Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: BUNGA YANG TAK INGIN DIPETIK
Hari-hari setelah pertemuan yang menguras emosi di taman kota berlalu dengan perlahan. Rangga benar-benar menepati janjinya pada diri sendiri. Ia tidak lagi membiarkan bayangan masa lalu menguasai pikirannya. Kenangan tentang Denia tidak dihapus, tetapi disimpan rapi sebagai bagian dari perjalanan hidup yang telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat.
Kini, seluruh perhatian Rangga dicurahkan pada usaha percetakan dan fotokopi digital yang ia bangun dari nol. Sejak matahari belum tinggi, suara mesin fotokopi sudah mulai berdengung memenuhi ruangan. Aroma tinta cetak bercampur wangi kertas baru menjadi teman setianya setiap hari. Pelanggan datang silih berganti, mulai dari mahasiswa yang mencetak skripsi, pegawai kantor yang menggandakan dokumen, hingga pemilik toko yang memesan brosur promosi.
Kesibukan itu sedikit demi sedikit mengisi ruang kosong di dalam hati Rangga.
Ia bekerja lebih giat daripada sebelumnya. Setiap lembar kertas yang keluar dari mesin seolah menjadi bukti bahwa perjuangannya selama bertahun-tahun di Jakarta tidaklah sia-sia.
Namun, di balik semua itu, ada satu perubahan kecil yang mulai disadari para pegawai di sekitar ruko.
Rangga kini tidak lagi bekerja sendirian.
Setiap sore setelah jam kantornya selesai, Sari hampir selalu menyempatkan diri mampir ke percetakan. Awalnya hanya sekadar mengembalikan map atau mencetak beberapa dokumen kantor. Lama-kelamaan, tanpa diminta, ia mulai membantu pekerjaan-pekerjaan ringan.
"Mas, nota pelanggan minggu lalu masih belum diurutkan, ya?" tanya Sari suatu sore sambil memperhatikan tumpukan kertas di meja kasir.
Rangga menggaruk tengkuknya sambil tertawa kecil.
"Iya... niatnya nanti malam."
Sari tersenyum geli.
"Nanti malam itu seringnya berubah jadi minggu depan."
Rangga ikut tertawa.
"Iya juga ya."
Tanpa banyak bicara, Sari langsung mengambil map-map tersebut lalu mulai mengelompokkannya berdasarkan tanggal. Tangannya bergerak cekatan, sementara Rangga kembali melayani pelanggan yang datang silih berganti.
Menjelang magrib, pekerjaan akhirnya sedikit lengang.
Rangga menoleh ke arah meja administrasi.
"Lho... sudah rapi semua?"
Sari mengangguk bangga.
"Coba dicek."
Rangga membuka beberapa map satu per satu.
Nota pembelian.
Pengeluaran.
Pesanan pelanggan.
Semua sudah tersusun rapi.
Ia menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Kalau begini terus, nanti aku kehilangan pekerjaan."
Sari terkekeh pelan.
"Yang hilang bukan pekerjaanmu, Mas. Yang hilang itu kebiasaanmu menunda."
Mereka sama-sama tertawa.
Tawa sederhana itu terasa begitu ringan.
Berbeda dengan tawa Rangga beberapa bulan lalu yang sering dipaksakan demi menutupi luka di dalam hati.
Kini, tanpa ia sadari, senyum itu mulai muncul dengan sendirinya.
Hari-hari berikutnya berjalan hampir dengan pola yang sama.
Sari datang selepas bekerja.
Kadang membawa gorengan hangat.
Kadang membawakan segelas teh.
Kadang hanya duduk menemani sambil membaca buku ketika Rangga masih sibuk melayani pelanggan.
Tidak ada hubungan yang diberi nama.
Tidak ada janji.
Tidak ada kata-kata romantis.
Semuanya mengalir begitu saja.
Suatu sore, ketika hujan turun cukup deras, beberapa pelanggan terpaksa berteduh di dalam percetakan.
Listrik sempat padam beberapa menit.
Ruangan mendadak gelap.
"Untung ada lilin," ucap Rangga sambil menyalakannya.
Cahaya kecil itu membuat suasana percetakan berubah menjadi hangat.
Sari memandang sekeliling ruangan.
"Lucu ya..."
"Apa?"
"Tempat ini dulu pasti cuma ruko biasa."
Rangga mengangguk.
"Iya."
"Sekarang rasanya hidup."
Rangga mengikuti arah pandangan Sari.
Rak-rak penuh kertas.
Mesin yang mulai tua.
Dinding yang dipenuhi contoh desain.
Semua memang sederhana.
Namun semuanya dibangun dari keringatnya sendiri.
