NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Unjuk Gigi

Suasana di sekitar lapangan tanah gersang dekat gudang barat mendadak berubah menjadi sangat heboh dan bising. Kabar mengenai Bumi yang dikepung oleh Barong beserta seluruh anak buahnya menyebar lebih cepat daripada angin. Para pedagang sayur, pedagang ikan, hingga pemilik kios kelontong yang berada tidak jauh dari lokasi langsung meninggalkan lapak dagangan mereka begitu saja. Rasa penasaran mengalahkan segalanya. Mereka berbondong-bondong berlari menuju tepi lapangan demi menyaksikan pertarungan yang dianggap mustahil itu. Tidak hanya pedagang, para pengunjung pasar yang sedang berbelanja pun ikut tertarik. Dalam hitungan menit, lautan manusia sudah bergerombol padat di samping lapangan, membentuk barikade penonton yang menyemut.

Di sudut lain, beberapa petugas keamanan pasar dan aparat setempat tampak berdiri berkumpul dengan wajah tegang. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani maju untuk melerai atau menghentikan ketegangan di tengah lapangan.

"Eh, Pak, itu kenapa gak dilerai aja sih? Bisa mati itu anak orang dikeroyok begitu!" bisik salah seorang warga kepada komandan sekuriti pasar.

Komandan sekuriti itu menggelengkan kepala dengan wajah kecut sambil buru-buru menaruh jari di bibirnya. "Ssst! Lu jangan cari penyakit! Lu gak tahu siapa di belakang mereka? Itu Barong, kepala preman sini, dan yang nyuruh itu Rendra, anak juragan paling kaya yang punya setengah tanah pasar ini! Aparat kayak kita bisa langsung dicopot kalau ikut campur urusan keluarga mereka!"

"Tapi kalau sampai mati gimana, Pak? Berabe urusannya," sahut petugas lain cemas.

"Makanya, kita di sini cuma bisa jaga-jaga aja," kata komandan sekuriti itu ketakutan, matanya melirik ke sekeliling dengan waspada. "Yang paling penting sekarang, jangan sampai pihak kepolisian setempat mencium kejadian ini! Kalau polsek sampai tahu dan turun tangan, urusannya bakal sangat berabe buat kelangsungan pasar kita. Woy, anak-anak! Jaga ketat barisan penonton! Pastikan kejadian di dalam pasar ini tidak meluas keluar! Cegah dan sita kalau ada penonton yang berani memvideokan kejadian ini pakai hp! Jangan sampai ada video yang bocor ke media sosial!"

Di pinggir lapangan, bisik-bisik dari ribuan penonton mulai terdengar riuh. Mayoritas dari mereka menatap iba ke arah Bumi yang berdiri sendirian di tengah kepungan. Fisik Bumi yang proporsional terlihat sangat kecil dan ringkih jika dibandingkan dengan perawakan Barong serta belasan anak buahnya yang berbadan raksasa, berkulit legam, dan berotot besar layaknya algojo.

"Aduh, kasihan banget itu anak muda. Cari perkara sama kelompok Barong," gumam seorang ibu pedagang jamu sambil menggeleng pasrah. "Mereka semua kan sangar-sangar, bawa balok kayu segala lagi."

"Iya, palingan cuma sekali geprak atau sekali pukul aja itu bocah langsung terkapar mati di tempat. Gak seimbang bener ini mah, dikeroyok dua puluh orang lebih," timpal kuli panggul lain di sebelahnya.

Tidak jauh dari sana, Alya berdiri dengan tubuh lemas yang hampir tumbang, untungnya buru-buru dirangkul oleh ibunya yang terus-menerus merapalkan doa keselamatan. Kang Bendot dan Mandor Badrun juga berdiri di samping mereka dengan wajah yang ditekuk dalam, dipenuhi rasa kasihan dan penyesalan karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah takdir buruk yang mereka pikir akan menimpa Bumi.

