Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon
"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."
Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.
Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.
Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.
Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Bisikan Lewat Cermin
Kamar tidur yang seharusnya menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kewarasan Sekar kini telah berubah fungsi menjadi sel isolasi yang menyesakkan. Berita kematian Bagas yang menyebar cepat di grup WhatsApp kampus seolah-olah merenggut sisa-sisa udara bersih di dalam rumahnya. Polisi mungkin sedang kebingungan mencari sidik jari, jejak racun, atau membongkar teralis jendela kamar kos berlantai dua milik Bagas. Namun bagi Sekar, kebenaran itu terpampang nyata, tertulis di atas permukaan kulit punggungnya sendiri yang kian mengeras.
Sejak pagi buta, setelah membaca pesan kematian tersebut, Sekar tidak berani melangkah keluar kamar. Dia memutar kunci pintu kamarnya dua kali, menyelipkan selembar kain usang di celah bawah pintu untuk menghalau angin, seolah selembar kain bisa menahan entitas yang mampu merayap menembus dimensi ruang.
Dunia di luar jendela kamarnya tampak muram. Langit kelabu menumpahkan gerimis tipis yang konstan, menciptakan ketukan-ketukan kecil yang monoton pada kaca jendela. Suara itu terdengar seperti ketukan kuku-kuku jari yang panjang dan runcing, menuntut untuk dibukakan jalan masuk.
Sekar duduk meringkuk di atas kasurnya, memeluk kedua lututnya erat-erat. Tubuhnya menggigil, bukan karena hawa dingin yang menguar dari lantai tegel, melainkan karena rasa bersalah yang murni sekaligus rasa takut yang melumpuhkan. Bagas, pria yang dua hari lalu masih menggertaknya di parkiran kampus dengan penuh kesombongan, kini telah menjadi seonggok mayat kaku dengan kerangka yang remuk tanpa bentuk.
"Ini semua karena aku..." bisik Sekar pada kegelapan kamarnya. Suaranya bergetar, parau, dan terdengar asing di telinganya sendiri. "Mahluk itu... dia benar-benar membunuh Bagas."
Setiap kali ingatan tentang wajah Bagas melintas, Sekar bisa merasakan denyutan aneh di punggung kanannya. Tanda lahir bersisik itu terasa hangat—kehangatan yang ganjil, seperti aliran darah yang mengalir deras di bawah lapisan sisik mati yang mengilap. Pola kepala ular yang terbentuk di belikatnya seolah-olah berdenyut mengikuti detak jantungnya sendiri. Kalingga tidak hanya bersemayam di sana; mahluk itu sedang memakan energinya, tumbuh subur dari ketakutan dan keputusasaan yang diproduksi oleh pikiran Sekar.
Aroma itu datang lagi.
Tanpa ada peringatan, wangi bunga kenanga yang sangat matang—aroma yang kini diidentifikasi Sekar sebagai aroma maut—kembali meledak di dalam kamar tidurnya. Wangi itu begitu pekat, mengalahkan bau minyak telon atau pengharum ruangan yang terpasang di dinding. Bersamaan dengan munculnya aroma tersebut, suhu di dalam kamar anjlok dengan drastis. Udara yang dihirup Sekar mendadak terasa tajam, seperti menusuk-nusuk paru-parunya dengan serpihan es.
Sekar tersentak. Mata indahnya melotot liar memutari setiap sudut ruangan yang remang-remang. Tidak ada bayangan hitam di plafon. Tidak ada ular tanah yang merayap dari bawah kolong ranjang. Kamar itu kosong.
Namun, insting primitif di dalam tubuhnya mengarahkan pandangannya ke satu titik: cermin besar berkaki kayu jati yang berdiri di sudut ruangan, tepat di samping lemari pakaian lamanya.
Cermin itu adalah peninggalan almarhum ayahnya. Permukaannya agak buram di beberapa bagian karena usia, memantulkan bayangan kamar yang suram dengan rona keperakan yang dingin. Sekar menurunkan kakinya dari kasur perlahan-lahan. Langkah kakinya terasa luar biasa berat, seolah-olah ada magnet tak kasat mata di bawah lantai yang menarik tumitnya untuk tidak bergerak.
