Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abu di Rumah Tua Sang Jenderal
Pintu gerbang kayu berukir gaya kolonial itu berderit berat saat Jimi mendorongnya. Rumah kediaman orang tua Adam di kawasan Bogor ini dulunya adalah simbol kejayaan dan ketegasan. Ayah Adam, seorang pensiunan perwira tinggi, pernah menjadikan rumah ini tempat "Tiga Jenderal"—Ajo, Adam, dan Jimi—berkumpul di masa-masanya yang paling membanggakan.
Namun sore itu, rumah megah tersebut tampak seperti kuburan yang dilupakan. Taman depannya tak terawat, dan daun-daun kering menumpuk di teras.
Jimi melangkah masuk tanpa mengetuk. Di ruang tengah yang gelap dengan tirai tertutup rapat, aroma alkohol menyengat bercampur dengan bau debu dan kelembapan.
Di atas sofa kulit yang sudah terkelupas, Adam duduk terkulai. Pria yang dulunya selalu tampil necis dalam setelan desainer miliaran rupiah itu kini hanya mengenakan kemeja putih kusut yang ternoda bekas minuman, kancing atasnya terbuka, dan janggut tipis yang tidak terurus menghiasi wajahnya yang tirus. Di lantai, beberapa botol wiski kosong tergeletak berserakan.
Adam mendongak perlahan saat mendengar langkah kaki Jimi. Matanya yang merah dan cekung menatap sahabatnya tanpa pendar kehidupan.
"Jimi..." suara Adam parau, hampir seperti bisikan. "Kau datang untuk tertawa juga? Seperti yang dilakukan seluruh media di luar sana?"
Jimi berdiri mematung di hadapan Adam. Dadanya sesak oleh rasa prihatin yang amat mendalam. Ia melihat sosok di depannya bukan lagi bos distributor yang arogan atau pengusaha yang haus kekuasaan, melainkan seorang sahabat muda yang hancur berkeping-keping di bawah puing-puing egonya sendiri.
Jimi menarik sebuah kursi kayu, duduk tepat di depan Adam. Ia menatap Adam lurus-lurus tanpa rasa benci.
"Aku datang bukan untuk tertawa, Dam," ujar Jimi pelan, suaranya berat dan stabil. "Aku datang untuk membangunkanmu dari mimpi buruk yang kau ciptakan sendiri."
Adam tertawa kekeh—sebuah tawa pahit yang memilukan. "Aku sudah bangun, Jim. Dan aku sudah hancur. Perusahaanku disita, namaku busuk, dan Ajo... Ajo hilang entah ke mana. Aku menang, Jim? Tidak, aku tidak menang. Aku cuma menghancurkan diriku sendiri."
"Bukan kau yang menghancurkan Ajo, Dam," potong Jimi tegas.
Adam terdiam, dahinya berkerut bingung dalam pengaruh alkohol yang tersisa.
Jimi menyandarkan tubuhnya ke depan, menekan kedua tangannya di atas lutut. "Semua skandal itu, peretasan layar di Gala Premiere, tuduhan pencucian uang, hingga manipulasi dokumen hak cipta... itu semua bukan dari peretas bayaranmu. Itu semua adalah rencana Maya."
Mata Adam membelalak tipis, bergerak liar. "Apa... apa yang kau bicarakan?"
Jimi menghela napas panjang, lalu menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Ia membeberkan dokumen yang ditemukan istrinya, Rina, tentang bagaimana Maya telah memanfaatkan akses rahasia dan rekening bayangan untuk menjebak Ajo dan Adam sekaligus. Jimi menceritakan tentang bagaimana Maya dengan dingin memanipulasi luka sepuluh tahun lalu, mengadu domba mereka sejak masa kuliah, hingga fakta paling mengerikan: bahwa keluarga Maya-lah yang dulunya meruntuhkan bisnis keluarga Ajo.
"Maya tidak pernah mencintaimu, Dam," bisik Jimi dengan raut wajah terluka. "Dia juga tidak pernah mencintai Ajo. Bagi Maya, kita bertiga hanyalah pion yang dia adu demi melampiaskan dendam dan rasa haus kekuasaannya. Dia memakai amarahmu untuk menghancurkan Ajo, lalu memakai kehancuran Ajo untuk melahap seluruh asetmu. Kau hanya diperalat."
Setiap kata yang keluar dari mulut Jimi jatuh bagai tetesan racun yang membakar ulu hati Adam. Keheningan di ruangan tua itu mendadak terasa begitu menekan.
Botol wiski di tangan Adam perlahan terlepas, jatuh menghantam karpet tanpa suara.
Adam mematung. Matanya menatap kosong ke sudut ruangan saat bayangan masa lalu berputar di kepalanya. Selama sepuluh tahun, ia membenci Ajo. Selama sepuluh tahun, ia terobsesi untuk membuktikan bahwa dirinya lebih baik, lebih kaya, dan lebih berkuasa daripada sahabatnya itu. Ia mengorbankan nuraninya, menghancurkan karier Elsa, dan membakar segalanya hanya demi rasa puas yang semu.
Dan ternyata... semua itu hanyalah panggung pementasan yang disutradarai oleh Maya.
"Ajo..." bisik Adam. Bibirnya gemetar hebat. Sebuah bulir air mata akhirnya menetes melintasi pipinya yang kotor, diikuti oleh isakan pelan yang makin lama makin tak tertahankan.
Pria yang dikenal paling angkuh di industri entertainment itu akhirnya menutupi wajahnya dengan kedua tangan, membungkuk di atas lututnya, dan menangis terisak-isak bagai seorang anak kecil yang tersesat.
"Aku yang menghancurkannya, Jim..." tangis Adam pecah, suaranya dipenuhi rasa bersalah yang amat dalam. "Ajo melindungiku waktu kita di kampus... dia yang selalu mengalah... tapi aku menyerangnya. Aku membuat Elsa menderita. Aku membiarkan wanita itu mempermainkan kita!"
Jimi memejamkan mata sejenak, menahan emosi yang bergolak di dadanya. Ia bangkit dari kursi, melangkah mendekat, dan meletakkan tangannya yang kokoh di atas bahu Adam yang berguncang.
"Cukup, Dam," ujar Jimi pelan namun sarat kekuatan. "Jangan biarkan tangisanmu ini sia-sia. Ajo tidak mati. Dia ada di rumah tua orang tuanya di kaki Gunung Salak."
Adam menghentikan tangisnya, mendongak menatap Jimi dengan mata merah yang basah.
"Ajo sedang bersiap untuk membalas," lanjut Jimi dengan pandangan tajam. "Tapi dia tidak bisa melakukan ini sendirian. Kita butuh Tiga Jenderal berdiri di garis yang sama lagi, seperti dulu. Apakah kau cuma mau duduk di sini membusuk dengan botol-botol ini, atau kau mau berdiri dan menembak mati dalang di balik semua ini?"
Adam menelan ludah, mengusap air matanya dengan lengan kemeja. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pendar di matanya kembali menyala—bukan lagi pendar amarah atau dendam, melainkan pendar keberanian seorang pria yang siap menebus dosa-dosanya.
Adam mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Bawa aku pada Ajo, Jim."