"Ya Allah, Mas Bumi... tolong hati-hati," bisik Alya lirih, air matanya menetes deras membasahi pipinya yang pucat.

Di tengah lapangan, debu-debu tanah mulai berterbangan tertiup angin sore. Barong melambaikan tangan kanannya dengan angkuh ke arah anak buahnya. "Hajar dia dulu, Bos! Kasih dia salam perkenalan dari penguasa pasar induk!"

Sebagai permulaan, lima orang anak buah Barong yang berbadan paling kekar langsung maju paling depan. Mereka berteriak lantang sambil mengayunkan balok kayu berukuran tebal, bergerak cepat mengerubungi Bumi dari berbagai arah mata angin secara bersamaan untuk mengunci pergerakannya.

Wusss! Bakk!

Balok kayu pertama melesat cepat mengincar kepala Bumi dari arah kanan. Namun, Bumi tidak bergeming dari tempatnya. Menggunakan ingatan fotografis dari otak supernya, Bumi mendadak mengingat kembali seluruh bab visual tentang teknik memukul, kuncian, dan gerakan menghindar taktis dari buku bela diri kuno yang sempat ia baca sekilas di toko buku bekas kemarin malam. Di dalam kepalanya, semua teori itu langsung terstruktur rapi dan siap dipraktikkan secara otomatis.

Bumi sedikit merendahkan tubuhnya, menekuk lutut, lalu menggeser kaki kirinya ke belakang sejauh beberapa sentimeter. Gerakan yang sangat tipis dan efisien itu membuat ayunan balok kayu pertama melesat kosong, hanya menerpa angin tepat di atas ubun-ubun Bumi.

"Hah?! Luput?!" seru preman pembawa balok itu kaget.

Belum sempat preman itu menarik kembali senjatanya, Bumi melepaskan satu pukulan lurus yang sangat cepat ke arah ulu hati lawan. Bugh! Pukulan itu mendarat telak, membuat si preman raksasa langsung melotot, kehilangan napas, dan ambruk berlutut di tanah seperti pohon tumbang.

Melihat satu temannya tumbang dalam sekali pukul, empat preman lainnya menjadi naik pitam. Mereka langsung merangsek maju secara bersamaan, melayangkan kombinasi pukulan jotosan dan tendangan bertubi-tubi ke arah dada dan wajah Bumi.

"Mati lu, bocah belagu!" teriak salah satu preman bertato macan sambil melayangkan tendangan melingkar.

Bumi dengan sangat santai memutar tubuhnya ke kiri, menghindari tendangan tersebut dengan anggun. Sambil berputar, tangan kanan Bumi bergerak cepat menangkap pergelangan kaki sang preman, lalu memanfaatkan momentum berat badan lawan untuk membantingnya keras-keras ke permukaan tanah yang keras.

Brakkk! Tanah lapangan sampai sedikit bergetar saat tubuh preman itu menghantam bumi.

Dua preman lain mencoba menyerang dari arah belakang dengan tusukan balok kayu. Telinga super tajam Bumi menangkap desingan angin dari arah belakang tanpa perlu menoleh. Ia merunduk secara instan, membiarkan kedua balok kayu tersebut justru saling berbenturan keras hingga patah menjadi dua bagian. Di saat kedua preman itu masih tertegun melihat senjata mereka patah, Bumi melakukan gerakan sapuan kaki bawah melingkar (sweep) yang sangat bertenaga.

Srettt! Gedebuk!

Kedua preman tersebut langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang secara bersamaan dengan posisi kepala membentur tanah terlebih dahulu. Empat orang langsung tumbang dalam waktu kurang dari satu menit.

Melihat area depan mulai bersih, sisa-sisa anak buah Barong yang berada di lingkaran luar tidak tinggal diam. Mereka yang mulanya mengira pertarungan akan selesai dalam satu kejutan, kini mulai merasa terancam sekaligus malu di depan ribuan mata penonton.

