halaman pertama.
Tanggalnya sehari sebelum audit resmi dimulai.
Statusnya sudah tertulis kosong.
Berkas tentang pernikahan pertama itu tidak hilang selama pemeriksaan.
Seseorang mengambilnya sebelum Nadira sempat mengetahui audit diperlukan.