tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8/ patah hati Rigecherta
Saat sekarang terlihat Rigecherta dan Tivane masih duduk di ruang UKS. Rigecherta terlihat sedang makan dengan Tivane yang menyuapi.
"Nah.. minum dulu" Tivane menyodorkan air minum langsung di terima oleh Rigecherta.
"Makasih" ucap Rigecherta sedikit riang, entah mengapa walau sakit ia merasa kembali bersemangat. Mungkin karena orang yang ia tunggu sudah ada di depannya.
Suasana hening namun Rigecherta tak henti-hentinya tersenyum membuat Tivane menyernyit heran melihatnya.
"Kenapa?" Tanya Tivane bingung.
"Nggak papa" ucap Rigecherta sambil mengambil tangan Tivane dan meletakkan nya di pipi nya sendiri.
" Lo kangen nggak sama gue?" Tanya Rigecherta dengan nada sedikit lembut sedikit manja.
"Enggak tuh, kan nggak ingat" jawab Tivane tersenyum iseng membuat wajah Rigecherta langsung mengendur.
"Gini amat ya kangen sendirian" ucap Rigecherta pelan dan sedikit menyindir.
"Dih? Nyindir dia" ledek Tivane terkekeh membuat Rigecherta mencibir.
" Lo ingat udah ingat pas malam itu kan?" Tanya Rigecherta hati-hati, takut membuat Tivane trauma.
"Ingat, kenapa emang?" Tanya Tivane yang ternyata sudah sembuh secara keseluruhan.
" Itu gue mau ngomong sesuatu sama lo" ucap Rigecherta sedikit malu. Ia saja tak tau kenapa saat itu ia ingin mengatakan nya pada Tivane.
" Lo punya motor baru?" Tanya Tivane. Ya memang benar, tapi bukan hanya itu saja yang ingin di bicarakan oleh Rigecherta.
" Yaudah nanti gue kasih tau, pas pulang lo ikut gue ya" ucap Rigecherta membuat Tivane mengangguk menurut.
Saat pulang sekolah River dan dua teman Rigecherta datang ke UKS sambil membawa tas Tivane dan Rigecherta.
"Ayo ikut" Rigecherta langsung menyambar tangan Tivane dan langsung membawanya ke arah taman belakang sekolah. Rigecherta berhenti dan berbalik badan membuat Tivane juga otomatis berhenti.
River, Skyler dan Veros langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Tivane lo-" ucapan Rigecherta terputus saat suara berat ayah Tivane terdengar memanggil dari arah belakang.
"Tivane ayo pulang. Mereka katanya malam ke rumah" panggilan ayah Tivane tersebut membuat mereka menoleh bersamaan.
"Sore om" sapa Rigecherta ramah membuat ayah Tivane juga balas tersenyum.
"Eh Rige, kamu nanti sekalian datang ya nanti malam, calon tunangan Tivane mau datang nanti malam " ucap ayah Tivane mengajak Rigecherta untuk datang nanti malam. Namun Rigecherta malah membeku dan terdiam seolah mencerna ucapan ayah Tivane.
" Tunangan?" Ulang Rigecherta sedikit sesak mendengarnya.
" Iya. Tivane di jodohin pas di Kalimantan sama mendiang ibu nya." Jawaban ayah Tivane tersebut membuat Rigecherta menatap tajam ke arah Tivane yang terdiam, pasalnya Tivane tak tau dan tak mengenal orang yang akan di jodohkan dengannya.
"Iya om. Nanti kalo aku ada waktu aku usahain datang" ucap Rigecherta datar dan menatap Tivane.
"Soal yang tadi nggak usah di anggap. Nggak jadi" ucap Rigecherta dingin membuat Tivane tersentak mendengar nada Rigecherta yang berubah.
"Rige duluan ya om. Permisi" pamit Rigecherta lalu berlalu dengan punggung menegang.
Sementara River, Skyler dan Veros yang melihat itu dari tempat persembunyian mereka langsung saling pandang dan sama-sama menghela nafas lalu pergi dari tempat itu.
Rigecherta mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi dengan wajah mengeras dan tangan yang menggenggam setir kemudi dengan kuat. Ia melewati gang menuju rumahnya dan berhenti di samping danau kecil yang terdapat pohon besar. Ia duduk di bawah pohon itu dan mendongak ke arah langit dengan wajah menahan kekecewaan.
