Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
### Bab 6
Keira tidak membuka email itu di depan Lim Group Tower.
Ia berdiri di antara suara klakson dan langkah orang-orang kantoran, menatap subject email sampai layar ponselnya meredup sendiri. Jika ia membukanya di sana, di bawah gedung Richard, dengan dada yang masih berdebar, ia takut wajahnya akan memberi terlalu banyak jawaban kepada dunia.
Ia baru membuka email itu malam hari, setelah Engkong tidur.
Kamar Keira gelap kecuali lampu meja. File PDF dari laboratorium swasta terbuka di layar laptop. Tidak ada kalimat dramatis. Tidak ada nama keluarga yang ditulis dengan huruf besar. Hanya angka, persentase, dan kesimpulan yang terlalu rapi untuk sesuatu yang begitu kejam.
Indikasi hubungan biologis garis paternal: sangat kuat.
Sampel Vanya cocok dengan sampel pembanding keluarga Tan.
Keira duduk diam sangat lama.
Di luar kamar, rumah tua itu sunyi. Di bawah, mungkin Pak Hasan sedang memastikan pintu samping terkunci. Di kamar utama, Engkong tidur dengan obat memori di meja kecilnya. Semua terlihat sama seperti kemarin. Rumah yang sama. Aroma kayu tua yang sama. Nama Tan yang sama di pintu pagar.
Tetapi di layar laptopnya, hidup Keira baru saja diberi penghuni baru.
Vanya.
Gadis itu bukan hanya bayangan dari mimpi.
Ia nyata.
Dan darahnya berjalan ke tempat yang selama ini Keira panggil rumah.
Keira menutup laptop pelan. Tangannya dingin, tetapi matanya kering. Ia tidak punya waktu untuk hancur. Orang yang hancur akan dikumpulkan orang lain. Keira tidak mau dikumpulkan. Ia mau memilih sendiri bentuknya.
Setengah jam kemudian, ia turun ke dapur.
Lampu dapur masih menyala. Pak Hasan duduk di meja kecil dekat jendela, memegang tasbih di satu tangan dan cangkir kopi tubruk yang sudah dingin di tangan lain. Di rumah keluarga kaya, dapur sering menjadi tempat paling jujur. Tidak ada marmer berlebihan. Tidak ada tamu. Hanya bau bawang goreng sisa makan malam dan suara kulkas tua.
"Non Kei belum tidur?" tanya Pak Hasan.
Keira duduk di seberangnya. "Belum bisa."
Pak Hasan memperhatikan wajahnya. "Ada masalah lagi?"
Keira tersenyum kecil. "Pak, kalau saya bilang iya, Bapak akan kaget?"
"Sejak Non Kei kecil, masalah suka datang sendiri kalau Non Kei sudah terlalu diam."
Kalimat itu membuat Keira tertawa pelan.
Pak Hasan pernah melihat semua versi dirinya. Keira kecil yang naik ke atas tembok hanya karena Kevin mengejeknya penakut. Keira remaja yang mengunci diri di gudang anggur karena menangis setelah Papa dimakamkan. Keira dewasa yang sekarang duduk di dapur dengan wajah terlalu tenang untuk disebut baik-baik saja.
"Saya perlu bantuan Bapak."
Pak Hasan meletakkan tasbihnya. "Bantuan seperti apa?"
Keira tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir kosong, menuang air hangat dari dispenser, lalu memegangnya dengan dua tangan. Panasnya menekan kulit, membuat pikirannya lebih rapi.
"Saya perlu Om Lim melihat sendiri bagaimana keluarga Ong memperlakukan saya."
Pak Hasan terdiam.
Keira melanjutkan, suaranya rendah. "Bukan dari mulut saya. Kalau saya yang mengadu, saya akan terlihat seperti perempuan manja yang mencari pembelaan. Tapi kalau orang lain yang khawatir, ceritanya berbeda."
"Orang lain itu maksudnya saya?"
"Iya."
Pak Hasan menghela napas. "Non Kei mau saya bicara dengan Mas Jason?"
Keira mengangguk. "Bapak tidak perlu bohong. Ceritakan yang Bapak lihat. Kevin sering membuat saya menunggu. Felicia menghina saya di depan Engkong. Kemarin Kevin meminta saya mengerjakan skripsi Vanya. Bapak boleh bilang Bapak khawatir, tapi tidak tahu harus bicara kepada siapa."
"Itu bukan bohong," kata Pak Hasan pelan.
"Bukan. Tapi waktunya saya yang pilih."
Pak Hasan menatapnya lama. Di wajahnya ada sedih yang membuat Keira hampir memalingkan pandangan. Ia sanggup menghadapi Richard yang dingin, Kevin yang egois, Felicia yang tajam. Tetapi kasih sayang Pak Hasan sering lebih sulit ia tahan karena tidak meminta apa-apa darinya.
"Non Kei sedang merencanakan sesuatu yang besar," kata Pak Hasan.
"Saya sedang bertahan hidup."
Jawaban itu keluar terlalu jujur.
Dapur mendadak sunyi.
Pak Hasan menunduk. Jempolnya mengusap sisi cangkir kopi. "Dulu waktu Non Kei umur tujuh tahun, Non pernah pakai taplak meja jadi jubah. Minta saya duduk di kursi dapur dan bilang saya harus jadi raja."
Keira berkedip, tidak menyangka arah pembicaraan berubah.
"Non berdiri di atas kursi, pegang sendok sayur seperti tongkat kerajaan. Non bilang, 'Pak Hasan jadi raja, tapi rajanya harus nurut sama saya.'"
Keira tertawa kecil. "Saya separah itu?"
"Lebih parah." Pak Hasan tersenyum, matanya basah sedikit. "Lalu Tuan Hendra masuk dan bilang, 'Hasan, hati-hati. Anak saya ini nanti bisa mengatur satu kerajaan.'"
Nama Papa jatuh lembut di antara mereka.
Keira menunduk. Panas cangkir tiba-tiba terasa terlalu tajam di telapak tangannya.
"Papa terlalu percaya diri," bisiknya.
"Tidak." Pak Hasan menggeleng. "Tuan Hendra tahu anaknya."
Anaknya.
Kata itu hampir membuat pertahanan Keira retak.
Pak Hasan tidak tahu hasil DNA di laptopnya. Tidak tahu bahwa kata itu, malam ini, bisa melukai lebih dalam daripada hinaan Felicia. Namun justru karena tidak tahu, kalimatnya terasa murni.
Keira menarik napas pelan. "Kalau begitu, bantu saya jadi ratu yang menang, Pak."
Pak Hasan memandangnya lama, lalu mengangguk.
"Nggih, Non Kei."
Ia mengambil ponselnya dari saku kemeja rumah. Jari tuanya mencari kontak Jason dengan hati-hati. Setelah tersambung, suaranya berubah sopan dan hangat seperti biasa.
"Halo, Mas Jason? Saya Hasan, dari keluarga Tan. Ada yang ingin saya sampaikan tentang Nona Keira..."