Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Jasmine Tan sudah menonton videonya sendiri lebih dari dua puluh kali.
Setiap kali layar ponsel memutar kalimatnya, setiap kali kolom komentar menertawakan nama keluarga Tan, sesuatu di dalam dadanya seperti diperas sampai tinggal api.
Anak haram keluarga Tan.
Putri lama yang dibuang.
Jasmine takut kakaknya sendiri?
Kalimat-kalimat itu muncul di akun gosip, di grup sosialita, bahkan di kolom komentar brand yang pernah memintanya menjadi wajah kampanye. Satu per satu undangan makan siang dibatalkan. Dua teman dekatnya membaca pesan tanpa membalas. Manajer butik yang biasanya tersenyum padanya kini meminta jadwalnya ditunda.
Semua karena Lim Mei Li.
Di kamar tidurnya, Jasmine melempar ponsel ke sofa.
"Aku tidak akan kalah dari perempuan buangan itu."
Rachel Gu berdiri di dekat meja rias, wajahnya lelah tetapi matanya tetap tajam. "Kamu diam dulu beberapa hari. Papa sedang mengurus aset. Jangan tambah masalah."
"Mama juga takut padanya?"
"Jasmine."
"Jawab!" Jasmine berbalik, rambutnya berantakan, matanya merah. "Semua orang di rumah ini sekarang hanya bicara pelan-pelan, seolah dia hantu. Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya anak yang dulu kalian buang!"
Rachel menamparnya.
Suara itu membuat kamar sunyi.
Jasmine memegang pipinya, tidak percaya. "Mama..."
"Justru karena dia anak yang dulu kami buang, dia berbahaya." Suara Rachel bergetar karena marah, bukan takut. "Orang yang kembali setelah seharusnya hancur tidak akan berhenti hanya karena kamu menangis di kamar."
Jasmine menatap ibunya lama.
Lalu ia tersenyum.
"Kalau begitu, kita buat dia berhenti bernapas."
Rachel membeku. "Jangan bodoh."
Namun Jasmine sudah mengambil ponsel lain dari laci. Bukan ponsel utama. Ponsel kecil tanpa casing, hanya dipakai untuk menghubungi orang-orang yang tidak boleh muncul di tagihan keluarga.
"Kamu mau apa?"
"Mengirim hadiah."
"Jasmine, dengarkan Mama."
"Tidak." Jasmine menatap ibunya melalui cermin. "Selama perempuan itu hidup, semua orang akan membandingkanku dengannya. Aku muak."
Rachel melangkah maju, tetapi Jasmine sudah menekan tombol panggil.
***
Sore itu, sebuah kotak buah tiba di gerbang villa Lim Mei Li.
Kotaknya cantik, dibungkus pita putih, berisi potongan mangga harum manis, beberapa kue kecil, dan satu kartu tulisan tangan.
Untuk tetangga yang belum sempat mencicipi mangga kemarin.
Tidak ada nama.
Bella menerima paket itu dari kurir dengan wajah tanpa ekspresi. Kurir muda itu tampak gugup, terlalu sering melihat ke arah jalan.
"Siapa pengirimnya?" tanya Bella.
"Saya hanya antar, Bu. Pesanan lewat aplikasi."
Amy yang berdiri di belakang mengambil foto plat motor dan wajah kurir tanpa suara. "Tinggalkan di meja luar."
Kurir pergi terlalu cepat.
Di dalam villa, Mei Li membaca kartu itu sekali. Ujung jarinya berhenti di huruf terakhir.
"Bukan tulisan Arka," katanya.
Bella sudah membuka alat uji cepat. "Saya juga tidak suka baunya."
Amy memasang sarung tangan, mengambil sampel kecil dari salah satu kue. Lima menit kemudian, layar alat menunjukkan peringatan merah.
Ruangan menjadi hening.
Bella menatap kotak itu seperti ingin menghancurkannya. "Racun."
Amy mengoreksi dengan suara datar, "Zat berbahaya dosis tinggi. Cukup untuk membuat seseorang tidak bangun kalau dimakan malam ini."
Mei Li meletakkan kartu itu di atas meja.
Tidak ada kemarahan di wajahnya. Itu yang membuat Amy dan Bella lebih waspada.
"Jasmine?" tanya Amy.
"Terlalu ceroboh untuk Rachel. Terlalu emosional untuk Tan Bao Shan. Ya, Jasmine."
Bella mengatupkan rahang. "Izinkan saya menyelesaikannya."
"Tidak."
