Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Pagi harinya, atmosfer dingin dan lembap masih membungkus sudut-sudut lorong tersembunyi di Velvet Noir.
Lucifer melangkah tegap, menghentakkan sepatu kulitnya di atas lantai granit. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu kayu tebal yang bertuliskan angka '101'—kamar pribadi tempat La Bonna dikurung.
Dengan raut wajah kaku dan sigap, Lucifer mengetuk pintu itu beberapa kali cukup keras.
"Tuan Nolan, apa Anda di dalam?" panggil Lucifer, menaikkan volume suaranya agar getaran vokalnya bisa menembus dinding tebal dan terdengar hingga ke ujung ruangan.
Tanpa menunggu jeda lama, ia kembali melanjutkan tujuannya datang ke sana. "Saya ingin memberitahukan kabar bahwa Brian dan Brayen sudah kembali dari perbatasan."
KLIK.
Mekanisme kunci pintu berbunyi. Pintu kamar 101 terbuka dari dalam.
Sosok tinggi kekar Nolan muncul di ambang pintu. Pria itu tengah sibuk mengancingkan kemeja hitam mahalnya dari bawah ke atas, memperlihatkan separuh dada bidangnya yang dipenuhi tato hitam dan bekas luka garis memanjang.
"Katakan pada mereka untuk menemuiku di ruanganku," perintah Nolan singkat, suaranya parau khas orang yang baru bangun dari lelap.
"Mereka sudah menunggu di sana, Tuan," sahut Lucifer sigap.
Gerakan jemari Nolan yang tengah memasangkan kancing kemejanya mendadak terhenti. Pria itu mengalihkan pandangan matanya, menatap tajam ke arah Lucifer dengan sebuah sorot mata yang teramat pekat—sebuah ekspresi yang sulit diartikan bahkan oleh Lucifer sekalipun.
Sebagai orang kepercayaan dan tangan kanan terdekatnya, Lucifer paham betul setiap kebiasaan dan gestur tubuh tuannya. Namun, jika sudah berkaitan dengan isi kepala, jalan pikiran, atau arti di balik perubahan ekspresi Nolan, hal itu selalu menjadi teka-teki yang mustahil untuk dibaca oleh manusia mana pun.
"Jam berapa sekarang?" tanya Nolan kemudian, nadanya terdengar datar namun ada nada keheranan yang tersembunyi tipis.
Lucifer mengerlingkan matanya ke pergelangan tangan kirinya. "Hampir jam 8 pagi, Tuan!" jawab Lucifer tegas.
Mendengar jawaban tersebut, untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun Lucifer mengabdi, ia melihat kedua mata tuannya melebar perlahan. Nolan tampak tertegun, seolah-olah ia sendiri tidak menyangka dan tidak percaya dengan angka yang baru saja terucap dari mulut Lucifer.
Melihat reaksi tak biasa dari tuannya, Lucifer secara refleks melangkah maju dan menyodorkan lengan kirinya yang melingkar jam tangan mahal ke hadapan Nolan sebagai bukti nyata.
Nolan hanya terdiam. Sorot matanya melirik dingin pada angka digital di jam tangan tersebut selama beberapa detik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membela diri atau mengekspresikan keterkejutannya, pria mafia itu berbalik dan melangkah pergi melewati Lucifer begitu saja, meninggalkan pintu kamar 101 yang masih setengah terbuka.
Lucifer tidak langsung menyusul langkah tuannya. Dari posisinya berdiri di ambang pintu, pandangan matanya secara tidak sengaja bergulir melintasi celah pintu yang terbuka, mengarah lurus ke area ranjang di dalam kamar.
Di atas kasur yang berantakan itu, tampak La Bonna berbaring lemah di balik balutan seprai tipis. Kedua pergelangan tangannya kini telah terbelenggu erat oleh borgol besi yang terikat di kepala ranjang.
Lucifer membeku sejenak di tempatnya berdiri. Ia tidak tahu pasti... apakah tuannya baru saja menyiksa dan bermain-main dengan tubuh tawanan itu hingga larut pagi, ataukah tuannya benar-benar ketiduran dan terlelap di ruangan yang sama dengan La Bonna hingga pukul delapan pagi.
Satu hal yang pasti: tidur di kamar tawanan adalah sebuah hal yang teramat mustahil untuk dilakukan oleh seorang Ezequiel Nolan Ashford. Apalagi La Bonna bukanlah sekadar wanita pemuas nafsu biasa, melainkan seorang musuh—seorang penyusup yang dikirim langsung oleh musuh bebuyutannya, Dorris.
Lucifer sangat paham bagaimana kejamnya tabiat sang tuan. Ia paham betul bahwa nyawa seseorang sama sekali tidak ada artinya di tangan Nolan selama pria itu menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di markas ini.
Pikiran Lucifer mendadak melayang mundur sebulan yang lalu, teringat saat pertama kali ia mengenal dan melihat sosok La Bonna yang datang ke tempat ini.
