"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Permintaan Maaf dan Kunci Pintu Trauma
Mobil SUV hitam itu berhenti tepat di depan pagar rumah. Pintu penumpang langsung terbuka lebar bahkan sebelum mesin mobil benar-benar dimatikan.
"Nadira, tunggu dulu—"
"Gak usah panggil-panggil nama gue!" potong Nadira setengah berteriak.
Ia membanting pintu mobil dengan keras. BAM! Dengan wajah memerah dan rambut yang sedikit berantakan, Nadira berlari melintasi halaman rumah, mengabaikan sandal pink neonnya yang menghentak kasar di atas ubin teras.
Dinan yang sedang menyiram tanaman hias di teras depan mendadak terkejut. "Loh, Nadira? Kok jam segini udah pulang? Terus itu muka kenapa dilipat gitu?"
Nadira tidak menjawab. Ia hanya menggeram pelan, menerobos masuk ke dalam rumah, menaiki tangga dengan hentakan kaki nyaring, lalu menghilang di balik pintu kamarnya. BAM! Suara pintu kamar yang dibanting terdengar menggelegar sampai ke lantai bawah.
Dinan mengelus dadanya. "Astaga, itu anak kenapa lagi sih?"
Tak lama kemudian, Askara melangkah masuk melalui pagar dengan santai. Pakaiannya masih rapi, meski ada bekas gigitan merah yang cukup jelas di punggung tangan kanannya.
"Siang, Tante," sapa Askara sopan, menyalami tangan Dinan.
"Siang, Ka. Itu Nadira kenapa berlari kayak dikejar setan? Kenapa juga pulang jam segini?" tanya Dinan heran, matanya mengawasi wajah Askara.
Askara menghembuskan napas pelan, tersenyum tipis. "Biasa, Tante. Kalah debat sama Askara, terus ujung-ujungnya ngambek."
Dinan geleng-geleng kepala. "Kebiasaan banget anak itu! Selalu gak mau kalah, kalau udah kehabisan argumen pasti pelampiasannya ngambek. Terus gara-gara apa lagi kalian debat?"
"Nadira... tadi siang kabur dari kantor buat ketemu cowok dari aplikasi kencan, Tante," jawab Askara jujur dengan nada tenang.
Mata Dinan membelalak. "Apa?! Aplikasi kencan?!"
"Iya. Tapi ya gitu... ujung-ujungnya ngenes lagi. Cowok yang ditemuinya ternyata udah beristri dan istrinya labrak ke kafe."
Dinan menepuk dahinya keras-keras, menghela napas panjang penuh keheranan. "Ya Tuhan, Nadira! Kapan sih anak itu pinter milih cowok? Selalu aja dapet yang aneh-aneh! Terus kamu yang nolongin dia lagi, Ka?"
"Iya, Tante. Askara langsung bawa dia pulang ketimbang nangis di depan umum," kata Askara lembut. "Askara susul ke atas dulu ya, Tante. Mau minta maaf."
"Iya, samperin sana. Biar Tante buatkan es teh manis buat kamu," sahut Dinan.
Di lantai dua, Askara berdiri di depan pintu kamar bernuansa krem itu. Dari dalam, terdengar suara gerutuan dan bantingan bantal yang tak henti-hentinya.
Tok! Tok! Tok!
"Nad, buka pintunya," panggil Askara pelan.
"GAK MAU! PERGI LO MESUM!" teriak Nadira dari dalam. Suaranya terdengar agak serak karena habis menangis.
"Nadira, gue mau minta maaf. Buka sebentar."
"GUE BENCIIII SAMA LO, ASKARA! JANGAN DEKET-DEKET GUE LAGI!"
Askara menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya terulur meraih gagang pintu. Ia sengaja mendorongnya pelan. Pintu kayu itu terbuka tanpa hambatan. Askara tahu betul, selama belasan tahun ini, Nadira tidak akan pernah mengunci pintu kamarnya.
Sebuah trauma masa kecil—saat Nadira pernah terkunci di dalam kamar mandi sekolah selama lima jam saat mati listrik—membuat wanita itu memiliki ketakutan luar biasa pada ruang tertutup yang terkunci. Dan Askara sangat paham celah itu.
Begitu pintu terbuka, sebuah bantal guling melayang tepat ke arah wajah Askara.
BUGH!
Askara menangkap guling itu dengan santai. Di atas kasur, Nadira duduk bersila dengan mata sembap, rambut acak-acakan, dan tangan yang menunjuk-nunjuk Askara dengan sengit.
