Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Hari Kiamat
"Mulai."
Kata itu keluar saat subuh, tetapi dunia baru benar-benar mendengar jawabannya pukul tiga sore.
Sejak pagi, Hendry tidak keluar rumah.
Ia makan nasi dengan rendang dari Ruang Dimensi, minum air mineral dingin, lalu duduk di ruang tamu villa dengan rompi anti-tikam terpasang di balik jaket hitam. Di meja depannya ada ponsel, peta cluster, dan satu gelas air yang permukaannya tidak bergerak sama sekali.
Di luar, Cluster Pondok Indah menjalani hari terakhirnya seperti biasa.
Ibu-ibu pulang dari supermarket. Anak-anak dijemput sopir. Tukang paket menekan bel rumah satu per satu. Satpam di pos gerbang mengobrol sambil menonton video pendek. Langit Jakarta siang itu sedikit pucat, tetapi tidak cukup aneh untuk membuat orang berhenti bekerja.
Pukul 14.50, Hendry berdiri.
Parang muncul di tangan kanannya.
Pistol muncul di tangan kiri, lalu masuk lagi ke Ruang Dimensi. Ia hanya memastikan posisi terkunci.
Goggles, sarung tangan, masker, semua siap.
Pukul 14.59, notifikasi ponsel berhenti masuk.
Pukul 15.00 tepat, langit berubah hijau.
Bukan kilatan.
Bukan pita tipis seperti subuh.
Sebuah tirai cahaya raksasa terbentang di atas Jakarta, menutup matahari dalam warna hijau pucat yang membuat seluruh kota tampak seperti berada di dasar laut. Kaca jendela villa bergetar halus. Lampu gantung di ruang tamu berkedip. Dari kejauhan, suara klakson panjang terdengar, lalu disusul jeritan pertama.
Hendry menatap jam digital.
Tepat waktu.
Tanda-tanda kecil bergeser, tetapi pukulan utama tetap jatuh di jam yang sama.
Cahaya itu bertahan kurang dari satu menit.
Ketika hilang, dunia lama ikut hilang bersamanya.
Delapan puluh persen manusia kehilangan dirinya dalam gelombang pertama itu.
Di rumah seberang, seorang pembantu yang sedang menyiram tanaman tiba-tiba menjatuhkan selang. Tubuhnya kejang, punggungnya membungkuk, kulit lehernya berubah abu-abu. Di sebelahnya, seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berteriak memanggil, "Mbak?"
Perempuan itu menoleh.
Matanya sudah kosong.
Ia menerkam.
Jeritan anak itu pecah begitu keras sampai burung-burung di pohon palem beterbangan.
Di jalan depan, sopir sebuah sedan kehilangan kendali dan menabrak pagar. Dari kursi belakang, seorang pria berjas keluar dengan wajah pucat. Ia belum sempat berdiri tegak ketika satpam cluster yang tadi menonton video pendek melompat ke punggungnya dan menggigit lehernya.
Darah menyemprot ke pos gerbang.
Lima rumah dari villa Hendry, seorang ibu menjerit di balkon saat suaminya membenturkan kepala ke pintu kaca dari dalam.
Jakarta mulai dimakan dari dalam rumahnya sendiri.
Hendry tidak bergerak selama sepuluh menit pertama.
Ini bagian paling penting.
Orang bodoh keluar saat jeritan pertama.
Orang panik mati di jalan.
Orang yang menunggu gelombang awal lewat punya kesempatan memilih arah.
Ia berdiri di balik tirai, menghitung.
Satu zombie di taman rumah seberang.
Dua di pos gerbang.
Tiga bergerak tanpa arah di jalan utama cluster.
Beberapa penghuni masih manusia, tetapi mereka berlari tanpa rencana. Ada yang mencoba masuk mobil. Ada yang menelepon polisi sambil menangis. Ada yang memukul zombie dengan payung sampai payungnya patah.
Tidak ada gunanya.
Hari pertama, zombie memang masih level terendah. Tidak punya kemampuan. Tidak punya kecerdasan. Tetapi mereka tidak takut sakit, tidak ragu menggigit, dan jumlahnya terlalu banyak untuk orang yang belum siap.
Pukul 15.18, Hendry memakai goggles.
Pukul 15.20, ia membuka pintu.
Bau darah langsung masuk.