Namun, ada dorongan psikologis yang kuat, sebuah bisikan tanpa suara yang memaksa kepalanya untuk terus menatap ke arah kaca tersebut.
Sekar berdiri di depan cermin. Jaraknya hanya setengah meter. Di dalam pantulan kaca, dia melihat dirinya sendiri: seorang gadis berusia dua puluh satu tahun dengan wajah yang teramat pucat, kantung mata yang menghitam karena kurang tidur, dan rambut panjang yang berantakan. Dia tampak seperti seorang tawanan yang sedang menunggu hari eksekusi.
Sekar menarik napas dalam-dalam, berniat memutar tubuhnya untuk kembali ke tempat tidur dan mengabaikan ilusi visual yang mungkin akan menyerangnya. Dia mengangkat tangan kanannya untuk merapikan rambut yang menutupi dahinya.
Di sinilah letak horor yang meruntuhkan seluruh logika fisiknya.
Tubuh asli Sekar telah menurunkan kembali tangannya ke samping badan. Namun, pantulan dirinya di dalam cermin tidak bergerak mengikuti gerakannya.
Di dalam cermin, sosok "Sekar" masih tetap berdiri statis dengan tangan kanan yang terangkat di depan wajah, seolah-olah waktu di dalam dunia kaca itu telah membeku atau terpisah dari dunia nyata.
Jantung Sekar berhenti berdetak selama satu ketukan penuh. Dia melangkah mundur satu tapak, namun di dalam cermin, pantulan dirinya justru melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke permukaan kaca hingga hidungnya nyaris menyentuh batas dimensi mereka.
"B-bukan... itu bukan aku..." Sekar berbisik histeris. Dia ingin berbalik dan berlari menuju pintu kamar, menjerit memanggil ibunya, namun sepasang matanya seolah-olah telah dikunci oleh kekuatan hipnotis yang memancar dari dalam cermin.
Perlahan tapi pasti, transformasi mengerikan mulai terjadi pada wajah pantulan Sekar di dalam cermin.
Kulit wajah di dalam cermin itu mulai retak-retak, bukan retakan luka berdarah, melainkan kulit manusia yang mengelupas secara melingkar, digantikan oleh lapisan sisik-sisik halus berwarna kelabu kehitaman yang berkilat tertimpa cahaya suram kamar. Sisik-sisik itu merayap naik dari arah leher, melewati rahang, hingga menutupi sebagian besar pipi kanan pantulan tersebut. Sepasang mata di dalam cermin berubah sempurna; kornea matanya memancarkan pendar kuning keemasan yang pekat, dengan pupil vertikal yang menyempit tajam menatap lurus ke arah Sekar yang asli.
Pantulan itu tersenyum. Sebuah senyuman yang teramat lebar, melengkung simetris hingga melewati batas rahang manusia normal, memamerkan deretan gigi yang teramat putih dengan taring yang meruncing tajam di sudut-sudutnya.
Sreeet... sssss...
Dari arah belakang sosok pantulan Sekar di dalam cermin, sebuah kabut hitam yang tebal mulai memadat. Kabut itu meliuk-liuk horizontal, naik dari arah lantai gaib di dalam kaca, lalu perlahan-lahan membentuk sesosok figur pria bertubuh jangkung yang teramat akrab di dalam memori bawah sadar Sekar.
Kalingga.
Mahluk itu muncul di dalam cermin, berdiri tegak tepat di belakang pantulan Sekar yang bersisik. Dia mengenakan jubah bangsawan Jawa kuno berwarna hitam legam dengan hiasan benang emas yang polanya menyerupai liukan ular purba. Mahkota emas naga di atas kepalanya berkilat dingin. Wajah tampannya yang pucat tampak begitu kontras dengan kegelapan yang mengelilinginya.