"K-kok lo bisa masuk?! Gue kan gak nyuruh lo masuk!" jerit Nadira panik, menarik selimut sampai ke dada.
"Pintu lo gak dikunci, Nad," kata Askara tenang, melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya tanpa memutarkan kunci. Ia melangkah mendekati kasur, lalu mengambil posisi berlutut di samping tempat tidur Nadira agar posisi mata mereka sejajar.
"Jangan deket-deket! Lo... lo penjahat kelamin!" tuduh Nadira defensif, melotot galak walau matanya yang sembap justru membuatnya tampak menggemaskan.
Askara menatap mata Nadira lurus-lurus. Tatapan matanya kali ini sangat lembut dan penuh penyesalan. Tangannya terulur mencoba meraih jemari Nadira, meski wanita itu langsung menarik tangannya menjauh.
"Nad, gue beneran minta maaf," suara Askara terdengar sangat tulus dan dalam. "Gue tahu tindakan gue di mobil tadi salah. Gue emosi, gue cemburu, dan gue terdorong batas kesabaran gue. Gue minta maaf udah bikin lo kaget dan nangis."
Nadira tertegun sejenak mendengar penyesalan yang begitu halus. Namun gengsi di dadanya langsung membakar kembali amarahnya.
"Minta maaf lo bilang?! Gampang banget lo ngomong! Itu ciuman pertama gue, Askara! Lo main comot aja tanpa permisi!" bentak Nadira dengan bibir cemberut.
"Iya, gue tahu. Gue salah," aku Askara tanpa membantah sedikit pun. "Maka dari itu, sebutin apa aja permintaan lo biar lo mau maafin gue. Lo mau tas baru? Mau liburan? Mau perhiasan? Atau mau gue traktir makan sebulan penuh? Apapun bakal gue turutin, asal lo berhenti nangis dan maafin gue."
Nadira mendengus keras, menyilangkan tangan di dada. "Gak sudi! Gue gak bisa dibeli pake barang-barang kayak gitu!"
Askara menghela napas panjang, menatap wanita keras kepala di hadapannya itu dengan kasih sayang yang meluap-luap.
"Ya udah, kalau barang gak mau... gue tawarkan diri gue sendiri buat bertanggung jawab," ujar Askara dengan nada bicara yang mendadak serius.
"B-bertanggung jawab apaan?!"
"Tanggung jawab atas ciuman tadi," bisik Askara mantap. "Kita nikah. Bulan depan, pas ulang tahun lo yang ke-30. Gue bakal jadi suami yang bertanggung jawab buat lo seumur hidup."
Mata Nadira membelalak lebar-lebar. Rahangnya nyaris jatuh ke lantai mendengar kegilaan pernyataan sahabatnya itu.
"SETAN LO, ASKARA! ITU NAMA CURI-CURI KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN, BANGSAT!" jerit Nadira histeris. Ia menyambar semua bantal yang ada di atas kasur dan melemparnya berturut-turut ke tubuh Askara. "SIAPA YANG MAU NIKAH SAMA PEJAHAT KELAMIN KAYAK LO?! PERGIIIII!"
BUGH! BUGH! BUGH!
Askara hanya tertawa pasrah membiarkan dirinya dihujani bantal oleh Nadira. Suara teriakan konyol Nadira membumbung tinggi hingga terdengar jelas sampai ke lantai bawah.
Di dapur lantai satu, Dinan sedang mengaduk es teh manis di dalam pitcher kaca. Suara teriakan Nadira dari atas membuat tangannya terhenti sejenak.
"ASKARA MESUM! PENJAHAT KELAMIN! PERGI GAK LO DARI KAMAR GUE?!"
BUGH!
Dinan hanya menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman tipis yang terukir di bibirnya.
"Dasar anak konyol..." gumam Dinan pelan pada dirinya sendiri. "Udah umur mau tiga puluh tahun tapi kalau sama Askara kelakuannya tetep aja kayak anak SD berantem berebut mainan."
Dinan meletakkan pitcher es teh ke atas nampan. Ia sama sekali tidak panik atau khawatir. Sebagai seorang ibu yang sudah mengenal Askara sejak pria itu masih berpopok, Dinan tahu betul tidak ada pria di dunia ini yang bisa mencintai dan menjaga putri keras kepalanya itu melebihi Askara Pradipta.
semangat terus thor...
/Heart/