"Terima kasih."
Sari menoleh.
"Untuk apa?"
"Sudah sering membantu."
Sari menggeleng pelan.
"Aku juga senang berada di sini."
Jawaban itu membuat Rangga terdiam beberapa detik.
Entah mengapa, setiap kali berada di dekat Sari, ia tidak lagi merasa harus menjadi seseorang yang sempurna.
Ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Apa adanya.
Tanpa tuntutan.
Tanpa beban.
Di luar, hujan perlahan mulai reda.
Sinar matahari sore kembali muncul, memantulkan pelangi tipis di antara gedung-gedung kota.
Sari berdiri sambil merapikan tasnya.
"Mas..."
"Iya?"
"Akhir pekan ini sibuk?"
Rangga menggeleng.
"Sepertinya tidak."
Senyum Sari perlahan mengembang.
"Kalau begitu... ada satu tempat yang ingin kutunjukkan padamu."
Rangga mengernyit penasaran.
"Ke mana?"
Sari hanya tersenyum tanpa langsung menjawab.
"Rahasia dulu."
Senyum penuh misteri itu justru membuat rasa penasaran Rangga tumbuh.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ajakan sederhana tersebut akan membuka lembaran baru yang kembali menguji arah langkah hidupnya.
Akhir pekan pun tiba. Sejak pagi, Rangga sudah berdiri di depan ruko percetakannya sambil membersihkan motornya. Sesekali ia melirik jam tangan, khawatir membuat Sari menunggu terlalu lama.
Tak berselang lama, Sari datang dengan mengenakan blouse berwarna krem dipadukan rok panjang sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya sebagian disematkan jepit kecil di belakang kepala. Penampilannya jauh berbeda dari biasanya saat mengenakan pakaian kerja.
"Sudah lama menunggu?" tanya Sari sambil tersenyum.
Rangga menggeleng pelan. "Baru sebentar."
"Kalau begitu, ayo berangkat."
"Katanya masih rahasia."
Sari terkekeh kecil.
"Iya, tapi sekarang sudah boleh tahu. Kita ke rumah orang tuaku di Puncak."
Rangga sempat terdiam beberapa saat.
"Rumah orang tuamu?"
"Iya. Mereka sudah beberapa kali mendengar cerita tentang Mas Rangga. Bapak sama Ibu ingin kenalan."
Mendengar itu, jantung Rangga berdegup sedikit lebih cepat. Ia memang tidak memiliki niat buruk, tetapi bertemu langsung dengan orang tua seorang perempuan tetap saja membuatnya gugup.
"Apa... tidak merepotkan?"
Sari menggeleng mantap.
"Mereka justru senang."
Melihat keyakinan di wajah Sari, Rangga akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah."
Perjalanan menuju Puncak ditempuh hampir dua jam. Motor yang mereka kendarai membelah jalanan yang perlahan mulai menanjak. Udara berubah semakin sejuk. Deretan gedung perlahan berganti dengan hamparan kebun teh yang menghijau di kanan dan kiri jalan.
Sesekali Sari menunjuk ke arah beberapa tempat yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya.
"Itu sekolah dasarku."
Beberapa menit kemudian ia kembali menunjuk.
"Kalau yang itu warung langganan Bapak sejak aku kecil."
Rangga hanya mendengarkan sambil sesekali tersenyum. Ia menikmati cara Sari bercerita. Tidak berlebihan, tetapi mampu membuat setiap tempat terasa memiliki kenangan.
"Kamu pasti sering kangen pulang."
"Iya."
"Kenapa tidak tinggal saja di sini?"
Sari tersenyum tipis.
"Kalau tinggal di sini, aku tidak akan bertemu seseorang yang sekarang sedang menyetir motor."
Ucapan itu membuat Rangga tersenyum malu. Ia memilih kembali fokus ke jalan, sementara angin pegunungan berembus pelan menerpa wajah mereka.
Menjelang siang, mereka tiba di sebuah rumah sederhana yang berdiri di lereng perbukitan. Halamannya tidak luas, tetapi tertata sangat rapi. Berbagai tanaman bunga memenuhi teras, sementara beberapa pot anggrek menggantung di bawah atap rumah.
"Masuk, Mas."
Belum sempat Rangga melangkah, pintu rumah sudah terbuka.
Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah langsung menyambut mereka.
"Ini pasti Rangga."
Rangga segera menundukkan kepala hormat.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumsalam. Masuk, Nak."
Tak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun keluar dari ruang tengah sambil membawa senyum hangat.
"Kamu Rangga, ya?"
"Iya, Pak."
Ayah Sari menjabat tangan Rangga dengan erat.