Udara tropis yang panas bercampur bau isi perut, bensin bocor, keringat manusia, dan tanah basah dari selang yang masih menyala. Suara jeritan sudah tidak terpisah lagi. Semuanya menjadi satu lapisan bising yang menekan dada.
Zombie pembantu rumah seberang menoleh ke arahnya.
Ia masih menggigit lengan anak tadi.
Hendry berjalan turun dari teras.
Zombie itu berlari dengan gerakan patah-patah.
Terlalu lambat.
Parang di tangan Hendry bergerak dari bawah ke atas, memotong rahang, lalu masuk ke sisi tengkorak. Bilahnya tertahan sesaat pada tulang. Hendry memutar pergelangan, menarik, lalu menendang dada zombie itu sampai jatuh.
Gerakan pertama selalu paling kotor.
Ia tidak berhenti.
Zombie kedua, satpam yang lehernya masih berlumuran darah orang lain, datang dari sisi kanan. Hendry mundur satu langkah, membiarkan zombie itu kehilangan keseimbangan, lalu menebas lututnya.
Tubuh satpam-zombie ambruk.
Tebasan kedua membelah bagian belakang kepala.
Diam.
Hendry berlutut, mengeluarkan pisau taktis, lalu membelah dahi zombie itu.
Di dalam daging busuk yang masih hangat, ada benda kecil keras berwarna abu-abu.
Kristal.
Level 0.
Pertama dalam kehidupan ini.
Hendry mengambilnya dengan sarung tangan, mengangkatnya ke cahaya sore. Kristal itu tidak indah. Abu-abu kusam, sebesar kuku ibu jari, tetapi di dalamnya ada energi yang dikenalnya seperti bau rumah lama.
Sistem dunia baru sudah aktif.
Ia memasukkan Kristal itu ke Ruang Dimensi, lalu membelah dahi zombie pembantu dan mengambil Kristal kedua.
Level 2 Ruang Dimensi di telapak tangannya berdenyut stabil.
Tidak naik level.
Tidak perlu.
Yang penting, aturan lama terbukti masih bekerja.
Hendry membersihkan parang di baju zombie, lalu menatap jalan merah di petanya.
Rumah Kevin.
Waktunya.
Ia bergerak melalui jalur belakang cluster, bukan jalan utama. Di satu tikungan, dua zombie menghantam pagar besi sambil menggeram ke arah seorang perempuan yang bersembunyi di atas mobil. Perempuan itu melihat Hendry dan langsung berteriak.
"Tolong! Tolong saya!"
Hendry tidak berhenti.
Ia mengenali wajahnya samar-samar. Tetangga yang dulu, di kehidupan sebelumnya, membuka gerbang belakang untuk kelompok preman demi ditukar satu dus makanan. Malam itu, tiga orang penyintas yang tidak bersalah mati karena gerbang terbuka.
Jangan menyelamatkan calon pengkhianat.
Aturan nomor sembilan.
Ia lewat.
Perempuan itu memaki, lalu jeritannya tertutup suara kaca mobil pecah.
Hendry tiba di villa Kevin pukul 15.42.
Gerbang depan tertutup, tetapi satu sisi pagar sudah penyok karena mobil Mercedes putih menabraknya dari dalam. Hendry mengenali mobil itu.
Kevin sempat mencoba kabur.
Gagal.
Di halaman, dua zombie berkeliaran. Salah satunya memakai seragam sopir Kevin. Hendry menebas yang pertama dari belakang, lalu menggunakan gagang parang menghantam hidung yang kedua sebelum memotong kepalanya.
Pintu utama villa terkunci.
Hendry mengeluarkan pistol.
Satu tembakan ke kunci.
Suara ledakan mengguncang ruangan.
Ia segera memasukkan pistol kembali, menendang pintu, dan masuk.
"Kevin!"
Tidak ada jawaban.
Namun ia mendengar suara dari bawah.
Ruang bawah tanah.
Sesuai dugaan.
Orang seperti Kevin tidak akan lari jauh jika punya tempat bersembunyi mahal di rumah sendiri.
Tangga menuju basement berada di balik pintu panel kayu dekat ruang wine. Hendry turun perlahan. Di bawah, lampu darurat menyala merah. Bau alkohol pecah, debu, dan ketakutan memenuhi ruangan.
"Jangan dekat!" suara Kevin bergetar dari balik sofa besar. "Gue punya pistol!"