"Kurang ajar! Maju lu semua! Jangan kasih dia napas! Kepung dari segala sisi!" teriak preman senior lainnya memberi komando.

Setiap kali ada satu atau dua orang anak buah Barong yang kalah dan terkapar di tanah, selalu langsung ada tiga hingga empat orang baru yang maju merangsek maju menggantikan posisi temannya. Akibatnya, pemandangan di tengah lapangan saat itu terlihat sangat luar biasa dan mengerikan, satu orang pemuda bertarung melawan sekitar dua puluh orang preman sekaligus di tengah lapangan terbuka. Debu tanah membubung tinggi, menyelimuti jalannya pertarungan yang semakin memanas.

Namun, keajaiban nyata sedang terjadi di depan mata semua orang. Gerakan Bumi terlihat sangat tenang, taktis, dan mengalir seperti air. Ia terus mempraktikkan teknik menghindar tingkat tinggi yang ia serap dari buku bekas tersebut, dipadukan dengan refleks fisik supranatural dari ramuan leluhur. Bumi melangkah maju-mundur dengan ritme yang teratur, meliuk-liuk di antara sabetan senjata dan kepalan tinju lawan seolah ia bisa membaca semua arah serangan sebelum serangan itu diluncurkan.

Wusss! Plak! Bugh!

"Sialan! Gerakan ini anak gesit bener kayak belut!" umpat seorang preman yang frustrasi karena pukulannya selalu mengenai bayangan kosong Bumi saja.

Hingga pertarungan berjalan selama beberapa menit dan separuh dari anak buah Barong sudah mulai mengaduh kesakitan di atas tanah, tubuh Bumi, bahkan ujung kemeja flanelnya sekalipun, belum tersentuh sedikit pun oleh serangan maupun senjata mereka. Pertarungan satu lawan banyak itu secara ajaib terlihat sangat seimbang, bahkan cenderung didominasi oleh kecerdikan Bumi.

Pemandangan unjuk gigi yang luar biasa dari Bumi itu spontan membuat seluruh lautan manusia di pinggir lapangan terkesima. Suasana bising yang tadinya dipenuhi cemoohan untuk Bumi kini berubah menjadi gemuruh rasa kagum dan sorak-sorai yang riuh, terutama dari pihak pendukung Bumi seperti para pedagang kecil dan kuli panggul yang selama ini tertindas oleh kebiadaban Barong cs.

"Gila! Hebat bener itu si Bumi! Dua puluh orang gak ada yang bisa nyentuh dia sama sekali!" teriak seorang pedagang sayur dengan mata berbinar-binar penuh harapan baru.

"Iya, bener! Gerakannya kayak ahli bela diri di film-film! Hidup Bumi!" sahut kuli panggul lainnya, mulai berani menyuarakan dukungan karena melihat dominasi kelompok preman itu mulai runtuh.

Kang Bendot yang tadinya bermuka muram langsung melompat kegirangan sambil menepuk pundak Mandor Badrun dengan heboh. "Lu lihat itu, Pak Mandor?! Si Bumi ternyata jagoan beneran! Anak didik gua itu, Pak! Hahaha! Gak sia-sia dia sering angkat keranjang sawi gua!"

Mandor Badrun hanya bisa melongo dengan mulut terbuka lebar, benar-benar tidak percaya dengan apa yang sedang disaksikan oleh matanya sendiri. "Astaga... itu anak dapet ilmu dari mana bisa sehebat itu..."

Alya yang melihat keselamatan Bumi terjaga langsung mengatupkan kedua tangannya di depan dada, tersenyum lebar di tengah sisa air matanya dengan perasaan bangga dan cinta yang semakin membuncah di dalam hatinya. Bumi kini bukan lagi sekadar pemuda desa yang cerdas di matanya, melainkan seorang pahlawan nyata yang sedang unjuk gigi meruntuhkan kegelapan di pasar induk tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!