"Kenapa? Kenapa gue nggak pernah di biarin sama orang yang gue sayang? Dulu pas gue mau bilang perasaan gue, dia kecelakaan dan berakhir pergi. Sekarang dia bahkan akan di jodohkan dengan orang lain." Desisnya melampiaskan seluruhnya.
" Huh..." Ia menghembuskan nafas panjang dan menggigit bibir bawahnya seolah sedang berpikir apakah ia harus menghapus perasaan nya pada Tivane atau tetap mempertahankan perasaan itu.
"Persetan soal tunangan. Sebelum janur kuning melengkung, dia masih bukan milik siapa-siapa." Ia tersenyum seolah menemukan kembali semangatnya setelah melampiaskan semuanya pada pohon di belakangnya.
" Thanks pohon. Lo selalu jadi tempat gue buat ngadu, dulu pas dia pindah juga gue cuma bisa curhat sama lo " ucapnya lalu tertawa kecil merasa konyol berbicara pada pohon.
Malam hari di rumah Tivane. Gadis itu merasa gelisah tak jelas entah karena apa. Bayangan wajah kecewa dan nada bicara Rigecherta sore itu membuat Tivane mondar mandir di kamarnya.
Saat ia bertanya pada Veros melalui chat pun cowok itu bilang tak bersama Rigecherta.
"Sayang, ayo mereka udah sampe tuh di bawah" panggil ayahnya membuat Tivane mengikuti dengan langkah berat.
Saat sampai di ruang tengah terlihat Evan - calon tunangan Tivane- Dan juga orang tua nya.
Saat ayah Tivane berbincang dengan orang tua Evan, Tivane hanya diam dengan pikiran yang melayang entah kemana.
Sementara di jalan, Rigecherta terlihat memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Pakaian nya rapi, seolah ingin menuruti permintaan ayah Tivane yang mengajaknya untuk datang sore tadi.
Namun saat asik dengan skenario nya sendiri ia tak sengaja melewati jalan yang sedikit berlubang dan kehilangan kendali atas setirnya. Ia oleng dan terhempas ke pinggir jalan dan merasakan kakinya susah di gerakkan.
"Akh.. sial. Kok nggak bisa di gerakin sih" decak nya mengumpat pelan, padahal ia sudah bersiap ke rumah Tivane. Saat Rigecherta ingin memaksakan berdiri tak sengaja lewat Veros.
"Lo kenapa?" Tanya Veros menghampiri Rigecherta.
"Jatuh, terus kaki gue nggak bisa di gerakin" jawab Rigecherta membuat Veros langsung membantu Rigecherta naik ke motornya.
"Terus kok pakaian lo rapi banget?" Tanya Veros saat mereka dalam perjalanan ke rumah Rigecherta.
"Mau ke rumah Tivane. Tapi kayaknya gue emang nggak bisa jadi pasangannya. Ada aja hambatannya" ucap Rigecherta pelan.
" Mungkin bukan takdir" jawaban Veros malah membuat Rigecherta tambah kesal.
" Seneng kan lo. Gue nggak bisa sama Tivane. Lo kan dulu juga pernah suka sama dia" sindir Rigecherta membuat Tertawa pelan sadar kalau sepupu sekalian sahabatnya itu sedang cemburu.
"Udah lama kali, gue udah nggak suka lagi sama dia. Apa lagi abis kita berantem dulu" jawab Veros membuat Rigecherta mengangguk puas.
"Tapi kayaknya kita berdua nggak dapat" ledek Veros lagi membuat Rigecherta menabok helm yang di pakai Veros namun Veros hanya tertawa puas. Kapan lagi bisa mengerjai sepupu es nya itu.
"Motor gue tolong di suruh ambil si River " perintah Rigecherta membuat Veros mengangguk saja.
Sementara di rumah Tivane. Ia merasa gelisah dan jantungnya berdetak kencang sebelum akhirnya panggilan dari Veros masuk ke handphone di tangannya. Ia langsung menerima telepon itu dengan cepat.
"Halo" ucapnya.
"........."
"APA? Lo serius?" Tanya Tivane langsung berdiri dan menyambar kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah.
Membuat orang tua Evan dan ayah Tivane terdiam melihat kepergian nya yang buru-buru.