Wajah Bonna yang begitu mirip dengan mendiang Electra—membuat Lucifer terkejut pada awalnya.
Di Velvet Noir ini, Lucifer adalah salah satu dari sedikit orang kepercayaan tua yang pernah melihat secara langsung wajah asli Electra saat wanita itu masih hidup, selain Alena dan para pengawal senior.
Namun, rentetan keanehan yang ditunjukkan oleh Nolan belakangan ini terus memicu pertanyaan besar di dalam benak Lucifer.
Pertama, tuannya membiarkan La Bonna tetap bernapas dan hidup. Ini sama sekali bukan pertama kalinya Dorris mengirimkan mata-mata atau penyusup untuk meretas markas Velvet Noir. Dan sejarah mencatat, semua penyusup terdahulu selalu mati mengenaskan hanya dalam satu tembakan tepat di dahi, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun.
Tapi La Bonna berbeda. Wanita itu justru dibiarkan bernapas, diberi tempat, dan bahkan kini dibiarkan bergerak di sekitar panggung.
Memang benar, Alena sempat mengancam akan bunuh diri jika Bonna dibunuh hari itu.
Namun Lucifer tahu betul, ancaman bunuh diri Alena bukanlah hal yang baru. Setiap kali ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan Alena, gadis muda yang keras kepala itu pasti akan selalu berakhir mengancam untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Itu adalah trik lama Alena.
Beberapa orang atau anak buah di Velvet Noir mungkin mengira bahwa Nolan membiarkan La Bonna hidup hanya karena wajah wanita itu sangat mirip dengan mendiang kekasihnya yang sudah mati.
Namun sebagai orang kepercayaan yang mengerti seluk-beluk kegelapan Tuan Nolan, Lucifer mampu menebak bahwa alasan sentimental seperti itu sangatlah tidak mungkin menjadi alasan utama Nolan.
Justru sebaliknya... karena wajah Bonna teramat mirip dengan Electra, seharusnya La Bonna sudah dipastikan tewas dieksekusi sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di lantai ini. Namun, kini satu bulan penuh telah berlalu, dan La Bonna masih hidup, bahkan bergerak cukup bebas di bawah naungan Nolan.
Nolan adalah pria yang teramat benci pada kelemahan. Dahulu, setelah para musuh mafia mengetahui bahwa Electra adalah kekasih hati dari seorang Ezequiel Nolan Ashford, mereka mulai menjadikan Electra sebagai target utama untuk menghancurkan Nolan.
Dan bagaimana respons pria iblis itu? Dengan cara yang teramat kejam dan tanpa ragu, Nolan menggunakan tangannya sendiri untuk membunuh Electra yang malang saat wanita itu sedang mengandung anaknya.
Bahkan dari informasi rahasia yang Lucifer ketahui dari Dokter Dorsila dan Dokter Adrian—yang kala itu menangani dan membedah langsung jasad Electra—organ-organ tubuh wanita itu langsung dijual ke pasar gelap atas perintah dingin Nolan sendiri.
Lucifer memejamkan matanya rapat-rapat saat ingatan itu berputar di kepalanya. Ia teringat bagaimana dulu dirinya sendiri harus berlutut, memohon-mohon, dan mengucap sumpah setia menjadi bawahan Nolan sampai mati hanya demi menyelamatkan nyawa Alena.
Saat itu, Alena yang merupakan adik Nolan juga hampir dieksekusi oleh Nolan sendiri, karena para musuh mulai membidik Alena sebagai titik lemah sang ketua mafia.
Alasan utama mengapa Lucifer mau bertahan dan membusuk di dalam lingkaran neraka Velvet Noir ini adalah karena di sini ada Alena. Lucifer telah lama mencintai gadis itu dengan tulus di dalam diam.
Maka dari itu, Lucifer terus bertanya-tanya berulang kali di dalam hatinya: apa alasan sebenarnya di balik semua tindakan Nolan? Seharusnya tuannya sudah membunuh Bonna sejak awal sebelum wanita itu mendatangkan masalah yang jauh lebih besar dan menghancurkan mereka di masa depan.
Dan hal yang semakin membuat Lucifer kebingungan adalah tingkah laku sang tuan sejak semalam.
Semalam, Nolan secara mengejutkan duduk di sofa lantai mezanin atas hanya untuk melihat para penari erotis beraksi di panggung bawah. Itu adalah sebuah fenomena yang sangat langka.
Tuan Nolan biasanya akan mengurung diri di dalam ruang kerjanya yang ketat daripada harus membuang-buang waktu berharga hanya untuk menyaksikan para wanita bekerja menari erotis demi menghibur pelanggan hidung belang. Jika pria itu benar-benar merasa jenuh atau penat, biasanya ia hanya akan langsung berkunjung ke kamar Seraphina—pelacur kesayangannya—untuk mendapatkan hiburan singkat.
Dan pagi ini, teka-teki itu semakin membuat kepala Lucifer berdenyut kencang.