Hendry berhenti di anak tangga terakhir.
"Lu nggak punya."
Hening.
Di sudut ruangan, Kevin muncul dengan wajah pucat. Kemeja mahalnya berantakan. Di belakangnya, Ferry Lim duduk di lantai, tangan menekan luka di pelipis. Mungkin terbentur saat mobil menabrak pagar.
Ferry melihat parang di tangan Hendry.
Wajahnya langsung berubah.
"Pak Hendry... kita bisa bicara."
"Kalian sudah bicara cukup banyak."
Kevin menelan ludah. "Hen, ini... ini gila. Di luar semua orang berubah. Kita harus kerja sama. Kita keluarga."
Kata itu akhirnya datang.
Keluarga.
Hendry turun satu langkah lagi.
Kevin mundur sampai punggungnya menabrak rak wine.
"Hen! Kita kan saudara!"
Hendry menatapnya.
Di telinganya, suara Kevin dari kehidupan lama kembali terdengar.
Lu nggak punya hak lagi di rumah ini.
Tanda tangan aja.
Kalau nggak mau keluar, gue panggil orang buat seret lu.
Lalu pintu villa terbuka.
Lalu dorongan di punggung.
Lalu zombie.
Hendry mengangkat parang.
"Di kehidupan yang lalu," katanya dingin, "lu nggak pernah anggap gue saudara."
Kevin membeku.
Ia tidak sempat memahami kalimat itu.
Parang turun.
Bilahnya membelah dari bahu ke dada. Kevin menjerit, jatuh berlutut, darah menyembur ke lantai marmer basement. Hendry tidak memberi pidato kedua. Tebasan berikutnya masuk ke leher.
Kevin Wijaya mati dengan mata masih terbuka.
Ferry merangkak mundur, wajahnya basah air mata.
"Saya cuma ikut Kevin! Saya cuma urus dokumen! Pak Hendry, saya bisa bantu Bapak. Saya tahu semua file Om Hartono. Saya bisa kasih akses..."
Hendry mengeluarkan pistol.
Ferry berhenti bicara.
"Itu masalahnya," kata Hendry. "Kau selalu tahu file mana yang membunuh orang."
Satu tembakan.
Ferry Lim jatuh ke samping, darah menyebar di bawah kepalanya.
Suara tembakan menggema lama di basement.
Hendry berdiri di antara dua mayat itu.
Tidak ada rasa lega besar.
Tidak ada sorak kemenangan.
Hanya satu garis di dalam kepalanya yang dicoret.
Kevin Wijaya: selesai.
Ferry Lim: selesai.
Langkah pertama.
Ia membersihkan parang dengan taplak meja, mengambil ponsel Kevin dan Ferry, lalu memasukkan beberapa dokumen yang terlihat penting ke Ruang Dimensi. Bukan karena dunia lama masih penting, tetapi karena Om Hartono masih hidup. Selama orang itu hidup, bukti tetap bisa menjadi pisau.
Ketika Hendry naik kembali ke lantai atas, matahari sore mulai berubah merah.
Jeritan di luar sudah lebih jarang.
Bukan karena keadaan membaik.
Karena banyak orang yang bisa berteriak sudah mati.
Di ruang tamu villa Kevin, Hendry berhenti.
Dari luar pintu yang rusak, terdengar suara rendah.
"Grrr..."
Bukan zombie.
Terlalu sadar.
Terlalu waspada.
Hendry mengangkat parang.
Di ambang pintu, seekor anjing hitam berdiri dengan tubuh kurus dan bulu kotor. Satu telinganya hilang, meninggalkan bekas luka lama yang mengering buruk. Matanya menatap Hendry tanpa takut.
Di sekitar tubuhnya, busur listrik kecil berkedip.
Lemah.
Nyaris tak terlihat.
Namun cukup untuk membuat udara berbau ozon.
Hendry terdiam.
Di kehidupan sebelumnya, ada legenda tentang seekor anjing petir yang naik menjadi makhluk level Raja. Cepat, licik, sulit dibunuh, dan hanya punya satu telinga.
Anjing itu menatap mayat Kevin di belakang Hendry, lalu menatap parang di tangannya.
"Grrr..."
Hendry perlahan menurunkan parang.
Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibirnya naik sedikit.
"Akhirnya ketemu juga," bisiknya.
Busur listrik kecil menari di bulu hitam anjing itu.
"Raja."