SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERIBU ANAK TANGGA MENUJU ISTANA LELUHUR
Tian Xue mengangkat kepalanya perlahan.
Tatapannya tertuju pada seribu anak tangga batu giok putih yang menjulang menembus lautan awan. Di puncaknya, Istana Leluhur berdiri megah bagaikan kediaman para dewa, memancarkan aura kuno yang membuat siapa pun tanpa sadar menaruh hormat.
Di sampingnya, Lu Shi ikut menatap ke arah yang sama. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya. Wajah yang biasanya ceria kini dipenuhi tekad.
"Kita sudah sejauh ini," gumamnya. "Tidak mungkin aku menyerah."
Tian Xue mengangguk pelan.
"Kalau begitu... ayo."
Tanpa ragu, keduanya melangkah menuju anak tangga pertama.
Begitu telapak kaki Tian Xue menyentuh batu giok itu—
BOOOOM!
Tekanan mengerikan menghantam tubuh mereka. Lutut Lu Shi langsung menekuk.
"Ugh...!"
Tubuhnya hampir roboh kalau saja ia tidak segera menopang diri dengan kedua tangan. Bahkan Tian Xue yang selalu tenang pun sedikit membungkukkan badan. Otot-otot di seluruh tubuhnya menegang dalam sekejap.
Rasanya seperti sebuah gunung raksasa tiba-tiba dijatuhkan ke atas bahu mereka.
"Gravitasi...." Tian Xue menarik napas berat. "Sepuluh kali lipat."
Setiap helaan napas terasa membakar paru-paru. Udara yang biasanya ringan kini berubah seolah dipenuhi timah.
Ia mencoba mengangkat kaki. Namun, gerakan sederhana itu terasa seperti mengangkat batu raksasa.
Satu langkah.
Dum...
Dua langkah.
Dum...
Setiap pijakan meninggalkan jejak retakan halus pada batu giok putih. Keringat mulai mengalir dari pelipis mereka.
Semakin tinggi mereka mendaki, tekanan itu tidak berkurang sedikit pun. Sebaliknya...
Tubuh merekalah yang dipaksa untuk beradaptasi.
Anak tangga ke-30...
Napas Lu Shi mulai terputus-putus.
"Kau... yakin ini baru permulaan?"
Tian Xue tidak menjawab. Ia terus melangkah.
Anak tangga ke-60.
Betis mereka mulai bergetar hebat. Paha terasa seperti akan robek. Setiap denyut jantung terdengar jelas di telinga.
Anak tangga ke-90.
Bahkan mengangkat kepala untuk melihat ke depan saja terasa sulit. Namun, tidak satu pun dari mereka berhenti.
Akhirnya...
Anak tangga ke-100.
Belum sempat mereka bernapas lega—
AnOOOM!!
Tekanan baru turun tanpa ampun. Tubuh Lu Shi langsung jatuh berlutut.
"Lagi?!"
Tangannya menekan anak tangga sekuat tenaga. Lengan gadis itu bergetar hebat.
Tian Xue sendiri merasakan tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi pelan.
Krek... krek...
"Gravitasi..." ia menggertakkan gigi. "Dua puluh kali lipat."
Kini setiap langkah benar-benar menjadi pertarungan. Mengangkat kaki membutuhkan seluruh tenaga. Menurunkannya kembali membuat lutut hampir patah.
Namun Tian Xue tetap melangkah. Di belakangnya, Lu Shi menggigit bibir hingga darah menetes.
"Aku tidak akan kalah oleh... tangga sialan ini!"
Satu demi satu anak tangga mereka taklukkan. Waktu berlalu. Tubuh mereka dipenuhi keringat. Pakaian mulai basah. Napas menjadi semakin kasar.
Meski begitu, ada perubahan yang perlahan terjadi. Otot-otot mereka mulai menyesuaikan diri. Tulang menjadi semakin kokoh. Tubuh mereka sedikit demi sedikit ditempa oleh tekanan luar biasa itu.
Saat mencapai anak tangga ke-200...
Langit yang semula tenang mendadak berubah.
WUUUUUSSSHHHH!!
Embusan angin dahsyat turun dari atas. Badai itu meraung seperti ribuan binatang buas. Lu Shi langsung terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Apa lagi sekarang?!"
Angin tajam menerpa wajah mereka. Rasanya seperti ribuan bilah pisau kecil menggores kulit tanpa henti.
Tian Xue memicingkan mata.
"Jangan melawannya."
Lu Shi berteriak di tengah badai.
"Lalu bagaimana caranya?!"
"Ikuti ritmenya!"
Ia memperhatikan arah embusan angin. Saat badai sedikit melemah... ia melangkah. Saat badai kembali mengamuk... ia berhenti.
Lu Shi segera meniru caranya. Sedikit demi sedikit... mereka kembali bergerak.
Namun badai itu seolah memiliki kesadaran. Semakin tinggi mereka mendaki... semakin kuat pula terpaannya.