Tuannya memiliki riwayat insomnia dan kesulitan tidur yang teramat parah.
Suasana atau pergerakan sekecil apa pun di sekitarnya bisa seketika membangunkan Nolan dari lelapnya, lengkap dengan pisau lipat perak yang selalu siap siaga di tangannya untuk menggorok leher siapa saja.
Memiliki puluhan musuh di luar sana membuat insting kewaspadaan Nolan menjadi sangat sensitif dan paranoik. Dalam sehari, Nolan biasanya hanya memiliki waktu tidur tidak lebih dari dua jam saja.
Namun pagi ini... sang penguasa Velvet Noir justru tertidur lelap hingga hampir pukul delapan pagi bersama La Bonna! Bukan bersama Seraphina.
Lagipula, jikalau Nolan menghabiskan malam bersama Seraphina sekalipun, pria itu dipastikan akan selalu membakar tubuhnya lalu kembali untuk tidur di kamarnya sendiri. Belum pernah ada sejarah dalam hidup Nolan di mana pria itu menginap atau tidur terlelap di kamar salah satu pekerja atau tawanannya.
Lucifer, yang biasanya setiap pagi selalu menjemput sang tuan di ruang kerja pribadinya—di mana Nolan biasanya sudah duduk rapi di balik meja dengan jari memijat kening akibat kurang tidur—kini justru menyaksikan tuannya keluar dari kamar 101 dengan wajah yang tampak segar. Nolan sama sekali tidak terlihat seperti pria paruh baya yang menderita kurang tidur kronis seperti hari-hari biasanya.
Bahkan, tadi pagi saat mendapati ruang kerja pribadi Nolan kosong melompong, Lucifer sempat mengira bahwa sang tuan telah bertolak dan terbang kembali ke Italia secara diam-diam tanpa sepengetahuan dirinya.
Lucifer dibuat sangat terkejut saat para pengawal koridor memberitahunya bahwa sang tuan rupanya berada dan menetap di dalam kamar 101 sejak semalam suntuk.
°°
Lucifer membuang napas panjang, menarik kembali pandangannya dari kamar 101, lalu menutup pintu kayu itu rapat-rapat hingga terdengar suara mengunci yang otomatis. Ia memutar badannya dan bergegas menyusul langkah Nolan menuju ruang kerja utama di lantai paling atas.
Sementara itu, di dalam kamar 101 yang kini kembali sunyi, La Bonna perlahan membuka matanya.
Lampu kamar yang remang-remang memantulkan bayangan rantai besi borgol yang mengikat kedua pergelangan tangannya ke besi ranjang.
Pergelangan tangannya memerah dan lecet akibat gesekan bahan logam yang dingin itu sepanjang malam. Tubuhnya terasa teramat pegal dan remuk, terutama di bagian selangkangan dan punggungnya akibat luapan dominasi brutal Nolan semalam.
Bonna mencoba menggerakkan jemarinya yang kaku. Ingatan tentang malam tadi berputar kembali seperti rol film yang rusak di kepala.
Ia ingat betul bagaimana Nolan mendadak terlelap di sampingnya usai menyiksanya dengan kalimat-kalimat ancaman dan todongan pisau lipat.
Rasa lelah yang teramat sangat tampaknya telah merobohkan pertahanan fisik pria iblis itu secara tak terduga.
Bonna bahkan sempat terpaku tak percaya saat menyaksikan pria yang dipenuhi aura membunuh itu tertidur begitu lelap di sisinya—napasnya teratur, garis wajahnya yang biasanya kaku dan bengis mendadak terlihat sedikit lebih tenang dalam lelap.
Pria gila, batin Bonna seraya mengepalkan tangannya yang terborgol.
Bonna mendongak, menatap ke arah langit-langit kamar. Suara percakapan antara Lucifer dan Nolan di depan pintu tadi sempat terdengar samar oleh telinganya.
Bonna harus mengatur strategi baru. Ia tidak bisa terus-menerus menjadi samsak dan mainan pasrah yang hanya menunggu nasib di atas ranjang ini.
Jika Nolan membiarkannya hidup karena sebuah alasan tersembunyi—baik itu karena wajahnya yang mirip Electra atau karena rencananya untuk menjebak Dorris—maka Bonna akan menggunakan celah itu sepenuhnya untuk mengoyak pertahanan Nolan dari dalam.
Kau merantai tanganku malam ini, Dariush... atau siapa pun namamu, bisik Bonna dalam hati, matanya menyipit penuh dendam yang dingin. Tapi kau tidak akan pernah bisa merantai niatku untuk melihatmu hancur.
Suara derap langkah kaki para pengawal yang berlalu-lalang di luar koridor terdengar redup dari balik dinding tebal. Bonna memejamkan matanya kembali, membiarkan otaknya yang lelah beristirahat sejenak untuk mengumpulkan sisa energi.
Malam panjang telah usai, namun peperangan yang sesungguhnya di neraka Velvet Noir ini baru saja dimulai.