Kalingga mengulurkan sepasang lengannya yang panjang. Gerakannya teramat luwes dan anggun, persis seperti gerakan sepasang ular yang sedang melilit mangsanya. Dia melingkarkan lengannya di atas pundak pantulan Sekar, menempelkan dada bidangnya yang kaku ke punggung pantulan tersebut, seolah sedang menunjukkan klaim kepemilikan yang mutlak atas diri Sekar.
Sekar yang asli di dunia nyata hanya bisa mematung dengan air mata yang mengalir deras di pipinya yang pucat. Dia bisa merasakan sensasi fisik yang ganjil: meskipun Kalingga berada di dalam cermin, di dunia nyata, pundak Sekar mendadak terasa teramat berat dan dingin, seolah-olah ada sepasang tangan tak kasat mata yang nyata sedang meremas bahunya dari belakang.
Kalingga di dalam pantulan cermin mencondongkan kepalanya yang jangkung. Gerakan lehernya begitu luwes, meluncur di atas pundak "Sekar" hingga bibirnya yang pucat berada tepat di samping daun telinga pantulan tersebut.
Meskipun mahluk itu berada di balik sekat kaca, suara yang keluar bukan berasal dari dalam cermin. Suara itu bergaung langsung di dalam rongga kepala Sekar yang asli di dunia nyata—sebuah kombinasi ganjil antara bisikan selembut kain sutra dan desisan bariton yang berat, bergema dengan frekuensi rendah yang membuat isi kepala Sekar berdenyut sakit.
"Jangan takut, Cah Ayu... Pria kasar itu pantas mati karena berani mengotori wangimu dengan tangan fana-nya," bisik Kalingga. Nada suaranya terdengar teramat protektif, namun sekaligus menyimpan dominasi yang mutlak dan mengintimidasi.
Sekar yang asli menggelengkan kepalanya dengan histeris, air matanya menetes membasahi kemeja katunnya. "K-kamu mahluk terkutuk... Kenapa kamu membunuhnya? Dia tidak tahu apa-apa!" ratap Sekar, suaranya parau tertahan di tenggorokan.
Kalingga terkekeh pelan di dalam cermin. Suara tawa itu terdengar kering, berdesis seumpama ribuan sisik ular yang bergeser di atas tumpukan daun kering. Sepasang mata emasnya berkilat tajam, menembus permukaan kaca, mengunci kesadaran Sekar agar tidak mampu memalingkan wajah.
"Dia hanyalah serangga fana yang mengganggu proses penyucianmu, Sekar. Siapa pun yang berani menyentuh kulitmu, siapa pun yang menatapmu dengan syahwat manusiawi sebelum waktunya tiba... mereka hanya akan menjadi santapan bagi bisaku," jawab Kalingga datar, tanpa penyesalan sedikit pun.
Tangan Kalingga yang berkuku hitam meruncing bergerak pelan di dalam cermin, mengelus pipi bersisik milik pantulan Sekar. Di dunia nyata, Sekar merasakan kulit pipinya mendadak mati rasa, disergap oleh hawa sedingin es yang merayap lambat.
"Siapa sebenarnya kamu?! Apa maumu dariku?!" jerit Sekar, meluapkan seluruh keputusasaan yang telah menumpuk di dadanya sejak insiden di kamar mandi.
Kalingga tidak langsung menjawab. Dia menarik kepalanya sedikit ke belakang, menatap pantulan Sekar dari atas ke bawah dengan tatapan penuh kepuasan, seolah-olah dia sedang mengagumi sebuah mahakarya kuno yang hampir selesai dibuat.
"Kau adalah milikku, Sekar. Sejak embusan napas pertamamu di dunia ini, darahmu telah ditandai. Kau adalah calon permaisuriku... Sabtu Kliwon-ku," ucap Kalingga, menekankan kata terakhir dengan penekanan yang teramat sakral sekaligus mengerikan.
Sabtu Kliwon.
Kata itu menghantam kesadaran Sekar seperti hantaman godam yang gada. Otaknya berputar cepat. Sabtu Kliwon adalah hari kelahirannya. Ibunya pernah bercerita bahwa Sekar lahir tepat pada tengah malam menjelang Sabtu Kliwon, di bawah bulan mati yang tertutup kabut tebal. Apakah tanda lahir bersisik ini, kutukan ini, dan kehadiran Kalingga... semuanya sudah direncanakan sejak hari pertama dia menghirup udara di dunia nyata?