Anak tangga ke-250.
Angin menghantam Tian Xue dari samping.
Brak!
Tubuhnya terseret beberapa langkah. Ia segera menghentakkan kaki. Retakan memenuhi batu giok di bawah telapak kakinya sebelum akhirnya ia berhasil menghentikan tubuhnya.
Di sisi lain, rambut panjang Lu Shi menari liar diterpa badai. Ia bahkan harus menggunakan kedua tangan untuk melindungi wajahnya. Membuka mata selama beberapa detik saja terasa menyiksa.
Meski demikian...
Langkah mereka tidak pernah berhenti.
Akhirnya...
Anak tangga ke-300 berhasil dilewati.
Namun ujian belum selesai.
AnOOOM!!
Tekanan gravitasi kembali meningkat. Badai yang sebelumnya sudah mengerikan kini berubah menjadi lebih ganas.
Tubuh Tian Xue langsung membungkuk. Pembuluh darah di lehernya menonjol. Setiap tarikan napas menjadi semakin berat.
Sementara Lu Shi jatuh terduduk. Tangannya gemetar saat mencoba berdiri.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku... masih hidup."
Lu Shi menyeringai.
"Itu sudah cukup."
Keduanya kembali mendaki. Satu langkah. Satu napas. Satu langkah lagi.
Semakin tinggi mereka bergerak, semakin banyak luka kecil bermunculan di tubuh mereka akibat hantaman angin. Darah tipis mulai membasahi pakaian.
Namun anehnya...
Tubuh mereka justru terasa semakin kuat. Seolah setiap penderitaan berubah menjadi tempaan.
Anak tangga ke-400 akhirnya berada di belakang mereka.
Belum sempat rasa lega muncul—
KRAAAAK!!
Langit tiba-tiba dipenuhi awan hitam. Suhu di sekitar turun drastis. Lu Shi mengangkat kepala.
"Apa sekarang?"
Jawabannya datang sesaat kemudian.
WHUUUSSHH!!
Bongkahan-bongkahan es sebesar kepala manusia jatuh dari langit.
BOOOOM!!
Satu bongkahan menghantam anak tangga di depan mereka hingga pecah berkeping-keping. Disusul bongkahan kedua. Ketiga. Keempat.
Dalam beberapa napas saja, seluruh jalur pendakian berubah menjadi hujan batu es yang mematikan.
"Tian Xue!"
"Awas!"
Keduanya berlari sambil menghindari hujan es. Namun di bawah tekanan gravitasi yang luar biasa, gerakan mereka menjadi sangat lambat.
DUAAAR!!
Sebuah bongkahan es menghantam bahu Tian Xue. Tubuhnya langsung terpental beberapa anak tangga. Rasa nyeri menjalar hingga ke tulang.
Belum sempat ia berdiri...
Bongkahan lain kembali jatuh. Ia berguling menghindar tepat sebelum batu es itu menghancurkan anak tangga tempatnya terbaring.
Di sisi lain, Lu Shi juga tidak bernasib lebih baik. Lengannya terkena hantaman es. Rasa kebas langsung menjalar hingga ke ujung jari.
Namun ia hanya menggertakkan gigi.
"Belum selesai!"
Ia kembali berdiri.
Yang membuat ujian ini terasa begitu putus asa adalah satu kenyataan. Sejak menginjak anak tangga pertama...
Kekuatan Garis Darah Naga mereka sama sekali tidak dapat digunakan.
Seolah ada hukum tak kasatmata yang menyegel seluruh kekuatan itu. Tidak ada ledakan aura. Tidak ada kemampuan khusus.
Yang tersisa hanyalah tubuh mereka sendiri. Tekad. Dan kemauan untuk terus melangkah.
Setiap anak tangga kini harus dibayar dengan keringat. Setiap langkah harus diperjuangkan dengan rasa sakit.
Namun...
Tidak satu pun dari mereka pernah berpikir untuk berbalik.
Entah sudah berapa lama mereka mendaki. Dengan tubuh penuh luka, napas yang memburu, dan pakaian yang robek di sana-sini...
Mereka akhirnya berhasil menginjak anak tangga ke-500.
Keduanya berhenti. Napas mereka terdengar berat. Keringat bercampur darah menetes ke atas batu giok putih.
Di depan mereka...
Masih ada lima ratus anak tangga lagi yang menjulang hingga menghilang di balik awan.
Tian Xue menatap ke atas. Tak ada sedikit pun keraguan di matanya.
"Ini baru setengah jalan."
Lu Shi mengusap darah di sudut bibirnya, lalu tersenyum lebar.
"Kalau begitu..."
Ia mengepalkan tinjunya.
"...kita taklukkan sisanya."
Tanpa menoleh ke belakang, keduanya kembali melangkah menuju anak tangga berikutnya, sementara di balik lautan awan, sebuah ujian yang jauh lebih mengerikan diam-diam telah menunggu kedatangan mereka.