"Boss, dia mencoba membunuh Anda."
"Dan memalsukan hadiah dari Arka." Mei Li menatap kartu itu. Suaranya tetap pelan, tetapi ruangan terasa turun beberapa derajat. "Itu lebih bodoh daripada berani."
Amy sudah membuka laptop. "Kita punya kurir, aplikasi, CCTV gerbang, dan sampel. Saya bisa serahkan ke polisi malam ini."
"Serahkan semuanya."
Bella menatapnya. "Hanya itu?"
Mei Li mengambil ponselnya. "Tidak."
Ia mengirim satu video pendek ke nomor yang baru saja dilacak Karl. Video itu memperlihatkan kotak buah, kartu palsu, hasil uji, dan wajah kurir di gerbang.
Pesannya hanya satu baris.
Kamu memilih cara paling murah untuk mati secara mahal.
***
Jasmine membaca pesan itu di toilet sebuah salon pribadi.
Tangannya langsung gemetar.
"Tidak mungkin," bisiknya. "Tidak mungkin secepat itu."
Nomor perantara tidak bisa dihubungi. Kurir tidak menjawab. Akun aplikasi yang dipakai sudah terhapus, tetapi itu tidak berarti apa-apa kalau Lim Mei Li benar-benar punya semua bukti.
Pintu toilet diketuk.
"Mbak Jasmine? Ada wartawan di depan salon. Mereka tanya soal paket untuk Miss Lim."
Darah Jasmine seperti berhenti.
Wartawan?
Bagaimana bisa secepat itu?
Ia membuka pintu dengan kasar, melewati pegawai salon yang ketakutan. Di layar televisi kecil dekat resepsionis, berita online sudah menampilkan judul awal:
Sosialita J Diduga Kirim Paket Berbahaya ke Korban Sengketa Keluarga Tan.
Belum ada nama lengkap. Tetapi semua orang tahu.
Jasmine berlari ke mobilnya.
Sopir pribadi menahan pintu. "Mbak, sebaiknya saya yang bawa. Di depan banyak media."
"Minggir!"
"Tapi Mbak Jasmine..."
Ia mendorong sopir itu dan masuk ke kursi pengemudi. Mesin menyala dengan raungan kasar. Di luar gerbang salon, dua wartawan mengangkat kamera. Satu motor mengikuti ketika mobil Jasmine melaju terlalu cepat ke jalan utama.
Ponselnya terus berdering.
Mama.
Papa.
Stella.
Nomor tidak dikenal.
Semua suara itu bercampur dengan klakson, hujan yang mulai turun, dan napasnya sendiri yang patah-patah.
Ia tidak tahu harus pergi ke mana. Pulang berarti menghadapi Rachel. Ke Tan Residence berarti menghadapi Tan Bao Shan. Ke polisi berarti menyerahkan diri. Ke Lim Mei Li berarti mati dengan mata terbuka.
"Tidak," Jasmine terisak marah. "Aku tidak akan hancur sendirian."
Ia meraih ponsel, mencoba menghubungi perantara sekali lagi.
Lampu lalu lintas di depannya berubah merah.
Sopir truk di jalur kanan membunyikan klakson panjang.
Orang-orang di trotoar berteriak.
Jasmine mengangkat kepala terlalu lambat.
Suara benturan itu terdengar sampai ke pos keamanan ujung jalan.
***
Malam turun di Menteng Regency dengan hujan yang lebih deras.
Mei Li berdiri di depan jendela ruang kerjanya ketika Amy masuk membawa kabar.
"Jasmine Tan meninggal di perjalanan ke rumah sakit."
Tidak ada kilat di wajah Mei Li. Tidak ada kepuasan yang kasar. Hanya keheningan panjang.
Bella berdiri di belakang Amy, rahangnya masih kaku. "Polisi sudah mengamankan sisa paket. Media belum menyebut nama Anda secara langsung."
"Bagus."
Amy menatapnya. "Nona, Tan family akan menyalahkan Anda."
"Mereka boleh mencoba."
Di meja, kotak paket palsu sudah tertutup dalam wadah bukti. Kartu yang meniru tulisan Arka diletakkan terpisah. Mei Li menatap kartu itu beberapa detik lebih lama daripada benda lain.
"Kirim salinan bukti ke pihak Arka," katanya.
Amy sedikit terkejut. "Langsung ke Pak Arka?"
"Dia berhak tahu namanya hampir dipakai untuk pembunuhan."
"Baik."
Sepuluh menit kemudian, ponsel Mei Li bergetar lagi.
