*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam Belas
# Enam Belas
Wanita berparas sendu itu hanya diam, ketika sekali lagi Leon mengutarakan pernyataan ajakan tinggal bersama atau menikah, yang bagi Hanum bagai bualan belaka. Hanum rasanya tak ingin menangapi perkataan Leon tersebut.
Pulang dari taman hiburan, mereka tak kembali ke penitipan anak. Leon malah mengendarakan mobilnya ke rumah sang Mama.
“Mengapa kita ke mari?”
“Mama pasti senang bertemu Sean dan kamu.”
Hanum terdiam, tak berkomentar apa-apa lagi. Ia turun dari mobil, ikut dengan Leon sembari mengandeng tangan putrinya. Mereka memasuki halaman yang sepanjang kanan dan kiri dipenuhi pot-pot besar dengan tanaman yang harganya pasti cukup lumayan.
Wanita itu sempat melirik, tanaman yang sedang viral dengan harga fantastis itu berjejer rapi di halaman rumah orang tua Leon. Wajar saja sih, sebab keluarga Leon memang setau Hanum sangat kaya raya. Namun ia tidak pernah silau, buktinya ia selalu menolak pinangan Leon.
“Ma...!” Leon memanggil-manggil Mamanya. “Bi, Mama ke mana kok sepi?” tanyanya pada asisten rumah tangga yang sedang membersihkan rumah.
“Ada, Tuan. Nyonya dari pagi belum keluar kamar.”
“Tunggu di sini, aku panggil Mama.” Leon setengah berlari menaiki tangga dari kayu tersebut.
Begitu sampai pintu kamar, Leon membuka pintu. Tidak dikunci, Leon pun langsung masuk. “Ma ada Hanum dan Sean di sini.”
Leon mencari Mamanya, aneh. Di mana-mana ia tak mendapati sang Mama. Kata asisten rumah tangga, Mama ada di kamar. Lah ini tak ada, Leon pun masuk semakin dalam. Kamar Mama memang luas, jadi Leon harus ke sana ke mari untuk mencari sosok wanita paruh baya tersebut.
Cekrek
Leon membuka kamar ganti paling ujung, mungkin mamanya ada di sana.
“Ma!” pekik Leon saat melihat wanita yang mulai tumbuh uban di sekujur rambutnya itu, tergeletak tak berdaya di depan lemari pakaian.
Leon lantas membawa mamanya ke tempat tidur dengan susah payah, meski tenaganya cukup besar. Tapi berat badan Mama kala itu cukup lumayan. Padahal Leon sudah mengingatkan sang Mama, agar menjaga pola hidup sehat.
“Ma... bangun Ma!” Leon memegangi pipi wanita yang bibirnya sudah pucat, ia cemas. Lantas berteriak memanggil sopir, agar disiapkan mobil untuk ke rumah sakit.
Mendengar keributan di lantai atas, Hanum mengendong Sean untuk naik ke tangga. “Ada apa dengan Tante?” Hanum juga ikut cemas saat melihat Mama Leon pingsan.
“Hanum, kalian di sini saja. Aku akan ke rumah sakit.”
“Tidak, aku akan ikut dengan kalian.”
Semua pun masuk dalam mobil, mengikuti ambulan yang membawa Mama Leon menuju rumah sakit. Karena naik mobil ambulan, maka tidak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah sakit. Semua kendaraan menepi memberikan jalan ketika sirene ambulan itu berbunyi.
Begitu sampai, Mama langsung ditangani oleh tenaga medis. Hanum dapat melihat raut kecemasan di muka pria yang mondar-mandir di depannya. Ingin menenangkan, Hanum memegang tangan pria tersebut.
“Tante pasti baik-baik saja,” ucap Hanum.
Lama mereka semua menunggu, akhirnya dokter muncul dari balik pintu. Begitu pria berpakaian serba biru dengan masker dan penutup kepala itu keluar. Leon langsung memberondong dengan banyak pertanyaan seputar kesehatan sang Mama.
“Bagaimana keadaan Mama saya, Dok? Mengapa bisa pingsan seperti itu?”
“Gula darahnya cukup tinggi dan tekanan darahnya juga, mohon agar dijaga suasana hati beliau. Karena tidak boleh berpikir terlalu keras.”
Setelah mengatakan hal itu, dokter pergi meninggalkan Leon. Karena masih ada pasien lain yang juga harus ia tangani.