"Apa maksudmu... Sabtu Kliwon?" bisik Sekar dengan bibir yang bergetar hebat.
"Malam di mana batas antara duniamu dan duniaku akan melebur seutuhnya," Kalingga berbisik lagi, wajahnya kembali merapat ke telinga pantulan Sekar, bibirnya membentuk senyuman tipis yang mematikan. "Tepat pada weton kelahiranku dan kelahiranmu yang berikutnya... upacara penyatuan itu akan paripurna. Sisik-sisik di tubuhmu akan mengembang sempurna, menyapu bersih kedagingan manusiamu yang fana. Kau akan mengenakan jubah keabadian, duduk di samping singgasanaku di bawah bumi."
Sekar membelalak gila. Menyapu bersih kedagingan manusianya? Itu berarti mahluk ini tidak hanya ingin menjadikannya budak gaib, melainkan ingin melenyapkan eksistensi manusianya, mengubah tubuh dan jiwanya menjadi entitas melata yang sama mengerikannya dengan Kalingga.
"Tidak... aku tidak mau! Aku manusia! Pergi kamu dari tubuhku! PERGIII!!!" Sekar berteriak histeris.
Didorong oleh ledakan adrenalin kemarahan dan ketakutan yang murni, Sekar meraih sebuah lampu tidur berbahan besi penyangga yang ada di atas meja samping tempat tidurnya. Dengan satu sentakan buta, dia menghantamkan benda logam berat itu tepat ke arah permukaan cermin di depannya.
PRANKKK!!!
Suara kaca pecah berdentang keras, memecah keheningan kamar yang mencekik. Serpihan-serpihan cermin berhamburan ke segala arah, jatuh bergemerencing di atas lantai tegel yang dingin. Sisa-sisa kaca yang masih menempel di bingkai jati kini retak seribu, memisahkan pantulan kamar menjadi ratusan pecahan geometris yang kacau.
Bersamaan dengan hancurnya cermin, aroma bunga kenanga busuk yang pekat itu mendadak menguap dalam hitungan detik. Hawa dingin yang membekukan ruangan ikut menyusut, digantikan kembali oleh udara kamar yang pengap.
Sekar berdiri terengah-engah, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Tangan kanannya yang memegang lampu tidur gemetar hebat, beberapa tetes darah segar mulai mengalir dari buku jarinya yang tergores serpihan kaca tajam. Dia menunduk, melihat ke arah pecahan kaca di bawah kakinya.
Di dalam ratusan pecahan kaca kecil yang berserakan di lantai, tidak ada lagi wajah bersisik atau sosok jangkung berkepala naga. Yang terpantul di sana hanyalah potongan-potongan wajahnya yang asli—pucat, ketakutan, dan dipenuhi oleh air mata.
Kalingga telah pergi dari cermin, namun bisikannya tentang "Sabtu Kliwon" tetap tertinggal, bergema konstan di dalam lipatan terdalam otak Sekar seumpama melodi kematian yang tidak bisa dihentikan.
Klek.
Suara pintu kamar yang dibuka secara paksa dari luar membuat Sekar tersentak. Ibunya berdiri di ambang pintu, matanya melotot menatap kekacauan di dalam kamar anaknya: lampu tidur yang rusak, serpihan kaca yang berserakan, dan tangan Sekar yang berdarah.
Namun, alih-alih menunjukkan rasa panik atau khawatir seorang ibu, wanita tua itu hanya berdiri diam. Wajahnya teramat datar, dingin, dan tatapan matanya menyimpan sebuah rahasia kelam yang pekat—tatapan yang seolah-olah mengonfirmasi bahwa apa yang baru saja dialami Sekar di depan cermin bukanlah sebuah kegilaan, melainkan sebuah takdir keluarga yang sudah lama dia ketahui kegelapannya.