Kali ini nama Arka muncul di layar.
Mei Li menatap panggilan itu beberapa detik sebelum mengangkat. "Pak Arka."
"Saya baru menerima berkas dari tim Anda," suara Arka terdengar tenang, tetapi ada sesuatu yang lebih gelap di bawahnya. "Kartu itu tidak dari saya."
"Saya tahu."
"Secepat itu?"
"Tulisan Anda terlalu rapi. Yang ini berusaha terlihat rapi."
Di seberang, Arka diam sebentar. Ketika ia bicara lagi, suaranya sedikit lebih rendah. "Maaf nama saya dipakai untuk membuat Anda lengah."
Mei Li memandang kartu palsu di atas meja. "Itu bukan salah Anda."
"Tetap saja, lain kali jika ada kiriman atas nama saya, jangan makan sebelum saya sendiri yang berdiri di depan pintu."
"Anda berencana sering mengirim makanan?"
"Saya berencana memastikan tetangga saya tidak diracuni."
Kalimat itu seharusnya terdengar ringan. Namun di telinga Mei Li, ada kekhawatiran yang tidak dipoles menjadi basa-basi. Bukan panik. Bukan ingin mengatur. Hanya perhatian yang berdiri di tempatnya sendiri.
"Saya baik-baik saja," katanya akhirnya.
"Saya tidak bertanya."
"Tapi Anda menunggu jawaban itu."
Arka tertawa pelan, nyaris tidak terdengar. "Ternyata saya mudah dibaca."
"Tidak." Mei Li menurunkan pandangan. "Hanya saja Anda tidak terlalu pandai menyembunyikan hal baik."
Setelah panggilan berakhir, ruangan kembali sunyi. Amy pura-pura memeriksa tablet. Bella menatap dinding dengan disiplin berlebihan.
"Kalian berdua boleh bernapas," kata Mei Li.
Amy langsung menunduk. "Kami bernapas, Nona."
Bella menambahkan datar, "Hanya sangat pelan."
Untuk pertama kalinya malam itu, ketegangan di ruang kerja sedikit retak.
***
Di Tan Residence, tidak ada satu pun lampu yang terasa cukup terang.
Jenazah Jasmine belum dibawa pulang, tetapi kabar kematiannya sudah sampai lebih dulu, menghancurkan rumah itu dari dalam. Edmond duduk di sofa dengan wajah kosong. Ia terus mengulang nama putrinya, tetapi tidak bangkit, seolah tubuhnya menolak memahami apa yang terjadi.
Stella menangis di sudut ruangan, bukan tangis keras, melainkan isak kecil yang takut didengar. Michelle menelepon rumah sakit, pengacara, dan orang-orang media, suaranya pecah setiap kali harus berkata, "Jangan sebut nama keluarga dulu."
Tan Bao Shan berdiri di dekat jendela, punggungnya membungkuk lebih tua daripada pagi tadi.
"Siapa yang menyuruhnya mengirim paket itu?" tanyanya.
Tidak ada yang menjawab.
Rachel berdiri di tengah ruangan seperti patung. Gaun rumahnya masih rapi. Rambutnya masih tersisir. Namun wajahnya kosong, terlalu kosong untuk seorang ibu yang baru kehilangan anak.
Edmond akhirnya menatapnya. "Kamu tahu?"
Rachel tidak berkedip.
"Rachel," suara Edmond berubah serak. "Kamu tahu Jasmine melakukan itu?"
"Dia anak kita," kata Rachel pelan. "Dia hanya ingin melindungi tempatnya."
Edmond berdiri, tetapi Tan Bao Shan lebih dulu menghantam lantai dengan tongkat.
"Bodoh!" Lelaki tua itu berteriak sampai napasnya tersengal. "Kalian semua bodoh. Lim Mei Li tidak membunuh Jasmine. Jasmine memberikan lehernya sendiri ke tangan perempuan itu."
Rachel menoleh pelan ke arah Tan Bao Shan. Sesuatu dalam matanya pecah, lalu menyala kembali dalam bentuk lain.
"Kalau begitu," katanya, "kita ambil tangan perempuan itu."
Ponsel Mei Li menyala. Bukan dari Arka. Dari nomor tidak dikenal.
Tidak ada teks panjang. Hanya satu foto.
Rachel Gu berdiri di depan cermin, memakai gaun hitam. Riasannya sempurna, tetapi matanya merah. Di pantulan kaca, bibirnya bergerak seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Pesan berikutnya masuk.
Ini baru permulaan.