Leon ketika diijinkan masuk, ia pun langsung menghampiri Mamanya. “Ma...!”
Mama hanya mengedipkan matanya, kemudian membuka oksigen yang terpasang di mulutnya. Dengan susah paya, ia mencoba mengatakan sesuatu. Diliriknya Hanum yang berdiri tak jauh dari sana.
Leon mendekatkan mukanya, agar dapat mendengar perkataan sang Mama. “Ada apa, Ma?”
“Mama ingin melihat kalian menikah,” ucap Mama dengan susah payah.
Leon jadi bingung, bukannya ia tidak mau. Ia sudah mengajak Hanum menikah berulang kali, hanya saja wanita itu enggan mengatakan iya pada dirinya.
“Ma...!” Leon jadi repot mau mengatakan apa.
Sesaat kemudian, detak jantung Mama terdengar melemah. Leon menatap monitor yang ada di samping ranjang Mamanya.
Ada apa ini, biasanya Mamanya sehat-sehat saja. Kenapa jadi mendadak ngedrop seperti ini. Leon bergegas keluar kamar mencari dokter serta perawat.
Setelah itu, seorang dokter kembali memeriksa keadaan Mama Leon. “Biarkan pasien istirahat dulu.” Dokter meminta agar semua orang tak masuk ke dalam ruangan.
Mama sendiri kembali tertidur karena obat yang diberikan oleh dokter. Sementara itu Leon terlihat resah dan gelisah di depan ruangan. Ia bersandar di tembok, duduk dan berdiri lagi.
Hanum hanya memperhatikan saja, Sean sendiri sudah tidur di pangkuannya. Beberapa saat kemudian, barulah Leon menatap ke arahnya.
“Akan aku minta sopir untuk mengantar kalian,” Leon terlihat lelah dan tak bersemangat saat menunggu wanita yang telah melahirkannya itu. Mamanya adalah keluarga Leon satu-satunya, ia tak bisa membayangkan bila terjadi sesuatu pada Mamanya.
“Aku akan menunggu di sini.”
“Jangan begitu Hanum, kasian Sean. Pulanglah.”
“Dan lagi, jangan suka memaksa dan menyuruhku!” Hanum memang terbiasa mandiri dan sendiri, keputusan selalu ada di tangannya sendiri.
“Aku kasihan pada Sean.”
“Tidak apa-apa.”
“Aku yang apa-apa, bila terus melihatmu di sini. Mama akan terus menekan ku untuk menikahi mu!”
Hanum diam, benar apa kata Leon. Tapi ia tak tega meninggalkan pria tersebut. ‘Hanum? Apa kamu mulai ada rasa padanya?’ gumamnya.
Leon kembali duduk, menundukkan wajahnya dengan dalam. Ia sebenarnya ingin mengabulkan permintaan sang Mama, tapi bagaimana lagi. Hanum tak mau juga diajak menikah.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan!” Hanum pindah posisi, sambil mengendong Sean. Ia kini duduk di samping Leon.
Leon yang tak mengerti maksud hati Hanum, hanya mengangkat kepalanya. Menatap penuh tanya pada wanita tersebut.
“Pura-pura menikah saja, bila Mama sembuh. Mari kita berpisah.”
“Jangan gila kamu Hanum!” Leon menolak keras ide wanita itu, ia memang ingin menikahi Hanum. Tapi bukan pernikahan pura-pura. Apalagi ada kesepakatan awal untuk berpisah.
“Kenapa? Bukankah Tante ingin melihat kita menikah? Kalau untuk menikah sungguhan, maaf aku gak akan bisa. Namun, bila untuk membuat Tante lebih baik. Aku bisa melakukan pernikahan pura-pura.”
Leon nampak berpikir, ini mungkin bisa membantu membuat Mamanya lebih baik. Tapi, pura-pura menikah?
“Aku tidak ingin pernikahan palsu Hanum, maaf bila sebelumnya aku jahat padamu di masa lalu. Tapi aku benar-benar ingin menebus kesalahanku.”
Ganti Hanum yang diam, keduanya sama-sama membisu dalam kediaman.
“Satu tahun! Mari menikah selama satu tahun!” ucap Leon kemudian. “Bukan pernikahan pura-pura. Bila aku memperlakukanmu dengan buruk, maka aku tak akan mengejar mu lagi, kamu akan bebas tanpa ada bayang-bayang dariku!” tambah Leon sembari menatap Hanum dengan tatapan tulus.
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️